Free songs
Home / Features / Galau Masalah Cinta dan Cita-Cita

Galau Masalah Cinta dan Cita-Cita


Oleh: Husaini Muzakir Algayoni*

Galau itu tak dapat dilihat namun dapat dirasakan

Husaini Muzakir Algayoni

Setiap insan pastilah pernah merasakan suka dan duka di dalam kehidupan ini, rasa cinta dan rasa galau pun selalu hadir di perasaan yang tak dapat dilihat namun dapat dirasakan. Itulah sekelumit untaian kalimat dalam mukaddimah novel galau dan sajadah hijau yang menegaskan bahwa setiap insan itu pastilah merasakan yang namanya rasa galau.

Kata galau ini begitu populer dikalangan anak muda apalagi dikalangan anak-anak remaja, galau bermula dari perasaan yang tak menentu menghiasi ruang dan waktu dari kawula muda. Ketika sudah mengenal yang namanya kata cinta atau mempunyai perasaan kata suka kepada seseorang maka rasa galau itu mulai muncul dan ini pada umumnya berawal dari masa yang dinamakan dengan pubertas. Ketika sudah menginjak usia dua puluh tahun ke atas maka rasa galau itu semakin memuncak dan menjadi-jadi, pada masa pubertas galau itu hanya pada cinta namun masa ini galau itu bukan hanya lagi masalah cinta tapi juga masalah cita-cita.

Ketika seseorang telah tercium dengan rasa galau maka banyak hal yang ia lakukan, seperti menenangkan hati pergi kepinggir pantai, menyendiri dikesunyian malam, menghabiskan malam dengan alunan suara gitar ditemani dengan secangkir kopi dan sebungkus rokok, membuat status dengan untaian kata syahdu didinding facebook, membaca buku dan menulis atau dengan hal yang lebih religius lagi dengan menenangkan hati di dalam masjid dengan sujud diatas sajadah, membaca al-Qurán dan dzikir. Itulah beberapa aktivitas yang dilakukan disaat-saat seseorang telah tercium dengan rasa galau atau ada yang lebih ekstrim lagi dengan menggunakaan sabu-sabu/narkoba dan bunuh diri namun yang ekstrim ini tak perlulah dilakukan karena manusia masih mempunyai akal sehat untuk berpikir.

Galau Masalah Cinta

Andai saja ia berkunjung tiba-tiba

Walau cuma dapatkan isyarat mata, aku pun rela

Bersua denganmu, cukup sehari sekali

Tak ingin lebih, yang penting rindu ini terobati

Inilah salah satu puisi dari seorang Ulama dan Pujangga Besar Islam Abad ke 5 H yang bernama Ibn Hazm Al-Andalusi, beliau lahir disalah satu tempat yang banyak melahirkan pemikir-pemikir Islam yang mampu mengepakkan panji-panji Islam keseluruh dunia pada masa silam tapi sekarang hanyalah tinggal nama dan sejarah karena peradaban Islam tak lagi bersinar di tempat ini yaitu di Cordoba, Spanyol pada tahun 384 H/994 M. Dulu Islam berjaya di Spanyol dan sekarang Spanyol berjaya dengan sepak bolanya, apalagi dua klub raksasa dunia berada di Spanyol yang mana ketika bertanding dua klub ini dijuluki dengan laga El-Clasico.

Dalm bukunya pujangga besar dari Cordoba ini menuliskan bahwa tidak ada cinta yang abadi, selain cinta suci yang keluar dari relung hati. Cinta ragam ini tak akan sirna, kecuali ajal datang menjelang dan cinta itu adalah bayang-bayang indah yang terpateri dalam jiwa, cinta adalah kasih yang terukir dalam hati.

Cinta itu memang indah namun bisa membawa seseorang kepada rasa frustasi bahkan hingga kematian, masih ingat dengan kisah asmara Zainuddin dalam novel Tenggelamnya Kapal van Derwijck dengan seorang gadis ayu nan cantik jelita berdarah minang bernama Hayati kandas ditengah jalan, kandasnya cinta Zainuddin membuat ia jatuh tak berdaya, hari-harinya dihabiskan diatas kasur sambil merenung dan meneteskan air mata. Atau dengan kisah Ridho dalam novel Musyahid Cinta, Ridho seorang mahasiswa mempersembahkan cinta sejatinya kepada Nisa (seorang mahasiswi aktivis dan teladan). Sayang, Nisa tak menyambutnya hingga Ridho mati karena cinta.

Galau Masalah Cita-Cita

Galau yang satu ini, sepertinya lebih parah dari galau masalah cinta. Kalau masalah cinta hanya bermain dalam ruang hati tetapi masalah cita-cita berhubungan dengan langkah kehidupan seseorang selanjutnya. Masalah cita-cita membutukan pikiran yang jernih, membutuhkan waktu, menghadapi berbagai macam problem dalam dunia akademik dan juga tidak terlepas dari masalah cinta juga yang terkadang disela-sela mencapai cita-cita itu diwarnai dengan kisah-kisah cinta yang bersifat buruk maupun romantis, ada yang biasa-biasa saja atau sama sekali tidak ada kisah cinta itu hingga membuat rasa galau itu semakin membara dihati. Atau boleh jadi, tatkala seseorang dalam meraih cita-cita mempunyai komitmen yang kuat; yang mana tak akan mengenal cinta sebelum meraih baju toga, ketika sudah meraih baju toga baru mengenal cinta dengan meraih baju pengantin. Sesuai dengan ungkapan bahwa “Pacaran yang indah ialah ketika sudah menikah.”

Dalam peroses meraih cita-cita, khususnya dikalangan mahasiswa ada saja rintangan dan cobaan yang dihadapi atau mahasiswa itu sendiri yang membuat rintangan untuknya sendiri sehingga ujung-ujungnya rasa galau hingga rasa frustasi menyelimuti dirinya.

Dua rasa galau ini yaitu rasa galau dalam masalah cinta dan galau dalam masalah cita-cita pastilah setiap kita ada yang merasakannya (wabilkhusus mahasiswa) karena setiap insan pasti datang rasa cinta dan rasa galau, oleh karena itu obat dari rasa galau ini hanyalah dengan menerapkan nilai-nilai religius dalam kehidupan sehari-hari sehingga setiap kaki berlangkah hati bisa tenang dan pikiran bisa jernih dan tentu saja suasana hati selalu dalam keadaan happy walaupun didalam hati itu sendiri terkadang ada rasa yang terkoyak. Akhir kata Don’t forger for Happy.

*Penulis: Resiator Buku dan Novel (Motivasi & Religi). The Student of Theology and Fhilosophy.

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top