Sara Sagi Sastra Terbaru

Antologi Sapa ; Antara Catatan Harian dan Kritik Sosial

Oleh : Ansar Salihin*

Cover Buku Antologi Puisi Sapa“Menyaksikan para koruptor. Adalah kejahatan yang terorganisir. Sebagai prilaku busuk, hukuman yang setimpal. Adalah hukuman mati.”

Kutipan puisi tersebut merupakan salah satu karya Soeryadarma Isman dalam Antologi Puisi “Sapa” yang berjudul Hukuman Mati. Sebuah catatan harian apa yang dirasakan, dilihat dan didengar penulis kemudian dirangkum menjadi bait-bait puisi yang memberikan pesan moral terhadap masyarakat. Kegelisahan penulis menyaksikan prilaku para koruptor yang menyebabkan negara dan rakyat menjadi melarat, maka hukuman yang sesuai untuk orang seperti itu adalah hukuman mati.

Hal tersebut disampaikan seorang penyair muda Soeryadarma Isman melalui karyanya, kalaulah itu disampaikan secara langsung kepada pemerintah, masyarakat dan sebagainya, mungkin suara tersebut tidak akan didengar, apalagi disampaikan oleh seorang anak-anak. Namun melalui karya sastra yang dibukukan dan diterbitkan serta dipublikasikan kemudian dibaca oleh masyarakat, kata-kata tersebut menjadi bermakna sekaligus menjadi memo kepada pemerintah dan masyarakat yang membacanya.

Masih banyak kritik sosial lainnya yang terangkum dalam buku Antologi Puisi “Sapa” Karya Soeryadarma Isman yang diterbitkan Pena House Jawa Barat (2016). Ada tujuh puluh judul puisi dalam buku tersebut merupakan catatan harian seorang penulis dituangkan melalui karya puisi. Kenapa ini dikatakan sebagai catatan harian, karena seluruh puisi dalam buku tersebut merupakan pengalaman yang dirasakan, dilihat, didengar oleh seorang penulis. Mulai dari hal yang terdekat dalam perjalanan hidupnya keluarga, sekolah, teman-teman sampai fenomena bangsa dan negara ini, keseluruhannya terangkum dalam buku tersebut.

Soeryadarma Isman pernah dijuluki sebagai penyair cilik, sejak dini telah melakoni menulis puisi, baca puisi dan berteater. Tahun 2011 pernah menerbitkan antologi puisi bersama tiga penyair Cilik Shania Azzira dan Shalsabilla Oneal Shiya Ulhak serta Soeryadarma Isman dengan judul buku “Negeri di Atas Langit” diterbitkan oleh Kuflet Publishing Padangpanjang bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kota Padangpanjang Sumatera Barat. Selain itu, sering menerbitkan antologi di media massa baik koran lokal maupun nasional, juga mengikuti event penerbitan buku antologi bersama penyair nusantara dan internasonal.

Ilmu dan skill kepenulisan diproleh dari sang ayah penyair Sulaiman Juned juga sering mengikuti diskusi kepenulisan di Komunitas Seni Kuflet, didirikan tahun 1997 oleh ayahnya beserta seniman lainnya. Tidak secara kebetulan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, namun keinginan penulis muda berdarah Aceh ini terus selalu diasah melahirkan karya-karya terbaru setiap harinya. Seiring berjalannya waktu ia terus meningkatkan kemampuan menulis secara keilmuan juga semakin hari diksi dan isi puisinya semakin meningkat dan memberikan makna mendalam.

Soeryadarma Isman lahir di Beureuneun, Aceh 17 Maret 2002, kemudian ia besar di Padangpanjang bersama orang tuanya bekerja di ISI Padangpanjang Sumatera Barat. Kemudian pernah ikut sang ayah ke Solo selama dua tahun saat ayahnya melanjutkan pendidikan Pascasarna di ISI Surakarta, kemudian kembali lagi Padangpanjang dan sekolah SD sampai kelas 5. Selanjutnya tahun 2014 Soerya bersama orang tua kembali ke Aceh dan ia melanjutkan sekolah di sana dan sekarang sekolah di SMP Negeri 17 Banda Aceh kelas VIII.

Keseluruhan puisi dalam buku “Sapa” dibuat di Aceh mulai tahun 2015 sampai 2016. Karya-karyanya sering dipublikasikan di sosial media facebook hampir setiap harinya dua sampai lima puisi. Kalau anak-anak jaman sekarang sering buat status facebook berisi curhatan, pengalaman, atau kata-kata tak jelas. Lain halnya dengan Sorya selalu membuat status facebooknya dengan puisi, selain kata-katanya indah, menarik, memiliki makna mendalam juga melahirkan karya setiap harinya.

Sebagaimana telah disebutkan di atas secara umum karya tersebut merupakan catatan harian penulis baik kegelisahannya terhadap negeri ini, maupun kerinduannya kepada orang tua juga penggambaran sosial buday. Kritikan sosial yang ia utarakan dalam karyanya dalam catatan Salman Yoga pada buku tersebut menyebutkan “Soeryadarma Isman jauh lebih dewasa dari usianya dalam menyikapi fenomena kontenporer berupa korupsi”. Artinya ungkapan diksi dalam karyanya mungkin belum terfikir oleh sorang anak-anak remaja seumuran dia dalam menghadapi fenomena bangsa ini yang penuh kekacauan. Salah satu puisinya masih tentang koruptor berdujul “Mari Ucapkan Selamat malam Kepada Koruptor”

“Jutaan rakyat Indonesia sekarat

Sedangkan koruptor hidup makmur dan terjamin

Makannya mereka harus dihukum mati

Sebab sama saja sebagai penghianat negeri”

Cuplikan puisi tersebut jelas sebagai kritikan kepada pemerintah, mungkin tidak asing di masyarakat, namun biasanya di kalangan masyarakat kata-kata itu hanya sebatas obrolan biasa di warung kopi, atau sebagai status facebook yang tak berarti, sehingga tidak sampai pernyataan itu kepada bersangkutan. Namun melalui karya Soerya kritikan ini akan dibaca oleh ratusan atau ribuan orang sampai berpuluh tahun yang akan datang. Semoga pemerintah yang memegang kebijakan membaca puisi ini termasuk kepada pelaku koruptor membacanya.

Selain kritikan terhadap koruptor ada juga kritikan terhadap wakil rakyat yang berjudul “Memo: Catatan harian kepada wakil rakyat” mengkritik kerja wakil rakyat sewaktu menjelang pilkada merayu rakyat untuk dipilih namun setelah terpilih lupa terhadap rakyat. Begitu juga dengan puisi berjudul “Pak presiden ini dengar laporanku” mengingatkan pemerintah mengenai kekuatan hukum di negeri ini yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dalam puisinya meminta kepada presiden jangan bubarkan KPK karena negara ini membutuhkan lembaga itu untuk memberantas korupsi.

Selain kritikan sosial beberapa puisinya juga berisi tentang kedekatan, kerinduannya kepada keluarga. Sebagai seorang anak ingin selalu dekat dengan orang tuanya dan ingin selalu mengabdi kepada kepada keduanya. Hal ini dapat dilihat pada puisi berjudul “Mamak dan Abi Padamu Aku Belajar Mencintai” Isi puisi ini penggambaran apa yang dialami seorang anak dalam keluarga, seorang penulis mengungkapkan bahwa ia mendengarkan mamaknya (ibu) berdoa selepas shalat, doa itu tujukan kepada abi dan anaknya, inilah arti cinta yang sesungguhnya dalam keluraga. Seperti kutipan puisi ini;

“Setiap subuh. Kuintip mamak usai bersujud. Tak putus-putus mendoakan abi. Akupun belajar padamu mamakku. Tentang bagaimana mencintai sepenuh hati.”

Masih ada beberapa puisi lagi tentang pengalaman hidup dalam keluarga yang diangkat ke dalam realitas sastra memiliki makna mendalam, setiap orang membaca puisi tersebut pasti merasakan bagaimana kedekatan hubungan antara anak dan orang tuanya baik sedih, senang, duka, tawa dan sebagainya. Judul lain menyakut tema ini seperti “Suatu Ketika Nanti”, “Seperti Ombak pada Laut”, “Melawan Sunyi”, “Dimana Rindu Meski Kutambat”, “Pesan: Kado Ulang Tahun untuk Mamakku Titin Iswanti” dan puisi lainnya.

Melalui puisi-puisi karya Soeryadarma Isman banyak hal yang dapat dijadikan sebagai pelajaran, terutama kepada penulis pemula biasanya mengeluhkan bagaimana mencari ide dalam menulis. Dari karya ini dapat dilihat bahwa ide itu muncul dari hal yang paling sederhana berdekatan dengan kehidupan sehari-hari penulis. Tinggal bagaimana merubah pengalaman pribadi dan realitas sosial menjadi realitas sastra yang mengandung nilai puitik setiap diksi dan baitnya sehingga menghasilkan sebuah karya yang berkualitas. Oleh karena itu menulis membutuhkan ilmu dan keinginan yang kuat untuk menjadi penulis. Ilmu dan keinginan juga belum cukup apabila kurang diasah kemampuan menulis. Maka jika ingin menjadi penulis hebat harus berilmu, berkeinginan dan terus menulis tiada henti sampai mati.

Selanjutnya pesan moral yang dapat diambil dari keseluruhan puisi tersebut bahwa kehidupan ini, kita harus selalu ingat kebaikan dan keburukan dalam menjalani hidup yang diatur oleh Allah SWT. Manusia sebagai mahkluk ciptaan tuhan harus selalu sadar bahwa hidup ini tidaklah panjang, kematian pasti menghampiri setiap yang bernyawa. Oleh karena itu hindarilah perbuatan yang keji seperti sombong, angkuh, iri, korupsi, berbohong, tidak tepat janji dan perbuatan buruk lainnya. Penulis mengajak pembaca semua untuk selalu berbuat baik kepada orang tua, masyarakat, alam dan lingkungan sekitar, berlaku adil, menjalankan amanah dalam memimpin serta taat beribadah kepada Allah SWT.

Penulis adalah Dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, Koordinator Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia Wilayah Aceh dan Pengurus Sanggar Cempala Karya Banda Aceh

Comments

comments