Jurnalis Warga Terbaru

Uniknya Pertemuan Rutin Laskar Ketahanan Pangan Linge

Oleh : Fathan Muhammad Taufiq*

Pertemuan Rutin Laskar Ketahanan Pangan LingeAda cara unik yang dilakukan oleh Laskar Ketahanan Pangan Linge, yang merupakan kolaborasi antara para penyuluh dengan aparat TNI AD yang bertugas di kecamatan Linge Aceh Tengah. Laskar dibawah Komando Koordinator BP3K Linge, Safrin Zailani, SP dan Komandan Koramil Isaq, Kapt. Inf. Iwan Mulayawan ini, secara rutin melakukan pertemuan berkala untuk mebicarakan berbagai hal yang terkait dengan upaya peningkatan swasembada dan ketahanan pangan di wilayah kecamatan terluas di kabupaten Aceh Tengah itu.

Uniknya, tidak seperti pejabat-pejabat lain yang memilih lokasi pertemuan di tempat-tempat yang refresentatif seperti aula, meeting room hotel atau setidaknya di café, yang dilakukan oleh Safrin dan Iwan adalah sebaliknya. Para penyuluh dan Babinsa TNI itu mengadakan pertemuan secara berkala tanpa memilih tempat, karena mereka lebih memilih tempat pertemuan yang paling dekat dengan lahan petani. Maka pilihan tempat rapat mereka adalah gubuk petani, gardu jaga, atau Joyah terbuka. Meski pembicaraan mereka menyangkut hal-hal serius, karena menyangkut hajat orang banyak terhadap ketersediaan pangan, namun dengan gaya “lesehan” tersebut, masing-masing peserta rapat baik penyuluh maupun para prajurit TNI, terlihat lebih santai.

Tapi meski suasananya sedemikian santai, tetap saja Safrin dan Iwan selalu mencatat apa saja yang menjadi tema dalam pertemuan itu, sekaligus solusi apa yang ditawarkan bagi masyarakat sekitar untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian mereka. Kelihatannya apa yang dilakukan oleh para “pejuang” ketahanan pangan ini sederhana sekali, tapi banyak sekali manfaat yang bisa diambil dari pertemuan-pertemuan itu. Safrin Zailani yang sebenarnya punya posko yang lumayan “mewah” yaitu di BP3K Linge yang ada di kawasan Peregen itu, terlihat lebih menikmati pertemuan yang digelar secara non formal tersebut, karena dengan suasana santai, semua permasalahan berat sekalipun, dapat terpecahkan dengan ringan. Bagi Danramil Isaq, Iwan Mulyawan, yang sudah biasa turun ke lapangan, pertemuan yang digelar di tempat “merakyat” itu justru lebih menyenangkan, karena suasana perdesaan dengan udara yang segar ditambah hangatnya kopi Gayo yang mengiringi pertemuan itu, membuatnya merasa lebih fresh.

“Kami sudah biasa mengadakan pertemuan di tempat-tempat terbuka dan sederhana seperti ini, suasana bisa lebih santai dan semua permasalahah bisa dicari solusinya disini, apalagi kemampuan teknis pak Safrin dan kawan-kawan penyuluh di bidang pertanian sudah tidak diragukan lagi,” ungkap Iwan Mulyawan saat dietemui de sela-sela pertemuan rutin bersama Safrin Zailani dan jajaran penyuluhnya di sebuah Joyah di kawana Kemerleng beberapa hari yang lalu.

Sementara itu Safrin menambahkan, bahwa bagi para penyuluh, lahan pertanian milik petani baik sawah, kebun maupun uwer, adalah kantor yang sebenarnya bagi mereka,

“Bagi kami para penyuluh, kantor BP3K itu hanya simpul koordinasi saja, sedangkan kantor kami yang sebenarnya ya seperti ini, di sawah, kebun atau uwer,” ungkap Safrin, penyuluh berbadan gempal dan murah senyum ini.

Sepertinya teman-teman laskar ketahanan pangan Linge ini begitu menyadari, bahwa yang terpenting adalah subtansi, bukan seremoni, karena bagi mereka tempat pertemuan hanyalah sarana pendukung, tapi yang paling penting adalah keseriuasan dalam mengupas sebuah subtansi pertemuan itu sendiri. Sebuah kesederhanaan yang layak dicontoh oleh siapa saja, terbukti dengan cara sederhana ini, dalam dua tahun terakhir mereka telah mampu mendongkrak produktivitas padi, jagung dan kedele di kecamatan Linge secara signifikan. Begitu juga dengan pembinaan petani perkebunan dan hortikultura serta peternak, juga sangat intens dilakukan oleh Safrin dan kawan kawan, sehingga kehadirann mereka selalu ditunggu-tunggu oleh para petani disana.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *