Jurnalis Warga Sosok Terbaru

Kapten Iwan Mulyawan, Prajurit Sejati Pengawal Upsus Pajale di Gayo

Catatan : Fathan Muhammad Taufiq*

Kapten Iwan Mulyawan

Sejak digulirkannya kerjasama antara Kementerian Pertanian dengan Mabes TNI AD bertajuk TNI Mendukung Ketahanan Pangan (TMKP) pada awal tahun 2015 yang lalu, fungsi pembinaan teritorial yang selama ini diemban oleh TNI lebih di arahkan untuk mendukung program percepatan swasembada pangan di seluruh Indonesia. Apa yang telah dicanangkan oleh Mabes TNI AD itu kemudian disahuti oleh seluruh jajaran TNI AD dengan cara terjun langsung melakukan pembinaan dan penyuluhan pertanian untuk memperkuat peran para penyuluh pertanian di lapangan guna mewujudkan swa sembada pangan. Para prajurit teritorial di setiap Komando Distrik Militer (Kodim), kemudian diterjunkan langsung ke lapangan untuk mendukung program ini, parjurit TNI yang bertugas sebagai Bintara Pembina Desa (Babinsa) kemudian menjadi “ujung tombak” dibawah koordinasi Komando Rayon Militer (Koramil) masing-masing.

Geliat para pajurit TNI dalam mendukung upaya percepatan swasembada pangan ini juga terlihat di Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah. Diawali dengan kegiatan pembekalan melalui pelatihan teknis pertanian bagi para Babinsa pada awal tahun 2016, kiprah para prajurit ini dalam bidang pertanian terus berlanjut. Sinergi yang baik antara para prajurit TNI dengan para penyuluh pertanian serta instansi teknis lingkup pertanian dalam mensukseskan upaya khusus percepatan swasembada pangan khususnya padi, jagung dan kedele melalui Upsus Pajele, terbukti cukup berhasil di daerah ini. Dalam dua tahun terakhir, telah terjadi peningkatan produktifitas yang cukup signifikan untuk komoditi pangan terutama padi di Dataran Tinggi Gayo ini, dari rata-rata 4,2 ton per hektar, knini sudah mencapai rata-rata 6,5 ton per hektar. Demikian juga untuk komoditi jagung dan kedele, meski masih dalam areal pengembangan yang terbatas, tapi juga elah menunjukkan peningkatan produktivitas yang cukup baik.

Dari 14 kecamatan yang ada di kabupaten Aceh Tengah, keberhasilan meningkatkan produktivitas padi, jagung dan kedele yang terlihat paling menonjol, terjadi di kecamatan Linge. Kecamatan yang memiliki wilayah paling luas ini, memang memilki potensi pengembangan komoditi tanaman pangan yang sangat memadai. Kalau dilihat dari rata-rata peningkatan produktivitas di kabupaten Aceh Tengah selama pelaksanaan Upsus ini, kecamatan Linge merupakan wilayah yang mampu mencapai peningkatan produktivitas tertinggi.

Keberhasilan kecamatan Linge dalam program Upsus Pajale ini tentu saja tidak terlepas dari interaksi dan sinergi yang sangat baik antara para penyuluh pertanian dan prajurit TNI yang bertugas di wilayah tersebut. Para penyuluh pertanian dan prajurit TNI di daerah ini mampu “meleburkan diri” dalam team work berjuluk “Laskar Ketahanan Pangan Linge”. Mereka inilah yang nyaris tidak mengenal waktu terus menembur semua desa yang letaknya saling berjauhan dengan tantangan alam yang tidak ringan, untuk melakukan pembinaan dan memberikan motivasi kepada para petani untuk melakukan aktifitas usaha tani secara intensif melalui penerapan teknologi pertanian. Hasilnya, produktifitas padi di kecamatan Linge melonjak drastis, dari rata-rata 4,0 ton per hektar menjadi 7 sampai 7,5 ton per hektar, begitu juga dengan indeks pertanaman (IP) dari 1 menjadi 1,5 sampai 2. Kawasan peternakan terpadu Ketapang dan sekitarnya yang merupakan wilayah terjauh di kecamatan ini juga menjadi sasaran mereka untuk mengembangkan komoditi jagung dan kedele, hasilnyapun cukup menggembirakan.

Jalinan kerjasama yang sangat baik antara para penyuluh pertanian dengan para prajurit TNI yang ertugas di wilayah Linge ini, tidak terlepas dari peran sang komandan yaitu Kapten. Infanteri. Iwan Mulyawan. Bagi perwira menengah TNI yang sudah mulai bertugas di Dataran Tinggi Gayo sejak tahun 2008 ini, mengawal Upsus percepatan swasembada pangan sejatinya merupakan tugas dan beban tambahan baginya, karena selain tugas utama untuk melindungi dan mengayomi masyarakat dalam bidang keamanan, juga harus terlibat langsung dalam kegiatan pembinaan petani yang meruakan hal “baru” baginya. Namun dia sangat menyadari bahwa program percepatan swasembada pangan ini harus dikawal sampai tuntas, karena langsung menyentuh kepentingan masyarakat serta berdampak kepada ketahanan bangsa yang juga menjadi bagian dari tugas utamanya.. Beruntung, sebuah “nilai plus” dimiliki oleh sosok Danramil 04 Isaq ini, selama ini dia memang sudah dikenal akrab dengan siapa saja, termasuk dengan para penyuluh pertanian dan para petani di wilayah territorial binaannya. Itulah sebabnya dia tidak mengalami kendala apapun ketika mulai menjalankan program ini, turun bersama para penyuluh pertanian di daerah ini untuk melakukan pembinaan dan penyuluhan kepada para petani.

Mengawali karir militernya sejak lulus Secaba PK pada tahun 1995, Iwan Mulyawan, putra kelahiran Pekalongan 5 Juli 1974 ini mulai meniti karir militer di tanah kelahirannya. Karir militernya tergolong mulus, setelah berkarir selama kurang lebih 12 tahun sebagai Bintara TNI, Iwan mendapat peluang untuk melanjutkan pendidikan m iliternya melalui Secapa Reguler di Bandung pada tahun 2007 yang lalu. Keluar dari Secapa, dia berhak menyandang pangkat perwira pertama. Dari sinilah sosok kepemimpinan Iwan mulai terlihat, sampai akhirnya dia ditugaskan di jajaran Kodim 0106 Aceh Tengah pada tahun 2008 yang lalu. Begitu bertugas di kabupaten Aceh Tengah, Iwan langsung menduduki posisi sebagai Komandan Rayon Militer (Danramil) 04 Isaq yang membawahi kecamatan Linge, Jagong Jeget dan Atu Lintang. Sempat bertukar posisi pada Koramil lain, namun akhirnya Iwan kembali dipercaya mengkomandoi Koramil 04 Isaq sampai sekarang, karena sosok prajurit ini memang sangat dibutuhkan keberadaannya oleh masyarakat di wilayah ini.

Berbekal pendidikan kejuruan Sesarcab Infanteri, Suspatih Multi Corps dan Susdanramil, Iwan Mulyawan merupakan sosok komandan yang sangat disegani oleh anak buahnya. Bukan karena sikap tegas dan disiplinnya, tapi justru karena sikap kepempinannya yang sangat bernuansa mengayomi. Bermodal sikap ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja, akhirnya Iwan mampu “bergandeng mesra” dengan Safrin Zailani, SP, Koordinator penyuluh di BP3K Linge untuk menggerakkan para Babinsa dan penyuluh pertanian disana guna mensukseskan program percepatan swasembada pangan.

Sikap ramah dan murah senyum yang selalu ditampilkan oleh Iwan dalam kesehariannya, membuat sosok prajurit ini bisa begitu akrab dengan kalangan petani di kecamatan Linge. Kedatangannya ke kampung-kampung untuk melakukan pembinaan dan penyuluhan bersama para penyuluh pertanian dan Babinsa yang berada dalam wilayah komandonya, selalu disambut hangat oleh masuarakat. Tak sekedar mampu memberi perintah, Iwan juga sosok pemimpin yang bisa memberikan contoh kepada para prajurit lainnya. Untuk memperkenalkan pola tanam jajar legowo misalnya, Iwan tidak segan-segan untuk turun langsung ke sawah mempraktekkan bagaiman pola tanam padi yang baik kepada petani. Bahkan ketika para petani di daerah ini mendapatkan bantuan mesin Rice Transplanter, Iwan ikut aktif memperkenalkan cara penggunaan alat tanam padi otomatis itu kepada petani. Tak heran, setiap kali kembali dari lapangan, pakaian lorengnya sudah berlepotan lumpur, karena memang dia langsung terjun ke sawah, tak sekedar memberi perintah kepada para Babinsa. Seringnya dia bertukar pikiran dengan Safrin dan kawan-kawan penyuluh lainnya, juga membuat dia cukup menguasai teknis pertanian, sehingga tidak ada kecanggungan lagi baginya ketika turun memberikan penyuluhan pertanian kepada para petani.

Merubah mindset petani di wilayah yang masih terikat dengan adat dan tradisi yang kuat seperti wilayah Linge, bukanlah hal yang mudah. Tapi dengan metode pendekatan yang tidak meninggalkan kearifan lokal, Iwan akhirnya mampu mengajak para petani di daerah ini untuk merubah pola usaha tani konvensional yang telah bertahan selama berpuluh tahun. Apalagi setelah kiprah Iwan dan para penyuluh pertanian serta para prajurit Babinsa menunjukkan hasil yang memuaskan, para petani yang sudah mulai merasakan manfaat program ini untuk meningkatkan kesejahteraan mereka, semakin antusias untuk mendukung program percepatan swasembada pangan ini.

Meski sudah berhasil mendongkrak produktifitas hasil pertanian di wilayah binaannya, namun Iwan tidak pernah berhenti untuk terus memberikan motivasi kepada para petani. Bersama “pasukan” Laskar Ketahanan Pangan Linge, Iwan yang mendapat dukungan penuh dari para prajurit Babinsa di wilayah ini, terus menggeliat untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat dimana dia bertugas. Kondisi keamanan wilayah yang saat ini sangat kondusif, membuat Iwan begitu menikmati tugasnya sebagai pembina territorial di wilayah ini. Bercengerama dan bercanda dengan para petani dan penyuluh pertanian di lapangan, kini menjadi bagian dari kesehariannya. Begitu juga dengan para petani di wilayah ini, mereka juga merasa nyaman bisa dekat dengan prajurit TNI yang selalu menyapa ramah setiap kali bertemu dengan mereka ini, kesan sangar prajurit TNI, sama sekali tidak terlihat pada sosok Iwan Mulyawan. Meski demikian, masalah disiplin tetap menjadi “harga mati” baginya, itulah sebabnya dia juga selalu menanamkan kedisiplinan ini kepada para petani terutama dalam mematuhi jadwal tanam dan arahan dari para penyuluh, namun semuanya tetap dia sampaikan dengan cara santun dan humanis, sehingga para petanipun tidak merasa terpaksa untuk mendukung program ini.

Keakraban Iwan dengan para petani dan penyuluh pertanian dapat dilihat kapan saja dan dimana saja, tak jarang dia duduk-duduk di pematang sawah bersama para petani untuk sekedar bincang-bincang sambil memberikan motivasi kepada mereka. Gubuk-gubuk dan saung tani yang ada di setiap sudut sawah dan kebun petani, juga seolah sudah menjadi tempat singgah wajib baginya untuk sekedar bercanda dan berakrab ria dengan para petani dan para penyuluh pertanian. Dengan keakraban seperti ini, menjadi mudah baginya untuk memberikan saran dan masukan kepada para petani untuk terus meningkatkan usaha pertanian mereka, karena toh mereka juga yang akhirnya akan merasakan keuntungan dan manfaat dari program ini. Tapi setidaknya ada sebuah kebahagiaan dan kepuasan batin tersendiri bagi Iwan, saat tugas yang diembannya berhasil dengan baik.

Itulah sosok Kapten Infantri Iwan Mulyawan, Komandan Rayon Militer 04 Isaq, sosok prajurit sejati yang punya integritas dan loyalitas tinggi terkadap tugasnya, bukan sekedar memberikan pengayoman dan perlindungan kepada masyarakat, tapi juga melakukan aksi nyata untuk ikut meningkatkan kesejahteraan mereka. Sebuah perpaduan ideal dari seorang sosok pemimpin yang sangat memahami arti pengabdiannya kepada Negara dan masyarakat. Harus diakui, keberhasilan Upsus Pajale di Kabupaten Aceh Tengah, khususnya di wlayah kecamatan Linge, salah satunya adalah berkat peran aktif dari sang komandan ini, sebuah prestasi yang layak untuk mendapatkan apresiasi serta contoh yang sangat baik bagi para prajurit TNI lainnya dimana saja.

Comments

comments