Jurnalis Warga Opini Terbaru

Geliat Petani Kopi di Kaki Gunung Sinabung

Catatan : Abdurrahman, SP *)

Abdurrahman Menunjukkan Cara Pemangkasan Kopi Kepada Petani di Kaki Gunung Sinabung. (Ist)
Abdurrahman Menunjukkan Cara Pemangkasan Kopi Kepada Petani di Kaki Gunung Sinabung. (Ist)

Penyuluh kabupaten Aceh Tengah diakhir Oktober  2016 melaksanakan study banding   ke  kawasan Gunung Sinabung  tepatnya  di desa  GUNG PINTO  Kecamatan  Naman Teran   Kabupaten Karo Sumatera Utara,  melihat  dari dekat   kebiasaan  dan sumber mata pencaharian penduduknya. Desa yang  berpenduduk  90 % muslim ini  sangat peduli dengan kebersihan  lingkungan , mereka rutin melaksanakan  Jum’at  bersih, ibu rumah tangga  keliling  membawa sapu lidi beserta karung  pemungut  sampah, kemudian dikumpul  pada  Tempat Pembuangan  Sampah Sementara  Desa.  Pertanian adalah tulang punggung perekonomian  masyarakat setempat,  tiada  hari tanpa bekerja kendati  ancaman bahaya  eropsi  gunung  Sinabung  menyelimuti perasaan was-was,  namun mereka   terbiasa  membaca situasi arah angin yang menebarkan  awan panas  dari merapi.

Penduduk menyikapi letusan  Gunung Sinabung  itu  sebagai  fenomena alam,  kendatipun  sering  membawa korban jiwa dan  harta benda dimasa lalu,  namun mereka  legowo  dan optimis bahwa  merapi itu  mempunyai  danpak  yang fositif bagi dunia  pertanian. Abu vulkanik  yang dimuntahkan sebagai refresh merubah lapisan tanah  yang gersang  menjadi  lebih subur.  Diatas hamparan lahan  yang penuh vulkanik  tumbuh menghijau hasil budidaya  tanaman petani   binaan penyuluh  Kecamatan Naman Teran  Kabupaten Karo , berbagai  jenis   sayuran  yang  mempunyai  prosfek pasar   ke berbagai daerah  Sumatera Utara.  Komoditas Jeruk  Siam Madu  yang mempunyai rasa khas,  didatangi para pembeli dari luar daerah  dengan harga  rata-rata Rp. 8.000/kg teransaksi di kebun ,  harga yang menjanjikan itu  petani  mampu membayar upah petik  Rp.60.000/hari.

Kata pepatah lain lubuk lain ikannya lain daerah lain pula produk andalannya memang benar,  kopi  tumbuh sangat bagus  terutama  jenis Arabika , tetapi petani  menomor duakan  komoditi ini setelah sayuran dan hortikultura , alasannya   income dari kopi  itu lebih kecil.  Inilah membuat penyuluh Aceh Tengah tarik nafas , waw…..  mulailah  keluar inisiatif  untuk  bela komoditas yang dinomor duakan ini,  kopi  di  daerahku kopi  mengalir di  darahku.   Ternyata  petani di sekitar Sinabung belum   dapat  melakukan budidaya tanaman kopi secara benar  mereka tidak kenal dengan tehnik pemangkasan , baik  pangkas bentuk atau pangkas dasar  maupun pangkas lepas panen.  Pohon kopi mencakar langit  batang berganda karena semua tunas dipelihara sehingga  tanaman hanya berbuah  pada  bagian cabang atas saja.

Gunung Sinabung yang Sampai saat ini Terus Memuntahkan Lahar. (Ist)
Gunung Sinabung yang Sampai saat ini Terus Memuntahkan Lahar. (Ist)

Inilah  membuat penyuluh  dari Kabupaten Aceh Tengah ingin sedikit berbagi   pengalaman tehnik  pemangkasan pada budidaya tanaman kopi  di kaki Gunung Sinabung. Bersahajalah  melakukan  demonstrasi  cara (Demcar) pemangkasan kopi  dihadapan petani  pelaku utama,  ternyata mereka  sangat antosias memperhatikan  gerakan  tangan  demonstrator  memenggal cabang-cabang  yang  tidak produktif pada  tanaman  kopi sampai dengan  selesai,   Mereka  dipersilakan  action  cara menggunakan alat pangkas  yang benar,  cara memilih cabang  produktif  dan cara pemeliharaan  cabang –cabang  baru pasca pemangkasan .

Akhirnya, aku merasa bahagia seakan  aku gendong gunung Sinabung  ketika  dapat berbagi teknik  pemangkasan kopi Arabika kepada saudaraku di Kabupaten Karo yang konon nantinya  memberi kontribusi  bagi kehidupan dan  kesejahteraan keluarganya. AMIN….

*) Penyuluh Pertanian di BP3K Silih Nara, Aceh Tengah.

Comments

comments