Inilah Gayo Opini Terbaru

Gula Gayo

Oleh : Drs. Jamhuri Ungel, MA

GAYO adalah istilah yang digunakan untuk menyebut orang-orang yang tinggal di daerah Gayo, mereka dinamakan dengan orang Gayo. Gayo juga disebutkan untuk wilayah yang meliputi daerah Gayo Lut, Gayo Deret,,Gayo Alas, Gayo Semamah, Gayo Kalum dan Gayo Serbe Jadi.

Orang Gayo disamping mereka yang tinggal di daerah seperti yang telah disebut, juga mereka yang yang berasal dari daerah Gayo yang kini menyebar di seluruh pelosok dimanapun mereka berada.

Alam Gayo adalah alam yang sangat subur sehingga semua tanaman yang ditanam memiliki nilai komuditi yang tinggi, seperti pada tahun 1970-an Gayo sangat dikenal dengan tanaman tembakaunya, yang dijual oleh orang Gayo ke pesisir Aceh sehingga sampai tahun 1990-an masih banyak orang-orang pesisir yang memesan tembakau Gayo untuk di rokok, sebaliknya dari pesisir dibawa daun nipah ke Gayo, yang dibaca dengan lidah Gayo dengan Ulung Lipah.

Ketika tanaman tembakau berganti dengan tanaman kopi, maka tanaman tembakau juga mulai menghilang dari pasaran, sehingga sekarang masyarakat tidak tau lagi kalau tembakau pernah membawa nama Gayo di kenal oleh orang di luar daerah Gayo. Kini tanaman pengganti tembakau juga bisa membawa nama Gayo menjadi lebih dikenal oleh dunia, karena kualitas yang dimilki kopi Gayo bisa memenuhi selera dunia. Kini mata dunia tercengang melihat hasil alam Gayo sehingga buyer (pembeli kopi) tidak hentinya datang berhangtian melihat dan membeli kopi.

Belum lama ini saya mendengar satu istilah yang menyandang kata Gayo yaitu GULA GAYO, kata ini digunakan oleh masyarakat peminum kopi rubusta, dimana kopinya menurut mereka berasal dari daerah Tangse (bukan dari Gayo), ketikan digongseng dengan berbagai campuran termasuk didalamnya Gula Gayo. Saya yakini gula Gayo yang dimaksudkan di sini adalah gula yang sering disebut dengan gula mera (gule ilang) yang dibuat dari tebu, yang kini hanya ditanam di daerah Belang Mancung.

Kalau kita kembali lagi melihat sejarah tanaman di Gayo, masih pada tahun sebelum 1970-an, banyak penduduk yang tinggal di Gayo, mereka itu menanam tanaman tebu yang diolah secara tradisional untuk menghasilkan gula merah, gula merah itu dijual kepasar dan digunakan oleh masyarakat pesisir untuk sebagai campuran kopi ketika digongseng, disamping campuran lain seperti jagung, pinang dan lain-lainnya. Alasan pencapuran ini diantaranya disebabkan kerasnya rasa kopi sehingga mereka tidak sanggup meminumnya. Dan ketidak sanggupan ini masih kita temukan dari pernyataan orang-orang tua di kampung-kampung.

Itulah diantaranya hasil alam yang pernah dapat mengangkat nama Gayo kepermukaan, disamping juga jeruk keprok dan lain-lainnya.[]

Comments

comments