Kemana Naskah-Naskah Tua (manuskrip) Tentang Gayo?

oleh

Oleh : Arfiansyah*
SAMPAI
 saat ini, masyarakat Gayo tidak pernah berhenti mencari tahu sejarah mereka. Satu titik terang tentang nenek moyang Gayo baru saja ditemukan lewat penelitian arkeologi di Loyang Mendale. Tentu saya itu kurang cukup. Karena bukti tulang belulang dan artafak perlu didukung dengan catatan-catatan sejarah untuk mengetahui sejauh mana capaian nenek moyang kita dimasa lalu.

Dalam tradisi masyarakat Gayo, sejarah masa lalu disimpan di kekeberen. Kekeberen bisa juga menjadi sumber kajian sejarah, namun kekeberen juga cenderung berubah dari satu generasi ke generasi lainya. Perubahan tersebut persis seperti kita mempraktekan kabar berantai dari orang pertama ke 10 orang terakhir. Pada orang ke-10, pesan yang disampaikan oleh orang pertama sudah tidak sama lagi bahkan bisa sangat jauh berbeda. Kekeberen gayo tersebut pernah dikaji oleh John R. Bowen dalam bukunya “Politik dan Syair-syair orang Sumatra: Sejarah Gayo, 1900-1989.” Kekeberen yang dikaji oleh bowen tersebut banyak sekali berubah pada masa saat ini. Sehingga salah satu cara untuk mengetahui sejarah nenek monyang orang Gayo adalah melalui naskah-naskah tua atau manuskrip.

Berbeda dengan yang terjadi di masyarakat pesisir Aceh, naskah-naskah tua di Gayo nyaris tidak bisa ditemukan. Banyak rumor tentang peredaran naskah di Gayo berapa di tangan beberapa orang. Namun disayangkan, naskah-naskah tua tersebut sudah dijadikan ajimat. Pemegang naskah percaya bahwa naskah-naskah tua tersebut memiliki kekuatan supernatural, yang apabila dibuka maka dapat menimbulkan bencana baik untuk dirinya maupun untuk segenap manusia. Orang Gayo juga percaya rumor bahwa banyak naskah tua dan benda-benda bersejarah diambil oleh Belanda. Pengalaman saya di Belanda, ternyata sulit sekali mencari naskah-naskah tua Gayo (sampai saat ini belum ada), selain hanyalah laporan-laporan tentara Belanda tentang Gayo. Malah, penulis menemukan banyak sekali kitab-kitab agama seperti Al-Quran sangat tua bertuliskan tangan, kitab fiqh, kitab hadist, bahkan sampai kita matra dan lainnya yang disimpan di perpustakaan kampus. Mereka menyimpannya dengan sangat teliti agar bisa diakses dan dibaca oleh generasi-generasi selanjutnya. Dengan demikian, mereka tidak hanya tahu sejarah mereka dan diri mereka sendiri. Namun juga tahu sejarah negeri lainnya.

Lalu bagaimana dengan generasi gayo, darimana mereka belajar tentang sejarah mereka sendiri, apakah Gayo tidak memilik naskah? Tentu saja ada, bila kita melihat terjemahan atau alih aksara 45 Pasal Kerajaan Negeri Linge. Naskah tersebut pertama sekali diterjemahkan oleh LK Ara pada tahun 1972 di Jakarta. Kemudian MANGGo juga menerjemahkan naskah yang sama pada tahun 2007. Naskah tersebut ditemukan dan disahkan oleh Belanda pada tahun 1940. Namun naskah aslinya dalam huruf arab-jawi masih misteri. Tidak ada yang tahu selain peterjemah sendiri, atau barangkali mereka juga tidak tahu. Namun, melihat hasil terjemahan yang buruk, timbul kecurigaan sebagian orang bahwa 45 Pasal Kerajaan Negeri Linge tersebut adalah dibuat-buat untuk kepentingan tertentu. Hal ini karena tidak ada naskah asli yang bisa dijadikan alat untuk konfirmasi dan perbaikan untuk terjemahan yang buruk tersebut. Mencurigakan juga karena hasil terjemahan yang dilakukan MANGGo tersebut dicetak sangat terbatas dan tidak bereda di pasar. Apakah benar dibuat-buat? Kenapa naskahnya aslinya dalam huruf arab-jawi harus disembunyikan?

Melihat phenomena ini, Dr. Yusra Habib Abdul Gani berkomentar berang “ini nume warisen isebu, tapi isieren (ini bukan warisan untuk dikubur, tapi untuk disiarkan). Komentar Dr. dalam bidang Sejarah tersebut tepat sekali mengambarkan keadaan pemegang naskah-naskah tua Gayo. Generasi gayo saat ini seperti sengaja dibiarkan linglung dan binggung tentang diri mereka sendiri. Orang-orang tua menginginkan generasi penerusnya hebat dan tahu diri, namun mereka menyimpan kitab-kitab pustaka dan pengetahuan-pengetahuan yang mereka miliki.

Pemerintah baik Pemerintah Aceh dan Gayo (Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues) juga tidak menunjukan kepedulian terhadap benda sejarah. Salah satu buktinya adalah pemerintah pemerintah sendiri enggan melengkapi catatan sejarah pemerintahan dengan lengkap dari masa awal pasca kemerdekaan hingga saat ini. Sehingga, wajar sekali bila tidak ada yang tahu tentang perkembangan sejarah pendidikan, ekonomi, administrasi, keuangan, tata kelola pemerintah, kependudukan, sebaran penduduk dan lainnya yang terjadi dari tahun 1940an hingga saat ini.

Meski pemerintah Aceh Tengah miliki badan Arsip, namun dengan koleksi yang sangat miskin. Barangkali pemerintah memiliki prioritas terhadap pembangunan fisik untuk mendukung pembangunan ekonomi. Sehingga sedikit abai terhadap pembangunan manusia, sebagai aktor utama yang akan mengisi pembangunan tersebut. Bila isi hati dan kepala generasi tidak diperhatikan, maka hanya badan mereka yang mengisi masa depan. []

*Penulis adalah putra Gayo yang telah menyelesaikan studi S2 Universitas McGill, Kanada. Saat ini sedang menyelesaikan studi S3 di Universitas Leiden, Belanda

Comments

comments