Opini Terbaru

Retorika Politik Ditengah Masyarakat Awam

Oleh : Rizal Fahmi, MA

foto-sayaPOLITIK yang masyarakat awam fahami adalah hanya pemilihan wakil dewan, Bupati/Gubernur dan Presiden. Bertahun-tahun mereka hanya disuguhkan oleh pemahaman yang keliru, tak ayal politik hanya dijadikan menjadi sumber penghidupan pada musim pesta politik tersebut ada juga mereka hanya untuk mengharapkan harapan setelah pesta ini apa yang mereka dapatkan.

Pragmatisme dan opurtunis masyarakat awam semakin menggurita dan semakin subur itu lahir karena diajarkan oleh politisi liar dan nakal yang tidak pernah menyentuh cosmo alam semesta menata dan menyapa terhadap gagasan perubahan akan tetapi bagaimana hanya memikirkan keuntungan semata.

Nilai suara pun terukur bukan dengan ukuran jumlah seberapa banyak kertas suara melainkan seberapa besar kertas bercantumkan rupiah. Semua ini terjadi akibat begitu liberal nya demokrasi kita siapa saja biasa untuk duduk di kursi kekuasaan terhormat tanpa harus menjaring manusia yang memiliki kecakapan pengetahuan dan memiliki moral yang tinggi.

Saya rasa bangsa kita yang masih miskin moral dan ilmu belum siap dengan arus demokratisasi liberal. Di negara maju pun dengan lebih liberalnya sikap maupun kebijakan politik tapi mereka masih bisa mengukur ukuran manusiawi dan rasionalitas, bagaimana kita bisa menyamai mereka ketika pendidikan dan moral yang tidak cukup. Ketika moral sudah digadaikan dan  dikesampingkan apapun bisa terjadi dalam percaturan politik, menggunting dalam lipatan menjadi hal biasa, dan kesetiaan pun yang ditinggalkan ditengah jalan menjadi hal yang lumrah.

Jika kita sadar partai politik adalah sebuah instrumen kekuasaan yang legal dan diakui oleh negara mana pun untuk mencapai tujuan kekuasaan. Arti tujuan kekuasaan, tidak hanya sebatas kemenangan dalam pentas belantika politik, akan tetapi bagaimana ia biasa menjalankan fungsi kekuasaan yang bisa menyemai kehidupan bernegara, misalnya mengurangi angka kemiskinan itu sebuah kewajiban seorang pemimpin, membenahi tingkat pembangunan daerah melalui layanan publik, pendidikan dan kesehatan warganya. Selain itu juga peran aktif parpol sebagai miniatur politik education, mengajarkan rakyatnya berpolitik yang benar dan tanggung jawab, hari ini hanya terlintas rakyat sebagai penggalangan kekuatan masa yang untuk digiring dalam penentuan sikap politik tertentu, hal ini sebenarnya adalah sebuah pembodohan masa ataupun penistaan hak demokrasi. Biarlah mereka menentukan sikap secara dewasa dan arif, menentukan siapa pilihannya sesuai dengan realitas politik yang bisa mereka tumbuh dan berkembang dalam kehidupan nyata bukan retrorika dan apaology politik yang sehingga mencampakkan akal sehat

Realitas yang terjadi masyarakat memilih pemimpin bukan karena gagasan, akan tetapi karena faktor desakan ekonomi, apakah kebutuhan dasar sesaat ataupun kepentingan pribadi, kelompok dan keluarga. Mengapa pemimpin yang memiliki gagasan dan ide terkadang terjungkal  dalam pentas politik tahunan, karena pemimpin yang memiliki gagasan hanya menjual program sebagai desain pembangunan berkelanjutan, bukan menawarkan politik uang yang sifatnya instan dan tentatif, akan tetapi masyarakat lebih memilih pemimpin yang memiliki modal besar.

Stigma modal besar inilah yang terbangun dalam masyarakat pemenang kontestan politik itu pemilik logistik yang kuat. Kondisi politik yang kronis dan penuh apologi sehingga modal sosial pun tidak menjadi sebuah fatron perubahan dalam tindakan politik pembangunan.

Kendatipun demikian sikap aktif masyarakat ditengah katup demokrasi semakin begitu terbuka, hal ini terlihat dengan ruang informasi yang begitu cepat dan mudah diakses, kritikan pembangunan yang dulu tidak berani mengkritisi kebiajakan pemerintah secara langsung, misalnya dengan mengerahkan masa untuk berdemontrasi ataupun dengan menyampikan aspirasi sebagai bahagian control sosial, akan tetapi sekarang medsos maupun media online bahagian alternatif sebagai pengawal demokrasi dan kebijakan menyimpang.

Dalam konteks ini negara kita, akui atau tidak diakui telah bermertamorfosis mengembangkan diri menjadi bangsa yang ingin menerapkan keterbukaan publik dalam demokrasi, penegakan HAM, Hukum dan Transparansi.

Sekarang media sosial yang sudah menjadi bahagian civil society, ini adalah bentuk transformasi perubahan yang begitu besar terhadap peradaban umat manusia.

Semoga pemilihan daerah kedepan menjadi bahagian miniatur politik dan edukasi politik bagi masyarakat.[]

*Peneliti Sosial dan Kemanusiaan di Cosmopolite Research

Comments

comments