Opini Terbaru

Goresan Pena dalam Kesunyian

Oleh: Husaini Muzakir Algayoni*

Senyum dalam kesedihan, sepi dalam keramaian dan tawa dalam tangisan mencurahkan perasaan lewat goresan pena. (Husaini Algayoni)

Riak-riak ditengah keramaian, hati yang terkoyak itu baru pulih dan kini berada dalam genggaman angin laut yang siap dihempaskan ke bibir pantai. Hempasan angin laut ke bibir pantai membuat suasana menjadi tenang dan damai dengan panorama alam yang begitu indah. Kemudian di malam hari, sentuhan angin menyapa hati ketika sedang menggoreskan pena di kertas putih yang berserakan.

Saat pena berbicara dalam kesunyian, menimbulkan ketenangan dalam takjub keheningan, kesunyian malam begitu indah dengan secangkir cappuccino, pemandangan yang gelap diwarnai dengan pemandangan yang menakjubkan. Keheningan dibawah langit yang gelap, suasana hening tanpa suara, yang ada hanyalah suara-suara kesunyian hati. Kesunyian itu selalu hadir untuk menemani hari-hari yang ada dalam kesunyian dengan sebuah nota yang di lafazkan.

Menggoreskan pena adalah suatu aktivitas yang menyenangkan bagi insan yang suka berada dalam kesunyian, ia berbicara lewat tulisan yang berasal dari hatinya. Patah hati, cinta yang ditolak, perasaan yang diabaikan, hidup penuh dengan liku-liku yang berduri, emosi memunculkan api amarah, rasa cinta, rasa benci dan lain-lain dengan suasana hati yang mewarnai bentuk kata-kata yang akan diucapkan lewat bahasa perasaan kepada bahasa tulis.

Seorang penulis pernah mengatakan bahwa “Menulis adalah senjata yang menyenangkan kalahkan kesunyian”, ketika menulis dalam kesunyian, imajinasi bergerak menjadi kehidupan, kata menjadi kalimat, kalimat menjadi cerita dan cerita menjadi karya.

Begitu juga dengan seseorang yang ingin menjadi penulis, hal yang pertama ia rasakan ketika tulisannya sudah selesai maka rasa bahagai dan suka ria meliputi hatinya walaupun ia berada dalam suasana hati yang remuk sampai kubah hatinya terkoyak dengan kisah hidupnya tapi selama ia curahkan dalam bentuk goresan pena maka sesuatu yang lain akan hadir setelah menggoreskan pena dengan deraian kata-kata diatas kertas.

Menulis itu adalah sesuatu yang bisa menghiasi relung hati dikala berada dalam kesunyian dan dalam kesunyian itulah melahirkan kata-kata yang penuh dengan emosional, walaupun kata-kata yang kita tulis tidaklah seindah dengan kata-kata penulis terkenal lainnya tapi ada sebuah ungkapan yang membuat semangat menulis “lebih baik menulis walaupun memiliki kata yang jelek daripada memiliki kata yang bagus tapi tidak menulis.”

Kenapa harus Menulis ?

Penulis (saya) disini bukanlah seorang penulis yang pandai merangkai kata namun penulis hanyalah menikmati proses menulis itu sendiri, seperti yang telah ditulis diatas bahwa menulis itu adalah suatu aktivitas yang menyenangkan. Kepuasan bagi seorang penulis adalah menyalurkan ide pikirannya kedalam bentuk tulisan dan bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan bisa dibaca oleh orang lain.

Menulis sebahagian orang adalah sesuatu yang sulit dan susah mencurahkan bahasa pikiran kedalam bentuk bahasa tulis namun disisi lain orang yang telah jatuh cinta terhadap dunia tulis-menulis maka menulis itu ibarat menuangkan air kedalam gelas atau ibarat meminum secangkir kopi Gayo di pagi hari dengan penuh kenikmatan, setiap kata yang ditulis mengalir begitu saja tanpa ada beban. Namun itu semua perlulah ketekunan dan tekad yang kuat untuk bisa menjadi seorang penulis karena menulis itu bukanlah suatu bakat yang diturunkan dari orang tua tapi menulis itu adalah kemauan dari diri sendiri jadi siapapun bisa menjadi seorang penulis.

Penulis hebat Gola Gong mengatakan untuk menjadi seorang penulis (khususnya pemula), tidak usah bingung dengan segala macam teori, ada dua tahapan yang harus dilalui kata beliau, yaitu: pertama, menuliskannya terlebih dahulu lewat hati dan yang kedua, membacanya lagi dengan menggunakan pikiran. Menulis dengan hati adalah menumpahkan semua yang ada dihati, tidak membatasi gelombang kata-kata, biarkan saja kata-kata itu tumpah. Penulis J.K Rowling (penulis buku Harry Potter), mengatakan “Tuliskanlah hal-hal yang kamu ketahui; tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri.”

Menulis begitu besar manfaatnya, terutama untuk memperkaya khazanah pemikiran dan khususnya bagi kalangan mahasiswa; menulis dan membaca adalah aktivitas yang wajib untuk dilakukan mahasiswa yang nantinya akan menjadi seorang intelektual yang handal. Dari beberapa sumber yang penulis dapatkan bahwa menulis itu mempunyai bebarapa manfaat antara lain: menulis adalah membagikan keahlian, aktivitas yang menyehatkan, membiasakan diri berpikir sistematis, menghindarkan diri dari aktivitas negatif. Lewat bahasa tulis kita akan terbiasa berpikir lebih sistematis, terstruktur dan terjadi ekonomisasi kata, begitulah kata salah seorang guru besar bidang filsafat agama ‘bapak Komuruddin Hidayat’ yang pernah juga menjadi rekor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dari tahun 2006 hingga 2015.

Lewat goresan pena dalam kesunyian ini, penulis mengajak para generasi muda untuk mendedikasikan pikirannya dalam mengembangkan khazanah ilmu pengetahuan serta wawasan melalui bahasa tulis yaitu dengan menulis, kenapa harus dengan bahasa tulis ?, padahal untuk mengembangkan khazanah pengetahuan bisa juga dengan bahasa lisan seperti pidato maupun orasi di depan orang banyak. Memang betul, tapi alangkah sayangnya jika mempunyai kata-kata yang bermakna namun hilang begitu saja ditiup angin tanpa ada bekas. Tapi selama kata-kata tersebut ditulis maka akan terus diingat dan dikenang walaupun apa yang kita tulis tidaklah seindah seperti penulis-penulis ternama J.K Rowling, Gola Gong, Habiburrahman Elshirazy, Asma Nadia dan lain-lain. Mempunyai kata yang tidak indah namun ditulis itu lebih baik daripada mempunyai kata-kata yang indah namun tidak ditulis.

*Penulis: Alumni Ponpes Nurul Islam Belang Rakal, Bener Meriah. Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry.

Comments

comments