Free songs
Home / Features / Tradisi Yang Dihancurkan Penjudi

Tradisi Yang Dihancurkan Penjudi


*Catataan Muhammaddinsyah

Malu adalah kata yang paling cocok untuk mendeskripsikan bagaimana perasaan hampir seluruh masyarakat Gayo saat ini, terkait munculnya pemberitaan tentang adanya ‘JUDI’ dalam acara perlombaan Pacuan Kuda yang dilaksanakan di Aceh Tengah dalam rangka memperingati hari jadi kabupaten tersebut selama seminggu terakhir.

Acara yang dihelat selama seminggu ini menyisakan banyak problema, khususnya di dunia maya yang berimbas ke dunia nyata. Berbagai kecamaman dari masyarakat terkait adanya JUDI pada perhelatan tersebut seolah merobek robek nilai estetika dari Tradisi Masyarakat Gayo ini.

Judi diharamkan dalam Al-Qur’an dengan lafadz yang sangat shahih (jelas) karena memiliki bahaya dan madharat yang besar serta menjadi jalan Syetan untuk menjauhkan orang dari dzikrullah dan menciptakan permusuhan. Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah: 90-91).

Imam al-Dzahabi dalam al-Kabair menambahkan dalil haramnya berjudi dengan mengategorikannya sebagai memakan harta orang lain dengan cara batil “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 188).

Juga dalam keumuman hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda: “Sesunguhnya orang-orang yang menguasai harta Allah dengan jalan yang tidak benar, maka pada hari kiamat bagian mereka adalah api neraka.” (HR. Bukhari dari Khaulah al-Anshariyyah), dan dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengharuskan siapa yang mengajak taruhan agar ia bersedah sebagai kafarahnya, “Dan Siapa yang berkata kepada kawannya, ‘mati, kita bertaruh.’ Hendaknya ia bersedekah.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah) Menurut Imam al-Khathabi, ia bersedekah dengan harta yang ingin dia jadikan taruhan tadi.

Namun ada sebagian pendapat lain dengan shadawh untuk menghapuskan dosa perkataannya tadi. Pendapat kedua inilah yang disepakati Imam Muslim.

Hanya berucap untuk melakukan taruhan yang menjadi bagian utama dan ciri utama perjudian diwajibkan untuk membayar kafarah atau shadakah, bagaimana dengan orang yang telah berbuat tadi? Tentu kesalahan dan dosa yang diperbuatnya lebih besar.

Karenanya, Imam al-Dzahabi memasukkan berjudi sebagai salah satu dosa besar, dan menempatkannya pada urutan kedua puluh. (Al-Kabair, Imam alDzahabi dalam Maktabah Syamilah.

Jelas saja ini adalah kekonyolon, provinsi Aceh yang sejatinya dari jaman dahulu memegang teguh ajaran agama Islam yang melarang umatnya untuk berjudi sudah barang tentu merasa dipermalukan oleh apa yang terjadi dilapangan.

Mirisnya, perbuatan haram tersebut dilakukan ditengah tengah lapangan, disaksikan oleh ribuan pasang mata bahkan ditempat yang dihadiri oleh pejabat pejabat setempat. WH dan Satpol PP kala itu seolah buta dari perjudian itu, atau bisa saja mereka dibutakan, siapa yang tau.

Pacuan kuda adalah Tradisi masyarakat Gayo yang sudah ada sejak jaman dahulu, penyelenggaraan event tradisi ini harusnya lebih dijaga dan dikelola dengan baik. Bukan dibiarkan carut marut seperti ini. Lalu, siapa yang patut kita mintai pertanggung jawaban ? Pemerintah daerah ? Pemerintah provinsi ? Satpol PP dan WH ? Atau kuda yang berlari ? atau siapa?.

Menurut penulis, yang harus kita mintai pertanggung jawaban adalah diri sendiri. Sebagai orang Gayo yang memegang teguh istilah ” salah bertegah benar berpapah, salam bersemah elet berisi” (Gayo red) maksudnya, yang salah diingatkan, yang benar terus dibimbing sudah sepantasnya kita sebagai orang Gayo mengingatkan kepada mereka yang melakukan perjudian bahwa perbuatan yang mereka lakukan salah, bukan malah memperkeruh suasana.

Sejatinya, Pacuan Kuda adalah milik orang Gayo, dan yang merusak nilai nilai estetika nya pun adalah orang Gayo itu sendiri, itupun tidak semua, masih banyak dari masyarakat Gayo yang datang dengan niat tulus untuk menyaksikan pacuan kuda.

Dan pun, Pemerintah daerah harusnya lebih memahami kondisi ini, alih alih menghentikan pemerintah daerah seolah diam tidak melakukan apa apa. Pihak yang paling harus dimintai keterangan adalah Kepala Dinas Syariat Islam dan juga kepala Satpol PP dan WH Aceh Tengah kemana mereka dalam tempo seminggu pagelaran pacuan kuda ini?.
Sebagai orang Gayo penulis pribadi tidak ingin gara gara oknum oknum yang memindahkan lapak judinya ke lapangan pacuan kuda, nilai estetika dari tradisi pacuan kuda Gayo tercoreng. Ini tidak boleh dan harus dihentikan.

Kemudian, perlu keikhkasan hati dari seluruh element masyarakat Gayo untuk meminta maaf kepada seluruh umat islam atas apa yang terjadi. Penulis mewakili diri sendiri sebagai orang gayo meminta maaf kepada seluruh umat Islam yang ada di Aceh, dan kami akan berusaha meminta pertanggung jawaban kepada pemerintah daerah juga seluruh pihak terkait atas tradisi kami yang dihancurkan para penjudi.

 

Penulis Ketua Umum Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Bener Meriah.

 

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top