Free songs
Home / Opini / Mengingat Tahun Baru Hijriah di Pergantian Tahun Masehi

Mengingat Tahun Baru Hijriah di Pergantian Tahun Masehi


Oleh : Diana Seprika

BEBERAPA hari kebelakang, tepatnya Minggu, 2 Oktober 2016 lalu bertepatan dengan hari pertama bulan Muharram 1438 Hijriah.

Dinamakan kalender Hijriah karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun dimana terjadi peristiwa Hijrahnya Nabi Muhamad Saw dari Makkah ke Madinah, yakni pada Tahun 622 M. Di beberapa Negara yang berpenduduk mayoritas Islam, kalender Hijriah juga digunakan sebagai sistem penanggalan sehari-hari. Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender Masehi yang menggunakan peredaran matahari.

Masih hangat dalam ingatan, perayaan tahun baru Islam beberapa Waktu yang lalu, banyak tokoh ulama, politisi, lembaga organisasi masyarakat serta seluruh elemen masyarakat dari berbagai belahan bumi di seluruh dunia merayakan moment tahun baru Islam. Ucapan selamat Tahun Baru juga satu persatu bermuncunculan, baik di Dunia nyata maupun di Media Sosial. Beberapa tokoh Indonesia yang menyampaikan ucapan selamat tahun baru Islam di Media Sosial diantaranya Wakil Presiden Indonesia Yusuf Kala mengatakan “Selamat tahun baru Hijriah 1438 H untuk umat kaum Muslimin dimanapun berada. Semangat tahun baru kita jadikan momentum untuk memperkuat persatuan”, ucap Wakil Presiden dalam Twitter @Pak_JK, Minggu (2/10/2016).

Ucapan selamat juga disampaikan oleh ketua MPR RI Zulkifli Hasan yang mengatakan soal pentingnya persatuan umat dan bangsa dalam meniti kehidupan di tahun baru. “Lupakan perbedaan, temukan persamaan, bersatu menjadi umat yang Unggul, berdaya saing dan sejahtera. Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1438 Hijriah”, ucap Zulkifli Hasan melalui akun Twitternya @Zul_Hasan.

Tidak mau kalah  dalam momentum perayaan tahun baru Islam, beberapa waktu lalu berbagai lembaga  swadaya masyarakat Aceh Tengah juga ikut  memperingati tahun baru Islam dengan mengadakan berbagai  jenis kegiatan, diantaranya ada pelaksanaan Tabligh Akbar, Seminar Islam,  liburan bersama keluarga dan sahabat serta pegadaan berbagai jenis cabang perlombaan yang diadakan di Kabupaten Aceh Tengah dan hadirnya ucapan-ucapan selamat Tahun Baru Islam dari berbagai tokoh di Kabupaten Aceh Tengah.

Semaraknya ucapan selamat tahun baru Islam beberapa waktu yang lalu seharusnya menjadi patokan umat Islam di dunia, khususnya Indonesia agar tidak berkiblat pada kalender tahun Hijriah sebagai tahun baru umat Islam,  terlebih dikalangan pemuda, jangan sampai mengikuti arus perkembangan zaman yang mudah terombang-ambing oleh budaya masyarakat  Yahudi.  

Beberapa budaya masyarakat terkait perayaan tahun baru diantaranya dengan melewati malam akhir tahun bersama rekan dan sahabat dengan berbagai kegiatan seperti bakar-bakar ikan, menyalakan kembang api, petasan, meniup terompet dan masih banyak lagi budaya lainnya yang tidak berkiblatkan Islam.

Selain itu masyarakat kerapkali juga  membersamai menghitung  detik-detik pergantian tahun, baik secara langsung maupun mengikuti kegiatan pergantian tahun yang diadakan oleh media televisi nasional dan internasional, jelasnya ikut serta dalam mengikuti malam pergantian tahun.

Tidak bisa dipungkiri di Indonesia, termasuk di Aceh Tengah beberapa tahun terakhir juga ikut serta dalam menyemarakan malam pergantian akhir tahun dan tahun baru, terlebih dikalangan pemuda yang meramaikan akun media sosial dengan membuatkan status akhir tahun dan tahun baru, bahkan sebagian ikut mengucapkan selamat tahun baru, membunyikan petasan dan kegiatan lain yang menandakan bahwa pergantian tahun segera dimulai. Oleh karena itu masyarakat Islam harus dibekali dengan ilmu perkalenderan umat Islam dan terus menginatkan bahwa 1 Muharam itu adalah tahun baru umat Islam dan di momen itulah seharusnya umat Islam menyemarakan malam pergantian tahun menuju tahun baru.

Perlu kita ketahui bahwa sejarah penetapan awal dan akhir tahun Hijriah, para ahli sejarah menegaskan bahwa penetapan kalennder Hijriah  sebagai kalender resmi dalam Islam, baru ada di zaman Umar Bin Khatab radhiyallahu ‘anhu dan itu ditetapkan untuk menandai surat menyurat yang dilakukan  diantara kaum Muslimin.  Artinya, kalender Hijriah  belum pernah dikenal di zaman Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar As-shiddiq, sehingga dizaman beliau belum dikenal Istilah akhir tahun dan tahun baru.

Terkait penjelasan diatas, seharusnya umat Islam harus menguatkan ingatan bahwa keharusan melaksanakan perayaan tahun baru bukanlah di akhir dan awal tahun kalender Hijriah melainkan menguatkan ingatan bahwa 1 Muharram adalah tahun baru bagi umat Islam dimanapun berada. Jauhi budaya masyarakat Yahudi, tetap lakukan kegiatan positif di akhir tahun tanpa mengaitkan dengan perayaan tahun baru serta ikutserta dalam merayakannya.[]

*wartawati LintasGayo.co

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top