Opini Sara Sagi Terbaru

Aku Anak Kluet, Mahasiswa dan Buruh Bangunan

[Features]

Oleh: Mursaha Ulu Pinem

Mursaha-Ulu-PinemSAYA adalah seorang mahasiswa di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry yang dulunya dikenal dengan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry tepatnya di Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), jelasnya di jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) angkatan 2013. Saya berasal dari sebuah daerah di pedalaman yang dikelilingi oleh gunung-gunung indah nan menjulang tinggi, yaitu Kecamatan Kluet Tengah atau yang lebih dikenal dengan Kota Menggamat Kabupaten Aceh Selatan.

Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry adalah salah satu kampus biru bahkan menjadi salah satu kampus yang sangat ramai peminatnya di serambi Mekkah (Aceh), karena peminatnya begitu ramai jadi bukan urusan mudah untuk bisa berkuliah di kampus ini. Tidak tau apakah sebuah keberuntungan atau memang sebuah kecerdasan setelah mengikuti berbagai test sehingga saya lulus dan bias berkuliah di kampus yang luar biasa ini.

Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) adalah salah satu fakultas favorit di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry itu dibuktikan dengan tidak muatnya tempat parkir roda dua yang disediakan.  Bukan hanya tempat parkiran rektorat yang dijajah oleh mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi bahkan pinggiran jalan di sekitar fakultas penuh dihiasi oleh kendaraan roda dua. Jika anda telat datang ke kampus maka bersiap-siaplah untuk susahnya mencari lapak tempat parkiran.

Beralih dari Universitas dan Fakultas di atas, jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) adalah salah satu jurusan yang paling banyak peminatnya dari jurusan-jurusan lainnya di fakultas itu. Karena jurusan ini lebih menjurus kepada perfilman (sinematografi), pertelevisian, radio, dunia tulis-menulis dan jurnalistik serta fotografi, poin-poin ini sudah menjadi sebuah kebutuhan dikalangan masyarakat. Bahkan pada tahun 2016 ini jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh menjadi tuan rumah acara Forum Komunikasi Nasional (FORKOMNAS) ini adalah salah satu bukti perkembangan dan kemajuan pada jurusan ini.

Tahun 2013 adalah tahun dimana saya mulai menjadi mahasiswa yang memakai baju kemeja, celana kain, sepatu yang mengkilat dan menyandang sebuah tas layaknya seperti mahasiswa lainnya. Akhirnya keinginan yang telah lama dipendam sejak menyelesaikan pendidikan di Madrasah Aliyah pada tahun 2010 kini terwujud, yakni menjadi mahasiswa seperti yang diimpi-impikan. Tepatnya di bulan Juni tahun 2013 adalah bulan dimana pertama kalinya resmi menjadi mahasiswa.

Di universitas ini ada yang dikenal namanya matrikulasi. Di universitas-universitas lainnya yang ada di Banda Aceh sampai saat ini belum ada yang namanya matrikulasi, pada angkatan 2013 matrikulasi berjalan selama satu bulan. Yang mana pada matrikulasi ini hanya ada dua mata kuliah yaitu Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Agak sedikit membosankan ketika selama sebulan penuh hanya ada dua mata kuliah, yang parahnya lagi dua mata kuliah ini adalah dua mata kuliah yang kurang saya gemari.

*  * * *

Di semester pertama kuliah saya memerlukan adaptasi yang cukup lama, karena serba baru baik itu teman baru, tempat belajar baru, pengajar baru yang ketika di sekolah  disebut guru dan ketika kuliah disebut dosen dan istilah baru Komisaris Unit (Komnit). Sebenarnya tidak ada perbedaan antara Komnit di peruliahan dan Ketua Kelas ketika sekolah, karena sama-sama orang yang betanggung jawab atas anggotanya. Hari demi hari telah terlewati yang mana pada akhirnya mulai menyesuaikan diri dengan teman-teman yang memang berbeda-beda daerah yang otomatis banyak sekali  perbedaan-perbedan yang akan lahir baik dari segi bahasa, kebiasaan, pandangan dan lain sebagainya.

Saya berasaldari Kluet yang memiliki bahasa dan budaya yang berbeda dengan teman-teman lainnya. Saya adalah seorang mahasiswa yang mempunyai kegiatan ekstra. Kegiatan ekstra inilah yang membedakan saya dengan beberapa teman yang lain yaitu kuliah sambil bekerja. Tiada waktu tampa kuliah dan bekerja itulah kata istilah sederhana yang diemban olah saya. Pada semester ini saya mendapatkan nilai yang sedikit memuaskan yakni 3.27. Salah satu alasan saya berani menyebutkan ini merupakan nilai yang sedikit memuaskan adalah masih banyaknya teman-teman yang memang kuliahnya dibiayai oleh orang tua mempunyai nilai di bawah saya.

Semenjak memulai kuliah saya memiliki tempat tinggal yang agak jauh dari kampus tempat kuliah, dan pada saat itu ia tidak memiliki sepeda motor. Tentu saja timbul sebuah pertanyaan kenapa memilih tempat tinggal yang jauh dari kampus sedangkan sepeda motor tidak ada? Jawabannya sederhana yaitu tempat tinggal gratis. Memang sih sebenarnya jauh sebelum saya memulai kuliah memang sudah tinggal di tempat tinggal gratis ini. Tempat tinggal gratis ini adalah sebuah kantor Partai Nasional yang tidak perlu disebutkan partai apa. Pada masa ini hanya satu pepatah yang saya rasakan yaitu “hanya labi-labi yang setia mengantar jemputku walaupun kesetiaanya itu mengharap imbalan”.

* * * *

Berlanjut ke semester selanjutnya yakni semester dua, yang mana pada semester ini saya sudah mulai memilah-milah teman mana yang bisa menjadi teman dekat atau sahabat dan teman yang hanya sekedar teman. Semester ini bejalan layaknya semester pertama juga, kuliah berjalan dengan baik dan bekerja juga dapat dilakukan. Berbicara tentang nilai, saya mempunyai motto yang luar biasa yaitu” Hari ini lebih baik dari hari kemarin”.

Jadi yang ada dalam pikiran saya bagaimana cara untuk mencapai nilai yang lebih baik dari semester satu yaitu lebih dari 3.27. Suka duka yang telah saya lalui pada semester ini membuahkan hasil yang memuaskan yaitu nilai atau indeks prestasi yang lebih tinggi dari semester pertama yakni 3.36. Pencapaian ini dalah sebuah kebanggaan bagi saya.

* * * *

Masuk semester ketiga, dengan bangga saya memulai perkuliahan yang mana motto yang tersebut di atas berjalan dengan baik yaitu nilai semester pertama dengan nilai 3.27 menjadi 3.36 di semester dua, artinya semester dua lebih baik dari semester satu. Setelah semester pertama saya beradaptasi dengan teman-teman, di semester kedua saya mulai memilah-milah teman yang mana bisa menjadi teman baik dan yang mana teman hanya sekedar teman.

Lambat laun kata pepatah tentang hanya labi-labi yang setia mengantar jemputku mulai memudar karena mulai pada semester ini ada seorang teman yang kesetian untuk mengantar jemputku melebihi dari labi-labi, bahkan kesetian seorang teman ini tanpa mengharapkan imbalan sepeserpun. Kesetiaan itu tidak saya disia-siakan, dengan semangat 45 sayapun membantu apa yang bisa dibantu untuknya. Diakhir-akhir semester tiga saya menemukan lagi seorang teman yang memiliki kesetiaan yang luar biasa juga. Dan yang luar biasanya lagi kami bertiga memiliki kesamaan yaitu sama-sama kuliah sambil bekerja.

Entah karena kesamaan yang disebut di atas atau memang karena samanya prinsip kami, kami bertiga mulai merasa saling membutuhkan satu sama lain. Kami hanya dipisahkan oleh jadwal bekerja, karena perbedaan propesi. Saya sebagai seorang kuli bangunan sedangkan kedua temannya satu orang sebagai penjahit pakaian dan yang satu lagi sebagai penjual alat-alat elektronik.

Disemester inilah saya merasakan kenikmatan kuliah, alasannya yang pertama mempunyai dua orang teman atau tepatnya sahabat yang luar biasa yang kesetiaan keduanya membuat berkuliah itu menyenangkan, kemudian alasan yang kedua perkuliahan yang lancar karena efek dari meningkatnya nilai dari semester satu ke semester dua.

Pada semester inilah terdengar sebuah kabar tentang kewajiban masuk asrama mulai dari angkatan 2013. Salah satu yang ditegaskan dalam pengumuman itu adalah salah satu syarat penting untuk melanjutkan semester kelima. Pada semester tiga inilah saya mendapatkan nilai yang memuaskan yaitu 3.43.

* * * *

Melangkah ke semester keempat, dimana semester ini menjadi semester yang luar biasa, itu dikarenakan padatnya jadwal. Pada semester ini bukan hanya kuliah dan bekerja memadatkan jadwal keseharian, tapi pada semester ini asrama juga ikut memadatkan jadwal keseharian. Pada semester inilah saya sadar betapa sulitnya untuk mengatur waktu antara kuliah, asrama dan bekerja. Dari tiga hal ini sama pentingnya walaupun tujuan utama adalah kuliah, karena tanpa bekerja perkuliahan tidak akan berjalaan dengan lancar, baik dari segi keperluan sehari-hari maupun dari segi keperluan perkuliahan.

Asrama menjadi salah satu penyebab kerenggangan persahabatan saya dengan kedua sahabat saya, bukan hanya perenggang persahabatan kami bahkan asrama menjadi salah satu penyebab kehancuran perkuliahan seorang sahabat saya. Itu dikarenakan seorang sahabat saya ini tidak mengikuti asrama. Sehingga banyak sekali waktu yang kami lalui tanpa besama-sama. Disatu sisi asrama menjadi faktor kerenggangan persahabatan kami, disisi lain asrama menjadikan saya sadar betapa seringnya saya meninggalkan shalat.

Dengan padatnya jadwal kuliah dan kerja membuat saya lalai dengan kegiatan di asrama, karena kelalaian ini membuat saya tidak bisa mengikuti final yang otomatis mengharuskan mengulang pada semester selanjutnya. Tetapi yang membuat saya bangga pada semester ini adalah tingginya nilai yang didapat. Pada semester inilah nilai terbaik yang pernah saya raih yakni 3.64, yang membuat saya seperti kurang percaya dengan nilai pada semester ini adalah padatnya jadwal yang dilalui.

Berlanjut kesemester lima dimana pada semester lima ini saya dan seorang teman saya membuat sebuah rekor, dan teman ini juga sudah menjadi teman dekat atau disebut sahabat. Adapun rekor ini adalah pengambilan SKS yang mencapai 25 SKS. Untuk saat ini belum ada yang bias mengambil SKS mencapai 25 SKS. Rekor ini muncul karena kesalahan dari portal online, mata kuliah yang seharusnya 3 SKS menjadi 2 SKS. Tapi saya ngrekor ini tidak berjalan sesuai rencana. Karena ketidak sanggupan untuk menjalani kuliah yang SKS-nya lebih banyak dari biasa. Sehingga saya harus membatalkan satu mata kuliah.

Pada semester ini agak sedikit mengecewakan karena pada semester ini nilai menurun dari 3.64 pada semester sebelumnya menjadi 3.42. Ini salah satu efek dari asrama yang harus mengulang.

* * * *

Melangkah kesemester enam, pada semester ini juga pertama kalinya saya menyewa tempat tinggal (kost). Yang mana pada semester ini memiliki jadwal yang sangat padat di kampus, artinya setiap harinya harus kuliah. Pada semester ini hanya ada hari minggu jadwal yang kosong, jadi tidak ada jadwal untuk bekerja. Dari masalah ini memiliki efek yang luar biasa.

Sangat banyak kegiatan dengan teman-teman yang harus dicancel karena tidak ada biaya ketika teman-teman duduk di kantin, jalan-jalan dan lain-lain. Pada semester ini juga banyak sekali perbedaan pada dosen-dosennya. Ada dosen yang masuknya dua minggu sekali, ada dosen yang masuk satu bulan sekali (matakuliah ini selama satu semester cuma masuk empat kali) dan yang parahnya lagi ada dosen yang belum pernah masuk sampai minggu kesembilan.

* * * *

Jadi ada beberapa perbeda anantara semester satu, dua, tiga, empat dan lima dengan semester enam. Yang pertama berbicara tentang tempat tinggal, pada semester enam ini adalah semester yang pertama saya menyewa tempat tinggal. Yang mana pada semester ini tidak ada tempat gratis lagi. Selanjutnya perbedaan tentang dosen, yang mana pada semester sebelum semester enam ini selalu full masuknya, dan pada semester enam ini ada dosen yang masuk hanya dua minggu sekali masuk, ada juga dosen yang masuk sampai sebulan sekali, yang setelah dihitung-hitung dalam satu semester hanya ada empat kali pertemuan. Ada juga dosen yang sampai minggu yang kesembilan belum pernah masuk satu haripun tidak ada waktu untuk bekerja disebabkan padatnya jadwal kuliah. Dan selama tiga tahun kuliah pada semester enam inilah pertama saya kuliah di bulan Ramadhan.

Inilah cerita indah tentang perkuliahan dari semester satu sampai semester enam, banyak sekali pahit manisnya yang saya rasa. Tetapi semester enamlah semester yang paling beda dari semester-semester lainnya.[SY]

*Mursaha Ulu Pinem, lahir di Malaka pada tanggal 10 April 1992 asal Kabupaten Aceh Selatan.

Tulisan di atas adalah serangkaian tugas akhir mata kuliah “Penulisan Features” Jurusan Komunikasi Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

 

Comments

comments