Free songs
Home / Sastra / Cinta Dalam Secangkir Kopi Arabica Gayo [Bagian-2]

Cinta Dalam Secangkir Kopi Arabica Gayo [Bagian-2]


Cerpen oleh : Beti Nanda Sari*

HARI terus berganti, aku tetap berkunjung dan menikmati segelas minuman di cafe tersebut. Aku seperti ketagihan dengan kenikmatan segelas minuman tersebut. Selain itu aku juga penasaran dengan pembuatnya. Aku berfikir bisa mengetahui segalanya dari cafe tersebut, semoga saja kali ini aku dapat menemukan jawabannya. Seperti biasa aku duduk sendiri menunggu pesanan, kali ini dia kembali membawa segelas minuman. Dengan wajah yang kurasa memerah,jantung yang berdetak sangat kencang membuatku duduk tak tenang.Ia mulai jalan perlahan-lahan menuju mejaku. Ia meletakkan minuman tersebut di mejaku,namun kali ini berbeda, ia duduk tepat di depanku dan menatapku. Ia begitu penasaran padaku, karena setiap sore berkunjung ke cafe ini.Dengan wajah yang tegang ia memperkenalkan diri padaku.

“hei,kenalkan namaku Rio”,katanya sambil menyodorkan tangan. Dengan wajah yang sedikit gugup aku membalasnya “devi”,jawabku. “oh Tuhan,apakah ini jawabannya?”,tanyaku dalam hati. Tak berapa lama kami pun memulai obrolan, dari yang biasa hingga luar biasa. Rasanya seperti aku telah mengenalnya selama bertahun-tahun. Kami berbicara hingga tak kenal waktu.

Singkat cerita, Kini aku lebih sering mengunjungi cafe tersebut. Namun ini tak seperti biasanya. Kini,aku tak seorang diri. Rio selalu menemaniku,berbicara sepuasnya. Ternyata ia adalah pemilik cafe ini,aku merasa nyaman berada di dekatnya. Dan setiap kali aku ingin menanyakan tentang minuman yang ia jual, aku selalu lupa. Karena keasyikan berbicara dengannya hingga tak sadar untuk menanyakan minumannya. Waktu terus berjalan, sore itu aku kembali berkunjung ke cafe tersebut. Kali ini aku ingin menanyakan tentang minuman tersebut. Seperti biasa, aku duduk sendirian menunggu pesanan. Setelah menunggu cukup lama, minuman pun tiba Namun kali ini bukan Rio yang mengantar minuman tersebut, aku merasa heran. Dengan ragu-ragu aku pun memberanikan diri untuk bertanya.

“maaf mas, kok bukan Rio yang ngantar ya?”,tanyaku.

“oh mas rionya lagi keluar kota mbak”,jawabnya.

Sontak,Aku begitu terkejut mendengarnya, kenapa rio tak bilang padaku kalau ingin pergi.

“hei devi, sadar! Rio itu bukan siapa-siapa, dia hanya sekedar teman”,kataku dalam hati. Tanpa sadar ternyata aku diam-diam menaruh hati pada Rio.

Belum sempat pelayan tadi beranjak aku pun bertanya.

“mas maaf mau tanya, nama minuman ini apa ya?”,tanyaku

“oh itu kopi arabica mbak”,jawabnya.

“kopi?”,tanyaku balik.

Betapa terkejutnya aku mendengar jawabannya, selama ini aku meminum kopi. Minuman yang aku tak suka sama sekali. Tapi minuman ini rasanya tidak pahit hingga membuatku tak sadar telah meminum yang namanya kopi.

Karena penasarannya aku,akhirnya aku memutuskan untuk mencari tahu tentang kopi ini. ku cari melalui internet dan ku kunjungi langsung perkebunannya. Pihak perkebunan menjelaskan bahwa di dataran tinggi gayo terdapat dua jenis kopi yang dibudidayakan yaitu kopi Arabika dan kopi Robusta. Kopi Arabica agak besar dan berwarna hijau gelap, tingginya bisa mencapai tujuh meter. Kopi Arabica ini adalah kopi khas Gayo, kopi jenis ini memiliki aroma dan rasa yang sangat khas. Rasa pahit hampir tidak terasa pada kopi ini, kopi Gayo yang asli terdapat pada aroma kopi yang harum dan rasa gurih hampir tidak pahit,bahkan ada juga yang berpendapat bahwa rasa kopi gayo melebihi cita rasa kopi Blue Mountain yang berasal dari jamaika.

Mendengar penjelasan dari pihak perkebunan, aku semakin percaya bahwa kopi tak seperti yang kubayangkan, tak semua kopi berasa pahit contohnya seperti kopi gayo yang kunikmati di cafe Rio kemarin. Aku semakin penasaran dan belajar bagaimana membudidayakannya. Ternyata desaku, Dataran Tinggi Gayo mempunyai sumber daya alam yang hebat. Aku tak pernah menyadarinya,kini tinggal aku sebagai penghuni desa ini untuk bisa mengembangkannya.Waktu terus berlalu, liburan semesterku pun telah usai. Kini, saatnya aku kembali keperantauan.Namun entah kenapa perasaanku tak nyaman, masih ada satu hal yang kuinginkan.

Iya, sosok Rio yang sampai sekarang belum kembali.”apakah ia benar-benar tak akan kembali?, mengapa ia pergi setelah mengisi puing-puing rasa di sudut hati ini?, tidakkah ia ingin mengambilnya atau bahkan mengisi dan menjaganya dihatiku? Kenapa harus aku sendiri yang merasakannya?”,tanyaku dalam hati. Ketika aku tersadar dari lamunanku dan hendak pergi, tiba-tiba saja Rio datang kerumah, aku terkejut melihatnya. Awal yang gugup untuk kami memulai pembicaraan satu sama lain setelah sekian lama tak bertemu. Namun, kali ini Rio memulai obrolan, ia menyatakan bahwa selama ia pergi keluar kota, ia selalu memikirkanku dan dia memintaku untuk menjadi kekasihnya. betapa terkejutnya aku mendengar perkataan rio, apakah ini jawaban dari pertayaanku. Semula aku ragu dengan perkataan rio, namun rio menyakinkanku bahwa ia benar-benar serius dengan perkataannya. Pertemuan singkat dari secangkir kopi Arabica mampu membawaku menemukan cinta. Cinta terhadap Rio, cinta terhadap desaku,dan terlebih lagi cintaku terhadap kopi.

Kini, semua sudah berubah aku dan Keisha tak ada lagi perbedaan. Sekarang kami sama, karena aku dan Keisha menyukai hal yang sama yaitu menikmati secangkir kopi. Terima kasih Rio, Keisha telah mengenalkanku pada kopi. Perpaduan serbuk kopi, gula, air panas mampu menyatu menjadi sesuatu yang lebih nikmat. Aku sangat bersyukur di pertemukan dengan cinta pertamaku Rio, cinta pertama yang membawa pengalaman pertamaku mencicipi nikmatnya secangkir kopi Arabica Gayo.

Saat ini aku bahagia dengan kehidupanku, semoga aku dan Rio dapat selalu bersama seperti secangkir kopi yang selalu memberi kenikmatan. Terkadang di sela-sela kesibukanku, aku juga terus belajar tentang kopi dan membantu Rio mempromosikan café-nya agar kopi Gayo bisa terus dinikmati dan bisa membawa kopi Gayo menjadi minuman khas Indonesia. Terkenal dan dinikmati hal layak luas. Karena aku bangga menjadi bagian dari Indonesia, karena limpahan sumber daya alam yang tiada taranya.TAMAT. [SY]

Baca : Cinta Dalam Secangkir Kopi Arabica Gayo (Bagian-1)

Beti Nanda Sari, lahir di Cemparam Jaya Bener Meriah pada tanggal 11 November 1995. Anak dari Bapak Bejo dan Ibu Suryani mempunyai hobi menulis dan bermain basket. Saat Beti Nanda Sari ini sedang melanjutkan study S1 di Universitas Syiah Kuala Jurusan Mipa Fisika.

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top