Free songs
Home / Inilah Gayo / Feri Melala; Anak Petani yang jadi Pilot Heli

Feri Melala; Anak Petani yang jadi Pilot Heli


Feri-Melala-1

FERI Melala, itulah nama seorang sosok gigih menggapai cita-citanya menjadi pilot. Dia berdarah blasteran Gayo-Aceh yang patut diacungi jempol dan suri tauladan. Usianya terbilang masih muda, dilahirkan 26 April 1988 di Keude Teunom Aceh Jaya. Sosok tegap berpangkat Lettu Laut (P) ini adalah seorang pilot helikopter yang bergabung di TNI Angkatan Laut sejak 1 Juli 2010.

Tentu tidak semudah membalikkan tangan untuk menjadi penerbang, Feri menempuh jalan panjang, berliku, perjuangan berat dan pengorbanan besar.

Feri berasal dari keluarga sederhana, ayahnya Win Asli bin Muhammad Ali yang profesinya hanya petani. Almarhum kakeknya adalah mantan pejabat terkenal sebagai kerani di pabrik terpentin PNP Lampahan. Sementara sang ibu bernama Yusnawati binti Makfiah, perempuan dari kota pesisir pantai Teunom Aceh Jaya, hanya ibu rumah tangga biasa.

Feri anak ke 2 dari 3 bersaudara, pertama Rudi Fajri Melala (alm) dan yang bungsu Risky Maulana Melala (alm). Dari usia 0-4 tahun, Feri tinggal bersama ibu, saat 4-7 tahun bersama nenek. Masuk Sekolah Dasar tahun 1995, tinggal bersama adik ibu dan bersekolah di MIN 1 Teunom sampai kelas 3.

Feri-Melala-3Dia kemudian kembali ke tempat orangtuanya di daerah Simpang Balok sekitar 30 km dari kota Teunom dan bersekolah di SDN 3 Tuwie Kareung.

Kehidupan sehari-hari Feri berjalan bersama alam, seperti umumnya anak-anak Gayo dan perkampungan Aceh. Menanam padi 1 tahun sekali untuk setahun makan. Dia terbiasa menangkap ikan dan udang dari sungai dengan memasang bubu dan memancing. Feri juga menanam sayur-sayuran.

Keluarga Feri hanya membeli gula, kopi, garam, dan kebutuhan yang tidak ada di alam. “Tempat kita tinggal jauh dari tetangga, ke barat 5 km, timur 8 km, utara gunung dan selatan rawa. Walaupun begitu saya senang bisa bersekolah. Sebelum dan sesudah sekolah sebisanya saya membantu orang tua baik ke kebun atau ke sawah. Setiap waktu orang tua saya selalu memberi semangat untuk masa depan yang lebih baik,” kata Feri dalam kesempatan perbincangan dengan Feri melalui Surat Elektronik (Surel) dan seluler beberapa waktu lalu.

Dan sampai saat ini, di telinga dan pikiran Feri masih terngiang pesan ayahnya. “Nak kamu nanti harus bisa jadi orang, jangan sampai kamu seperti bapak, kamu harus bisa menjadi orang hebat,” demikian pesan ayahnya.

Dengan setiap hari mendapat doktrin harus bisa menjadi orang hebat, tertanam pada diri Feri, harus bisa!.

Triwulan pertama kelas 6 SD terjadi kerusuhan di daerahnya, sehingga banyak sekolah di bakar oleh orang tak di kenal termasuk sekolahnya yang memaksa Feri pindah kembali ke kota Teunom, masuk ke SDN 1 Teunom.

Selesai SD, Feri berencana melanjutkan ke SMPN 1 Teunom, tetapi ibunya berharap lain. “Nak kalau kamu sekolah disini kamu tidak akan maju, disini tidak aman, sering kontak senjata, sekolahnya banyak libur, kamu harus sekolah ke Sabang nak, jika memang kamu mau sukses,” kata sang ibu kepada Feri.

Akhirnya atas permintaan orang tua dan keinginan kuatnya, Feri berangkat ke Sabang. “Selama dalam perjalanan saya berfikir, saya pergi jauh jangan sampai saya kembali tidak berhasil”, kenangnya.

Feri-Melala-5

Akhirnya dia sekolah di SMPN 5 Sabang, tinggal bersama adik ayahnya yang bekerja sebagai guru, namanya Khairani. “Kami sebenarnya sudah terlambat sekitar 1 minggu untuk mendaftar sekolah, tapi atas kebijakan sekolah saya masih di terima,” ungkap Feri.

Di Sabang, Feri memacu diri, belajar dengan giat mulai pagi, ketika di sekolah, sore dan malam, bahkan tengah malam. Sampai akhirnya saat pembagian rapor pertama. Pihak sekolah meminta orang tua yang mengambilnya, namun karena kedua orang tua Feri berada di Teunom, Feri berharap sang bibi yang menggantikan.

Saat itu, bibi Feri ragu karena takut nilai dan rangking keponakannya jelek dan memalukan, akhirnya sang bibi meminta bantuan temannya sesama guru.

“Ketika rapor saya di ambil betapa kagetnya beliau, ternyata saya mendapat rangking 1. Bibi saya menyesal tidak mengambil rapor saya,” kenang Feri.

Feri-Melala-2Dan semester berikutnya sang Bibi bersemangat untuk mengambil rapornya, “beliau sangat bangga karena saya tetap dapat rangking 1,” suami Cut Rahmi Putriantari, S. Psi ini.

Tepat kelas 2 SMP seluruh keluarga bibinya pindah ke Takengon yang memaksa Feri tinggal sendiri di rumah bibinya. Tentu saja semua kegiatan harus dilakukan sendiri. Namun tidak mengurangi intensitas belajar Feri.

Selain prestasi belajar, Feri dikenal aktif dan berprestasi dalam beberapa bidang. Setiap ada perlombaan mewakili sekolah dia selalu dipilih, mulai lomba cerdas cermat, melukis, kaligrafi, tari, dan lain-lain.

“Saya juga dipilih menjadi ketua OSIS mulai kelas 1 SMP. Diluar sekolah saya juga mengikuti kegiatan Pramuka, drum band dan olahraga Anggar. Bagi saya tidak waktu kosong selama saya bisa,” ungkap Feri yang akhirnya lulus SMP di tahun 2004.

Selanjutnya Feri tidak berniat keluar dari Sabang, dia melanjutkan pendidikan ke SMAN 2 Sabang. Saban hari dia mesti menempuh jarak hingga 5 kilometer dengan berjalan kaki. Terkadang jika ada teman lewat dia menumpang pakai motor dan jika ada uang dia naik bus sekolah.

Dengan kondisi tersebut, Feri tetap tabah, dia bertahan di rangking 1 dan juara umum. Sebagai ketua OSIS sejak kelas 1 dia juga berkewajiban mengatur segala kegiatan yang melibatkan OSIS, mulai pertandingan olimpiade, seni, olahraga, Paskibraka, Pramuka, dan seabrek kegiatan lainnya.

Semasa di SMA, sang pilot ini juga pernah juara melukis (juara harapan 1, juara 2 dan juara 1). Dia juga aktif dibidang olahraga dan meraih prestasi sebagai juara harapan 1 lari 10 km, juara 1 Anggar tingkat Pusat Pendidikan Latihan Pelajar (PPLP) se-Aceh dan meraih medali Perunggu saat Porda X di Takengon cabang Anggar.

Feri-Melala-6Feri juga pernah dipercayakan sebagai  penggerek bendera pada Paskibraka tahun 2005 di Sabang. Menyabet juara harapan 2 Lomba Penulisan Ilmiah Remaja (LPIR) dan pada tahun selanjutnya juara 2 LPIR se-NAD.

Dari semua suka duka yang Feri lalui hal yang terpahit adalah ketika ibu yang belum bisa dia bahagiakan harus mendahului meninggalkan dunia bersama ratusan ribu warga Aceh lainnya saat tragedi tsunami Aceh 26 desember 2004.

Selain ibu abang dan adiknya juga menjadi korban. Tapi hal itu tidak membuat berlarut dalam kesedihan, karena hidup dan mati di tangan Allah, “kita hanya menjalani sisa hidup yang diberikan dengan terus menberikan yang terbaik,” kata Feri tegar.

Dalam perjalan hidupnya, selain prestasi yang dia raih, ada kehidupan pahit lainnya yang mengiringinya. “Selama saya sekolah SMP dan SMA tidak ada pernah saya dapat jajan dari orang tua, bukan karena orang tua tidak memperhatikan saya, karena masih banyak yang harus dipikirkan oleh orang tua saya, tapi hal itu tidak membuat saya menjadi sedih, karena saya dapat dana dari beasiswa rangking dan prestasi,” ungkap Feri.

Jika memang belum ada uang untuk membeli makan, sepulang sekolah Feri memetik kangkung di danau Aneuk Laot Sabang, memancing ikan dan mencari apa yang bisa di makan asal semua nya halal. “Bagi saya hal itu bukan lah suatu kesusahan, melainkan motivasi hidup saya,” ungkap Feri.

Selama perjalanan hidupnya, Feri selalu bermimpi ingin menjadi seorang penerbang, bahkan satu ketika dia sedang mengobrol dengan guru matematika di luar kelas, saat itu melintas helikopter diatas sekolah yang mengangkut bantuan untuk korban tsunami. Kepada sang guru Feri menyampaikan “bu sekarang saya melihat helikopter dari sini, kelak saya yang akan membawa helikopter tersebut”. “Bu guru tersebut bertanya, kenapa saya mau jadi pilot helikopter”, saya menjawab “agar saya bisa membantu orang lain pada saat musibah bu”. Air mata beliau berlinang ketika mendengar yang saya ucapkan.

Banyak yang bangga dengan apa yang Feri cita-citakan dan tentu saja ada juga yang ragu. “Mereka pernah berkata, Feri jangan terlalu jauh bermimpi, yang normal-normal saja, nanti jika tidak tercapai frustasi kamu”, kata Feri.

Dengan ada nya perkataan tersebut bukan membuat Feri mundur, malah sebaliknya makin semangat untuk menggapai hal tersebut. “Saya yakinkan semuanya kepada Allah. Saya selalu berpegang pada apa yang saya rencanakan, seperti kata pepatah “tidak ada hal yang mudah tetapi tidak ada hal yang tidak mungkin”, ujar Feri.

Tiba ketika kelulusan SMA, Feri dipanggil ke ruangan kepala sekolah. Kepadanya disodorkan undangan untuk kuliah di fakultas Kedokteran Unsyiah atau Fakultas Teknik Unsyiah dan Malikussaleh.

Dia juga ditawarkan ikuti Pra PON Anggar di Kalimatan Timur dan sejumlah tawaran lainnya. “Semua saya tolak, sampai kepala sekolah bertanya, kenapa nak tidak mau ambil satu pun, tidak akan ibu kasih ke yang lain jika kamu belum memilih mau kemana nak?”, kata Feri mengulang pernyataan sang Kepala Sekolah.

Feri  menjawab “terima kasih sebelumnya bu, maaf bu bukan saya menolak, tetapi saya ingin menjadi seorang penerbang, silahkan berikan undangan-undangan tersebut kepada teman-teman saya yang lainnya bu”.

Kepala sekolah sampai heran, “baiklah nak, silahkan jika kamu ingin menjadi penerbang, semoga sukses ya nak, jangan lupa jika sudah berhasil jenguk kami disini”, kenang Feri mengulang petuah sang guru.

Dengan langkah pasti Feri keluar dari ruang kepala sekolah, sambil berfikir bagaimana caranya menjadi penerbang, bahkan dimana mendaftar,  dimana sekolahnya pun dia tidak tau.

“Saya juga bingung dengan apa yang saya katakan, tapi semua itu saya buang jauh-jauh, saya yakin allah akan memberi jalan,” ujar Feri yang juga mengantongi sertifikat sebagai penyelam ini.

Feri-Melala-4Memulai keinginan tersebut, Feri berangkat ke Banda Aceh. Dia mencari tau dimana ada pembukaan penerimaan penerbang yang pada waktu itu yang dia tau hanya Akademi Angkatan Udara (AAU). Sialnya, ternyata pendaftaran sudah di tutup.

“Saya berfikir apa yang harus saya lakukan, dengan tak henti-hentinya berdo’a dan berusaha mencari informasi,” kenang Feri.

Dan akhirnya dia mendapatkan informasi ada pembukaan Sekolah Penerbang Prajurit Sukarela Dinas Pendek Tentara Nasional Indoensia (Sekbang PSDP TNI)  tahun 2007 di Ajendam, “akhirnya saya ke Ajendam untuk mendaftarkan diri,” kata Feri.

Setelah mendaftar, Feri masih belum mendapat gambaran bagaimana tes penerbang itu. “Saya menelpon pakcik Arjuna yang bekerja di dunia penerbangan untuk mencari tau bagaimana dunia penerbangan itu sebenarnya,” ungkapnya.

Hari-hari berikutnya, tes demi tes dilewati Feri. “Alhamdulillah tanpa ada kendala, akhirnya tinggal 2 orang (saya dan teman dari Langsa) untuk berangkat tes akhir di Jakarta,” ujar Feri.

Dengan hanya bermodal Rp 20.000,- baju dan celana seadanya dan perlengkapan tulis untuk tes selanjutnya, Feri dan rekannya berangkat ke Jakarta dengan seluruh biaya disiapkan oleh panitia.

Di Jakarta berkumpul casis PSDP penerbang TNI dari seluruh Indonesia mengikuti seleksi. Dari  75 orang, rencananya di ambil 25 orang, tapi yang memenuhi syarat hanya 17 orang untuk melanjutkan ke pendidikan. “Teman saya dari Aceh harus kembali,” ungkapnya.

“Alhamdulillah kini saya sudah mengarungi seluruh penjuru Indonesia dari Sabang sampai Merauke, bahkan sampai ke Australia,” kata Aman Mayak (sebutan pengantin baru untuk pria Gayo) ini.

Dari sedikit kisah ini Feri berharap dapat menjadi motivasi bagi generasi muda dan menjadi cerita hidup yang indah bagi dirinya pribadi. “Dimanapun kita tinggal, bagaimana kita hidup, dari siapa kita dilahirkan, tidak ada yang mengatakan kita tidak bisa, semuanya kita sama, hanya bagaimana seseorang bisa memperjuangkan hidupnya untuk apa yang diinginkan, teruslah berjuang berikan yang terbaik, Tuhan bersama kita,” tutup Feri..

Begitulah sekilas kisah seorang Feri Melala yang hingga Oktober 2015 sudah mengantongi Jam Terbang 1.202,0 jam ini. Tidak ada manusia yang sempurna, tidak ada orang yang hebat, yang ada hanya mereka yang mau merubah nasibnya menjadi lebih baik.

Satu-satunya dari Aceh dan Gayo

Ardjuna Thalib dan istri

Ardjuna Thalib dan istri

Terpisah, sang Cik (paman-red), Ardjuna Thalib yang berdomisili di Bandung dan pernah bekerja di PT. Dirgantara Indonesia rupanya sempat ragu kemampuan Feri yang berkeinginan menjadi Pilot. “Saya sangat ragu sewaktu dia datang ke Uning tahun 2007 baru selesai SMA karena saya tahu bagaimana beratnya menjadi seorang pilot apalagi pilot Helicopter,” ungkap Arjuna.

Alhamdulillah, kata Arjuna, Feri bisa membuktikan, “dari waktu ke waktu selalu saya dapat laporan kemajuannya di Jogja dan disanalah dipastikan apakah bisa menjadi Pilot Heli atau Fixed Wing (sayap tetap) dari hasil catatan prestasi kemampuannya dia akan menjalani pendidikan menjadi Pilot Helicopter yaitu di Kalijati Subang selama 6 bulan, Lanud Kalijati  Subang dekat dengan Bandung,” ungkap Ardjuna yang kini sebagai karyawan di PT. Technology Engineering System Bandung.

Diakhir pekan Feri ke Bandung menginap di rumah dan banyak cerita mengenai pendidikan yang dijalani Feri, misalnya menghafal letak dan fungsi instrument Helicopter dan harus tidak boleh salah.

“Menjelang akhir pendidikannya dia dengan bangga menunjukkan jam pilotnya yang mahal dan dia berhak mendapatkannya,keraguan saya jadi hilang dia memang hebat,” ujar Ardjuna.

Di Kalijati kebetulan baru tau bahwa isteri dari Instruktur Letkol PNB Khairul Aslam adalah orang Gayo, puteri dari Drs. Usman Ibrahim, Dosen Unsyiah Banda Aceh.

“Akhirnya dia ditugaskan dan menjalani pendidikan di Angkatan Laut Surabaya dan dia setau saya adalah satu-satunya Pilot Helicopter dari Aceh dan pasti satu-satunya Pilot Heli dari Gayo di Angkatan Laut,” tutup Ardjuna.

Dalam catatan kami di LintasGayo.co, bersama Feri hanya 3 orang pilot yang berdarah Gayo, 2 nama kakak beradik Erwinda Sara Kenasih dan Endryss Diodena yang keduanya putri dan putra Erwin Kurniadi berdarah asli Gayo dari Kampung Kenawat Lut Aceh Tengah.[Khalisuddin]

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top