Jurnalis Warga Terbaru

Mengintip Kreativitas Poktan Giri Mulyo Jagong Jeget

Catatan : Fathan Muhammad Taufiq*

Poktan Giri MulyoSelain dikenal sebagai penghasil kopi arabika terbaik dan berbagai komoditi hortikultura dataran tinggi, Kabupaten Aceh Tengah juga dikenal memilki potensi pengembangan ternak yang cukup potensial. Ratusan ribu ekor kerbau, berkembang dengan baik di “peruweren” (kandang ternak alami) yang tersebar di berbagai wilayah di daerah ini, begitu juga ternak sapi, juga berkembang cukup baik disini. Bahkan khusus untuk pengembangan ternak sapi, pemerintah kabupaten setempat sudah membangun dan mengembangkan 3 kawasan peternakan terpadu yang diberi nama KPT Ketapang I, II dan III yang berlokasi di kecamatan Linge. Tak hanya melalui pembangunan kawasan peternakan terpadu, di daerah ini juga berkembang peternakan rakyat baik yang dikelola secara perorangan maupun secara berkelompk.

Salah satu wilayah yang cukup potensial dalam pengembangan ternak, khususnya ternak sapi adalah kecamatan Jagong Jeget yang terletak di ujung barat kabupaten Aceh Tengah. Di kecamatan yang merupakan pengembangan wilayah eks pemukiman transmigrasi ini, potensi peternakan berkembang sangat baik, dan ternak yang dihasilkan dari daerah ini memiliki kualitas yang bagus karena memang dipelihara secara intensif. Beberapa kali, ternak sapi milik para petani di wilayah ini berhasi menjuarai kontes ternak di tingkat provinsi Aceh, ini menunjukkan bahwa pengembangan ternak di wilayah ini berjalan dengan sangat baik karena mampu menghasilkan ternak-ternak berkualitas. Selain dikelola oleh perorangan, pengembangan ternak di wilayah ini juga dilakukan secara berkelompok.

Menlisik lebih jauh potensi pengembangan ternak di Jagong Jeget, ada satu kelompok tani ternak yang cukup berhasil dalam pengembangan ternak di kecamatan ini yaitu kelompok tani Giri Mulyo yang berlokasi di desa/kampung Paya Tungel. Puluhan ternak sapi Bali yang di pelihara oleh kelompok tani ini tumbuh dan berkembang sangat baik, karena memang dipelihara dan dirawat secara intensif dalam kandang-kandang permanen yang memenuhi syarat kesehatan ternak dan sistim asupan pakan yang berimbang. Keberhasilan kelompok tani ini, akhirnya dilirik oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh ebagai salah satu pilot project pengembangan ternak di provinsi Aceh.

Dengan bantuan stimulant dari BPTP Aceh, kelompok ini kemudian tidak hanya berfokus pada pengembangan ternak saja, namun juga mulai mengaplikasikan teknologi berbasis ternak seperti pengembangan biogas, pakan ternak dan pemanfaatan limbah ternak menjadi pupuk organik serta Mikro Organisme Lokal (MOL) yang bisa digunakan sebagai zat pengatur tumbuh (ZPT) pada berbagai tanaman. Kelompok ini juga sudah mampu membuat pestisida nabati ramah lingkungan yang berbahan dasar material organik sehingga aman bagi lingkungan dan tidak mencemari lingkungan.

Kreativitas kelompok tani Giri Mulyo ini tentu tidak bisa dilepaskan dari inisiatif Wahyu Hidayat yang dari awal berdirinya kelompok tani ini beberapa tahun yang lalu dipercaya sebagai ketua kelompok. Sosok peternak muda ini memang sangat cakap memimpin dan mengelola kelompoknya serta mampu memberikan motivasi kepada semua anggota kelompoknya. Dalam setiap kesempatan, Wahyu selalu menekankan bahwa aktifitas dalam kelompok yang mereka lakukan selama ini, sejatinya untuk kepentingan para anggota kelompok dan pada akhirnya akan memberikan keuntungan financial bagi para anggota sendiri, namun demikian dampak dari kreativitas yang mereka hasilkan juga dapat dirasakan oleh para petani di sekitar mereka.

Setelah dibantu unit pengolahan biogas oleh BPTP Aceh dua tahun yang lalu, kelompok Giri Mulyo sudah dapat menikmati hasil dari kerja keras mereka. Gas bio yang berasal dari pengolahan limbah ternak, sudah bisa mereka manfaatkan sebagai pengganti bahan bakar untuk keperluan rumah tangga para anggota. Sebuah keuntungan berganda tentunya, selain limbah ternak yang dihasilkan oleh ternak mereka tidak lagi terbuang kemana-mana dan menggangu kebersihan lingkungan, mereka juga bisa menghemat pengeluaran karena untuk keperluan memask, mereka tidak lagi bergantung kepada gas elpiji atau bahan bakar minyak.

Merasa bahwa apa yang mereka upayakan selama ini melalui pengelolaan biogas, sangat bermanfaat bagi anggotanya, tahun ini Wahyu dan kawan-kawan mulai mengembangkan unit biogas mini secara swadaya, dan ujicobanya menunjukkan hasil positif, karena unit pengolahan biogas yang mereka buat secara swadaya ternyata juga berhasil seperti unit pengolahan sebelumnya yang dibantu oleh BPTP Aceh. Ini semakin memacu semangat mereka untuk terus mengembangkan unit-unit pengolahan biogas selanjutnya secara swadaya, apalagi semua anggota kelompok sangat mendukung upaya ini. Kebersamaan dan kekompakan antar anggota kelompok memmang sangat terlihat kental dalam kelompok yang beranggotakann para petani yang juga merangkap seagai peternak ini.

Pengelolaan unit pengolahan biogas yang dilakukan oleh kelompok tani Giri Mulyo ternyata tidak hanya menghasilkan gas bio yang dapat mereka manfaatkan untuk keperluan sehari-hari mereka, namun juga mampu menghasilkan produk sampingan lainnya yang juga bermanfaat untuk menunjang kegiatan usaha tani mereka. Selain gas bio, unit pengolahan biogas juga dapat menghasilkan pupuk organic baik dalam bentuk padat maupun cair yang memilki kandungan unsur makro dan mikro nyaris menyamai produk pupuk organik yang dihasilkan oleh pabrik. Dari produk pupuk cair inipun para anggota kelompok tani juga memperoleh keuntungan, tidak perlu lagi membeli pupuk untuk menunjang kegiatan usaha tani mereka, karena selain beternak, mereka juga melakukan aktifitas usaha tani lainnya seperti petani lainnya yaitu berkebun kopi dan menanam komoditi hortikultura.

Kreativitas Wahyu dan kawan-kawan nyaris tidak berhenti, selain berhasil dalam budidaya ternak dan memanfaatkan limbahnya, kelompok ini terus mengembangkan inovasi mereka dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada di sekitar mereka. Berbekal berbagai referensi dan bimbingan para penyuluh pertanian disana, kelompok tani ini juga sudah mampu memproduksi pestisida nabati. Produk pestisida yang merke hasilkan dengan mengolah berbagai jenis tanaman yang banyak dijumpai di daerah itu, sekaligus menjadi jawaban bagi petani yang selama ini mengeluhkan mahalnya pestisida kimia untuk mengendalikan hama dan penyakit yang menyerah tanaman mereka. Selain dapat membantu anggota kelompok dan para petani di sekitar mereka, produk yang mereka hasilkan ini juga ramah lingkungan karena memang berbahan dasar material organic yang tidak mencemari lingkungan. Tanpa disadari, apa yang mereka lakukan juga sudah merupakan upaya menjaga kelestarian lingkungan, karena dapat meminimalisir penggunaan pestida kimia yang terbukti hanya akan menimbulkan kerusakan lingkungan.

Pertanian organic yang kini mulai menjadi tren di kalangan petani memicu peningkatan permintaan pupuk dan perangsang tumbuh organic. Peluang ini juga akhirnya “ditangkap” oleh kelompok tani ini. Memanfaatkan limbah pertanian yang banyak terdapat di sekitar lahan pertanian mereka, kelompok ini mencoba membuat Mikro Organisme Lokal (MOL) cair yang berfungsi sebagai nutrisi atau suplemen tambahan untuk merangsang pertumbuhan tanaman. Di pasaran, produk MOL ini cukup mahal, namun kelompok tani ini mampu menyiasatinya dengan membuatnya sendiri, dengan demikian para anggota tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tambahan sehingga biaya produksi usaha tani mereka bisa di tekan dan tentu saja keuntungan dari usaha tani mereka bisa bertambah.

Tak hanya anggota kelompok saja yang akhirnya dapat mengambil manfaat dari kreativitas yang mereka lakukan selama ini, para petani di sekitar mereka juga bisa memperoleh berbagai produk-produk organik seperti pupuk, pestisida dan suplemen perangsang tumbuh tanaman dengan harga yang sangat murah. Menekan biaya produksi bagi petani, berarti menjadi peluang untuk memperoleh profit margin yang lebih besar yang pada akhirnya mampu menidongkrak kesejahteraan mereka. Artinya secara tidak langsung, kiprah kelompok tani Giri Mulyo, juga sudah membantu untuk meningkatkan kesejahteraan warga di sekitar mereka.

Dalam usianya yang baru menginjak lima tahun, apa yang telah dilakukan oleh kelompok tani Giri Mulyo merupakan sebuah capaian yang luar biasa. Selain mampu menjadi contoh yang baik bagi pengembangan ternak di kabupaten Aceh Tengah, kelompok ini juga terbukti telah mampu memberdayakan anggotanya untuk melakukan kegiatan produktif dengan memanfaatkan potensi yang ada di sektar mereka, juga sudah punya andil untuk memasyarakatkan pertanian ramah lingkungan di daerah mereka. Wajar jika akhirnya Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah “mengganjar” mereka dengan predikat “Kelompok Tani Ternak Terbaik Aceh Tahun 2016” pada bulan Juli 2016 yang lalu, sebuah penghargaan dan apresiasi yang sangat layak untuk mereka terima.

Meski ada kebanggaan bagi kelompok ini atas predikat terbaik yang mereka dapatkan dari pemeritah Aceh, namun tidak lantas membuat mereka terlena dan tenggelam dalam euphoria. Bagi Wahyu Hidayat dan kawan-kawan, penghargaan yang mereka terima dari orang nomor satu di Aceh ini, justru menjadi cambuk bagi mereka untuk menghasilkan karya-karya terbaik mereka di masa yang akan datang. Sebuah contoh keberhasilan kelompok tani yang berangkat dari rasa kebersamaan dan keinginan untuk maju ini bisa jadi acuan sekaligus teladan bagi kelompok-kelompok lainnya.

Comments

comments