Keber Ari Gayo Sosial Budaya Tafakkur Terbaru

Setelah Puasa menjadi Ular atau Kupu-Kupu

Drs. SalmanIDUL Fitri adalah momen untuk kembali. Begitu kata Drs. Salman ketika menjadi khatib shalat Idul Fitri di lapangan Ujung Bur desa Asir-asir, Kec. Lut Tawar kab. Aceh Tengah, Rabu (06/07/2016).

Momen kembali artinya kembali ke kegiatan semula ketika sebelum bulan ramadhan. Sebulan penuh melaksanakan puasa menahan sesuatu yang membatalkan puasa salah satunya makan dan minum lalu setelah idul fitri tiba, maka kebiasaan makan dan minum disiang hari kembali dibolehkan.

Menurut kasi penyelenggara haji dan umrah Kankemenag Aceh Tengah ini., idul fitri juga merupakan komitmen kehambaan yang menuntut bersungguh-sungguh dalam melaksakan ibadah yang wajib dan disertai dengan ibadah sunnah lainnya.

“Idul fitri juga adalah pilihan menjadi ular atau kupu-kupu” tambah Salman.

 Ular dan kupu-kupu merupakan permisalan untuk umat muslim yang merayakan idul fitri setelah berpuasa sebulan penuh. Karena kedua hewan ini juga melakukan puasa.

Ular, hewan melata yang rakus, sangat gemar memakan hewan yang ditemukannya berupa tikus, katak atau bahkan anak kerbau. Namun ketika hewan ini telah memakan mangsa yang besar, tubuhnya akan memproses hingga ia tidak makan dan tidak minum berhari-hari bahkan hingga tiga minggu lamanya.

Saat berpuasa, ular hanya berdiam diri dan tidak melakukan apapun. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan suhu tubuhnya agar bisa berganti kulit. Hingga kulitnya akan berganti dari kulit kusam menjadi kulit yang indah dan berwarna-warni. Setelah berpuasa, pola makan ular tidak berubah, bahkan menjadi sangat ganas dan lebih aktif dalam mencari mangsa.

Kupu-kupu adalah hewan lain yang juga melakukan puasa. Kupu-kupu yang mulanya berasal dari ulat yang geli, menyebabkan gatal dan menjadi hama tanaman yang merugikan bagi petani. Kemudian ulat ini melakukan puasa dengan menjadi kepompong selama 14 hingga 16 hari kemudian berubah menjadi kupu-kupu yang berbadan ringan dan indah di pandang.

Sebelum berpuasa, kupu-kupu adalah hewan yang menyebabkan gatal dan menjadi hama bagi tanaman. Namun setelah berpuasa berubah menjadi hewan yang menguntungkan bagi petani untuk melakukan penyerbukan tanaman.

Hewan yang dulunya memakan apa saja, batang atau dedaunan hingga menyebabkan pertani terganggu dengan keberadaanya dan setelah berpuasa kupu-kupu memilih makananan yang baik-baik. Menyerap sari bunga hingga terbentuk hubungan simbiosis mutualisme, hubungan yang saling menguntungkan antara hewan dan tumbuhan.

“Semoga permisalan ular dan kupu-kupu bisa menjadi i’tibar bagi kita dalam memaknai hari idul fitri. Keputusan ada di tangan kita memilih menjadi ular atau kupu-kupu,” tutup mantan kepala KUA Lut Tawar itu.

(Zuhra Ruhmi)

 

Comments

comments