Opini Tafakkur Terbaru

Sejenak, Sebelum Berpisah dengan Ramadhan

Mutiara Ramadhan Bersama Lintasgayo.co (2- Habis)

Oleh Muhammad Nasril, Lc. MA *

 

Muhammad-Nasril_okHARI ini sudah memasuki fase akhir di bulan Ramadhan, tepatnya hari ke 29 Ramadhan, bahkan sebagian masyarakat negeri ini ada yang sudah melaksanakan Hari raya idul fitri 1437 H, berdasarkan keyakinan mereka, sehingga aroma perdebatan kembali muncul namun perbedaannya, kali ini masyarakat telah bisa menyikapi dengan arif perbedaan-perbedan amaliah ibadah dalam kehidupan sehari-hari.

Sungguh tidak terasa kini kita sudah berada di penghujung bulan Ramadhan, artinya hanya  sebentar lagi bulan yang penuh berkah itu bersama kita dan selanjutnya ia akan meninggalkan kita, padahal baru kemarin rasanya ia menyapa, namun ia berjalan seperti angin, berjalan begitu cepat, inilah tamu istimewa. Kadang diawal perjumpaan kita dengannya kita meresponnya begitu dingin, biasa saja, layaknya bulan-bulan yang lain, bahkan menghabiskan hari hari ramadhan begitu saja, dan mungkin kita tidak sadar atau sadar pura-pura tidak menyadari, kondisi kita seperti ini tidak membuat Ramadhan bertambah lama dan cepat, ia tetap akan meninggalkan ita pada waktunya, dan kita tidak tau apakah bisa bertemu dengan ujung ramadhan kali ini, atau akan bertemu dengan ramadhan akan datang, sungguh perkara ini tidak ada yang tau.

Seandainya kita tau betapa banyak hikmah hadirnya bulan ini sungguh kita akan berharap semua bulan yang lain menjadi Ramadhan, karena keutamaannya, pahala ibadah yang tiada batas, pahala sunat menjadi wajib dan didalamnya juga trdapat lailatul Qadar. Kalau kita boleh memberikan perumpamaan hari-hari akhir Ramadhan ini seperti babak final dalam sebuah kompetisi, dimana para pesertanya semakin sedikit, hanya mereka-mereka yang telah lolos babak seblumnya yaitu mereka yang berjuang bisa mengalahkan lawannya,  tentu mereka yang memiliki kualitas yang bisa bertahan dibabak ini.  Mungkin kita bisa melihat disekitar kita, perbandingan shaf-shaf shalat jelas berbeda, baik itu shalat fardhu maupun shalat Tarawih, bahkan uniknya lagi, akhir-akhir ini orang lebih banyak menuju ke pasar kaget atau tempat belanja dibandingkan dengan ke masjid/meunasah, padahal tempat itu berdekatan dengan mesjid. Entah karena kondisi yang sudah lama ini menjadi sebuah tradisi atau bukan, yang jelas ini bukanlah tardisi yang harus dipertahankan, memang ke pasar juga suatu kebutuhan namun ia bukan berarti meninggalkan keutamaan–keutamaan yang tersisa di bulan Ramadhan.

Sekilas melihat ke belakang, bermacam ragam  orang dalam menikmati dan menjalani bulan Ramadhan, ada yang jauh-jauh hari sebelum masuknya Ramadhan sudah banyak mempersiapkan bermacam target,  jadwal, kegiatan dan pogram-pogram selama Ramadhan, sekarang waktunya untuk mencoba  bermuhasabah dan evaluasi terhadap realisasi pogram-pogram tersebut, melihat target yang tercapai atau tidak tercapai. Agar sebelum Ramadhan meninggalkan kita, program-program tersebut telah tuntas, agar kita bisa  fokus pada waktu yang sisa, kembali mengejar ketinggalan hari-hari yang telah berlalu, target khatam Al-Qur’an, walaupun tersisa hanya satu hari lagi, jangan biarkan Ramadhan pergi begitu saja sedangkan kita menjadi bagian orang yang tidak menikmati keutamaan Ramadhan dan kelak kita akan menyesal,  padahal Ramadhan merupakan momentum peningkatan kebaikan  dan menjadi ladang amal bagi kita.

Ada juga yang menjalani dan menikmati bulan ramadhan tanpa target, ia terus menikmati, sebatas menjalani kewajiban, apalagi kondisi kita akhir-akhir ini, menjelang Pilkada, serangan serangan politik gencar dilakukan, piala EURO dan berbagai peristiwa lainnya yang banyak menyita waktu kita selama ramadhan. Apapun dan bagaimanapun kondisi kita menghabiskan ramadhan sebelumnya kini saatnya untuk bersungguh memohon ampunan Allah, kalaulah di awal kita tidak bagus, setidaknya kita berpisah secara baik-baik dan amalan terbaik dengan ramadhan.

Ramadhan tersisa sedikit dan kita masih belum mendapatkan effect dari Ramadhan, peluang terbesar ada didepan mata dan kita tidak memanfaatkannya, sejenak kita melihat Hadits Rasulullah SAW ”Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang disebutkanku, lalu dia tidak berselawat diatasku. Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang datang kepadanya Ramadhan kemudian bulan tersebut berlalu sebelum diampuni dosa-dosanya. Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang mendapati kedua orangtuanya lalu keduanya tidak memasukkannya ke dalam syurga.” (Hadits Riwayat Tirmidzi)

Setidaknya hadits diatas bisa membuat kita untuk lebih semangat dan focus sebelum berpisah dengan Ramadhan.

Mungkin, hari ini kita tidak bisa seperti sahabat Rasulullah SAW atau para ulama dahulu yang menangis tersedu karena berpisah dengan Ramadhan, padahal sehari-hari mereka begitu fokus dan khusyuk memanfaatkan setiap detik waktu Ramadhan apalagi di 10 terakhir, mereka fokus, I’tikaf, mengurangi tidur, semakin rajin dalam ketaatan, mereka biarkan kelelahan dalam ketaatan, bagi mereka, waktu Ramadhan itu sangat terbatas, jadi mereka tidak sia-siakan. Sementara kita, masih jauh dan sangat jauh, kadang seakan menjalani rutinitas Ramadhan hanya sebatas kewaijban, baca al-Qur’an juga kurang, amaliah-amaliah lainnya juga seperti biasa.  Dalam sebuah Hadits dijelaskan bagaimana Rasulullah SAW bersungguh-sungguh menghidupkan sepuluh hari terakhir dengan segala kebaikan. Sebagaimana dijelaskan oleh Ummul Mu’minin Aisyah r.a “Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim).

Semestinya hadits diatas bisa menjadi motivasi untuk kita, menghidupkan kebaikan di babak final melebihi dari biasanya, bukan membiarkan kesempatan itu terbuang begitu saja.  Ada satu point yang sangat penting ketika memasuki babak final dari Ramadhan ini, disana ada satu malam yang lebih utama dari seribu malam, yatu Lailatul Qadar,  tidak ada yang tau kapan pastinya dan isyarat telah dijelaskan bahwa dalam bulan ramadhan dan khususnya di 10 akhir ada bulan satu malam yang sangat istimewa.

 Sebelum Ramadhan pergi kita harus menyelesaikan pogram-pogram atau target-target yang belum terlaksanakan, walaupun waktu yang tersisa begitu singkat, seperti mengkhatam Al- Qur’an, perbanyak shdaqah dan lain-lainnya.  Sehingga sebelum Ramadhan pergi kita telah menyelesaikannya, dan kita mendapat ampunan dari Allah dan meraih titel Master Of Taqwa (M .Tq).

Ramadhan semakin singkat, Ramadhan akan kembali datang pada tahun berikutnya, sementara kita belum tentu apakah akan kembali berjumpa dengan Ramadhan atau tidak. Hari-hari Ramadhan akan berakhir, lakukan yang sempurna pada saat berpisah dengannya.

Semoga Allah mempertemukan kita kembali dengannya dan semoga kita mendapat Ampunan sebelum Ramadhan pergi dan kita bisa menghidupkan nilai-nilai selama Ramadhan di luar Ramadhan. Amin

• Guru Dayah Insan Qur’ani dan ASN Kanwil Kemenag Aceh

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *