Sara Sagi Terbaru

Semoga Dikau Bahagia Adinda…

“ABANG tidur aja, ini biar urusan win.” Begitulah kalimat pembuka, saat dirimu sudah berada di belakang bundar kendali. Dini hari itu, bundar kendali  itu ku serahkan pada mu, di SPBU Juli, Bireuen arah menuju kota dingin Takengon.

“InsyaAllah, abang akan nyaman kalau win yang nyetir,” ujar lelaki yang saat itu masih berkutat dengan skripsi. Guna mengakhiri masa kuliahnya yang telah lumayan lama di FKIP Jurusan Geografi di Universitas Syiah  Kuala (Unsyiah) Banda Aceh.

“Kita beli minuman segar dulu ya di kios depan,” ujar ku, tak menggubris pernyataan lelaki asal Blangkejeren itu. Dan akhirnya, selepas membeli minuman segar bersuplemen, kamipun melanjutkan perjalan menembus gelapnya malam menuju kampung halaman tercinta, Aceh Tengah.

Setelah menyulut sebatang r*k*k, lelaki itu kembali membuka suara. “Abang mau dengar ngak, musikalisasi puisi yang win buat. Puisinya Kak Ana (Zuliana Ibrahim-red) yang buat, musiknya win yang aransemen.”

Musikalisasi Puisi, khusus untuk abang win buat.Win terinspirasi dari buku yang abang tulis “Gayo 6,2 SR”. “Anggap saja ini kado ulang tahun abang,”  ujarnya lagi. Sejurus kemudian, win pun mengambil flashdisk dari dalam tasnya dan menghubungkan di tipe mobil.

Itulah sekelumit cerita yang terbangun setahun lalu, saat saya dan Supri Ariu menempuh perjalanan, membelah malam menuju Aceh Tengah, guna menghadiri HUT ke 2 Tabloid LintasGAYO, yang di dalamnya dikemas acara peluncuran buku “Gayo 6,2 SR”. Buku tersebut merupakan kumpulan tulisan tentang gempa yang melanda Gayo pada 2 Juli 2013.

Mendengar pembacaan musikalisasi puisi dan lagu-lagu Gayo yang terdapat dalam flashdisk Supri, kantukpun semakin hebat. Bagai terhanyut dalam buaian, aku pun terlelap. Sedangkan, Supri yang berada disisi kanan saya, terus berkonsentrasi penuh dibelakang kendali kemudi.

Jelang subuh, aku terbangun. Ternyata sudah sampai ke Lampahan, Bener Meriah. “Kita berhenti shalat subuh dulu ya, di masjid,” ujar ku. Supri pun menghentikan laju kenderaan persis di masjid mungil di Pasar Lampahan.

Seusai shalat dan beristirahat sejenak, kamipun melanjutkan perjalanan menuju Takengon. “Gimana, nyenyak kan bang tidur,” ujarnya. Namun saya tetap tak menjawab komentar tentang ini. Meski dalam hati, memang benar, sangat nyaman dan tenang anak muda satu ini dalam mengendalikan lajunya kenderaan, meski di tengah malam.

Keperibadian Supri yang tulus, polos dan sedikit lugu ini, memang sudah lama saya kenal. Karakter dewasanya terasa mulai muncul terbangun saat ia bergabung dengan LintasGayo.co. Bisa jadi ini karena, meunculnya kepercayaan diri dalam diri seseorang, saat ia berada dalam situasi, tanpa batas untuk berekspresi.

Banyak cerita yang kami bincangkan, selama perjalanan Banda Aceh-Tekengin tersebut. Mulai dari soal LintasGayo, soal sosok pemred Khalisuddin yang menurutnya banyak memberi motivasi dan inspirasi dalam dirinya, sampai dukungan materil juga kerab diterimanya, saat Pemred berkunjung ke Banda Aceh atau saat ia pulang ke Blangkejeren dan singgah di Takengon.

“Bang Khalis tu, sudah dekat betul ia sama keluarga win. Bahkan, Bapak win pernah bilang sama Bang Khalis, untuk ingatkan win agar selesaikan kuliah, kalau ngak, jangan pulang ke Blang lagi,” ujar Supri bercerita.

“Makanya, win ingin tahun (2016) depan kuliah win selesai, lalu dapat kerja dan pulang ke Blangkejeren,” ujar lulusan terbaik ketiga Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) PWI Aceh angkatan ke II ini.

Supri juga banyak bercerita tentang Gayo Lues dengan alam dan budayanya. Maka, tak mengherankan banyak tulisannya di LintasGayo.co bercerita tentang tanah kelahirannya. “Saya kepingin sekali Gayo Lues itu maju bang. Setidaknya bisa seperti Aceh Tengah,” ujarnya.

Tentunya, hal lain yang tak lupa, Supri juga banyak bercerita tentang kisah asmaranya dengan Yuni, seorang seberu Gayo yang sudah lama dikenalnya. Banyak lika-liku yang harus ditempuhnya, guna mendapatkan hati wanita pujaan hatinya itu.

Kini, setahun telah berlalu dari perjalanan kita malam itu. Hari ini, Senin, 9 Januari 2017, Supri Ariu mengakhirnya masa lajangnya, dengan menikahi gadis idaman hatinya Yuni. Tentu, hari ini juga, hari yang sangat bahagia buat mu adinda.

Kepingin rasanya, menjejakan kaki di bumi ‘seribu bukit’ itu. Menyaksikan kesempurnaan cinta kalian. Namun, apa hendak dikata, waktu dan jarak membatasi itu semua. Semoga cerita ini bisa sedikit mengobati rasa rindu untuk menyaksikan detik-detik kebahagiaan mu.

Satu pesan abang mu ini, tetaplah tulus, ikhlas dan penuh didikasi dalam mengerjakan semua hal, termasuk dalam menghadapi dinamika rumah tangga nantinya. Sebab, rasa iklhlas dan ketulusan mu itu, sangat sempurna di mata ku.

Aku bangga, penah menjadi teman baik mu saat dirimu lajang. Binalah keluarga mu menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warahma. Itu saja…(Iranda Novandi)

Comments

comments