Free songs
Home / Opini / Baju Reraya, Pentingkah?

Baju Reraya, Pentingkah?


Catatan Diana Seprika

Warga padati toko pakaian di jalan Lintang Takengon.

Warga padati toko pakaian di jalan Lintang Takengon.

RAMADHAN merupakan bulan yang paling istimewa dari bulan yang lainnya, Keistimewaannya terletak pada penggandaan seluruh pahala yang dijanjikan Allah Swt untuk setiap ibadah yang dilakukan umat Muslim di seluruh jaga raya.

Banyak kegiatan di bulan Ramadhan yang dijadikan sebagai tradisi serta keharusan atau ibadah Sunnah yang patut dilaksanakan di bulan Ramadhan diantaranya mulai dari bangun sahur, membangunkan sahur tetangga dan orang sekampung, ngabuburit, buka puasa bersama keluarga serta kerabat di cafe daerah setempat, melaksanakan shalat tarawih beserta witirnya, memperingati malam Nuzul Qur’an, penyelenggaraan Pesantren Kilat bagi anak-anak, remaja dan dewasa, paket lomba Ramadhan, serta masih banyak lagi aktivitas lain yang hanya dilakukan dibulan Ramadhan.

Termasuk kegiatan yang prioritasnya dilaksanakan di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, seperti membuat kue, membeli kebutuhan lebaran dan yang paling penting membeli baju Reraya (pakaian lebaran).

10 hari terakhir yang seharusnya umat Muslim disibukkan dengan aktivitas meningkatkan kualitas ibadah, berusaha lebih dekat dengan sang Maha Pencipta kita, berdiam diri di Mesjid, mudah-mudahan dapat merasakan sensasi cahaya di malam Lailatul Qadar. (Amin ya Rabbal Alamin).

Namun, fakta di lapangan tidaklah semudah apa yang diharapkan, 10 hari terakhir tidak lagi menyibukkan diri memenuhi Mesjid. Kebanyakan umat Muslim terkhusus kaum ibu sudah duduk di depan kompor gas untuk keperluan membuat kue lebaran. Seolah-olah Ramadhan serasa istimewa jika disemarakkan dengan puluhan bahkan ratusan toples kue cantik diruang tamu.

Berbicara masalah kue bukan dilarang untuk membuatnya, bisa saja membuat kue asal tidak mengganggu aktivitas ibadah, terlebih di 10 hari terakhir Ramadhan.

Sama halnya dengan tradisi membeli baju Reraya, bukan dilarang tapi jika satu keluarga bahagia dengan segala pernak-pernik lebarannya karena merasa mampu untuk memenuhinya tapi disisi lain banyak keluarga yang merasa terbeban dengan pemenuhan kebutuhan dihari Lebaran, terlebih kebutuhan baju Reraya, itu tidaknya berkah bagi yang merasa cukup dan mampu.
jika dilihat dari data kependudukan di daerah Tanoh Gayo, tidak semua menjabat sebagai pejabat Pemerintah Daerah, ada yang menjadi pedagang, nelayan, buruh bangunan, bertani, dan lain sebagainya.

Mayoritas penduduk Tanoh Gayo, Aceh Tengah bekerja sebagai petani, jika memiliki kebun kopi, maka masa panen didalam setahun itu dua kali, berkisar antara Maret-April dan September-Oktober.

Untuk Ramadhan 1437 H kali ini bukanlah masa panen bagi petani, kebanyakan petani dibulan Ramadhan mencari pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan dibulan Ramadhan, yang biasa mengutip kopi dikebun mencoba berdagang ta’jil, yang biasa menjemur kopi juga mencoba untuk berdagang, tapi setelah dilakukan survey sederhana, para pedagang Tanoh Gayo juga bergantung pada nasib petani, jika musim panen para petani berbondong-bondong untuk berbelanja ke pasar dan secara otomatis penghasilan berjualan pedagang juga meningkat.

Kali ini sangat sedikit masyarakat Tanoh Gayo terkhusus yang bertani yang dapat memenuhi kebutuhan berlebaran, terlebih membeli Baju Reraya.

Di sebagian daerah di Aceh Tengah aktivitas para petani dibulan Ramadhan hanya terfokus pada proses pemupukan kopi, bersih-bersih batang kopi dan kegiatan lain yang mengarah pada perawatan batang kopi, berharap di panen berikutnya mendapatkan hasil panen yang memuaskan dan mendapatkan harga terbaik sesuai dengan kualitas yang dihasilkan.

Baju Reraya masih jauh dari perkiraan para petani, tradisi ini seringkali menjadi beban para orang tua dalam memenuhi kebutuhan lebaran buah hati.

Bagi masyarakat yang memiliki ekonomi menengah ke atas bukanlah menjadi kendala pemenuhan tradisi di hari lebaran, baik masalah kebutuhan membeli dan membuat kue dalam jumlah besar, membeli “baju reraya” bermerek dan lain sebagainya, namun tidak untuk masyarakat yang memiliki ekonomi menengah kebawah, bisa bertemu dengan bulan Ramadhan itu merupakan sebuah rezeki terindah yang diperoleh dari Allah Swt dan kesempatan luar biasa serta terindah, tidak terlalu memprioritaskan harus ada “baju reraya”, jika lagi musim panen dan ada rezeki membeli, Alhamdulillah, jika tidak juga tidak mengapa. Entah Dimana baju Reraya?

Tradisi sendiri haruslah bernilai baik, jika sudah terasa sebagai beban maka wajib untuk meninggalkan untuk memilih kebiasaan lain yang lebih bernilai baik dari sebelumnya. Jika karena “baju Reraya” banyak anak yang menangis dan bersedih maka sebaiknya jangan dijadikan beban.

Biasakan untuk tidak menyakiti diri sendiri karena suatu kebutuhan yang sifatnya tidak terlalu penting dan mulailah mengajarkan kebiasaan yang baik pada anak, seperti tidak membeli baju baru hanya dibulan Ramadhan saja, jika musim panennya di bulan Maret s/d April, kenapa tidak membeli kebutuhan bulan Ramadhan, termasuk “Baju Reraya” dibulan tersebut agar tidak menjadi beban nantinya jika bertemu dengan bulan Ramadhan sedang tidak berada di masa panen.

Dikarenakan sudah menjadi tradisilah maka banyak para anak merengek, menangis serta bersedih jika tidak dibelikan “Baju Reraya”.
Jika kebiasaan tidak berubah maka tradisi keharusan membeli “baju reraya” bisa menghidupkan keadaan yang tidak baik, orang tua rela berhutang demi kebutuhan anak, banyak terjadi kasus kekerasan dalam rumah tangga, pencurian, penjualan kebun serta harta benda lainnya dengan harga yang tidak seharusnya, dan banyak hal lain yang menghasilkan kondisi tidak nyaman.

Enti perempat baju reraya jema tue murasa nyanya, seluk si ara-arawa pedi (jangan karena baju lebaran orang tua menderita, pakailah seadanya).

Sejatinya bukan karena “baju Reraya” Ramadhan berkesan namun seberapa besar tingkat keimanan yang sudah kita lakukan.
(Semoga bermanfaat).[]

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top