Free songs
Home / Opini / Ilang ni Asam Ijo ni Rempelam

Ilang ni Asam Ijo ni Rempelam


Oleh: Ali Abubakar Aman Nabila

…..Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik buatmu dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk buatmu. Allah yang mengetahui (yang terbaik bagimu) sedangkan kamu tidak mengetahui (QS. Al-Baqarah: 216).

ADA pepatah indah milik masyarakat Gayo: ilang ni asam gere kutelah macam, ijo ni rempelam gere kutelah lungi (merah jeruk tak kuduga rasanya asam, hijaunya mangga tak kuduga rasanya manis). Jika dibaca sekilas oleh seorang anak muda, beberu atau bebujang, pasti akan terpikir oleh dia tentang rasa kecewa yang pernah ia alami dari seseorang yang ia sukai.  Dari pandangan pertama dan tutur kata,  ia mendapat kesan bahwa orang yang ia kagumi itu berkarakter sangat baik. Tetapi setelah berlalu waktu, ternyata yang tampak justru sebaliknya; karakternya bertolak belakang dengan penampilan dan tutur katanya. Setelah waktu berlalu, ia beralih serong, berlangkah lintang. Begitu juga bisa jadi ada seseorang yang sangat kita benci karena penampilannya, tetapi ternyata dia orang yang memiliki karakter teramat baik:  dèlah paseh ate mukmin.

Jika peri mestike tersebut dibaca dari sudut pandang filsafat, akan tampak  makna yang amat dalam. Masyarakat Gayo memiliki pemahaman bahwa tidak semua pengetahuan kita tentang sesuatu betul-betul tepat. Manusia memiliki keterbatasan indra dan akal jika dibandingkan dengan ilmu Allah dan misteri alam semesta yang demikian luas. Dengan indra dan akalnya, manusia hanya dapat mengetahui hal-hal yang tampak dan masuk akal. Ilang menurut adat kebiasaan akan mewakili rasa lungi (manis), sementara ijo mewakili rasa macam (asam). Itulah pengetahuan indra. Begitu juga, biasanya keindahan mewakili kebaikan, sementara ketidakindahan mewakili keburukan.

Dari sisi lain, peribahasa tersebut menggambarkan bahwa kepribadian orang tidak dapat ditebak dalam waktu sekilas. Ia hanya dapat diketahui setelah berselang beberapa waktu dari masa “pandangan pertama”. Dalam bahasa yang lebih keren, kepribadian sesungguhnya baru dapat dikenali lebih tepat setelah ada track record (rekam jejak perange). Itupun tidak menjamin hasilnya dapat 100%. Terdapat beberapa kasus pasangan suami isteri yang telah menikah 20-30-an tahun, bahkan sudah punya beberapa orang anak, harus berpisah karena merasa tidak cocok lagi setelah sifat aslinya muncul. Artinya suami atau isteri itu baru tahu betul sifat pasangannya setelah hidup bersama selama puluhan tahun. Kasus seperti ini tercermin indah dalam pepatah asam perege gembali ku asam pepok.

Calon reje Dataran Tinggi Gayo mendatang di Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Tenggara dan Gayo Lues, saat ini sedang menebar pesona; menunjukkan ilang ni asam. Tidak ada yang berani menunjukkan ijo ni rempelam. Karena itu, para pemilih harus jeli, apakah “kulit dan pesona”  yang  ditunjukkannya betul-betul menggambarkan isinya atau sekedar penutup kebobrokannya. Lihatlah integritas kepribadian dan intelektualnya, jangan lihat penampilan dan uangnya. Ike itimang gelah si beret, ike i juel gelah si murege. Ceh Win Kul dari Bebesen pernah mendendangkan syair penuh makna: si kuingeti budi urum basa, oya kene jema gere mera layu. Begitulah juga cara Allah menilai hamba-Nya.  

Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada penampilan dan harta kamu, tetapi Allah melihat kepada hati dan perbuatan kamu (Hadis Nabi).[]

Ali Abubakar Aman Nabila adalah Dosen Filsafat Hukum Islam Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh, email: aliamannabila[at]yahoo.co.id

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top