Free songs
Home / Keber Ari Gayo / Ekonomi / Konflik Gajah; Warga Meregang Nyawa, Pemerintah Masih Belum Punya Solusi

Konflik Gajah; Warga Meregang Nyawa, Pemerintah Masih Belum Punya Solusi


Catatan : Win Wan Nur

Bekas tapak gajah di jalan aspal Singah Mulo-Gedok Kecamatan Pintu Rime Gayo

SURATNO warga Pintu Rime Gayo berada di tengah perkebunan cabe yang siap panen. Di tangannya tergenggam dua batang petasan. Kebunnya, kebun tetangganya Gundala, Amin dan Satibi Ariga, sejak beberapa hari belakangan ini diobrak-abrik oleh kawanan Gajah liar.

Petasan yang dia genggam adalah satu-satunya jenis “Senjata” yang mereka punya untuk mempertahankan diri kalau kebetulan dalam perjalanan pulang dari kebun atau ketika dia sedang di dalam rumah didatangi kawanan Gajah. Hewan besar ini tidak menyukai suara petasan. Mereka harus menyisihkan uang tidak kurang dari Rp.2 juta untuk memperoleh 100 batang petasan yang dibeli khusus di kota Takengon (saya biasa menulisnya dengan Takengen), 40an kilometer dari kampung mereka.

Ini adalah konflik ke sekian kali yang terjadi antara manusia yang membuka kebun di Pintu Rime Gayo, dengan hewan bertubuh besar yang terganggu habitatnya ini.

Sejak 2012, nyaris setiap tahun, tiap kali Gajah datang ke desa ini selalu ada korban yang meregang nyawa.

Pada tahun 2012 ada Hamdani alias Cek Gu (42) yang kritis karena dianiaya hewan yang oleh orang Aceh dipanggil dengan nama kehormatan Po Meurah. Pahanya tertembus gading. Dua hari berselang. M Syarif (60) meninggal dunia setelah diserang kawanan Gajah yang tidak sengaja berpapasan dengannya di jalan.

Tahun 2013, tidak ada korban amukan Gajah, tapi bukan berarti serangan berakhir. Tahun 2014, amukan Gajah kembali memakan korban. Pada hari Rabu, 6 Agustus 2014, seorang warga bernama Firmansyah, tewas diamuk hewan berbelalai ini. Dan dia bukanlah korban terakhir, hampir empat bulan berselang sang Po Meurah kembali mengamuk dan kali ini Hasan Basri yang menjadi korban, tewak karena diinjak-injak kawanan gajah.

Suratno

Satu warga yang kritis dan tiga anak manusia kehilangan nyawa ternyata belum cukup untuk membuat para pengambil kebijakan untuk menemukan solusi yang bisa menjaga keselamatan Warga Negara Indonesia dari amukan hewan dilindungi ini.

Tahun 2015, hewan darat terbesar di Sumatera ini datang kembali dan kini nasib tragis harus dialami oleh Husna (35) tewas dengan tubuh tercabik di depan mata suaminya, Fadli dan anak lelaki, Mudewali (4) yang terlepas dari gendongan.

Kepada saya Gundala dan M.Amien, dua warga Pintu Rime Gayo yang ikut mengevakuasi jenazah almarhumah mengatakan. Setelah tubuh ibu beranak 3 ini diangkut dengan ambulans. Mereka masih menemukan beberapa organ dalam perempuan ini berceceran di tanah dalam keadaan hancur.

Pasca kejadian itu, sempat ada perhatian besar dari pemerintah dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Tapi solusi permanen belum juga ditemukan.

Kemarin Senin, 26 Desember 2016, kami mendapat informasi bahwa Gajah kembali mendatangi Pintu Rime Gayo. Saya bersama pemimpin redaksi LG.Co, Khalisuddin ditemani dua wartawan LG.co, Darmawan dan Feri Yanto serta Yusradi, kontributor MNC Group segera berangkat ke lokasi.

Di sana warga menunjukkan kepada kami, rumah-rumah yang dihancurkan gajah serta batang-batang pisang yang roboh dan bagian dalamnya dimakan gajah serta kebun cabe siap panen yang berantakan sehabis dilintasi rombongan gajah.

Menurut penuturan Gundala, dulu mereka memang sempat diberikan alat untuk memonitor keberadaan Gajah yang sudah dipasangi GPS Collar, tapi sekarang baterai yang terpasang di alat itu sudah habis dan akibatnya pergerakan sang Gajah tak lagi terdeteksi.

CRU yang seharusnya menjadi solusi, oleh Gundala justru dituding sebagai salah satu sumber masalah. Menurutnya dengan dana yang mereka punyai, seharusnya CRU bisa berpatroli dan mengawasi pergerakan gajah serta menggiring mereka menjauhi pemukiman penduduk. Tapi itu tidak mereka lakukan.

Benar, sejak persoalan ini mengemuka, ada beberapa NGO yang mendatangi tempat ini, memberikan berbagai pelatihan dan juga fasilitas bahkan kadang dana untuk menanggulangi serangan gajah.

Tapi ironis, saya menangkap kesan kalau kehadiran NGO ini dalam beberapa hal justru menimbulkan keretakan di dalam masyarakat Pintu Rime Gayo. Menurut Gundala Pati seorang anggota Tim 8 dengan tugas pengiring gajah di kampung tersebut. Sekarang seringkali ketika Gajah datang, warga menyindir mereka karena tidak bisa melindungi kebun dan rumah mereka dari amukan hewan ini. Sebab warga berpikir mereka sudah mendapat gaji bulanan dan memang bertugas untuk itu. Padahal menurut Gundala, meskipun mereka pernah mendapat uang dari NGO, tapi itu tidak bersifat bulanan dan menjadi penghasilan permanen.

Kesalahmengertian ini membuat beberapa warga malah bersikap nyinyir ketika mereka mengusir Gajah. Padahal mereka bertaruh nyawa untuk itu. Sekarang, kata Gundala dan rekannya M.Amin, kalau ada Gajah datang mereka tidak lagi peduli kalau yang didatangi kebun warga lain.

“Sekarang kita urus kebun dan rumah masing-masing saja”, aku warga yang aslinya berasal dari Kute Keramil Isak ini.

Warga sangat paham kalau gajah adalah hewan dilindungi, mereka sama sekali tidak berpikir untuk membunuh hewan yang terus membahayakan hidup mereka ini. Tapi mereka sangat menyesalkan, sejak meruaknya kembali gangguan Gajah pada tahun ini, pemerintah seolah lepas tangan. Pemerintah seperti tutup mata atas keselamatan warganya yang berada dalam situasi hidup dan mati.

Empat nyawa yang melayang seolah tidak cukup untuk membuat pemerintah merasa bahwa solusi cepat untuk masalah ini adalah sebuah situasi mendesak. Masyarakat benar-benar dibiarkan mengurus hidup dan mati mereka sendiri. Negara hanya peduli pada hewan yang dilindungi. Nyawa manusia tidak begitu penting.

Camat apalagi Bupati saat ini, menurut M Amin, salah seorang warga. sama sekali belum pernah menunjukkan batang hidung nya di kampung ini.

Jadi sekarang yang bisa mereka lakukan, ketika Gajah masuk ke kebun mereka, mereka menyalakan petasan. Lalu kawanan gajah yang merasa terganggu dengan bisingnya suara petasan akan pergi dan masuk ke kebun orang lain. Di kebun orang lain itu, petasan dinyalakan lagi gajah kembali lagi ke kebun ini. Begitu terus berputar-putar tanpa solusi.

Gajah mati di Bergang Aceh Tengah

Sementara itu, gajah yang dipingpong dari satu kebun ke kebun lain dengan suara petasan bisa mengamuk kapan saja dan mengambil nyawa salah seorang warga kampung ini.

Terhadap kemungkinan ini, saya melihat warga seperti sudah pasrah. Kalau memang sudah sampai ajal ya mati. Mereka menghadapi kemungkinan kehilangan nyawa dengan sikap yang begitu wajar. Seperti seorang tentara yang diterjunkan ke garis depan dalam sebuah peperangan. Padahal mereka tidak pergi kemana-mana, hanya tinggal di kampung mereka sendiri.[]

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top