Jurnalis Warga Terbaru

Peumulia Jamee di Puloe Aceh

Oleh : Riski Ramadhan*

Aceh adalah salah satu daerah yang memiliki keragaman budaya yang sangat kuat, dibalut oleh pengaruh kerajaan Hindu-Budha yang dulu mengisi perjalanan panjang sejarahnya. Di nusantara sejak tahun 132 Masehi Hindu-Budha adalah agama yang mengisi nusantara. Setiap masa mengukir eranya masing-masing, yang memberikan bekas serta pengaruh untuk masa selanjutnya. Sehingga memasuki era masuknya Islam melalui pola perdagangan dan berkembang dimasa kerajaan Samudra Pasai. Namun tidak semerta-merta menghilangkan pengaruh budaya nenek moyang, karena meski Islam hadir dan kini menjadi agama terbesar di Indonesia dan khususnya di Aceh, sentuhan adat istiadat Hindu-Budha masih terasa dalam ragam budaya.

Terdapat berbagai kebudayaan yang hingga kini masih terlestarikan, budaya di Aceh memiliki makna dan tujuan untuk dilakukan. Juga sebagian memiliki waktu serta tempat tersendiri ketika dilakukan. Kultur yang diikat oleh wilayah pesisir lebih menitik beratkan pada pantai dan laut sebagai tempat pelaksanaan adat. Serta daerah pegunungan, bukit serta daerah lebih sering menggunakan sawah ataupun sebidang tanah berupa lapangan untuk melakukan kegiatan adat.

Yang sangat kental didarah masyarakat Aceh meski letak geografis kawasan beragam, seperti laut, pegunung, serta wilayah dengan dataran rendah namun tradisi serupa dalam benak orang adalah sama. Masyarakat terkenal dengan egosentris daerahnya, disemua kawasan dapat kita perhatikan sebagian besar masyarakatnya sangat membanggakan nama serta adat istiadat yang ada. Hal tersebut bisa dikatakan cinta tanah air, dimana kami masyarakat Aceh menginjak tanahnya adalah anugerah langit yang sangat besar. Kelebihan yang Allah titipkan berupa Agama Islam yang subur, serta bukti sejarah yang menuliskan bagaimana Aceh adalah sebuah negri yang kaya dan jaya, lihatlah keelokan tugu Monas yang menjadi Monumen Nasional, yang menjulang tinggi di tengah ibukota Jakarta, sebagian dari padanya adalah sumbangan putra Aceh untuk meninggikan martabat bangsa Indonesia. Sejarah juga mengukir kisah bagaimana bangsa Indonesia merdeka, radio Rimba Raya yang berada di tanah Gayo mengabarkan jika Indonesia belumlah takluk oleh Belanda.

Aceh adalah bukti nyata jika masyarakatnya dahulu sejahtera, namun hal tersebut bukan menjadi jaminan tentang pengertian kaya sebenarnya. Aceh memiliki kekayaan yang jauh melebihi dari apa yang diingat oleh sejarah punya. Kekayaan yang tidak dapat diukur dengan materi, kekayaan yang mampu membahagiakan siapapun yang pergi dan kembali, kekayaan yang mampu menyentuh hati nurani, yang mengingatkan makna tentang manusia adalah makhluk sosial yang tidak mungkin mampu berdiri tanpa manusia lain, kekayaan itu adalah sebuah adat yang sebut Peumulia Jamee.

Adat Peumulia Jamee merupakan adat yang unik, adat masyarakat yang satu ini sangat berbeda dengan adat-adat lainnya. Peumulia Jamee adalah identitas masyarakat yang menggambarkan betapa bersahajanya masyarakat itu sendiri. Keramahan yang diberikan serta penyambutan yang sangat baik terhadapap tamu yang datang, membuat siapapun yang hendak berkujung ke Bumi Serambi Mekkah akan dibuat menjadi bagian dari masyarakatnya. Hal pertama kali yang amat terasa adalah bagaimana tamu disambut oleh senyuman masyarakat sekitar, tamu yang sampai di daerah ataupun rumah warga akan disambut hangat dengan senyum serta sapaan yang membuat tamu nyaman. Banyak tamu ataupun wisatawan yang langsung merasakan jika masyarakat sekitar menerima tamu yang hadir, sehingga para tamu akan mudah untuk berbaur dengan masyarakat, hal ini jarang kita dapatkan jika pergi suatu tempat, apalagi jika daerah tersebut merupakan kota besar dan juga masyarakatnya identik dengan sikap individualis. Bahkan tak jarang masyarakat yang hidup didaerah kota lebih maju memiliki lingkungan sosial seperti itu, masyarakatnya enggan untuk berbaur atau hanya sebatas melempar senyum. Masyarakat Aceh membuat para tamu yang hadir merasakan nilai dari sebuah kekeluargaan dan nilai sosial yang amat tinggi, hal yang sangat sulit ditemui pada zaman yang kini lebih mementingkan kelompok ataupun diri sendiri.

Masih membekas dalam ingatan kita jika Aceh beberapa dekade yang lalu merupakan Daerah Operasi Militer atau DOM. Pada dasarnya hal ini yang membuat orang-orang bertanya apakah aman jika pergi atau sekedar melakukan wisata singkat kesana. Hal tersebut masih tertanam dalam benak, jika wilayah Aceh dahulunya merupakan kawasan yang dipenuhi dengan darah serta suara senjata. Aceh juga memiliki kisah kelam lain, bencana gelombang Tsunami pada tahun 2004 meluluhlantakkan hampir semua kawasan Aceh, sehingga dalam bayangan pikiran, Aceh adalah sebuah kawasan yang harus dipertimbagkan untuk melangkahkan kaki disana. Dengan tekad dan rasa gotong royong, Aceh telah berbenah. Masyarakat Aceh mengatakan hal yang berbeda dengan bergerak maju, pondasi semangat dan mengerti akan makna persatuan merubah wajah Aceh kini menjadi salah satu tempat dengan jumlah wisatawan terbesar di Indonesia.

Masih teringat jelas dalam ingatan, tentang bagaimana budaya dan adat mampu membuat kehidupan begitu berwarna, adalah warna kekeluargaan yang amat kental membentuk sebuah lukisan dengan nama Aceh beradatkan Peumulia Jamee. Sebuah kunjungan pekerjaan yang memberikan kesempatan bagi saya untuk merasakan langsung bagaimana adat Peumulia Jamee yang masih amat kental. Sebuah pulau kecil di jajaran pulau terluar barat Sumatra, yang masih berada dalam kawasan Provinsi Aceh. Pulau yang tidak banyak dikenal oleh masyarakat Aceh sendiri, sebuah pulau yang kalah harum namanya dengan pulau ataupun kawasan Aceh lainnya.

Sebuah pulau yang mestinya diberikan gelar syurga dunia, sebuah pulau yang bernama Puloe Aceh atau Pulau Aceh. Kesahajaan Puloe Aceh tersalurkan kepada penduduknya, keindahan alam yang lengkap dengan balutan keramahan masyarakatnya. Meski terletak pada ujung barat Sumatra dan tergolong daerah terpencil, namun pesona yang dihadirkan mampu membuat pengunjung harus berfikir sepuluh kali untuk cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut.

Setibanya di pelabuhan desa Meulingge, rombongan kami telah mendapatkan sambutan yang mesra dari penduduk sekitar, masyarakat menghampiri dan mengajak kami untuk berbicara. Masyarakat bahkan memberi saran untuk sejenak rehat di warung-warung ataupun di Bale’ (tempat istirahat) yang biasanya digunakan oleh nelayan untuk sekedar istirahat ataupun menjaring jala yang telah rusak. Kami duduk sambil meminum kopi di salah satu warung dekat pelabuhan. Cerita penduduk kepada kami yang seolah tidak ada habisnya, para penduduk seperti buku sejarah yang menceritakan tentang pulau tempat mereka huni. Masyarakatnya sangat terbukadalam menceritakan setiap kisah, sehingga amat mudah mengetahui situasi dan kondisi daerah tersebut.

Meski banyak yang ingin kami dengar, namun kaki haruslah melangkah untuk melakukan kewajiban pekerjaan. Kami menyusuri pantai yang indah menuju rumah seorang teman untuk menginap. Sesampai dipintu rumah, salam kami ucapkan sebagai doa, yang tak lama setelahnya seorang lelaki khas gaya nelayan bernama Munzir keluar sambil menjawab salam. Bukan sambutan seperti masyarakat dipelabuhan yang kami dapat, namun kekecewaan dari pemilik rumah. Hal yang menyebabkan mereka kecewa tidak lain adalah kami tidak memberitahukan jika kami telah menginjakkan kaki di Puloe Aceh, karena semestinya mereka harus menjemput atau sekedar menyambut kami di pelabuhan. Namun karena telah tiba didepan rumah, tidak ada hal yang bisa dilakukan selain menyuruh kami beristirahat sambil menunggu hidangan berupa kopi dan kue yang segera disajikan.

Setiba disajikan kopi, kekecewaan yang tadi sangat tergambar di wajah pemilik rumah telah hilang, semua berganti menjadi keceriaan yang mampu mencairkan suasana. Setiap dialog selalu dibumbui dengan lelucon yang membuat semuanya tertawa, mulai dari proses kami berlayar menuju Puloe Aceh, hingga kejadian-kejadian yang aneh, apa saja bisa dijadikan bahan lawakan yang mengundang tawa. Selang hanya satu jam dari awal kami bersantai, kami disuguhkan dengan masakan yang baru saja dimasak oleh pemilik rumah, hal yang membuat kami merasa betapa dimanjakannya kami sebagai tamu.

Hal yang kemudian menarik adalah saat pemilik rumah mengucapkan kata “meuah neuk beuh, agak telat troh bue, nyoe cie rasa dile masakan awak puloe” yang artinya “maaf nak ya, nasinya sampai agak telat, ini coba cicipi masakan orang puloe”. Kata maaf terucap dari mereka, yang semestinya itu keluar dari mulut kami, yang sampai tanpa memberi kabar sehingga membuat kewalahan pemilik rumah. Dari masakan dengan porsi yang cukup tersebut, sepertinya itu adalah jatah pemilik rumah untuk makan siang, namun orang puloe sangat pantang jika tamu menolak tawaran dari mereka, apalagi dalam bentuk masakan. Kami mengerti akan hal itu, sempat beberapa orang rekan saya mengajak pemilik rumah makan bersama, namun mereka menolak dengan alasan “pajoh laju, menyoe kamoe pajoh hana sep keu awak droe neuh”, artinya pemilik rumah mempersilahkan tamunya untuk makan tanpa perlu memikirkan orang rumah, karena jika orang rumah juga ikut makan, maka tamu pastilah akan kekurangan makanannya untuk diamakan.

Sebuah pengorbanan serta penghargaan bagi pengunjung yang baru saja mereka anggap keluarga, bahkan saya pun secara suka rela memanggil “mak” kepada ibu rumah tangga dalam keluarga tersebut, sebuah sapaan yang berarti ibu dalam bahasa Indonesia.

Malam disana sangatlah indah, namun malam pertama disana kami habiskan untuk mendapatkan informasi dan bercengkrama sambil meminum kopi, karena malam itu kami haruslah beristirahat agar keesokan harinya menjadi bugar. Saat waktu tidur, segala fasilitas diberikan seadanya, namun kami yakin jika itu merupakan usaha maksimal yang mampu dilakukan keluarga tersebut. Keesokan harinya, saat pagi mengharuskan kami untuk berkerja mendokumentasikan suatu kegiatan, kami ditahan untuk sarapan. Mulanya kami ingin makan di warung dikawasan pantai, namun apa daya makanan telah disajikan.

Saat berkeliling di kawasan Meulingge, hal unik yang tak akan kita dapati dikota adalah banyaknya sepeda motor yang kuncinya masih berada pada lubang kunci. Awalnya kami menganggap jika hal tersebut merupakan kelupaan pemilik kendaraan, namu melihat banyaknya kejadian serupa, maka kami bertanya kepada beberapa orang yang kami temui. “Itu hal yang wajar disini dek, karena disini pulau yang jarang terjadi tindak kriminal, lagi pula kalau mau dicuri mau dibawa kemana?” tutur seorang pemuda yang kami tanyai. Memang iya jika sulit menyeludupkan kendaraan bermotor, namun juga tidak ada keisengan yang dilakukan masyarakatnya untuk mengambil atau sekedar menyembunyikan kunci kendaraan. Seperti masyarakatnya sangat menjaga batas-batas etika serta kewajaran dalam hal bercanda.

Semuanya serba unik dan luar biasa, namun ada hal yang membuat semuanya bisa-bisa saja. Masyarakat disana bukan terlalu baik ataupun terlalu bodoh untuk melakukan hal tersebut. Kebaikan itu pernah diuji oleh suatu kejadian. Pernah selepas Tsunami banyak pendatang yang menawarkan kebaikan kepada mereka. Seperti namanya warga Puloe Aceh, mereka menyambut dengan suka cita, namun dalam prosesnya,masyarakat tersadarkan oleh gerakan aneh yang dibawa oleh organisasi yang mereka tidak tahu asal dan usulnya. Dengan dalih memberikan bantuan berupa makanan, buku dan semacamnya, terselip penyebaran ideologi yang jelas-jelas akan mereka tolak.

Misionaris kristen hadir memberikan pencerahan di tengah bencana yang tengah dihadapi oleh masyarakat, bahkan masyarakat diberikan kitab-kitab oleh mereka. Melihat fenomena tersebut bukanlah suatu hal yang layak, masyarakat sekitar secara terang-terangan menolak bantuan serta pemahaman yang disebarkan oleh para misionaris Kristen. Sehingga para misionaris harus angkat kaki dari sana dan masyarakat secara bertahap membersihkan sisa-sisa peninggalan misionaris, mulai dari pengembalian kitab-kitab serta mengklarifikasi tentang adanya praktik kristenisasi kepada masyarakat lainnya.

Disana terhampar keberkahan yang bukan hanya alamnya, namun juga terhampar keelokan prilaku masyarakatnya. Hal yang paling mahal adalah saat kekeluargaan tidak didapat dari ikatan darah, namun ikatan yang dibangun atas dasar kemanusiaan. Masyarakat disana memiliki mutiara peradaban yang jauh lebih berkilau dari mutiara-mutiara yang terbenam jauh dalam lautan yang gelap. [SY]

Rizki RamadhanRiski Ramadhan, lahir di Lhokseumawe, 7 Februari 1995 saat ini tinggal di Jln, Melati, Lamgugop Banda Aceh.

Tulisan di atas adalah serangkaian tugas mata kuliah “Penulisan Features” Jurusan Komunikasi Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Comments

comments