Free songs
Home / Features / Ibnu Hadjar; Birokrat Handal, Pemerhati Adat dan Budaya Hingga Pencipta Syair Didong

Ibnu Hadjar; Birokrat Handal, Pemerhati Adat dan Budaya Hingga Pencipta Syair Didong


Catatan : Rama Dhani Sukria

Ibnu Hadjar Laut Tawar

Terlahir dari keluarga sederhana, lika-liku kehidupan tokoh Gayo Drs. H. Ibnu Hadjar Laut Tawar Al-Hajj, penuh perjuangan dan patut di contoh oleh generasi muda Gayo saat ini.

Kehidupan tokoh yang juga turut mendedikasikan diri bagi keberlangsungan budaya Gayo ini, ternyata tidak didapatkan dengan mudah, butuh perjuangan dan kerja keras.

Dilihat dari sejarah hidupnya, Ibnu Hadjar saat masih bayi hingga balita merupakan anak yang kurang beruntung. Beliau, tidak dapat di beri ASI, lantaran penyakit yang diderita sang ibu masa itu. Ibnu Hadjar kecil juga sulit mengucapkan sesuatu pada masa kanak-kanaknya. Membuat orang tuanya menjadi khawatir, jika sewaktu-waktu Ibnu Hadjar tumbuh dengan kondisi tidak normal.

Orang tuanya berprofesi sebagai petani. Penghasilan sampingannya di dapat dari keahlian menjadi dukun (tabib). Ibunya sebagai dukun yang membantu persalinan sedangkan ayahnya bisa mengobati berbagai jenis penyakit.

Kekhawatiran orang tuanya, ternyata tak terbukti. Ibnu Hadjar tumbuh menjadi anak yang pintar dan cerdas. Penghasilan kedua orang tuanya yang pas-pasan membuat keduanya berpikir keras mencari biaya agar anak-anaknya bisa mendapat pendidikan yang lebih layak. Karena mereka (kedua orang tuanya) tahu akan potensi yang dimiliki anaknya itu.Bekerja kerasa banting tulang, ibu dan ayahnya mencari rejeki, agar Ibnu Hadjar menjadi orang sukses, tentunya dengan berpendidikan.

Bersekolah di Tengah Konflik

Sebelum mengenyam pendidikan formal, Ibnu Hadjar terlebih dahulu menimba ilmu dari kakek (Gayo : Awan Alik yang berarti ayah dari Ibu). Kakeknya merupakan Imam Kampung Kenawat (Sekarang wilayah administratif Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah) pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Sang kakek juga merupakan tokoh kampung setempat yang turut membuat kebijakan pada masa pemerintahan Ginco (wedana) masa penjajahan Jepang. Bersama sang Kakeklah Ibnu Hadjar banyak menimba ilmu pengetahuan.

Tahun 1953, Ibnu Hadjar masuk ke Madrasah Ibtida’iyah Negeri (MIN) Kenawat dibawah pimpinan Tgk. Banta Cut. Selama bersekolah, Ibnu Hadjar selalu mendapat nilai terbaik. Dengan semangat beliau terus menimba ilmu, hingga akhirnya ia menamatkan pendidikan dasarnya.

Takdir tak terelakkan, pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) bergejolak di tahun 1957. Kampung Kenawat, dikenal sebagai basis perjuangan DI/TII dibawah kepemimpinan Tgk. Ilyas Leube, menjadikan Kampung tersebut menjadi sasaran TNI.

Ibnu Hadjar kecil mengingat selama dalam kurun waktu tersebut, terjadi dua kali pembakaran di Kampung Kenawat yang menyebabkan 21 rumah terbakar. Rumah anggota DI dan simpatisannya menjadi sasaran.

Selama dua tahun, Ibnu Hadjar cuti mengenyam pendidikan. Rumah yang mereka tempati tak luput dari amukan api yang sengaja disulut oleh TNI. Tak ada yang tersisa dari kebakaran itu. Ayahnya kemudian membuat sebuah gubuk di kawasan Seladang Bako kampung tersebut, berdinding jerami dan beratapkan supu (terbuat dari daun kayu hutan).

Untuk makanan sehari-hari, keluarga Ibnu Hadjar harus menunggu bantuan dari keluarga terdekat. Kondisi perekonomian masa itu sangat sulit, mencukupi kebutuhan sehari-hari sang ayah mengangkap ikan lele (Gayo: Mut) menggunakan rebetik (alat khusus menangkap ikan di Gayo) di pinggiran Danau Lut Tawar yang tak jauh dari tempat tinggalnya.

Keinginan untuk menjadi anak terpelajar masih tersimpan di anak ke-4 dari 7 bersaudara ini. Namun, apa daya dengan kondisi keuangan keluarga yang sulit dia pun tak memaksakan kehendak untuk bersekolah kepada orang tuanya. Jangankan untuk bersekolah, untuk tidur saja Ibnu Hadjar dengan beberapa saudaranya harus pindah dari gubuk ke tempat penyimpanan padi (Gayo : Keben), sekira 50 meter dari rumah mereka yang terbakar tadi.

Tak kehabisan akal dan tak mau membebani orang tua, idenya kemudian muncul. Dia bersama beberapa teman sejawat membuat sebuah persatuan yang dapat menghasilkan uang. Cukup unik, persatuan yang mereka buat, yakni persatuan anak perontok padi (Gayo : Mujik).

Ternyata, dari sinilah Ibnu Hadjar bersama temannya mendapatkan uang yang digunakan untuk bisa mendaftar ke Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI) di Kampung Bale, Takengon. Dan akhirnya dia bisa membayarkan uang muka pendaftaran, saat itu sekolah ini dipimpin oleh Almarhum Tgk. Mohd Ali Djadun dan Almarhum Tgk. Abu Bakar Mahmuda.

Bak anak kampung masuk kota, begitulah kejadian yang dialaminya masa itu. Kenapa tidak, dirinya berasal dari sebuah kampung yang terletak di lereng Bur (Gunung) Birah Panyang, yang saat itu bisa dikatakan terisolir. Namun, semangat dan keinginan yang kuat menjadikannya bisa cepat berbaur dengan teman-temannya di kota.

Sebenarnya, ia ingin bersekolah di SMPN 1 Takengon, di SMPI ia juga hanya sampai di kelas 2. Hingga akhirnya ia menamatkan pendidikan menengah pertamanya di SMPN 1 Takengon pada tahun 1963, sekolah yang sebelumnya ia cita-citakan.

Perekonomian warga Kenawat pada masa itu terus terpuruk paska peristiwa DI/TII tahun 1959. Berbekal Ijazah SMP, Ibnu Hadjar ditawari sanak familynya, M. Yusuf menjadi pegawai di Kantor Inspeksi Pendidikan Masyarakat Aceh Tengah, pada 31 September 1963, Ibnu Hadjar resmi bekerja disana dengan pangkat I/A (Juru Tata Usaha) dengan gaji pokok Rp. 3.

Ibnu Hadjar bujang kini telah memiliki penghasilan. Pada tahun 1964, dia kembali ingin melanjutkan pendidikannya ke SMEA Laut Tawar.

Ikut Organisasi di tengah Situasi Negara tidak Kondusif

Mengenyam pendidikan menengah atas, jiwa organisasi Ibnu Hadjar muncul, pendidikan islam yang selalu tertanam sejak bersekolah di MIN dan SMPI menjadi bekal dirinya berkeinginan bergabung dengan Pelajar Islam Indonesia (PII) Cabang Takengon. Waktu itu, Ruslan Ema menjabat sebagai ketua, dan Amir Lunggai sebagai sekretaris. Ibnu Hadjar sendiri dipercaya sebagai Seksi Pembinaan Kader bersama salah seorang rekannya, MS Ansari.

Pada waktu itu 1964, situasi perpolitikan di Indonesia tidaklah kondusif, Partai Komunis Indonesia (PKI) tengah gencar-gencarnya menyusun kekuatan untuk merebut kekuasaan yang sah dengan kekerasan (coup d’etat).

Pada saat itu, Indonesia diatur 3 kekuatan yang disebut Nasakom (Nasionalis, Agama dan Komunis). Dengan gencar PKI menyusun kekuatan hingga tersebar ke Tanoh Gayo.

Gejolak Politik Indonesia tersebut, baru disadari Ibnu Hadjar Laut Tawar setelah mengetahui gurunya di SMEA Laut Tawar juga disusupi oleh Partai Nasional Indonesia (PNI). Termasuk, pimpinan SMEA saat itu, Yakub Umar yang menjadi otak paham Marhainisme yang dianut PNI.

Dianggap Orang Berbahaya, Di-nonaktifkan dari Siswa

Ditengah pergolakan politik nasional itu, Ibnu Hadjar pernah dituduh terlibat aktivis islam. Sejak saat itu dia dianggap bebahaya oleh Yakub Umar, dia pun mencari bukti yang akan dijadikan alibi membenarkan tuduhan itu. Moment yang tepat, Ibnu Hadjar yang dari kantornya diundang menghadiri HUT Organisasi Islam Al-Djamiatul Wasliyah di Kemili Takengon. Dengan cepat, Yakub Umar melihat gerak-gerik mencurikankan itu. Hingga akhirnya, ia di-nonaktifkan dari SMEA Laut Tawar selama 3 bulan, menjelang ujian penentuan penjurusan.

Pada masa itu, Ibnu Hadjar mendapat pembelaan dari Abu Bakar Syemaun yang merupakan guru agama di sekolah itu, ia juga sebagai aktivis di Partai Masyumi.

Atas bantuan dari beberapa dewan guru, akhirnya Ibnu Hadjar kembali aktif, dan kemudian terpilih menjadi Ketua Ikatan Pelajar SMEA (IP SMEA) secara aklamasi, menggantikan Zaini Hakim yang telah menamatkan studinya.

Selama menjabat, IP SMEA cukup popular dari seluruh kegiatan siswa di Aceh Tengah pada masanya.

Usai menggahabiskan masa jabatanya di IP SMEA,Ibnu Hajar kembali terpilih memimpin Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI. Organisasi ini merupakan saingan dari Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) binaan PKI.

Selama menjadi aktivis, Ibnu Hadjar turut dalam aksi protes dan demontrasi atas ketidakpuasan dengan kebijakan dan penyelesaian permasalahan perpolitikan Indonesia saat itu. Dirinya pernah terjun dalam aksi demo di Takengon dengan tuntutan membubarkan PKI, menurunkan harga barang terutama pangan, ganyang PKI dan antek-anteknya dan bersihkan ideologi PKI dari kantor pemerintahan dan swasta.

Pada masa demo itu, Ibnu Hadjar bersama teman-temannya sempat ditahan di gedung Gedung SPG (Sekolah Pendidikan Guru) selama 1 minggu. Gunjang-ganjing perpolitikan anti komunis Cina saat itu, membuat warga keturunan Tionghoa di Takengon minta pindah ke Medan, Sumatera Utara.

Mulai saat itulah, karena pergerakannya yang masif dan terstuktur Ibnu Hadjar mulai dikenal oleh tokoh politik dan ulama serta masyarakat Aceh Tengah, telebih lagi dikalangan pelajar.

Selama menjabat sebagai Ketua Umum KAPPI, Ibnu Hadjar selalu meminta petunjuk dari sejumlah kalangan seperti Dandim 0106/Aceh Tengah yang masa itu dijabat oleh Letnan Kolonel Ismail dan Kapolres Aceh Tengah AKBP M. Isa Ami, tokoh Fron Nasional, Syeh Hasan dan Arifin Hasan, beberapa anggota DPRD, Tengku Abdussalam, dan Tgk. Abu Bakar Bangkit, Ketua Partai SII Tgk. AS. Mude, Tgk Banta Mude Pimpinan Partai Nahdatul Ulama (NU), Mat Djali Pimpinan PNI, Ahmad Efendy Sekretaris PNI dan lain-lain.

Ditengah kesibukannya mengurusi organisasi pelajar, tak terasa Ujian Akhir sudah dekat. Sempat terjadi kebingungan saat itu, melanjutkan studi atau terus menjadi PNS. Hingga akhirnya ia memutuskan melanjutkan pendidikan di APDN. Dan kemudian ia pun bertemu dengan sababat karibnya, M. Rasyid Seltan. Keduanya kemudian aktif di anggota senat kemahasiswaan dengan menjadi anggota Dewan Mahasiswa. Tak sampai disitu Ibnu Hajar juga aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Ibnu Hadjar menematkan pendidikannya di APDN pada tahun 1970, kemudian bertugas sebagai Kepala Kantor Kecamatan Bebesen (1971-1973), membantu Camat saat kepemimpinan Abd. Gani AR dan Abdullah Pediwy.

Karir Sambil Berpolitik

Sambil menjalankan jabatanya tersebut, Ibnu Hadjar juga aktif dikegiatan politik, ia pun menjabat sebagai Wakil Sekretaris Partai Muslim Indonesia (Parmusi) menggatikan Masyumi yang telah dibubarkan PKI.

Gelora darah muda dalam dirinya menjadikan ia menikmati bidang ini, menurutnya politik merupakan sebuah seni. Kegiatannya itu ternyata tetap dimonitor oleh, M. Salah HM, Saleh Siboro dan pengurus Golkar Kecamatan Bebesen.

Partai berlambang Pohon Beringin ini, saat itu memang menjadi salah satu Partai terkuat pada masa Orde Baru. Setiap PNS diwajibkan menjadi anggota, sistem inilah yang menjadi tolakan bagi sang Ibnu Hadjar. Terlebih, dia dibsarkan dari keluarga yang fanatik dengan DI/TII dan Partai Masyumi yang beraliran Islam.

Insting politiknya muncul, dan menjadi keasyikan tersendiri baginya. Karena selalu menjadi momok yang dipermasalahkan terhadap seorang PNS yang menjadi pengurus partai selain Golkar milik penguasa saat itu.

Kesempatan menduduki jabatan selalu terhalang. Namun, dengan tekad kuat dia berkeyakinan akan mendapat perlindungan Allah SWT. Dalam ingatannya saat itu hanya 1, bahwa Partai Golkar tidak pro kepada Agama Islam.

Usai menjalankan jabatannya di Bebesen, Ibnu Hadjar dimutasi menjadi menjadi camat Perwakilan Bukit (1973-1975). Suka duka dilalui menjadi camat di daerah ini, karena akses transportasi yang sulit ditempuh ke pusat Kabupaten. Pernah, dalam menjalankan tugas, menghadiri rapat Dinas, Ibnu Hadjar harus berjalan kaki. Hasut dan fitnah menjadi makanan sehari-hari, dari lawan-lawan politiknya yang disponsori oleh Golkar dan PNI yang berambisi menduduki jabatan itu. Walau begitu, ia tetap menjalankan fungsinya sebagai abdi negara.

Kurang lebih, 3,5 tahun, Ibnu Hadjar kembali dipindahtugaskan ke Takengon dengan menjabat sebagai Kepala Bagian hukum dan Perundang-Undangan. Semasa menduduki jabatan ini, dia dipercaya menjadi salah seorang anggota Badan Penyuksesan Pemilihan Umum (BAPPILU) Tahun 1974. Pada saat itu, Golkar memintanya menjadi Calon Anggota DPRD dengan nomor urut 27, dan dia tidak berambisi ikut dalam pemilihan itu.

Keinginannya waktu itu hanya satu, yakni melanjutkan pendidikan ke Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) Jakarta, dan mendapat tugas belajar kesana ia harus mendapat rekomendasi dari Bupati. Hingga akhirnya diterima menjadi mahasiswa IIP.

Perjuangan menuju IPP harus dilalui via Takengon-Bireuen, untuk kemudian ke Medan dan seterusnya ke Jakarta. Saat dalam perjalanan, Ibnu Hadjar mendapat musibah, mobil yang dia tumpangi terjungkir. Namun, karena tekad sudah bulat, ia pun tetap melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Di IIP, Ibnu Hadjar kembali kebingunangan, ideologi Islam yang sudah tertanam sejak dini berbanding terbalik. Pada tahun, 1978 di IPP mahasiswa diwajibkan memilih Golkar sebagai pilihan politiknya, tapi mahasiswa IIP 80 persennya memilih Partai Islam.

Sejak itulah, jiwa keorganisasian Ibnu Hadjar kembali bangkit, dia terpilih sebagai Dewan Mahasiswa Biro Da’wah dibawah pimpinan Riyas Rasyid yang pernah menjabat sebagai Menteri Otonomi Daerah. Hingga akhirnya Ibnu Hadjar lulus IIP dan menyandang gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan.

Usai mengakhiri tugas belajarnya, ia pun kembali bertugas di Takengon dan menjabat sebagai Kepala Bagian Pemerintahan. Sebelum pulang, dia pernah mengajukan permohonan untuk menjadi Asisten Pemerintahan Deli, Timor-Timur (Saat itu masih Indonesia), namun permohonan itu terkabul.

Ibnu Hadjar kemudian terbang ke Dili, ditugaskan menjadi Biro Pemerintahan. Saat bertugas Timor Timur, Ibnu Hadjar baru saja menikahi seorang gadis Gayo bernama Siti Hawa.

Selama bertugas tugas di Timor Timur, sebagai Biro pemerintahan dan staf Perencana Pembangunan Timor Timur, dia pun dipulangkan ke Takengon, dengan jabatan Kepala Bagian Ekonomi Kantor Sekretariat Daerah pada masa kepemimpinan Bupati M. Bani Banta Cut (Bupati Aceh Tengah) selama dua tahun, kemudian ditunjuk menjabat sebagai Kepala BAPPEDA Kabupaten Aceh Tengah.

Selama menjabat Kepala Bappeda, ilmu birokrasi Ibnu Hadjar semakin matang, lewat jabatan inilah dia bisa berekspresi membangun Aceh Tengah, merancang program pembangunan jalan aspal ke setiap lokasi pertanian kopi, menata rencana induk Kabupaten Aceh Tengah, membenahi pedagang agar mampu bersaing tingkat internasional terutama pemasaran kopi, serta Program lain untuk merubah wajah Kabupaten Aceh Tengah.

Menjelang masa jabatan M. Beni Banta Tjut Bupati Aceh Tengah berakhir dan Ibnu Hadjar dipindahkan menjadi Kepala Kantor Bangdes (Pembangunan Masyarakat Desa) menggantikan Mansur, yang memasuki masa pensiun.

Setelah menjabat sebagai Kepala Kantor Bangses, karir birokrasi Ibnu Hadjar sebenarnya diperhitungkan dan menjadi calon kuat menjadi Sekretaris Wilayah Tingkat II (Sekwilda) Kabupaten Aceh Tengah, seiirng Drs. Mohd Syarif yang menjabat Sekwilda saat itu memasuki masa pensiun, saat itu Bupati Aceh Tengah dijabat M. Yusuf Zainal.

Saat resmi dinyatakan tidak menjadi Sekwilda dikarenakan jabatan itu diisi oleh Buchari Isaq, Ibnu Hadjar menerima bangku panjang (non job) di jabatan pemerintahan, lantaran tidak mengikuti rapat karena saat itu tengah menonton didong jalu di rumah salah seorang kerabat.

Hingga akhirnya, Ibnu Hadjar ditunjuk sebagai Ketua Korpri Kabupaten Aceh Tengah, membawahi Kantor/dinas dalam sekretaris dan koperasi Kabupaten Aceh Tengah.

Setahun memimpin Korpri, Ibnu Hadjar, ditunjuk menjadi Sekretaris DPRD Aceh Tengah. Pada masa itu, pemilihan Bupati Aceh Tengah terjadi kemelut, Zainuddin Mard digantikan M. Yusuf Zainal.

Dua tahun menjadi Sekwan Aceh Tengah, Ibnu Hadjar difitnah lantaran dianggap orang berbahaya yang dapat mengancam Kedudukan Bupati, yang saat itu sudah dipimpin Buchari Isaq.

Tanpa menganalisa kebenaran, Ibnu Hadjar kemudian dimutasi Kantor Diklat Provinsi NAD. Tak lama berselang, Ibnu Hadjar kembali dipindahkan ke Takengon dengan menduduki jabatan Asisten Tata Praja (Pemerintah). Setelah jabatan ini, barulah Ibnu Hadjar dipercaya sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Tengah atas SK Mendagri.

Sebelum menjabat sebagai Sekda, Gayo memang krisis kepemimpinan. Betapa tidak, sejak penjajah Jepang meninggalkan Aceh Tengah, perebutan kekuasaan telah mulai, misalnya R. Zainuddin (Mantan Gunco masa Jepang) difitnah dengan percobaan pembunuhan. Begitu juga dengan Bupati pertama, Abdul Wahab, setelah proklamasi digoyang dan difitnah sehingga digantikan dengan Zaini Bakri dilanjutkan dengan Husin kembali jadi Bupati, akhirnya digantikan oleh Mude Sedang.

Pernah Dicalonkan Menjadi Bupati Aceh Tengah

Karir pemerintahan Ibnu Hadjar tak berhenti sampai disitu, dia juga pernah dicalonkan masyarakat menjadi Bupati Acen Tengah bersama Harun Ugati dan Buchari Isaq yang dicalonkan Golkar.

Pada masa itu, rakyat Aceh Tengah menginginkan Ibnu Hadjar atau Harun Ugati yang menjabat, namun karena kedekatan Buchari Isaq dengan Gubernur Aceh Ali Hasimi yang sama-sama pernah 1 almamater di IAIN Jogya, akhirnya jabatan Bupati Aceh Tengah dipegang olehnya.

Pengarang Syair Didong, Pemerhati Seni Budaya dan Adat Istiadat

Selain dikenal sebagai birokrat, ternyata Ibnu Hadjar Laut Tawar juga dikenal sebagai pengarang syair didong (kesenian Gayo) bersama kelop didong Sriwijaya-Kenawat Lut.

Puluhan bahkan ratusan syair didong telah dikarangnya, kesohor adalah lagu Kusa-Kusa, Lime Manis Gayo dan Nasib ni Uyem. Jika pernah mendengarkan Sriwijaya berdidong, lagu ini sering dibawakan oleh ceh Ali Amran.

Rata-rata syair yang dihasilkan bercerita tentang kekayaan alam Gayo serta adat dan istiadat serta budayanya.

Bukan hanya sebagai ceh didong, generasi Gayo saat ini juga mengenal sosok Ibnu Hadjar sebagai salah seorang pemerhati seni budaya serta adat dan istiadat Gayo. Sering dijadikan tempat bertanya oleh generasi muda Gayo saat ini.

Kepada generasi Gayo, Ibnu Hadjar acap kali mengeluarkan kata bernada sedih. Beberapa kali kesempatan  mengeluhkan Gayo akan hilang karena kegagalan generasinya mewariskan Gayo kepada penerusnya.

“Gayo, dari ama (bapak) ke saya, dari awan (kakek) ke ama, datu ke awan dan seterusnya masih terang. Tapi dari saya ke anak saya sudah gelap,” demikian dikatakan Ibnu Hajar Laut Tawar kepada Kha A Zaghlul tahun 2009 lalu.

Kecintaannya kepada adat dan budaya Gayo, menjadi kekhawatiran tersendiri dalam benak sosok yang juga gemar mengamati perpolitikan di tanoh tembune nya Gayo. Betapa tidak, budaya Gayo kini kian tergerus dengan pesatnya budaya asing yang masuk.

Sosok Panutan Generasi Gayo

Melihat liku kehidupan yang dilakoni Ibnu Hadjar Laut Tawar, sudah selayaknya generasi Gayo saat ini menjadikan contoh inspirasi, kegigihan beliau, mengenyam pendidikan hingga menjadi tokoh yang diperhitungkan di tanoh Gayo menjadi modal kita semua. Jabatan bukanlah semata-mata yang dicari, tapi proses yang mengajarkan semua sehingga mendapatkan sesuatu.

Ed : DM

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top