Opini Sara Sagi Terbaru

Rentenir Penguasa Pasar di Aceh Tengah

Diteliti Oleh : Iwan Fazri, S.Pd.I

Iwan FazriMasyarakat Aceh Tengah pada umumnya banyak yang menggantungkan hidup pada bidang usaha kecil, terutama dalam usaha jual beli atau perdagangan seperti sembako rempah-rempah, dan sayur mayur serta lain-lainnya.

Hal tersebut banyak dijumpai di pasar-pasar tradisional yang ada di seputaran kota takengon maupun di perkampungan. Hasil penelitian yang di lakukan sejak bulan Februari tahun 2015 sampai dengan Juni 2016 telah diperoleh sampel sebanyak 150 orang dengan indikator pengaruh rentenir terhadap perekonomian masyarakat Kabupaten Aceh Tengah dalam perspektif syari’ah.

Penelitian ini dilakukan atas dasar intruksi kepala Baitul Mal Kabupaten Aceh Tengah, Dr. Tgk. H. Mahmud Ibrahin MA kepada saya selaku pembiaya modal usaha produktif kepada masyarakat yang terlilit rentenir (riba) dan masyarakat berekonomi lemah di kabupaten Aceh Tengah.

Karena semakin maraknya praktek riba di tengah-tengah masyarakat, Penetilian tersebut bertujuan untuk memberikan gambaran tentang pengaruh rentenir terhadap dampak buruknya perekonomian masyarakat. Ada beberapa temuan yang terdapat di dalam penelitian tersebut, di antaranya adalah: berlakunya sistem jasa (bunga) yang sangat besar dari pada batang peminjaman yang di berikan kepada para pedagang.

Dengan sistem tersebut banyak di antara pedagang yang sampai gulung tikar atau menutup usahanya karena jasa (bunga) yang semakin lama semakin besar tampa mengurangi jumlah batang yang di pinjam. Masyarakat harus membayar jasa (bunga) sebesar 40.000 rupiah sampai dengan 80.000 rupiah / harinya.

Rata-rata alasan pedangang mau dan berani meminjam modal dalam bentuk uang tunai kepada rentenir (orang yang membungakan uang) seperti yang di nyatakan rata-rata pedangang sayur-mayur di pasar paya Ilang Takengon, mereka meminjam uang dari rentenir dengan berbagai alasan di antaranya adalah: prosesnya cepat bisa dengan hitungan menit saja dan kata-kata yang mereka utarakan kepada saya bahwa mereka lebih baik “mati esok hari dari pada hari ini” tanpa mempertimbangkan konsekuensinya, halal haramnya.

Yang penting mereka bisa berjualan sebagaimana mestrinya demi menghidupi keluarga mereka. Pernyataan lain yang diuangkapkan oleh seorang pedang adalah jika pada hari itu para pedagang tidak memberikan setoran, maka barang dagangan mereka akan di ambil bahkan dapat menyita harta benda lainnya yang mereka miliki.

Setelah saya temui informasi mengenai keberadaan dan pelaku rentenir, ternyata sangat bayak jumlahnya, baik secara individu ataupun mengatasnamakan lembaga, yang tidak dapat saya sebutkan dalam tulisan ini. Dengan harapan pemerintah daerah melalui Dinas syari’at islam dan kepolisian dapat menyelesaikan masalah ini, karena menyangkut praktek riba sampai kepada pemerasan kepada masyarakat. Jika di tinjau dari legalitas pengelolaan keuangan bagi masyarakat, telah jelas harus ada surat ijin menyelenggaraan dan memiliki lembaga yang lejas. Jika tidak maka hal tersebut bisa di katakan sebagai Bank gelap.

Para pedangang kecil di Aceh Tengah 67% menggantungkan usahanya pada modal rentenir, yang setiap hari mereka putar demi sesuap nasi, membiayai pendidikan anak-anak mereka serta untuk memenuhi kebutuhan hidup lainya.

Halal Haram
Al-Qur’an telah menjelaskan kepada kita untuk dapat mencari rezeki yang baik-baik serta halal untuk memperoleh keberkahan hidup di dunia maupun di akhrirat, karena sesungguhnya semua hal yang kita lakukan akan di pertanggung jawabkan di kemudian hari. pemberi dan penerima sama saja mendpatkan hukuman yang sama dari Allah Swt di hari akhir kelak, karena sesuangguhnya kita semua telah mengetahui kadar halal atau haramnya sesuatu yang kita lakukan. Kepada para pedagang khususnya dan masyarakat Kabupaten Aceh Tengah pada Umumnya, agar tidak mengabaikan printah Allah Swt, yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Tekanan kehidupan merupakan suatu cobaan bagi kita agar mampu menghadapi semua rintangan yang ada agar kualitas atau derazat kita di sisi Allah semakin meningkat. Bukan malah sebaliknya dengan pertimbangaan yang singkat kita mengabaikan perintah-Nya. Lebih baik usaha kita mati karena Ridho-Nya dari pada harus memperkaya para rentenir atau pembunga uang yang sangat keji tampa melihat nilai-nilai kemanusiaan dan pelanggar perintah-Nya.

Peran Pemerintah
Pemerintah dalam hal ini merupakan penanggung jawab dalam hal kesejahteraan dan penyelesai maslah-maslah yang di hadapi oleh masyarakat. Dengan harapan masyarakat dapat berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dengan cara yang baik dan benar. Praktek riba yang di lakukan oleh para rentenir bukan hal yang baru, di tengah-tengah pasar atau masyarakat. Seperti sudah menjadi suatu ladang bisnis bagi mereka yang melakukannya. Hak tersebut tidak dapat di pungkiri karena tidak adanya aturan dan larangan dari pihak terhait mengenai hal tersebut.

Menurut peraturan perundang-undangan pelaku Bank gelap dapat di pidanakan atau diberikan sanksi sesuai dengan qanun syari’at yang berlaku. Pemerintah harus tanggap dengan persoalan ini karena hal tersebut menyangkut tentang kesejahteraan pedang pada khususnya dan masyarakat Aceh Tengah pada umumnya.

Dengan cara memberantas secara tuntas parktek riba yang di lakukan oleh rentenir maupun menggunanya, menyediakan modal usaha bagi masyarakat yang berekonomi lemah dengan cara yang tidak memberatkan mereka. Jika hal tersebut tidak di perhatikan dengan serius maka sesuangguhnya perekonomian para pedagang di Aceh Tengah sulit untuk berkembang.

Mudah-mudahan hasil penelitian yang di lakukan ini dapat memberikan gambaran dan bermanfaat bagi keberlangsungan usaha para pedagang kecil di kabupaten Aceh Tengah, serta pores jual beli yang dilakukan pedagang mendapatkan keberkahan dari Allah-Swt.[]

*Staf Baitul Mal Aceh Tengah

Comments

comments