Free songs
Home / Sastra / Bidadari Rimba [3]

Bidadari Rimba [3]


[Novelet]

Oleh: Salman Yoga S

Ilustrasi Novelet Bidadari Rimba

TAHYAT akhir Gecik Kampung Arias melafalkan salam ke arah kanan dan ke kiri. Sementara di belakangnya membias beberapa bayangan juga melakukan hal yang sama. Demikian juga ketika Gecik Kampung Arias itu menengadahkan tangan ke udara untuk berdoa, memohon kepada Yang Maha Mendengar dan Yang Maha Penerima doa untuk mengijabah setiap permohonannya. Sejumlah bayangan tangan-tangan mungil juga menengadah layaknya makmum shalat yang mengikuti setiap gerak imam pemimpin shalat. Tetapi tak terdengar kata-kata “amin” dari mulut-mulut pemilik bayangan itu ketika Gecik Kampung Arias itu melafalkan doa-doa dengan khusuknya.

Jamaah yang berada di belakang seperti gagu dan bisu, hanya mengangguk-anggukkan kepala saja ketika bacaan doa Gecik Kampung Arias berhenti pada setiap akhir ayat. Sesekali hanya terdengar gesekan dedaunan jatuh menimpa permukaan air. Kecipak katak berenang atau kepakkan sayap kelelawar menyambar nyamuk malam. Hening.

Udara di sekitar mata air itu berhembus sayup. Tidak seperti pada hari-hari sebelumnya. Biasanya angin berhembus dan mengendap di sekitar kubangan dan aliran air yang mengarah ke perkampungan, lembab dan mengandung kabut yang menutupi permukaan tetumbuhan yang menyesaki sekitar mata air jernih itu. Dengan kondisi demikian jarak pandang setiap mata akan sangat terbatas, terlebih ketika menjelang malam. Tetapi tidak bagi Gecik Kampung Arias serta sejumlah makhluk yang menjadi makmumnya pada magrib kali ini. Suasana demikian terang dan cerah. Meski itu hanya melingkupi beberapa meter saja di lokasi dimana Gecik Kampung Arias menunaikan shalat magrib-nya bersama sejumlah bayangan jamaah.

Usai menunaikan ibadahnya, dengan perlahan dan penuh kegembiraan Gecik Kampung Arias menoleh dan membalikkan badannya ke arah belakang. Ia menghadap kepada sejumlah makmumnya, tangan Gecik Kampung Arias terlihat menyalami beberapa tangan yang menjulurkan diri ke arahnya. Ia hanya tersenyum sambil memperhatikan setiap mata yang memandanginya dengan penuh persahabatan.

Peristiwa seperti ini memang bukan yang pertama bagi Gecik Kampung Arias. ketika keadaan negeri mulai terancam, atau ada bencana besar yang akan menimpa kampung, atau hal lain yang dapat merusak kehidupan manusia dan alam sekitar ia selalu datang ke tempat dimana sumber mata air itu berada. Ia tidak mau diantar atau ditemani oleh siapapun, termasuk oleh anaknya sendiri. Tujuannya adalah untuk menemui sejumlah makhluk yang mirip dengan manusia, baik untuk bertanya atau sekedar bersilaturrahmi dan saling menyapa, bertukar kabar dan saling mengingatkan  tentang sesuatu yang bersifat penting.

Kedatangan Gecik Kampung Arias kali ini bukanlah atas kenginannya. Dua hari sebelumnya ia telah menerima pesan agar datang ke sumber mata air tempat mereka biasa bertemu, tepat menjelang shalat magrib, begitu bunyi pesannya. Pesan itu ia terima pada dini hari lewat jendela rumahnya ketika hujan lebat tengah mengguyur. Seluruh masyarakat telah lelap dengan penatnya akibat kelelahan seharian bekerja di sawah atau ladang mereka masing-masing. Sehingga kedatangan sang pembawa pesan tak diketahui oleh siapapun.

Ketika sang pembawa pesan datang menghampir dan menemui Gecik Kampung Arias, anjingpun tidak ada yang mengongong. Jalanan lenggang dan bulan akan muncul diantara derai hujan yang menyiarami permukaan bumi.

Ketukan halus dari arah luar candela rumah milik Gecik Kampung Arias terdengar, ada sesosok yang memanggil namanya. Suara itu sangat khas. Hanya Gecik Kampung Arias saja yang tau siapa gerangan yang menyebut dan memanggil namanya.

Hal yang sama kerap terjadi ketika ayah Gecik Kampung Arias masih hidup dan menjadi pucuk panutan di tengah masyarakat. Saat itu ia tidak terlalu memperdulikannya, karena ayahnya memang dikenal sebagai petua adat yang mempunyai kelebihan supra natural serta berpengetahuan luas. Amanah sang ayah ketika menjelang ajal menjemput adalah agar Gecik Kampung Arias itu dapat  melanjutkan silaturrahminya dengan “sahabat tua”.

Siapa sahabat tua itu?

Gecik Kampung Arias tak sempat bertanya kepada sang ayah, karena malaikat maut telah lebih dulu mengangkat ruh ayahnya menuju lukhmakhfuz dalam usia 95 tahun.

Malam menjelang tujuh hari ayah Gecik Kampung Arias di alam kubur, ia bertemu dengan tiga makhluk pendek yang mirip dengan manusia di tikungan jalan menuju mersah. Awalnya Gecik Kampung Arias mengira mereka adalah anak-anak tetangga yang baru pulang dari mersah tempat mereka mengaji. Mersah kampung Arias terletak di pinggiran sungai arah tenggara pemukiman. Posisinya berseberangan langsung dengan pemukiman masyarakat dan hamparan persawahan. Jalan menuju kesana tidak terlalu lebar, kanan-kiri jalan ditumbuhi berbagai jenis tanaman. Ada pohon pisang dengan ruas panjang dan daun lebar menjulur ke tengah jalan, ada juga pohon alpukat dengan tangkai buah lonjong seperti tali gasing, ada barisan batang kopi yang rimbun menutupi batang dan perdunya serta tidak sedikit juga ilalang liar yang seolah berbaris sepanjang tepi jalan.

Jam-jam begini setiap malam memang hampir seluruh anak-anak di kampung akan pulang menuju rumahnya masing-masing secara bergerombol dari menasah. Ada yang pulang dengan menyalakan suluh obor dari bambu dengan sumbu terbuat dari serat kulit kayu atau kain, ada juga dengan suluh dari potongan batang pinus Gayo yang sudah tua dan mengandung getah minyak.

Tetapi tiga sosok makhluk aneh yang mendekati Gecik Kampung Arias di tikungan jalan itu bukanlah anak-anak yang baru pulang mengaji dari menasah. Tidak ada tentengan Alquran atau juzamma di tangan kanan mereka dengan kain sarung melintang di leher atau peci hitam miring yang menempel di kepala, tidak juga menggunakan obor sebagai suluh penerang jalan. Tiga sosok itu sungguh sangat berbeda, dan belum pernah dilihat sama sekali oleh Gecik Kampung Arias sebelumnya.

Bulu kuduknya sempat merinding, kaki dan badannya kaku. Matanya tak berkedip sama sekali menyaksikan tiga sosok makhluk asing itu berdiri persis di depannya. Gecik Kampung Arias sempat terkencing dalam pakaiannya ketika sosok yang ada di hadapannya itu mulai berucap sesuatu. Beberapa surat pendek yang ia hafal sempat terucap tak fasih, mantara penolak bala, hantu, jin atau dedmit lainya ia baca dalam gundah hati. Dengus nafasnya tak beraturan dan seolah tak terhirup, meski angin mendesir kencang mengibaskan lipatan syal kain sarung yang melingkari lehernya.

“Puger, kami datang”, kata salah satu dari makhluk setinggi pinggang Gecik Kampung Arias itu menyapa.

Gecik Kampung Arias semakin gemetar. Ia tak mampu menggerakkan kakinya untuk menghindar apalagi untuk berlari menjauh. Juga tidak mampu berteriak karena seluruh otot mulut dan vita suaranya terasa sangat kaku. Ketakutan dan keheranannya semakin bertambah menyaksikan makhluk yang tidak berpakaian layaknya manusia itu melangkah mendekatinya. Seluruh tubuh makhluk itu ditumbuhi bulu, seperti akar pohon beringin tua yang bergantung dari atas hingga ke bawah menutupi seluruh batangnya. Bagian leher dan raut mukanya saja sedikit lapang dari bulu-bulu halus dan menampakkan warna kulit sawo matang, selebihnya adalah rambut dan bulu-bulu halus hingga ke mata kaki.

Mata salah satu dari sosok itu berbinar menatap Gecik Kampung Arias yang berdiri mematung, ada semacam kegembiraan, seperti sahabat lama yang sudah puluhan tahun tak pernah bertemu. Postur tubuhnya seperti anak usia belasan tahun, tetapi raut wajahnya seperti lelaki dewasa yang ke-bapak-an.

Bahkan salah seorang dari mereka menampakkan raut yang sangat dewasa. Terlihat dari rambut dan bulu-bulu yang menutupi seluruh tubuhnya berwarna coklat keperak-perakkan dibias cahaya bulan. Sementara yang satu lagi lebih tinggi sejengkal, bulu-bulunya hitam legam, rambutnya terurai kusut hingga dada, matanya bulat tanpa alis, dan dagunya persis dagu manusia biasa.

Gecik Kampung Arias, lelaki tegap dengan otot dan badan kekar, meski ia sebagai kepala kampung yang disegani, putra dari almarhum Peski Gecik Tue Arias yang sangat dihormati, kali ini ia tanpak bukan seperti kepala kampung yang punya kharisma sebagai pemimpin sejati. Dengan lutut yang terus bergetar karena ketakutan ia lebih mirip sebagai buronan terpidana atas kasus pembunuhan yang tidak pernah ia lakukan. Ketakutannya seperti kerbau yang terikat di bawah rerimbunan perdu bambu yang disambar petir, pucat kehitam-hitaman dengan degub jantung yang nyaris berhenti.

Meski demikian, ia sempat bertanya dan berpikir jauh ke belakang. Kemasa dimana ayahnya pernah mengamanahkan sesuatu yang hingga hari ini belum selesai ia fahami.[]. Bersambung……

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top