Opini Parlemen & Pilkada Sara Sagi Terbaru

[Pojok Pilkada] Arul Mutetajuren Telege Muteteduken Uten Muperaturen

Oleh: Ali Abubakar

ALI-Abu-bAKAR

Musa berkata: “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk”. (Thaha: 20)

Tulisan ini ingin menunjukkan satu sisi kebijaksanaan  masyarakat Gayo dalam mengindentifikasi suatu persoalan dan  menetapkan suatu pilihan dengan cara yang tepat. Dalam artikel pendek ini dikemukakan beberapa peri mestike tentang itu. Penulis ingin mengawalinya dengan “ike arul mutetajuren, ike telege muteteduken, ike uten muperaturen.” Secara harfiah, peribahasa ini bermakna, “kalau sungai memiliki air terjun, kalau sumur memiliki bagian tempat mengambil air, dan kalau hutan memiliki aturan.” Mungkin menerjemahkan tetajuren dengan “air terjun” tidak begitu tepat, tetapi yang dimaksud dengan tetajuren memang sejenis “air terjun kecil”, sedangkan “air terjun” sendiri dalam bahasa Gayo disebut tensaran.

Telege yang dimaksud jangan dibayangkan berbentuk sumur seperti yang kita pahami sekarang. Telege masyarakat Gayo dulu adalah penanggulan air yang mengalir dari mata air, dalamnya sekitar satu sampai satu setengah meter, dengan luas sekitar satu sampai dua meter persegi. Pada sisi tertentu telege ini ada bagian khusus yang disediakan untuk memudahkan mengambil air. Inilah yang disebut dengan teteduken.

Pepatah “ike arul mutetajuren, ike telege muteteduken, ike uten muperaturen” bermakna bahwa setiap sesuatu memiliki ciri khas yang membedakannya dengan yang lain. Ungkapan lain yang dekat dengan pepatah tersebut adalah ”teluk mupenimen penyangkulen mubelide.”  Artinya, teluk memiliki ciri seperti tempat mengambil air; menjorok ke daratan yang memudahkan kita mengambil atau memanfaatkan air, penyangkulen (salah satu tempat atau cara menangkap ikan) memiliki kayu panjang khusus yang dibuat dari bambu yang disebut belide. Kata “belide” juga  dipakai untuk pasangan tersik pembuatan pagar. Demikian juga peri mestike  “gajah mugading, kule mukuring” (gajah memiliki gading, sedangkan harimau memiliki belang) dimaksudkan bahwa setiap sesuatu memiliki identitas atau tanda tertentu yang tidak dimiliki oleh yang lain.

Setidaknya, pepatah petitih tersebut digunakan oleh masyarakat adat Gayo  dalam tiga hal. Pertama, dalam bidang hukum; dalam segala segi kehidupan ada aturan-aturan tertentu yang harus dipatuhi. Sekiranya suatu ketika ada masalah hukum yang dihadapi, misalnya perkara antaranggota masyarakat, maka seluruhnya dikembalikan kepada aturan adat. Setiap perkara baru diputuskan setelah persoalannya harus benar-benar jelas. “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” adalah padanan yang juga pas untuk menjelaskan ini.

Kedua, di ranah sosial; wisewords di atas menggambarkan transparansi setiap masalah yang dihadapi masyarakat Gayo. Dalam peminangan dan pernikahan misalnya, calon aman mayak dan calon inen mayak harus benar-benar telah jelas betul disaksikan oleh semua yang  terlibat. Biasanya diungkapkan dengan kalimat “engon sareh panang nyata” atau ditambah dengan “gere putih, gere item, gere naru, gere konot, si agih-agihe, keta ini le jemae.”

Ketiga, di domain adat dan budaya; jelasnya dalam antropologi budaya Gayo. Setiap benda/hal memiliki ciri khas yang membedakannya dengan yang lain. Untuk ranah ini, peribahasa di atas dikaitkan dengan kalimat-kalimat indah lainnya, misalnya  benyer engon ku jagong, sisir engon ku awal. Kalimat tak kalah indah adalah ike rues engon ku ines, ike tungku engon ku pelu. Pada hakikatnya, semua peri mestike ini berujung pada satu hal yaitu menunjukkan bahwa manusia memiliki hal yang tidak dimiliki oleh semua makhluk lain yaitu berpikir. Ini menjadi ciri pembeda manusia dengan ciptaaan Allah yang lainnya. Cobalah kita simak untaian kata berikut: lut mupasir, kurik mutingir, awal musisir, jema mupikir. Ini persis dengan  ungkapan filosof ternama Prancis, Descartes, yang menyatakan cogito ergo sum (aku berpikir, karena itu aku ada). Artinya, jika kegiatan berpikir sudah berhenti, maka hilanglah pembeda manusia dengan makhluk lain: hewan dan tumbuh-tumbuhan. Jika proses berpikir tidak dilakukan, maka manusia seolah tidak pernah ada.

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (QS. al-Qamar: 49)

Ali Abubakar Aman Nabila adalah Dosen Filsafat Hukum Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh. email: aliamannabila[@]yahoo.co.id

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *