Sastra Tafakkur

Sepotong Elegi Di Malioboro

[Cerpen]

Fathan Muhammad Taufiq

romantic-becak-at-malioboro-street-jogjaSUDAH tiga hari aku berada di kota Yogyakarta, tapi aku nyaris belum pernah pergi kemanapun, kegiatan yang kuikuti sangat padat bahkan sampai malam hari sehingga aku tidak sempat meski hanya untuk sekedar “cuci mata” melihat-lihat suasana kota budaya itu. Baru pagi ini aku bisa bernafas lega, karena tadi malam kegiatan workshop itu sudah ditutup secara resmi, jadi aku sudah bisa menghilangkan kepenatanku mengikuti kegiatan selama tiga hari penuh.

Kebetulan tadi malam aku bisa tidur lebih awal, jadi pagi ini aku merasakan badanku lebih segar dan fit, aku sudah kepingin sekali untuk menyusuri kota Jogja yang sudah cukup lama tidak aku kunjungi. Karena keterbatasan waktu, maka aku fokuskan saja jalan-jalan pagi ini ke kawasan Malioboro, aku hanya sekedar mencari oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman kantorku.

Pagi itu suasana Jogja begitu bersahabat, udara cerah tapi matahari tidak begitu terik, dengan mengendarai dokar, aku meninggalkan hotel tempatku menginap, tujuanku tidak lain  kawasan pusat belanja khas Jogja itu, meski masih pagi tapi suasana di sepanjang jalan Malioboro sudah cukup ramai, beberapa wisatawan bule kulihat sedang mengamati souvenir khas kota gudeg itu sambil sesekali menjepretkan kamera mereka, sebuah pemandangan yang biasa di tempat itu.

Karena waktuku sangat terbatas, aku tidak lagi membuang-buang waktu lagi, aku segera menuju salah satu toko yang menjual berbagai batik dan aneka kaos serta souvenir khas Jogja. Cukup lama juga aku di dalam toko itu, begitu banyak pilihan sampai-sampai aku bingung dalam memilih, lagian aku juga harus menyesuaikan dengan “budget” yang tersedia. Nggak terasa hampir dua jam aku berada dalam toko itu, setelah membayar dan mempacking semua belajaanku ke dalam 2 kardus besar, akupun segera keluar dari toko itu, masih ada waktuku beberapa jam lagi untuk check out dari hotel, kumanfaatkan sepenggal waktu itu untuk menikmati suasana Malioboro yang memang sudah cukup lama tidak aku kunjungi.

Semakin siang udara Jogja kurasakan mulai agak panas juga, aku sengaja menitipkan belanjaanku di toko tempatku berbelanja juga, karena repot juga kalo harus berjalan-jalan dengan menenteng dua kardus besar itu. Kususuri trotoar pertokoan di jalan Malioboro, sambil melihat-lihat souvenir yang dijual di kaki lima, aku tertarik dengan gantungan kunci hasil kreasi komunitas Dagadu, selain harganya murah, bentuk dan jenisya juga unik dan beragam, kuambil beberap buah sekedar untuk kenang-kenangan.

Berjalan menyusuri trotoar pertokoan itu cukup membuatku berkeringat juga, aku yang kebetulan tinggal di daerah dingin merasa begitu rentan dengan cuaca panas. Timbul rasa haus dan laparku, aku menyeberangi jalan karena di seberang jalan banyak berjejer warung-warung penjaja makanan dan minuman. Aku memilih salah satu warung yang terlihat bersih dan beberapa menu yang tersediapun cukup mengundang selera, segera kupesan nasi gudeg komplit dan es kelapa muda, sudah cukup lama aku tidak menikmati menu seperti itu. Beberapa seruputan es kelapa muda yang mengaliri kerongkonganku terasa sangat menyegarkan, akupun mulai menyantap nasi gudeg yang telah dihidangkan oleh penjaga warung, terasa  nikmat sekali.

Baru beberapa suap nasi masuk ke kerongkonganku, aku mendengar suara seorang pengamen dibelakangku  yang melantunkan lagu Bengawan Solo dengan suara yang agak-agak fals, tapi sepertinya aku mengenali suara itu, aku menghentikan sejenak suapanku, aku menoleh kebelakang, kulihat seorang pengamen tua dengan gitar kecilnya, kulit hitamnya seperti berkilat dibalut keringat, kemeja batik yang dipakainya juga sudah memudar warnanya, begitu juga blangkon yang bertengger di kepalanya juga sudah nampak usang. Agak lama aku memperhatikan pengamen itu, sepertinya aku mengenal sosok yang sedang melantunkan suara falsnya itu, kukernyitkan keningku coba mengingat-ingat, tiba-tiba aku teringat kepada seseorang,

“Pakde!” aku setengah berteriak, pengamen tua itu seperti agak terkejut, aku berdiri mendekatinya “ Ini pak de kan?” tanyaku kemudian.

Laki-laki tua itu mengernyitkan keningnya seperti sedang mengingat-ingat sesuatu, tak lama kemudian dia pun seperti berteriak

“Mas Arif ya?”, aku mengangguk, meski kalo dilihat dari usiaku aku lebih pantas dipanggil “nak” tapi pak de lebih suka memanggilku “mas” dari dulu, spontan dia memelukku, aku merasa jengah juga dipeluk begitu. Cukup lama dia memelukku tanpa berkata-kata, dia baru melepaskan pelukannya begitu sadar banyak mata yang terheran-heran melihat adegan seperti film teletubies itu.

Kulihat matanya basah, sepertinya dia begitu terharu bertemu dengan aku “Lho kok mas Arif ada di sini?” tanyanya kemudian setelah dia agak tenang,

“Kebetulan aku ada tugas dari kantor pak de, sudah tiga hari aku di kota ini” jawabku, aku mempersilahkan laki-laki tua itu untuk duduk “ Nanti saja ceritanya pak de, sekarang pakde makan dan minum dulu, silahkan pesan makanan dan minuman yang pak de suka”, dia kemudian duduk di sebelahku, dia melirik isi piringku yang tinggal setengah,

“Mbak, aku pesen seperti mas ini saja” katanya kepada pelayan warung.

Laki-laki tua itu dulu pernah jadi tetanggaku cukup lama, waktu itu dia tinggal bersama anaknya yang bernama Satrio yang rumahnya nggak begitu jauh dari rumahku. Sebenarnya nama laki-laki itu adalah Sakiyo, tapi dia lebih di kenal dengan panggilan “Pak de”, akupun jadi ikut-ikutan latah memanggilnya dengan panggilan pakde. Sewaktu dia menjadi tetanggaku, ssringkali dia nongkrog di rumahku seharian, terutama waktu aku sedang libur kerja. Pak de sering mengeluhkan perlakuan menantunya yang tidak respek kepadanya, sering keluar kata-kata tidak pantas dari mulut menantunya itu, sementara Satrio, anak kandungnya itu lebih sering mendengar kata-kata isterinya ketimbang membela bapak kandungnya, sambil curhat terkadang pak de tidak bisa menahan air matanya. Aku sebagai pendengar yang netral, biasanya hanya berusaha “mendinginkan“ perasaan pak de, aku tidak ingin terperangkap “ghibah” dengan mebicarakan kesalahan tau kekurangan seseorang,  yang kulakukan adalah segera mengalihkan pembicaraan supaya pak de tidak larut dalam kegalauannya. Tiga tahun lalu, pak de “berpamitan” kapadaku untuk pulang kampung ke Wonogiri, sambil meenangis sesenggukan dia mengatakan sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan menantunya, sejak saat itu aku tidak pernah mendengar beritanya lagi. Aku juga tidak pernah menanyakan kabar pak de kepada Satrio, anaknya, karena sejak kehidupannya berubah menjadi “kaya raya”, sepertinya dia “menjaga jarak” dengan tetangga-tetangganya. Dan hari ini aku kembali bertemu dengan pak de dalam kondisi “mengenaskan”, menjadi pengamen jalanan di usia yang semestinya dia nikmati sebagai masa istirahat itu.

Pelayan warung sudah menghidangkan pesanan pak de, dan tanpa basa basa basi pak de langsung menyantap makanan pesanannya, kulihat dia makan lahap sekali, sepertinya dia sedang sangat lapar, akupun melanjutkan makanku. Selesai makan dan minum, pak de kulihat pak de seperti sudah terlihat agak santai, dia merogoh kantongnya, mengeluarkan kretek lalu menyulutnya, aku mulai membuka pembicaraan lagi,

“Kok pak de bisa seperti ini, memangnya pak de nggak tinggal di Wonogiri lagi?” tanyaku, pak de mengibaskan asap rokoknya,

“Gini lho mas, aku masih tetap tinggal di Wonogiri, rumahku agak jauh dari kota, aku juga masih punya sepetak sawah tapi aku sudah nggak sanggup lagi menggarap sawah, makanya setiap hari aku pulang pergi ke Jogja ini untuk mengamen sekedar menyambung hidupku” kata-katanya terdengar treyuh, aku kemudian teringat kepada Satrio yang sekarang hidupnya sudah sangat mapan, punya jabatan bagus berkat “lobby” dan pengaruh mertuanya yang mantan pejabat itu, rumahnya besar, punya beberapa ruko yang disewakan dengan harga lumayan,  dia juga punya usaha rental dengan beberapa mobil miliknya, tapi aku justru melihat pemandangan ironis di depanku, bapak kandung Satrio justru kehidupannya seperti ini.

“Oh ya, gimana kabar keluarga mas Arif” pak de seperti baru ingat menanyakan kabar keluargaku,

“Alhamdulillah pak de, semuanya sehat” jawabku singkat, aku heran juga kenapa dia malah nggak bertanya tentang anaknya, tapi aku nggak mau menyinggungnya,

“Syukurlah mas, kalo aku ya seperti yang mas lihat ini, bisa makan dan beli rokok setiap hari saja, aku sudah bersyukur” sambung pak de masih dengan nada “memelas”, aku juga ikut trenyuh mendengarnya “Mumpung mas ada disini, mbok ya mampir ke rumahku” pintanya,

“Sebenarnya aku kepingin mampir pak de, aku juga sudah kangen ingin cerita ngalor ngidul seperti dulu, tapi waktuku sangat singkat, sore inipun aku harus sudah kembali ke Aceh, lain kali Insya Allah kusempatkan mampir” jawabku agak berbasa basi, karena memang untuk saat ini aku belum bisa mampir ke rumah pak de, kulihat wajah pak de berubah ceria, sepertinya dia begitu senang bertemu denganku lagi.

Kuperhatikan pakain lusuh yang melekat di tubuh tuanya terbit juga rasa ibaku, selesai membayar makan dan minum kami, aku mengajak pak de ke toko tempat aku erbelanja tadi,

“Pak de, mumpung lagi ketemu nih, sekarang pakde pilih baju sama celana untuk pak de” aku mepersilahkan, kulihat pak de agak kikuk juga mendengar tawaranku, tapi dia segera memilih beberapa keeja batik dan celana panjang, setelah merasa cocok diapun menyodorkan pakaian itu kepadaku,

“Aku pilih ini saja mas, tapi terus terang aku sebenarnya malu sudah merepotkan mas”, pak de menyodorkan dua potong kemeja batik dan dua potong celana panjang,

“Ah biasa sajalah pak de, kita kan fren” jawabku bercanda “ Tapi dicoba dulu pakde, nanti kalo kekecilan apa kebesaran, bisa di tukar”, pramuniaga toko itu menunjukkan kamar ganti kepada pak de. Keluar dari kamar ganti aku seperti melihat perubahan pada diri pakde, pakaian baru itu membuat pak de tampil beda.

“Wah pak de jadi tambah ganteng lho dengan pakaian itu” aku memuji, pak de tertawa terkekeh “ kalo nggak percaya tanya sama mbak ini” aku melirik si pramuniaga,

“Bener kata mas ini, pak de jadi tambah muda” pramuniaga itu ikut berbasa basi memuji pak de, makin lebar saja tertawa pak de.

“Ya sudah pak de, bajunya nggak usah dibuka lagi, nanti biar langsung kubayar ke kasir” kataku, kepada pramuniaga aku meminta dibuatkan bon untuk pakaian yang sudah dipakai pak de, sementara sepasang pakaian lagi kuminta dimasukkan ke dalam tas plastik.

“Satu lagi mas” celetuk pakde begitu mau keluar dari toko, dia menyambar sebuah blangkon, aku hanya mengacungkan jempolku, pak de langsung memakai blangkon barunya, sekarang dia benar-benar “tampil beda”, kelihatan lebih bersih dan kelimis, dia sempat mematut di depan kaca sambil tersenyum, agak geli juga aku melihat kelakukannya.

“Terima kasih mas atas semuanya, sampeyan memang sangat baik, nggak seperti Satrio” pak de seperti keceplosan menyebut nama anaknya, aku segera menyambar,

“Memangnya kenapa dengan anak pak de itu”, dari tadi aku memang sudah menyimpan pertanyaan itu, tapi aku tidak berani memulainya, takut melukai perasaannya karena aku sendiri tau persis seperti apa perlakuan Satrio dan isterinya kepada pak de.

“Dia bukan anakku mas, kalo dia memang anakku pasti tidak akan membiarkan aku seperti ini” jawab pak de seperti menahan emosinya, sepertinya dia begitu “marah” kepada anaknya itu sampai-sampai dia tidak mau mengakui anaknya lagi, aku agak menyesal juga sudang memancing dengan pertanyaan tadi, tapi dalam hatiku aku membenarkan ucapan pak de, sementara Satrio hidup bermewah-mewahan dengan anak isterinya, bapak kandungnya hidup terlunta-lunta di jalanan seperti ini.

“Aku pesen satu hal mas, pokoknya mas jangan cerita sama anak durhaka itu kalo mas pernah ketemu aku” pinta pak de, aku hanya mengangguk takut salah ngomong. Aku membuka dompetku, mengambil beberapa lembar kertas merah  bergambar dua proklamator lalu kuselipkan di kantong baju baru pak de, kulihat dia tidak mampu menahan air matanya lagi, sepertinya dia begitu terharu, dia kembali memelukku,

“Terima kasih mas, hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikan mas” katanya setengah terisak, aku jadi tidak bisa menahan air mataku.

“Baiklah pak de, aku nggak bisa lama-lama disini” kataku setelah pak de melepaskan pelukannya “ aku harus kembali ke hotel untuk siap-siap pulang”, kujabat erat tangan pak de yang kasar dan mulai keriput itu, aku meminta secarik kertas kepada kasir, kutuliskan nomor hapeku lalu kuserahkan pada pak de “ Kalo pakde perlu bantuanku atau kepingin sekedar ngobrol-ngobrol, ini nomor hapeku”.

“Terima kasih mas, selamat jalan semoga selamat sampe rumah, salamku untuk isteri dan anak-anak mas” ucap pak de lirih, aku mengambil dua kardus yang tadi kutitipkan dan memanggil dokar untuk mengantarku kembali ke hotel, dari atas dokar yang mulai berjalan berkat tarikan kuda itu, kulihat pak de melambai-lambaikan tangannya sambil sesekali mengusap matanya, sampai pandanganku tertutup sebuah tikungan.

********

Tiga bulan sudah sejak pertemuan mengharukan di Malioboro itu, akupun sudah kembali beraktifitas seperti biasa, sesekali pak de menelponku sekedar ngobrol ngalor ngidul, kudengar tawanya yang lepas ketika aku membanyol sedikit-sedikit, aku jadi senang mendengarnya.

Pagi itu aku sudah bersiap ke kantor, isteriku malah sudah lebih dulu berangkat ke tempat mengajarnya, sambil menikmati sisa kopi pagiku, kusemir sepatuku yang sudah mulai berdebu. Hapeku berdering, kulihat nama pak de di layar hapeku,

“Assalamu’alaikum pak de” kubuka hapeku dengan ucapan salam, tapi aku agak heran bukan pak de yang menjawab salamku,

“Wa alaikum salam” terdengar suara seorang perempuan “ Maaf mas, apa saya sedang bicara dengan mas Arif?”

“Benar, maaf mbak ini siapa?” aku balik bertanya

“Saya Warsih mas, saya keponakan pak de Sakiyo” sambung perempuan itu, suaranya seperti menahan isak,

“Ada apa mbak, memangnya pak de kemana?” tanyaku makin penasaran, perempuan itu tidak segera menjawab, suara isakan semakin terdengar jelas di hapeku, pasti sudah terjadi apa-apa dengan pak de, pikirku.

“Anu mas, saya mau ngasih kabar, subuh tadi pak de sudah dipanggil yang maha kuasa” suara perempuan itu seperti tertahan,

“Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un” sahutku lirih “ memang pak de sakit apa?”

“Tadi malam, waktu pulang dari Jogja pak de kecelakaan, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya pakde berpesan supaya saya menelpon mas” kudengar suara terbata-bata dari perempuan itu, sepertinya dia sedang menahan tangisnya.

“Kangmasmu Satrio sudah dikabari” tanyaku lagi

“Enggak mas, tadi pak de juga berpesan supaya jangan mengabari mas Satrio”, jantungku berdegup mendengar jawaban mbak Warsih, ternyata pak de belum memaafkan anaknya sampai dia meninggalkan dunia untuk selamanya, ada rasa nyeri kurasakan dalam hatiku “Pak de juga pesan supaya mas Arif juga tidak mengabarkan berita ini kepada mas Satrio”, persaanku semakin tidak karuan.

Sementara televisi yang masih menyala di ruang tengah sedang menyirakan berita kecelakaan yang terjadi tadi malam di dekat terminal Wonogiri “ Seorang pengendara ojek beserta penumpangnya yang baru saja keluar dari terminal tertabrak sebuah truk pengangkut tebu, motor ojek itu terlihat ringsek terjepit di bawah bodi truk, pengemudi ojek hanya menderita luka ringan, sementara penumpangnya seorang laki-laki tua yang terpental ke jalan mengalami luka yang cukup parah, setelah dilarikan ke rumah sakit, akhirnya laki-laki tua itu menghembuskan nafasnya tadi pagi, saat ini pihak kepolisian sedang melakukan penyelidikan atas kecelakaan ini”  begitu berita yang dibacakan presenter berita itu, aku  yakin yang diberitakan itu pasti pak de, persis seperti berita yang baru saja kuterima dari mbak Warsih.

“Baik mbak, saya ikut berduka cita cita, mbak dan keluarga disini yang sabar ya” aku coba menghibur,

“Ya mas, terima kasih”, mbak Warsih menutup teleponnya.

Aku terduduk lemas di kursi, aku dapat merasakan kesedihan yang amat dalam mendengar musibah yang menimpa pak de, rasanya baru kemarin aku ketemu dia, dan sekarang aku mendapat kabar pakde meninggal secara tragis seperti itu. Kutarik nafasku dalam-dalam, perlahan aku bangkit dari kursiku, aku keluar ke halaman menghirup udara segar untuk menghilangkan sesak di dadaku.

Kulihat Satrio bersama isterinya melintas dengan Innovanya, masih seperti sebelumnya, semua kaca mobilnya tertutup rapat, kulihat isteri Satrio seperti membuang muka ketika melihatku dari balik kaca mobil, sementara Satrio yang memegang kemudi, seperti biasa tidak pernah mengangkat tangan atau sekedar membunyikan klakson mobilnya, aku sudah maklum, sejak kehidupan mereka berubah drastis, memang keduanya terlihat angkuh kepada tetangga. Hampir semua tetanggaku seperti muak melihat kesombongan orang kaya baru itu, tapi aku selalu mencoba untuk bisa bersikap wajar.

Tapi pagi itu terasa beda, aku baru saja mendapat berita kematian bapaknya Satrio, ingin sekali aku menyampaikan berita duka itu kepada Satrio, tapi aku ingat pesan mbak Warsih tadi, akupun mengurungkan niatku, lagian aku merasa malas mendengar ucapan-ucapan isteri Satrio yang lebih sering berupa cacian dan umpatan itu. Jujur saja, ada gejolak begitu hebat dalam batinku, antara rasa kemanusiaanku untuk menyampaikan berita kematian seorang bapak kepada anaknya dengan perasaan ingin menjaga amanah dari seorang bapak yang merasa tersakiti oleh anak dan menantunya, bahkan “kemarahan”nya sampai dibawa ke liang kubur.

Mobil yang dikendarai Satrio dan isterinya sudah lenyap di perempatan jalan, akupun harus segera bersiap ke kantor, banyak pekerjaan yang sudah menunggu di tempat kerja, tapi kusempatkan dulu untuk melakukan sholat ghaib untuk pak de, ku do’akan semoga hidupnya di alam sana tidak se sengsara kehiduannya di dunia. Usai berdo’a, dadaku terasa agak lapang, aku dapat mengendarai motorku dengan tenang menuju kantor.[SY]

    

Comments

comments