Free songs
Home / Opini / Budidaya Cabe di Kecamatan Bies, Panen Melimpah, Petani Sumringah

Budidaya Cabe di Kecamatan Bies, Panen Melimpah, Petani Sumringah


Oleh: Fathan Muhammad Taufiq

KECAMATAN Bies, Aceh Tengah memang hanya sebuah kecamatan yang luas wilayahnya relatif kecil hanya 2.886 Hektar (28, 86 km2). Daerah ini merupakan kecamatan dengan luas terkecil dibandingkan 13 kecamatan lain di Kabupaten Aceh Tengah.

Namun kecamatan ini memiliki potensi pertanian yang luar biasa, hampir 70 persen wilayah kecamatan ini merupakan areal perkebunan Kopi Arabika Gayo. Sisanya merupakan areal pertanian hortikultura dan tanaman pangan.

Selain memilki potensi kebun kopi yang tumbuh dan terawat dengan baik, beberapa komoditi hortikultura seperti cabe, tomat, kol, markisa, jeruk keprok dan terong belanda, berkembang cukup baik di wilayah ini.

Cabe Bies

Salah satu komoditi hortikultura yang sudah cukup lama dikembangkan oleh petani atau kelompok tani di wilayah ini adalah komoditi cabe, khususnya cabe besar jenis TM dan cabe Rotan. Para petani disini sudah mahir dalam teknis budidaya cabe.

Disisi lain, harga pasar cabe yang dalam beberapa tahun terakhir relatif stabil, membuat petani di daerah ini cukup antusias mengembangkan komoditi yang beberapa waktu lalu harganya sempat “meroket” ini. Meski harga cabe sekarang sudah tidak setinggi beberapa bulan yang lalu, namun antusias petani untuk membudidayakan komoditi ini masih tetap tinggi.

Seperti yang dilakukan para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Tawar Bengi di Kampung Uning Niken, Kecamatan Bies. Memanfaatkan lahan sawah seluas kurang lebih 3 hektar yang sedang “istirahat” (Lues Blang – istilah di Gayo), para petani mulai mananam cabe sekitar 6 bulan yang lalu dan sejak bulan Desember 2016 yang lalu, mereka mulai bisa memanen tanaman mereka. Meski harga cabe tidak lagi “booming”, namun harga saat ini yang ada pada kisaran 20 sampai 30 ribu rupiah per kilogram, masih memberi peluang kepada petani untuk meraup untung besar dari budidaya cabe mereka.

Ketika penulis mengunjungi para petani ini, mereka sedang melakukan panen untuk yang ke delapan kalinya. Menurut mereka kualitas cabe yang mereka panen kali ini masih tetap sama dengan saat panen pertama satu setengah bulan yang lalu.

Kualitas Baik

Dari pengamatan penulis, memang cabe yang dipanen kali ini sangat bagus, berukuran rata-rata besar dan panjang dengan warna merah cerah. Ini tanda cabe yang sehat dan kualitasnya bagus. Cabe dengan kualitas seperti ini, dipasaran dikategorikan masuk kualitas atau grade A dengan nilai jual cukup tinggi dan menjadi “buruan” para pedagang.

Hasil seperti ini tidak terlepas dari perawatan dan pemeliharaan tanaman yang cukup intensif, termasuk pemberian pupuk secara berimbang berkat bimbingan dari para penyuluh pertanian yang ada di BPP Bies.

Ketua kelompok tani Tawar Bengi, Badruddin misalnya. Dia hanya menanam cabe varietas “Lado” di lahan seluas 2 rante atau 0,125 hektar, tapi hasil yang sudah dia dapatkan dari budidaya cabe kali ini cukup membuat kita geleng-geleng kepala. Menurut Badruddin, dalam 7 kali panen sebelumnya, sudah memperoleh hasil lebih dari 1,5 ton cabe merah dengan harga jual rata-rata Rp 25.000,- per kilogramnya.

Padahal kalau melihat kondisi tanaman cabe yang masih terlihat segar dan rimbun dengan buah yang lebat, dia masih bisa memanen beberapa kali lagi. Menurut perkiraan Badruddin, sampai akhir masa panen nanti, tidak kurang dari 2 ton cabe bisa dia panen dari lahan yang tidak seberapa luas itu. Artinya dalam penanaman kali ini dia bisa mengantongi pendapatan kotor tidak kurang dari Rp50 juta.

Sumringah

Sementara biaya produksi yang dia kelurakan hanya sekitar Rp8 juta. Pantas saja ketika ditemui di lahan cabenya, Badruddin terlihat sumringah dengan hasil panen cabe yang melimpah itu. Hanya dengan lahan seperdelapan hektar saja, puluhan juta rupiah keuntungan bertanam cabe bisa diraihnya.

“Kalau punya tanaman cabe satu hektar, bisa dapat satu mobil Avanza baru,” ujarnya seloroh. Kelakar Badruddin bukan sekedar bualan atau omong kosong, karena kalau dihitung-hitung, 1 hektar tanaman cabe akan menghasilkan tidak kurang dari 16 ton cabe merah, dengan harga pasar Rp20 ribu per kilogram saja, pendapatan petani bisa mencapai Rp320 juta. Kalau dikurangi dengan biaya produksi sekitar Rp50 juta, petani masih bisa meraih keuntungan bersih Rp270 juta.

Benar kata Badruddin, dengan keuntungan sebesar itu, petani bisa saja membawa pulang sebuah mobil Toyota Avanza baru langsung dari show room. Begitu juga dengan petani anggota kelompok taninya, rata-rata hasil panen mereka tidak jauh berbeda dengan apa yang sudah didapatkan oleh sang ketua kelompok,

“Kalau diambil rata-ratanya, setiap hektar bisa menghasilkan tidak kurang dari 16 ton cabe merah, dan dari total areal tanam anggota kelompok tani kami seluas 3 hektar. “Kami bisa memasok ke pasaran tidak kurang dari 48 ton cabe,” ungkap Badruddin dengan raut wajah gembira.

“Alhamdulillah, karena kualitas cabe dari kelompok tani kami sangat bagus, harganyapun lumayan tinggi pak, dan selama ini kami tidak ada kendala dalam memasarkan hasil panen kami, karena setiap kali panen, beberapa pedagang sudah datang mejemput cabe kami langsung ke lokasi,” lanjutnya.

Tak hanya para petani yang gembira dengan hasil panen cabe mereka. Para penyuluh pun ikut merasa puas, karena jerih payah mereka membina dan mendampingi petani binaan mereka, menunjukkan hasil yang memuaskan. Selama ini, jalinan sinergi para penyuluh di BPP Bies dengan para petani maupun kelompk tani memang berjalan dengan sangat baik.

Kehadiran para penyuluh di tengah lahan petani, sangat ditunggu-tunggu oleh para petani, karena selain mengajarkan tentang teknik budidaya tanaman, para penyuluh itu juga mampu memberi motivasi kepada petani agar usaha tani mereka berhasil dengan baik.

Sinergi

“Seperti yang bapak lihat hari ini, para petani dan penyuluh membaur untuk melakukan panen cabe, ini sudah terjadi sejak proses pengolahan lahan, penanaman dan pemeliharaan tanaman, Alhamdulillah para penyuluh disini sangat dekat dengan para petani, dan berkat kedekatan seperti ini, apa yang kami sampaikan kepada petani selalu mendapat respon positif, dan hasilnya, pendapatan petani meningkat secara signifikan” ungkap Mulyadi, SP, Kepala BPP Bies.

Kalau petani bisa meningkat kesejahteraannya, itu berarti kerja keras teman-teman penyuluh selama ini tidak sia-sia, itulah yang membuat kami juga ikut merasa bangga berprofesi sebagai penyuluh pertanian.

Aktifitas penyuluhan pertanian di kabupaten Aceh Tengah pada umumnya, serta Kecamatan Bies khususnya, selama ini memang sudah berjalan dengan sangat baik. Keberadaan para penyuluh pertanian cukup dihargai para petani, sehingga memacu semangat mereka untuk menunjukkan kinerja yang lebih baik.

Panen cabe pada kelompok tani Tawar Bengi ini, membuktikan bahwa para penyuluh ini  telah berhasil menjalankan tugas pokok dan fungsi mereka sebagai pendamping dan pembina petani. Dengan sinergi sepeti ini, Insya Allah kesejahteraan petani di Dataran Tinggi Gayo, dari waktu ke waktu, terus mengalami peningkatan. Sinergi seperti inilah yang memang dibutuhkan dalam membangun pertanian.[a]

 

Penulis adalah Kasi Metode dan Informasi Penyuluhan Pertanian pada Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah, Kontributor berita dan artikel pertanian di beberapa media cetak dan media online.

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top