Sara Sagi Terbaru

Kala Pak Nas Menyerap Aspirasi Warga Pesantren

Oleh: Iranda Novandi

Pak Nas bersama warga Pesantren Darul Mukhlisin, Abdya

“PARA santri disini orang tidak mampu. Kalau mampu, ayahnya tidak menyuruh ngaji.” Kata-kata tersebut keluar dari Mukim Setia, Kecamatan Setia Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Ishak Huri.

Ada apa? Mungkin itu yang muncul dalam benak kita, saat membaca ungkapan seorang mukim di Abdya tersebut. Bukankah Aceh merupakan daerah yang menerapkan syariat Islam? Pertanyaan tersebut pasti kembali menyusul dalam pikiran kita semua.

Padahal, menurut Ishak, ilmu yang dipelajari di pesantren sangat penting untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) di Aceh yang lebih mengedepankan penegakkan Syari’at Islam.

Terkesan “menganaktirikan” pendidikan Dayah itu masih muncul. Dimana, dalam pandangan Ishah, Pemerintah masih terlalu besar untuk menggelontorkan dana bagi pendidikan umum, apakah itu beasiswa atau apapun namanya. Sedangka, anggaran untuk pembinaan Dayah masih terlalu minim.

Karenanya, Ishak mengharapkan, bila nanti, pasangan calon (Paslon) gubernur dr Zaini Abdullah dan Ir Nasaruddin, mendapat amanah rakyat, maka pembinaan dayah ini harus dilanjutkan hingga bisa lebih besar lagi guna melahirkan generasi Islami bagi Aceh yang lebih baik di masa depan.

Sejujurnya, lanjut Ishak, sebenernya sudah banyak calon Gubernur yang merencanakan datang kesini, tapi kami tolak secara halus. Tapi entah mengapa saat Pak Nas, sapaan Nasaruddin, hendak datang, tergerak hati kami menerimanya.

“Kami sadar bahwa Abu Doto Zaini (Zaini Abdullah) selama ini sudah banyak berbuat untuk Dayah dan Pesantren. Mungkin itu mengapa kami membuka pintu buat Pak Nas,” papar Ishak Huri.

Begitulah curahan hati (curhat) Mukim Setia saat menerima silaturrahmi Pak Nas di Pasantren Darul Mukhlisin, Abdya pada 24 Januari lalu. Curhat Mukim Setia ini, bisa jadi, sama dengan perasaan para pengurus dayah lainnya di Aceh, meskipun tidak semuanya. Sebab, banyak juga pesanteren modern di Aceh yang sudah mandiri.

“Tulislah kami dalam hati, jika hanya ditulis di secarik kertas pasti bisa hilang,” ujar Ishak Nuri yang juga salah seorang pengurus di Daya Darul Mukhlisin.

Suasana Curhat pada sore, jelang senja pada 24 Januari 2017 itu, sungguh sangat sederhana. Dengan ditemani air mineral dalam kemasan dan beberapa potong kue, terlihat penuh keakraban. Laksana, menyambut saudara yang sudah lama tak pulang kampung.

Pak Nas pun terlihat begitu menghayati satu-persatu curhat yang disampaikan warga dan para santri. Tidak ada rasa canggung. Bahkan, sebelum sampai ke Dayah Darul Mukhlisin, Bupati Aceh Tengah non aktif itu disambut dengan beca di jalan negara lintas Abdya – Aceh Selatan, untuk selanjutnya dibawa ke dayah dan disambut puluhan santri yang telah menanti sejak ba’da Ashar.

Nasaruddin pun, mengatakan, Dayah merupakan cikal-bakal Kejayaan Aceh. Saat ini  Di Aceh banyak dayah atau pesantren dan Lembaga pendidikan umum (madrasah). Pemerintah telah mengalokasikan anggaran untuk pendidikan dayah atau pesantren. Namun, terasa masih kurang.

Warga pesantren saat silaturrahmi dengan Pak Nas

“InsyaAllah, bila dengan Izin Allah, nanti dipercaya mengurusi Acehi, Ini menjadi prioritas, pembinaan lembaga pendidikan pesantren. Sebab, Ini satu kekhususan bagi Aceh,” ujar Nasaruddin.

Bukan hanya bangunan fisik yang akan ditingkatkan, juga untuk operasional dayah dan pesantren, termasuk untuk membantu santri yang berasal dari keluarga kurang mampu, akan jadi perhatian.

Gubernur Zaini Abdullah juga sudah merintis jalan untuk meningkatkan mobilitas pimpinan atau pengajar di pesantren dan Dayah dalam bentuk bantuan kendaraan operasional roda empat.

Sebab, sering kali, ustad dan ustadzah di pesantren atau dayah diundang oleh masyarakat, namun karena hujan atau malam hari terkadang sulit untuk hadir, hanya karena tidak ada kenderaan.

“Pak Zaini Abdullah sudah memprogramkan untuk membantu Dayah dan Pesantren kendaraan operasional roda empat agar lebih mudah berdakwah dalam masyarakat,” jelas Nasaruddin.

Bantuan kendaraan operasional tersebut kata Nasaruddin akan terus dilanjutkan secara bertahap untuk pesantren dan dayah secara merata jika pasangan AZAN (Abu Zaini-Nasaruddin) dipercayakan oleh masyarakat untuk memimpin Aceh kedepan.

Sebenarnya pascareformasi, sebagaimana diketahui bersama, Aceh memiliki kesempat-an lebih istimewa, yakni otoritas pelaksanaan Syariat Islam secara kaffah yang mendapatkan legitimasi formal dari pemerintah pusat.

Dasar hukum pelaksanaan syariat Islam di Aceh merujuk kepada Undang-undang No. 44 tahun 1999 dan Undang-undang No 18 tahun 2001. Undang-undang No 18 tahun 2001 selanjutnya digantikan dengan Undang-undang No 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh yang di dalamnya juga mengatur perihal pelaksanaan Syari’at Islam di Aceh.

Sebagai implemtasinya, di Aceh berdiri satu instansi pemerintah berupa badan khusus yang mengurusi masalah Dayah. Lembaga tersebut diberi nama, Badan Pembinaan dan Pendidikan Dayah (BPPD) Aceh.

Tentunya, kedepan kita berharap BPPD Aceh ini bisa berkiprah lebih besar lagi. Sehingga dayah yang merupakan pesantren tradisional di Aceh ini bisa mendidik dan melahirkan generasi cerdas dan islami di masa depan. Bahkan, suatu saat ini, para pemimpin Acehpun lahir dari dayah-dayah yang betebaran di seluruh Aceh ini yang jumlahnya mencapai ratusan. Semoga.

Penulis, Wartawan, Penulis Buku Gayo 6,2 SR

Comments

comments