Free songs
Home / Beru Bujang / Fotografer Untuk Sang Ine

Fotografer Untuk Sang Ine


Oleh Junaidi A. Delung*

“Kerja keras akan membuahkan hasil yang sangat memuaskan jika kita menjalankanya dengan ikhlas di jalan Allah. betapa indahnya apabila hobi kita sangat di dukung oleh orang tua,  apalagi hobi kita bisa bermanfaat bagi kita, sahabat, dan orang-orang yang ada di sekitar kita,” kata Iwan Rahmad

Tahun 2016 lalu, Aku dan adikku ditinggal pergi oleh ibu, seseorang yang kami sayangi. ia dipanggil oleh sang Maha Kuasa untuk kembali kepada-Nya. Ibu yang ku kenal ramah, penyayang, baik, kini tidak ada lagi berada didepan mata. Kerinduan kepadanya selalu menyelimuti hari-hariku.

Suara lembut yang biasanya menyapa an membangunkanku di waktu sepertiga malam dan pagi untuk shalat tahajud dan pergi untuk shalat subuh berjamaah di menasah kampung.

“ Wan, wet semiang nak ku nye!,” dengan suara khasnya

Ine (Gayo; Red) meninggalkan aku, ketika aku sedang berada di kota serambi Mekkah tepatnya di Banda Aceh yang sedang semangat-semangatnya dalam menuntut ilmu. Canda, tawa, sendagurau pun menyelimuti hari-hariku bersama kebersamaan teman-teman seperjuangan.

Ayahku, paman, serta kerabat menelpon aku waktu itu. saudara-saudaraku nampaknya khawatir dan ingin mengabarkannya, namun telepon yang aku genggam ku tinggalkan dirumah yang kebetulan waktu itu sedang keluar bersama teman-teman lain. Tidak lama kemudian, datanglah saudara ipar ayah kerumah yang kebetulan tahu dimana rumahku.

“Wen, ine sakiten kenie ulak kejeb, seger nye orom bibik karna bibik pe ara kegieten i bener meriah,” dengan tidak mengatakan yang sebenarnya.

“bohmi ibi, siep siep mulo aku ta,” dengan semangat tanpa mengetahui bahwa ibu telah tiada.

Perjalananpun dimulai, sesampai di bener meriah pada pagi harinya diperkirakan pukul 7 waktu itu, tepatnya di kampung Delung Tue, Kecamatan Bukit. Kelihatan dari kejauhan banyak orang-orang didepan rumah diantara tetangga dan rumahku (fatamorgana). Pelan-pelan dan sedikit demi sedikit mendekat kurang lebih 30 meter. Sontak kelihatan banyak orang didepan rumah.

“Innalillahi wa innailaihi rajiun. Ya Allah rupen ine nge narengni aku,” kepalaku merunduk dan meneteskan air mata.

Turun dari mobil dengan air mata yang membasahi pipi, langsung disambut para saudara-saudaraku disana. Memelukku dan mengharapkanku untuk sabar dan tabah. “Nge ya wan enti mongot neh, ine ma nge i mai empue ulak mien, enti neh mongot nak ku nye,” yang juga meneteskan air mata sambil mengantarkan aku mendekati ibu yang sedang berbaring dibawah kain panjang.

Akhirnya ibupun harus diantarkan menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Namun sebelumnya, aku memberanikan diri menjadi imam untuk menyalatkan ibuku yang diusiaku remaja. Dibalik dorongan orang kampung sana dan beberapa tengku juga ikut menyarankannya, karena latar belakangku dari pesantren Az-zahra Biruen.

Begitulah kisah hidupku disaat terjadinya musibah. Kepergiannya kini membuatku meneteskan airmata. Setiap kali membayangkan wajahnya, airmataku tidak bisa tertahan lagi mengaliri pipi dengan pelan-pelan hingga ke dagu, dan sajadah yang aku duduki usai shalat. Tidak lupa lantunan Do’apun senantiasa disampaikan dengan sepenuh hati dan jiwa agar ia diberi keindahan, kelapangan dan nikmatnya surganya Allah disana.

Apalah daya, tidak ada kekuatan selain kekuatan Allah Ta’ala. Hanya kepada-Nya lah tempat meminta dan memohon perotolongan. Semoga perjalanan yang panjang ini harus diiringi dan kuhadapi tanpa kasih sayang ine yang tercinta.

“maafkan iwan ine, Astagfirullahal Adzim!,” ucapan dalam hati terus menerus berkala ketika teringat ine.

Beberapa bulan kemudian, aku pusing dan bingung. Usiaku yang kini bertambah, adikku yang kini butuh sekolah dan butuh pendidikan yang dapat mewarnai masa depan nantinya. Ayah yang memang bekerja sebagai swasta, harus memikirkan dua anaknya sekaligus disamping memikirkan ine yang sangat kehilangan.

“ya Allah, apa yang harus Aku lakukan,” sambil merenungi

Tidak berpikir panjang, aku memutuskan untuk berangkat kembali ke Ibukota Aceh itu. Dan mengubah hidupku disana. Dengan berbagai apasaja yang aku lakukan untuk menghiasi dan menghidupi diriku ini untuk masa depan yang cerah kedepannya. Meringankan beban ayah dan menyekolahkan adik yang bungsu untuk menempuh pendidikan yang tinggi.

Suatu ketika, tidak sengaja memegang kamera teman, dan hingga tertarik dan belajar memotret kawan-kawan. Namun hasil yang didapatkan sangat luarbiasa

“bagus kali hasilnya wan,” sapa dia dengan semangatnya

“hehe, masak iya,” ungkapku dengan senyuman

“seriuslah, wah kamu bisa ni, cocoknya menjadi fotografer aja wan.”

“hehe,,InsyaAllah lah kawan, namun aku tidak mempunyai kamera dan perlatan lengkap menjadi seorang fotografer,” tegasku

“haha,,wan, wan, selagi ada kameraku, kamu pinjam aja sepuasnya, dan tentu jaga baik-baik ya,” dengan semangatnya ia memberi jalan kepadaku

“serius?, baiklah kalau begitu, akan dijaga sebaik-baiknya ya kawan,” dengan senyuman dan bahagianya diriku.

Tidak ada niat sebenarnya menjadi fotografer, namun karena lingkungan yang memaksa, akhirnya dengan seiring berjalannya waktu, akupun mulai tertarik dan meminati fotografer. Kesana dan kesini memotret sesuatu yang bisa mengasah hasil karya yang aku dapatkan.

Suatu hari tiba-tiba ada orang yang menghampiri diriku, namanya Munthe, yang aku panggil abang. Dia merupakan salah satu anggota Raider di Banda Aceh, iapun menyapa

“ adek bisa edit foto?”

“emm gimana bang ya,” berpikir sejenak

“Abg mau preweding, adek bisa yang fotoin? Tidak apa-apa dek, saya percaya sama hasil foto dan editan kamu”. Tegasnya menyemangati

Tanpa berpikir panjang, akhirnya kuterima terus untuk menambah wawasan dan penghidupan diriku.

“Bisa bang?”

Namun disamping itu, hambatanku hanya tidak mempunyai laptop untuk mengedit foto, dan akhirnya harus pinjam juga laptop kawan-kawan.

Saat itu saya sangat2 amatir, dan saya hanya belajar fotografi hanya autodidak. Modal hanya modal android, duduk di warkop melihat tutorial edit foto,cara pengambilan foto ketemulah yang namanya adobe photoshop yang tidak tau apa itu fungsinya. Namun karna sudah diberi kepercayaan saya yakin harus bisa menggunakan aplikasi ini meski tidak punya laptop.

adakalanya terkadang malu kepada teman-teman harus meminjam dan meminjam lagi laptop untuk mengedit hasil foto orang. Terasa mengganggu dan tidak nyaman dengan mereka semua. Disamping tanpa sepengatahuan ayah yang aku tinggalkan di kampung dengan adik.

Sebelum memliki kamera sendiri, dalam berkerja terkadang sangat terasa sulit dan bahkan merasa timbul putus asa karena fasilitas yang tidak memadai. sering konsumen/pelanggan ingin menggunakan jasaku yang  merupakan rejeki dan nikmat besar yang Allah berikan kepadaku. Namun aku menolaknya dan mengatakan

“jasa saya sudah di gunakan oleh orang lain” tegasku dengan santai

tapi dibalik semua itu, aku bekerja hanya sendiri dengan menggunakan modal yang sangat minim sekali. Kesana dan kesini berusaha dan memberikan hasil yang baik kepada yang lain agar senantiasa mendapat hasil yang maksimal dan luarbiasa.

Setelah sekian lama berlalu tidak pernah menceritakannya kepada ayah. Akhirnya kini kuceritakan semua kepada ayah bahwasanya seiring berjalannya waktu kurang lebih selama satu tahun sudah aku mendalami dan bekerja sebagai seorang fotografer. tepat pada tanggal 17 Desember 2016 lalu juga ayah memberikan modal untuk membeli sebuah kamera.

“Alhamdulillah” ungkapku.

semenjak itulah kebebasan dalam mengambil gambar dan sudah milik pribadi dan lebih leluasa dalam mencari nafkah. Aku berharap bisa dapat memberikan yang terbaik bagi keluarga, terutama dalam mengembangkan fotografer dan persembahan untuk ine tercinta. Dibalik semua itu, ia memberikan dukungan dan semangat hidupku. Semoga cinta dan kasih sayangmu yang engkau berikan sebelumnya kepada kami dapat menjadi pahala yang mengalir menerangi tempat terkahirmu.

“Terimakasih ayah (Hamka bin ishaq) yang sekaligus menjadi bunda, tanpa dukungan ayah dan bunda aku  tidak akan menjadi seperti sekarang ini, aku bangga pada ayah”.[]

*Iwan Rahmad merupakan remaja asal kampung Delung Tue, Kec. Bukit Kabupaten Bener Meriah. Kini ia menekuni jasa fotografi di Banda Aceh. Seiring berjalannya waktu, disamping fotografer juga menekuni jasa membuat kado ultah, wisuda/yudisium dan lain-lain ala design-nya yang khas.

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top