Free songs
Home / DANAU LUT TAWAR / Inspirasiku, dari Pelastik hingga Hiasan Lut Tawar

Inspirasiku, dari Pelastik hingga Hiasan Lut Tawar


Catatan : Izra Ayu

AKU sedang latihan vokal saat itu mempersiapkan diri ikut andil memperingati hari guru tanggal 25 November 2016 lalu. Terdengar suara panggilan namaku dari microphone sekolah, langsung saja aku berlari dan bertemu kesiswaan di sekolahku, SMAN 1 Timang Gajah Bener Meriah. Aku bersama seorang teman, Sinta Febriana dipercayakan mengikuti kegiatan pelatihan jurnalistik (Pelastik) yang diselengarakan Dinas Pendidikan Aceh bekerjasama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh didukung Dinas Pendidikan dan PWI setempat, 17-20 Nopember 2016 di Redelong.

Pelatihan itu diikuti oleh siswa-siswi SMA/SMK sederajat yang ada di Kabupaten Bener Meriah, kira-kira ada lebih dari 40 peserta.

Peserta pelatihan jurnalistik siswa SMA Bener Meriah

Hari pertama, aku masih bingung karena itu adalah kali pertama mengikuti kegiatan seperti ini. Namun ternyata sangat menyenangkan karena pemateri yang sangat ramah, baik dan tentunya cerdas, seperti Iranda Novandi dari PWI Aceh, Khalisuddin (ketua PWI Bener Meriah), Sulaiman (PWI Aceh) dan beberapa pemateri handal lainnya.

Materi yang kami pelajari seputar jurnalistik dan menulis. Hari kedua kami semua latihan membuat feature dan opini, saat itu di pilih 4 tulisan terbaik, dan senangnya aku saat tulisan ku yang berjudul “SMANTIG” terpilih dan aku di beri reward berupa pulpen yang berlogo “ACEH TV” dan buku berjudul “Pemerintah Pers Dimata Aceh”.

Namun yang sangat berkesan bagiku adalah saat hari terakhir, kami semua diberi tugas mencari berita tentang Bandara Rembele. Kami juga berkesempatan mewawancarai Buyer Coffee yang berasal dari Sidney-Australia dan Kepala Bandara Rembele, Yan Budianto.

Aku tidak kecewa walau berita hasil liputan dengan metode wawancara cegat (door stop)  tidak terpilih menjadi yang terbaik, tidak apa-apa aku tetap mendapatkan banyak ilmu dalam kegiatan pelatihan ini.

Kami juga bertekad melanjutkan pelatihan kami ini dengan membentuk sebuah komunitas yaitu Komunitas Pelajar Penulis Bener Meriah (KPPBM).

“Kegiatan ini sangat bagus dan harus dilanjutkan,” ujar Iranda Novandi. Pembentukkan komunitas ini juga sekaligus menutup kegiatan pelatihan jurnalistik ini.

Kabandara Rembele, Yan Budiyanto bersama siswa Bener Meriah

Hari terus berlanjut, aku ingin sekali mengikuti pelatihan lagi. Aku dan teman-teman membangun komunikasi intens via WhatsApp dengan salah seorang pemateri, Khalisuddin. Jika bukan kami yang menghubungi, sebalik dia yang mengingatkan kami untuk tetap menulis.

Kami ingin sekali kembali saling bertatap muka, berdiskusi soal dunia tulis menulis, hingga akhirnya kesempatan itu datang juga. Khalisuddin yang rupanya juga sebagai Sekretaris Jenderal Forum Penyelamatan Danau Lut Tawar (FPDLT) meminta kami hadir di kegiatan lingkungan membersihkan sampah dan menanam pohon di Danau Lut Tawar, persisnya di Pagar Merah tidak jauh dari Kampung Toweren.

Kami dari Bener Meriah, Sinta Febriana, Aisyah, Balqis dan saya berkesempatan ikut serta, sementara teman lainnya berhalangan karena sesuatu dan lain hal.

Kegiatan ini berlangsung sesuai rencana. Aku pribadi sangat prihatin dengan keadaan Danau Lut Tawar, sungguh pemandangan yang tidak indah. Bagaimana bisa sebuah danau kebanggaan kita ini memiliki akses jalan yang dipenuhi sampah?.

Langsung saja kami memungut sampah-sampah itu dari mulai sampah organik, non organik serta sampah B3 (kaleng, besi dan sampah berbahaya) ada disini.

Pungut sampah di danau Lut Tawar

Aku sungguh heran bagaimana orang-orang pembuang sampah ini bisa membuang sampah tanpa merasa bersalah?.

Tanpa merasa ragu lagi kami terus membersihkan sampah-sampah tersebut. Kendaraan-kendaraan pribadi melintas dan menoleh pada kami. Aku berfikir apakah sebagian dari mereka ada yang membuang sampah disini?, tidakkah mereka merasa bersalah atas perbuatannya?.

Ah sudahlah biarkan saja, lebih baik aku melanjutkan kegiatanku.

“Kegiatan ini sangat mulia, jika pemerintah menyediakan tong sampah disini mungkin sampah yang berserakan disini akan berkurang,” ujar Sinta, rekan satu sekolahku.

Waktu menunjukkan pukul 11.30 Wib, kami mengakhiri kegiatan kami, kasian sejumlah adik-adik terlihat kecapean. Kami beralih ke lokasi wisata Pagar Merah yang berbatas langsung dengan Danau Lut Tawar dimana dilakukan penanaman pohon oleh Forum Internal Control System (ICS) Tanoh Gayo, sebuah forum beranggotakan para penyuluh dan pengawas lingkungan sejumlah perusahan eksport kopi organic di Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Di lokasi ini kami kembali melakukan pemungutan sampah, termasuk sampah yang masuk dalam air danau. Setelah itu sebagian anggota rombongan melakukan penanaman pohon sebelum akhirnya makan siang bersama.

Kami baru menyadari bahwa kegiatan kami diikuti banyak kalangan, saat pungut sampah, selain aktivis FPDLT juga ada ketua Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) Cabang Takengon, Feri Yanto beserta beberapa anggotanya, juga ada sang Idola Cilik RCTI, Tyara Rafanaura dan sepupunya penulis cilik, Qien Mattane Lao. Keduanya sedang liburan di Takengon.

Lain itu juga ada penulis bernama Citra Mardiati, iya aktif menulis di sebuah blog jika kalian penasaran dengan karya tulisannya, bisa mengunjungi “chicio.blogspot.co.id“.

Bersama kami juga banyak anak-anak kampung Toweren, beberapa anak Takengon, juga dari Bireuen. O iya, ternyata kegiatan kami diliput khusus oleh wartawan MNC Group, Yusradi. Katanya akan ditayang di RCTI.

Berhubung gerimis, kami segera beranjak dari lokasi tersebut. Kami diajak ke sebuah Coffee Cafe di dekat Rumah Sakit Datu Beru Takengon bernama Bayakmi, rupanya di cafe ini banyak disediakan buku bacaan, pemiliknya Library Cafe ini Maharadi, dia juga ikut bersama kami saat melakukan pembersihan sampah.

Di cafe ini, kami berkesempatan berkenalan leboh jauh dengan Qien Mattane Lao, seorang gadis kecil kira-kira berumur 12 tahun keturunan suku Gayo yang bersekolah di Bali dengan kemampuan menulisnya. Dia anak dari seorang penulis juga yang wara-wiri di media online LintasGayo.co, Win Wan Nur.

Qien Mattane Lao serahkan bukunya

Sebuah buku yang berjudul “10 Hari Menjelajah Eropa” ia tulis sendiri berdasarkan pengalamannya. Masing-masing kami dari Bener Meriah dihadiahi 1 buku yang harusnya diganti uang sebesar Rp.65 ribu pereksemplar.

Aku banyak mendengarkan pengalamannya yang aku rasa sangat menyenangkan itu, ia menjelajahi 9 negara yang ada di Eropa, sungguh menakjubkan. Aku sangat terinspirasi mendengar pengalaman gadis kecil itu.

Kepuasan tersendiri dan sungguh luar biasa, ternyata dimulai dari mengikuti pelatihan jurnalistik, aku mendapat banyak kesempatan belajar, mendapat banyak kenalan dan memperkaya wawasan.

Aku berharap suatu saat nanti aku bisa menjadi penulis handal, bisa merubah keadaan agar lebih baik dengan tulisan. Semoga. []

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top