Free songs
Home / Beru Bujang / Satu Lagi, Bujang Gayo ‘Winaufal Zharfan’ Jadi Pilot

Satu Lagi, Bujang Gayo ‘Winaufal Zharfan’ Jadi Pilot


Win dan sang ayah, Rudi

Win dan sang ayah, Rudi

SATU lagi putra berdarah Gayo dinyatakan layak sebagai pilot oleh Mandiri Utama Flight Academy (MUFA) yang beralamat di Banyuwangi Jawa Timur.

Namanya Winaufal Zharfan dengan panggilan Win, anak kedua dari Rudi dan Ida Kobat, warga Bekasi. Dia dinyatakan lulus sebagai pilot dan mengikuti prosesi wisuda 23 Nopember 2016 lalu setelah sehari sebelumnya melakukan Joy Fligth, tradisi membawa terbang sang orangtua.

“Terbang pertama deg-degan, tegang, keringat dingin. Mana waktu itu cuaca agak mendung, tapi Alhamdulillah lancar juga,” kenang Win.

Win bersama Direktur Lion Airport Services, Capt. Daniel Putut Kuncoro Adi.

Win bersama Direktur Lion Airport Services, Capt. Daniel Putut Kuncoro Adi

Saat terbang bersama ayahnya sebagai rangkaian dari acara wisuda (joy fligth) yang bertujuan memberi kesempatan kepada orangtua merasakan terbang bareng anaknya sendiri, Win mengaku sudah sangat percaya diri, sudah bisa mengendalikan diri.

“Win santai aja bawa terbang Bapak yang kelihatan sangat tegang, hehehe,” ujar Win yang mengaku kerap diomeli saat menyetir mobil.

Lalu ibu bagaimana?, “Win kira ibu justru lebih berani, ibu menghargai bapak dan nyuruh coba joy fligth. Bapak belum pernah naik pesawat kecil soalnya dan bapak juga yang banting tulang membiayai Win sekolah,” ungkap Win.

Bujang kelahiran 26 Februari 1995 ini memang sejak kecil bercita-cita menjadi pilot. Untuk mewujudkannya, dia selalu mencari tau apa persiapan diri sejak dini untuk menjadi pilot, sementara sang ibu cuma bisa menyarankan jadi anak shaleh karena terbayang tingginya biaya pendidikan.

rps20161201_082751_951

“Alhamdulillah cita-citanya bisa juga tercapai, kami hanya bisa bantu do’a dan segenap tenaga dalam hal biaya, megap-megap juga,” ungkap Ida Kobat.

Kini Win sudah mengantongi sertifikasi PPL (Private Pilot License), CPL (Commercial Pilot License) dan IR (Instrument Rating).

Dengan 210 jam terbang, cucu budayawan Gayo, AS Kobat ini sudah bisa memilih maskapai komersial mengajukan lamaran dan mengikuti test. “Doakan semoga dia bisa menjadi pilot yang sholeh,” pinta Ida Kobat.

Setelah lulus, adik dari Afifa Urfani (Ipak) dan abang Zahra Izzati (Zahra) ini menyatakan akan mencoba rute-rute perintis atau sebagai instruktur. “Tapi apa saja yang menerima nanti Win pasti ambil,” ujarnya.

Sulit atau mudah menjadi pilot, Win mengaku lumayan sulit. Pertama Win masuk di Merpati Pilot School (MPS) yang dijalaninya dari Ground Class PPL, Pre-Solo hingga selesai PPL Stage. Dilanjutkan dengan PPL (Private Pilot Lisence).

Selanjutnya Win mengambil Ground Class CPL-IR (Comercial Pilot License-Instrument Rating) di Genesa Flight Academy.

Dijelaskan, tes masuknya itu ada aptittude test atau tes bakat, pertama dilihat dulu ada bakat atau tidak. Setelah itu ada tes bahasa Inggris, potensi akademik, kesehatan, serta psikologi.

“Sebenarnya sulit itu relatif,” aku Win. “Awalnya memang susah soalnya kan belum pernah ngerti tentang pesawat sama sekali. Tapi lama-lama diajarin bisa juga ngikutin,” ungkap Win.

rps20161201_082641_300

Sebagai putra berdarah Gayo, Win tentu sangat bangga dengan keberadaan Bandara Rembele Takengon (TXE) yang sudah eksis menyusul diresmikan oleh Presiden Jokowi, 3 Maret 2016 lalu.

“Bagus sekali ada Bandara Rembele yang sudah melayani penerbangan dengan pesawat ATR, InsyaAllah bisa makin bagus lah, kalau makin banyak pesawat besar masuk kegiatan warganya juga makin banyak, lapangan pekerjaan terbuka, Gayo dengan kopi dan keindahan alamnya makin dikenal,” kata Win yang belum punya gadis idaman ini.

“Kata Anan (nenek) cari beberu (gadis) Gayo saja, Bidan Desa lagi, ha ha ha,” tutup keponakan Win Kobat, pebisnis di dunia penerbangan ini. (Kha A Zaghlul)

 

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top