Kopi Gayo Opini Terbaru

Prospek Ekonomi Budidaya Kopi Arabika Gayo

Oleh; Fathan Muhammad Taufiq

IG-Kopi-Gayo-2KOPI Arabika (Coffea arabica) merupakan salah satu tanaman perkebunan yang menjadi produk ekspor unggulan  di Indonesia. Secara spesifik, kemudian komoditi perkebunan ini menjadi komoditi utama dan unggulan di dua kabupaten yang berada di Dataran Tinggi Gayo yaitu Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Luas areal pertanaman kopi arabika di kedua daerah ini mencapai lebih dari 120.000 hektar, dengan produksi per tahun mencapai lebih dari 200.000 ton.

Komoditi perkebunan ini kemudian menjelma menjadi “soko guru” alias penopang utama perekonomian di daerah dengan topografi pegunungan berhawa sejuk ini. Produk Domestik Regional Brutto (PDRB) terbesar bagi daerah ini dihasilkan produk kopi arabika yang saat ini sudah banyak dikenal oleh konsumen manca negara baik di daratan Eropa, Amerika maupun Asia.

Kopi arabika asal daerah ini yang kemudian dikenal dengan identitas geografis sebagai Kopi Gayo ( Gayo Mountain Coffee) ini, sekarang sudah mampu bersaing dengan kopi arabika yang dihasilkan oleh Negara-negara di benua Afrika, Amerita latin (khususnya Bazil) dan beberapa Negara Asia seperti Vietnam dan Thailand  di pasar kopi dunia. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah, sejauh mana eksistensi kopi arabika ini mampu mengangkat perekonomian dan meningkatkan  kesejahteraan masyarakat Gayo?.

A. Sejarah Singkat Kopi
Kopi memiliki istilah yang berbeda-beda. Pada masyarakat Indonesia lebih akrab dengan sebutan kopi, di Inggris dikenal coffee, Prancis menyebutnya cafe, Jerman menjulukinya kaffee, dalam bahasa Arab dinamakan quahwa.

Sejarah kopi diawali dari cerita seorang penggembala kambing Abessynia yang menemukan tumbuhan kopi sewaktu ia menggembala, hingga menjadi minuman bergengsi para aristokrat di Eropa. Bahkan oleh Bethoven menghitung sebanyak 60 biji kopi untuk setiap cangkir kopi yang mau dinikmatinya.

Sejak penemuan tumbuhan kopi tersebut kemudian seorang sufi Ali Bin Omar dari Yaman menjadikan rebusan kopi sebagai obat penyakit kulit dan obat-obatan lainnya. Sehingga pada waktu itu kopi mendapat tempat terhormat di kalangan masyarakat negeri itu. Dari khasiat kopi tersebut akhirnya membawa kemakmuran bagi pemilik-pemilik kebun kopi, pengusaha kedai kopi, pedagang kopi, eksportir kopi, dan pemerintah di berbagai belahan dunia tanaman minuman beraroma khas itu ditanam.

Banyaknya khasiat yang didapat dari kopi, sehingga penyebarannya cukup pesat terutama di benua Eropa. Di Salerno, Italia, kopi telah dikenal pada abad kesepuluh. Setelah itu berlanjut dengan pembukaan kedai kopi bernama Botega Delcafe pada tahun 1645 yang kemudian menjadi pusat pertemuan cerdik pandai di negara pizza tersebut.

Di Kota London, coffee house pertama dibuka di George Yard di Lombat Sreet dan di Paris, kedai kopi dibuka pada tahun 1671 di Saint Germain Fair. Sedangkan di Amerika, kopi dijadikan sebagai minuman nasional di Amerika Serikat dan menjadi menu utama di meja-meja makan pagi. Meskipun perkembangan kopi begitu pesat pada abad-abad itu tetapi orang-orang Arab telah lebih dulu memonopolinya sebagai tanaman, dan mereka hanya mengekspor kopi yang sudah digoreng atau digonseng.

Sedangkan penyebaran tumbuhan kopi ke Indonesia dibawa seorang berkebangsaan Belanda pada abad ke-17 sekitar tahun 1646 yang mendapatkan biji arabika mocca dari Arabia ke Jakarta. Kopi arabika pertama-tama ditanam dan dikembangkan di sebuah tempat di timur Jatinegara, yang menggunakan tanah partikelir Kesawung yang kini lebih dikenal Pondok Kopi.

Kemudian kopi arabika menyebar ke berbagai daerah di Jawa Barat, seperti Bogor, Sukabumi, Banten, dan Bandung, melalui sistem tanam paksa. Setelah menyebar ke Pulau Jawa, tanaman kopi kemudian menyebar ke daerah lain, seperti Pulau Sumatera, Sulawesi, Bali, dan Timor. “Bahkan kopi arabika yang semula ditanam di Brasil (negara produsen kopi terbesar di dunia) konon bibitnnya berasal dari Pulau Jawa,”.

Dalam sejarahnya, Indonesia bahkan pernah menjadi produsen kopi arabika terbesar di dunia, walaupun tidak lama akibat munculnya serangan hama karat daun. Serangan hama yang disebabkan cendawan hemileia vastatrix tersebut menyerang tanaman kopi di Indonesia sekitar abad ke-19.

Meskipun demikian, sisa tanaman kopi arabika masih dijumpai di kantong penghasil kopi di Indonesia, antara lain dataran tinggi Ijen (Jatim), tanah tinggi Toraja (Sulsel), serta lereng bagian atas pegunungan Bukit Barisan , seperti Mandailing, Lintong dan Sidikalang (Sumut) serta dataran tinggi Gayo (Aceh).

B. Persaingan Ekspor Kopi Indonesia
Negara-negara maju mulai memperketat persyaratan kualitas kopi yang akan dibeli ke masalah aspek mikro. Sebelumnya persyaratan kualitas kopi yang dibeli Negara-negara maju hanya dilihat dari aspek makronya saja, yaitu masalah kebersihan dan jumlah kadar cacat pada kopi. Terakhir mereka memperketat persyaratan kualitas kopi dengan melihat aspek mikro seperti kandungan unsur mikrobiologi, bakteri, racun, sisa bahan aktif pembasmi hama/pestisida Cypermentrin, dll. Aspek mikro dalam menentukan persyaratan kualitas kopi yang di ekspor tersebut menjadi hambatan dalam mengekspor kopi Indonesia, karena Indonesia belum memiliki laboratorium yang memadai untuk mendeteksi aspek mikro yang terkandung dalam kopi. Baru-baru ini terdapat dua peti kemas (36 ton) kopi arabika Mandhailing yang di tahan Badan Karantina Jepang karena mengandung unsur aktif pestisida Cypermenthrin melebihi ambang batas yang diizinkan. Unsur aktif pestisida Cypermenthrin dalam kopi arabika diizinkan di Jepang 0,05 ppm. Eksportir kopi Indonesia kesulitan memenuhi standar ambang batas residu kimia dalam kopi, karena Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk kopi baru merumuskan aspek makro (unsur kasat mata)

C. Kopi Organik sebagai salah satu Keunggulan Produk Kopi Indonesia
Pasar kopi baru yaitu specialty coffee merupakan peluang yang harus diraih, dalam kopi organik termasuk di dalamnya. Kopi organik merupakan kopi yang diproduksi dengan menganut pada paham pertanian yang ber-kelanjutan. Dalam budidaya organik aspek-aspek pelestarian sumberdaya alam, keamanan lingkungan dari se-nyawa senyawa pencemar, keamanan hasil panen bagi kesehatan manusia serta nilai gizinya sangat diperhati-kan. Di samping itu dalam budidaya kopi organik aspek sosial ekonomi juga menjadi perhatian utama.

Jadi, tidak seperti anggapan masyarakat selama ini bahwa kopi organik adalah budidaya kopi tanpa pestisida, pupuk buatan dan tanpa pemeliharaan sama sekali. Justru, pada budidaya kopi organik jauh lebih banyak aspek yang harus diperhatikan.

Kopi organik hanya dapat diproduksi pada kondisi sumberdaya lahan yang tingkat kesuburan tanahnya tinggi, curah hujannya cukup serta daya dukung lingkungannya tinggi.

Pengelolaan tanah mempunyai arti yang sangat penting yang meliputi penyediaan bahan organik yang cukup di dalam tanah dan memanfaatkan mikrobia seperti jamur mikoriza ber VA. Mengingat daerah pertanaman kopi arabika umumnya di daerah dataran tinggi dengan topografi berbukit hingga bergunung, maka pengendalian erosi dengan terasering mutlak dilakukan.
Pengendalian organisme pengganggu tanaman kopi dilakukan dengan mempergunakan sistem pengedalian terpadu dengan mengutamakan pengendalian secara hayati. Jamur Beauveria bassiana dapat dipergunakan untuk mengendalikan hama bubuk buah kopi, Trichoderma sp. untuk pengendalian jamur akar kopi. Selain itu ekstrak daun mimba (Azadirachta indica) dapat dimanfaatkan sebagai pestisida botani.

Penanganan pasca panen kopi organik memerlukan kecermatan agar sesuai dengan ketentuan standar mutu biji kopi. Dalam menghasilkan kopi organik yang lebih penting untuk di-perhatikan adalah adanya saling me-nguntungkan antara produsen/petani, pengolah (prosesor) dan pedagang (eksportir).

Satu-satunya Provinsi yang telah meng-ekspor kopi organik adalah Aceh ( Khususnya Dataran Tinggi Gayo ) . Premium yang diperoleh oleh kopi organik berkisar antara 20 – 70,5 persen, yang merupakan persentasi tertinggi dari seluruh penghasil kopi dunia. Hal ini tentu akan membuat kopi organik yang dihasilan petani Gayo akan semakin dikenal di dunia dan harganya di pasaran dunia akan tetap tinggi. Harapan kita fenomena ini juga akan berdampak kepada peningkatan kesejahteran petani kopi di Dataran Tinggi Gayo tercinta ini.

D. Prospek Ekonomi Budidaya Kopi di Dataran Tinggi Gayo
Saat ini kopi tampaknya merupakan komoditas yang paling penting bagi petani di beberapa wilayah di Aceh Bagian Tengah. Beberapa faktor yang menjadi pendukung adalah aspek budidaya yang relatif dikuasai petani, perawatan tanaman yang tidak terlalu rumit, dapat menghasilkan cash money setiap minggu, dan harga yang relatif stabil bahkan mengalami tren naik akhir-akhir ini.

Kondisi ini menjadi pertanda baik bagi petani dan memang mulai menjadi pemicu peningkatan keseriusan petani mengelola kebun dan perluasan areal. Di tingkat petani di wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah misalnya, harga kopi gabah mengalami peningkatan dari sekitar Rp 13.000-15.000 per Bambu ( setara dengan 1,3 Kg) pada bulan Oktober 2013 menjadi sekitar Rp 17.000 sampai Rp 19.000 per Bambu pada Desember 2013.

Pada Tahun 2015 yang lalu lonjakan harga kopi di Dataran Tinggi Gayo cukup signifikan yaitu mencapai diatas Rp. 30.000 per bambu di tingkat petani. Hal ini merupan suatu peningkatan yang cukup memberikan dampak peningkatan ekonimi petani kopi Gayo..

Bila ditilik ke harga internasional, juga mengalami tren meningkat.Hal ini didasarkan pada data harga di pasar New York untuk jenis Other Mild Arabicas (OMA) dari situs ICO. Kopi arabika asal Indonesia masuk ke kelompok OMA. Sepanjang tahun 2013, terjadi tren peningkatan harga bulanan sekitar 4 persen/bulan. Suatu angka yang juga cukup menjanjikan.

Hal yang juga sangat menggembirakan, berdasarkan data ICO, pada tahun 2009, Indonesia telah menempati posisi tiga besar produsen kopi arabika (setelah Brazil dan Vietnam) dengan produksi sekitar 683.000 Ton, dari jumlah tersebut lebih 40% nya merupakan produksi dari petani kopi Gayo.

Sejak lama, reputasi kopi Indonesia telah dikenal di manca negara, khususnya kopi arabika. Sebut saja beberapa merek dagang kopi dari berbagai wilayah: Lintong Coffee dan Mandheling Coffee (Sumatera Utara), Gayo Coffee (Aceh), Toraja Coffee (Sulawesi Selatan), dan banyak lagi.

Berbagai kajian dan pengakuan para pelaku industri dan konsumen, kopi asal Dataran Tinggi Gayo merupakan salah satu kopi terbaik di dunia. Berbicara mengenai kopi, orang akan segera mengingat Dataran Tinggi Gayo. Produk Kopi dari wilayah ini menjadi primadona para eksportir  dan incaran konsumen di manca negara.

Apa yang membuat kopi Gayo lebih unggul dari yang lain?
Pertama, varietas  yang ditanam petani kita menghasilkan kopi berkualitas terbaik. Kedua, iklim dan jenis tanah di wilayah-wilayah tersebut sangat mendukung produksi kopi bercitarasa mantap dan khas. Ketiga, cara pengolahan basah (wet hulling) yang dilakukan petani kita sangat unik yang menciptakan citarasa  kopi terbaik. Keempat, praktek pertanian yang dilakukan umumnya sesuai dengan tuntutan konsumen yaitu mengandalkan sistem pertanian organik.

Namun demikian, jika ingin menguak beberapa kendala dalam perkopian kita dapatlah disebut beberapa yang penting saja: sebagian praktek budidaya yang masih seadanya, serangan penyakit Jamur Akar Putih , produktivitas yang masih relatif rendah, persoalan sekitar harga yang adil di tingkat petani, dan lemahnya institusi perkopian di tingkat petani.

Praktek pertanian yang masih seadanya ditandai dengan sebagian (besar) petani yang belum serius mengelola kebunnya. Banyak petani bahkan tidak memupuk kopi sepanjang tahun.. Selain itu, bahan tanaman (bibit) umumnya diperoleh dari kebun sekitarnya dan sebagian besar kebun kopi kita  tidak memiliki tanaman pelindung yang baik sehingga daya tahan tanaman kopi menjadi rendah.

Yang sangat merisaukan adalah munculnya serangan penyakit jamur akan putih yang gejalanya sudah menyebar hampir di seluruh dataran tinggi Gayo, teknologi untuk pengendalian penyakit ini  masih relatif terbatas.

Bantuan pemerintah dalam pengendalian Jamur Akar Putih dengan system pengendalian penyakit secara biologi dengan Trycodherma melalui Dinas teknis dengan bimbingan dari para penyuluh, juga belum mencapai hasil yang optimal.

E. Budidaya Kopi dari Hulu ke Hilir mempercepat Pengembangan Wilayah
Membahas pengembangan wilayah berbasis pertanian tentunya kita tidak terlepas dari tingkat produktivitas. Sekaitan dengan komoditas kopi arabika, produktivitas ini diyakini mampu secara signifikan mempengaruhi perekonomian masyarakat di suatu wilayah.

Seperangkat teknologi budidaya kopi dan faktor pendukung secara umum telah tersedia dan agaknya tidak terlalu rumit. Asumsi kita, peningkatan harga dapat menjadi insentif bagi petani untuk mulai mencoba menerapkan berbagai teknologi itu secara bertahap. Namun asumsi kita tidaklah sepenuhnya benar.

Sebut saja misalnya, mengapa petani masih enggan menanam pohon pelindung dan menggunakan pupuk organik secara teratur. Tambahan lagi, mengapa petani tidak mau membuat catatan aktivitas usahatani kopi, padahal berbagai studi di manca negara terbukti bahwa catatan itu mampu meningkatkan produktivitas.

Apakah ini disebabkan kendala ekonomi atau kendala sosial-budaya? Dari aspek ekonomi mestinya peningkatan pendapatan akan memicu re-investasi ke kebun kopi. Dari sini kiranya muncul hipotesis bahwa kondisi sosial-budaya patut diduga menjadi kendala upaya-upaya penigkatan produktivitas ‘emas hitam’ ini.

Harga Kopi Gayo tertinggi di Dunia
Terlepas dari sistim budidaya kopi Gayo yang masih berorientasi pola bubudaya konvensional, kita patut bersyukur, bahwa harga kopi yang dihasilkan oleh para petani di Dataran Tinggi Gayo, berada di atas rata-rata harga kopi dari daerah lain, bahkan masih di atas harga kopi dunia. Gambaran harga kopi arabika di daerah Gayo sebagai berikut. Jika hari ini harga kopi gabah (Biji kopi kering yang masih terikut cangkangnya) di tingkat petani adalah Rp 30.000 per bambu ( sekitar Rp 25.000 per Kg) dan harga biji kopi siap olah ( Green Bean Coffee) di tingkat pedagang pengumpul adalah Rp 55.000,- sampai Rp 60.000,- per Kg. Harga tersebut menurut Rizwan Husein, eksportir kopi Gayo dan Ketua KBQ Baburrayyan, lebih tinggi dari harga f.o.b. pelabuhan pengirim. Namun kalau kita lihat harga rata-rata bulanan di pasar New York saat ini (jenis Other Mild Arabicas) adalah sekitar Rp 45.000,- ( US $ 3,2 ) per kg, sedangkan harga kopi Gayo bisa mencapai US $ 4,3 per kilogramnya. Perbedaan harga yang cukup mencolok tersebut, ungkap Rizwan, karena kopi Gayo memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh kopi dari daerah lain, keunggulan tersebut adalah kopi Gayo sudah memiliki Sertifikat Indikasi Geografis (IG) yang sudah diakui oleh berbagai lembaga kopi dunia baik di Eropa maupun Amerika. Dengan keunggulan tersebut, kopi Gayo bisa menentukan harga sendiri tanpa mengacu kepada harga pasar dunia, karena spesifikasi kopi Gayo yang khas dengan kulaitas premium, membuat buyer berani membeli dengan harga tinggi.

Dengan harga tersebut, mestinya kondisi petani kopi Gayo bisa menjadi lebih sejahtera karena hasil pertanian mereka, mau dibeli oleh para buyer dengan harga relatif tinggi, namun kondisi riil di lapangan belum sepenuhnya menggambarkan hal demikian. Salah satu penyebabnya adalah produktivitas kopi gayo yang masih tergolong rendah, menurut catatan dari instansi teknis terkait, produktivitas rata-rata kopi Gayo baru mencapai 720 Kg per Hektar. Artinya dengan produktivitas demikian, penghasilan petani kopi Gayo baru mencapai Rp  43.200.000,- per hektarnya, sementara di daerah lain, meski harga kopinya lebih rendah, namun karena produktivitasnya lebih tinggi, maka penghasilan petani kopi disana bisa lebih tinggi dari petani kopi Gayo. Ada daerah penghasil kopi di Indonesia yang sudah mampu mendongkrak produktivitas kopinya sampai 2 Ton per hektar, dengan harga pasar Rp 45.000,- kilogram saja, mereka mampu meraih penghasilan Rp 90.000.000,- per hektarnya, lebh dua kali lipat dari apa yang diperoleh oleh petani kopi Gayo. Dengan demikian, kita boleh berasumsi bahwa belum terkatrolnya kesejahteraan petani kopi Gayo, bukan karena pengaruh harga pasar, tapi lebih kepada rendahnya produktivitas.

Salah satu upaya peningkatan produktivitas kopi yang berpunca pada peningkatan profit margin petani kopi adalah dengan memperkuat kelembagaan kelompok tani, mengintensifkan pembinaan dan penyuluhan, serta secara bertahap meningkatkan kulaitas SDM petani dan Penyuluh Pertanian. Selain itu, upaya mempertahankan kualitas kopi Gayo juga harus terus dilakukan, karena jika kualitas menurun, otomatis harga juga akan jatuh. Upaya yang telah dilakukan oleh Rizwan Husein melalui KBQ Baburrayyan dengan membentuk Internal System Controll (ISC) yang berfungsi memantau kualitas kopi sejak dari kebun sampai ke prosessing dan pengapalan, merupakan terobosan bagus yang mestinya bisa dijadikan standar pengendalian mutu Kopi Gayo . Belakangan langkah pak Rizwan ini, mulai diikuti oleh para eksportir kopi Gayo lainnya, sebuah langkah maju tentunya, untuk tetap mempertahankan kulaitas kopi Gayo yang selama ini sudah mendapatkan pengakuan dunia.

Namun demikian, harus di akui, bahwa selama tiga dasawarsa belakangan ini, kopi arabika gayo telah memberikan kontribusi penting bagi perekonomian masyarakat Gayo. Sektor ekonomi di Dataran Tinggi Gayo ini nyaris semuanya bergantung kepada komoditas perkebunan ini. Apa jadinya, kalau Gayo tidak memiliki kopi, tentu sulit membayangkannya. Begitu juga dengan masalah ketahanan pangan, hampir semua akses kebutuhan pangan di Gayo bergantung kepada kopi arabika ini. Daya beli masyarakat Gayo terhadap produk-produk pangan juga sangat bergantung penghasilan dari kebun kopi mereka.

Selain mampu menjadi penyangga utma perekonomian masyarakat, aktivitas pada usahatani kopi arabika menyerap relatif banyak tenaga kerja setempat, tenaga kerja ini terutama dialokasikan untuk kegiatan panen. Dengan dukungan iklim yang sesuai maka kopi arabika kita dapat dipanen sepanjang tahun, meskipun dengan berbagai variasi fluktuasi produksi.

Artinya, pengangguran musiman (seasonal unemployment) yang kerap terjadi di sektor tanaman semusim, semakin berkurang dengan adanya komoditas kopi arabika ini. Dengan dua indikator saja (pendapatan dan penyerapan tenaga kerja), dapat dipastikan bahwa pengembangan kopi arabika berkontribusi positif bagi perekonomian wilayah.

Tantangan kita kini adalah bagaimana para pemangku kepentingan bersinergi mengembangkan komoditas andalan ini. Kita ingin bertanya, demi petani kopi. Timbul pertanyaan ;  sejauh mana peran Dinas Perkebunan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, BUMD terkait, dan rekan-rekan penyuluh di lapangan? Marilah kita jawab bersama dengan aksi nyata.[]

 

Comments

comments