Opini Sara Sagi Tafakkur Terbaru

Fikih Puasa

Ali Abubakar

DR. Ali
DR. Ali

PUASA adalah syariat yang universal, karena terdapat dalam berbagai agama dan peradaban yang bertujuan untuk pensucian diri (via progrativa). Untuk umat Islam, puasa dilakukan pada bulan ke-9 penanggalan Hijriyah yaitu Ramadhan, disyariatkan pada tahun kedua Hijriyah. Artinya, selama hidupnya, Nabi hanya berpuasa Ramadhan selama delapan kali. Jadi, puasa belum disyariatkan ketika Nabi masih berdakwah di Makkah (13 tahun). Setelah dua tahun bermukim di Madinah, barulah puasa Ramadhan diwajibkan diamalkan umat Islam.

Hal-hal yang berkaitan dengan puasa Ramadhan dikemukakan di dalam Alquran surat al-Baqarah ayat 183-188. Dalam ayat-ayat ini dikemukakan pensyariatan puasa dan waktunya, rukhsah (keringanan), amalan-amalan penyempurna puasa, batas waktu dan hikmah puasa. Selama Ramadhan kita akan sangat sering mendengar ayat-ayat ini dibaca dan diulas para ustaz atau teungku di berbagai ceramah, khutbah, atau diskusi. Di bawah ini dikemukakan lima hal penting terkait dengan puasa Ramadhan.

Pertama, difahami dari ayat 186 bahwa dalam Ramadhan dilakukan pendekatan kepada Allah (muraqabatullah). Alquran menyebutkan iktikaf. Hadis-hadis Nabi mengungkapkan amalan tersebut adalah peningkatan intensitas (mujahadah) ibadah; makin meningkat terutama sepuluh malam terakhir. Penting dikemukakan bahwa sebab turun ayat 187 (kehalalan  bersetubuh pada malam hari Ramadhan) adalah bahwa pada awalnya perbuatan itu dilarang dilakukan selama Ramadhan, baik siang maupun malam hari. Tetapi karena banyak yang “kecolongan”, maka Allah menghapus larangan itu. Ini menjadi catatan bahwa Ramadhan memang menjadi wadah latihan untuk mengendalikan diri, baik ketika berpuasa siang harinya maupun ketika sudah berbuka.

Kedua, batas waktu berpuasa adalah antara antara terbit fajar sampai terbenam matahari. Alquran membahasakannya dengan mulai dari ketika tampak beda antara benang putih dan benang hitam (terbit fajar) sampai malam (terbenam matahari). Dulu,  ketika masyarakat di
Dataran Tinggi Gayo belum memiliki jam, telepon selluler, atau petunjuk waktu lainnya untuk dapat bangun sahur tepat waktu, mereka menggunakan kokok ayam (tuk kurik). Tuk kurik menjelang pagi itu memang biasanya dua kali. Kali pertama ayam berkokok digunakan untuk memasak dan makan sahur, sedangkan, sedangkan kokokan kedua digunakan sebagai tanda imsak: makan minum dihentikan, puasa dimulai. Karena itu, di Gayo, sampai sekarang istilah lumrah yang digunakan untuk sahur adalah mangan tuk kurik (makan ketika ayam berkokok). Untuk berbuka, juga digunakan fenomena alam. Biasanya kalau hari benar-benar sudah mulai gelap sebagai tanda bahwa matahari sudah terbenam dan waktu maghrib sudah masuk. Celakanya, jika cuaca sangat mendung atau berkabut, setelah makan tiba-tiba matahari muncul lagi. Kesulitan ini tidak kita temukan lagi di masa modern. Ulama kontemporer menghitungnya dengan menggunakan data-data astronomis yang diterjemahkan ke dalam jam, sehingga sampai sekarang inilah yang menjadi panduan. Namun demikian, sebagian mereka belum sepenuhnya berani menggunakan perhitungan  astronomis untuk penentuan awal Ramadhan dan Syawal, sehingga sampai sekarang masih diperdebatkan.

Ketiga, selain makan dan minum dan bersetubuh di siang hari, para ulama, melalui berbagai dalil menyatakan bahwa hal-hal yang membatalkan puasa adalah sengaja muntah (qay’), istimna` (mengeluarkan mani), hilang akal, murtad dan datang haid atau nifas. Ini adalah pendekatan fikih, (formalitas) yang tentu berbeda dengan pendekatan tasawwuf yang berkaitan tidak hanya dengan kondisi fisik tapi juga dengan kondisi hati. Puasa yang sesungguhnya adalah ketika pikiran dan keinginan-keinginan negatif juga dihilangkan dari diri kita. Inilah yang dimaksud dengan berpikir positif. Berpikir positif akan membuat kita  merasa lebih nyaman.

Keempat, rukhsah (keringanan/dispensasi) berpuasa diberikan kepada orang-orang yang sakit atau dalam perjalanan. Mereka tidak wajib berpuasa saat berada dalam keadaan itu selama Ramadhan. Mereka wajib menggantinya sejumlah hari yang tertinggal di luar bulan Ramadhan atau, bagi yang tidak mampu berpuasa, menggantinya dengan fidyah yaitu memberi makan sehari satu orang miskin untuk satu hari Ramadhan. Para ulama menafsirkan bahwa wanita hamil dan menyusui masuk dalam kategori maridh (sakit) dan orang lanjut usia dalam kategori uzur. Fidyah hanya berlaku di dalam ibadah puasa; tidak ada dalil yang menyatakan bahwa fidyah juga berlaku di dalam shalat.

Kelima, di awal disebutkan bahwa Nabi melaksanakan puasa selama delapan kali Ramadhan. Pada Ramadhan terakhir, ia mencontohkan salah satu amal sunat Ramadhan dalam rangka muraqabatullah (pendekatan diri kepada Allah) yaitu qiyamul lail yang sekarang menjadi tarawih. Namun karena yang terekam oleh sahabat hanya tiga malam, sampai sekarang tampilan tarawih menjadi beragam, baik jumlah rakaat maupun teknis pelaksanaannya.  Inti sesungguhnya dari tarawih adalah muraqabatullah, sehingga yang dipentingkan sesungguhnya bukan jumlah rakaat formalnya tetapi kesungguhan ketika melaksanakannya. Ini penting karena menurut Nabi, “betapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapat apapun dari puasanya selain lapar dan haus saja, dan betapa banyak orang yang qiyamullail tidak mendapat apapun kecuali capek saja”.[]

Ali Abubakar (Aman Nabila) adalah dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *