Opini Tafakkur Terbaru

Jadikan Ramadhan sebagai Bulan Refleksi Diri

Oleh: Dinni Syafriyuni*

Lomba-Design-Grafis-Ramadhan-(IKADI)-By-Dinni-Syafriyuni-FIXTAK terasa ya, tinggal menghitung hari saja kita akan memasuki zona dimana segala perbuatan positif akan terhitung pahala, didalamnya terdapat rahmat, maghfirah (ampunan), dan ‘itqun minan naar (pembebasan dari api neraka) inilah namanya bulan suci Ramadhan. Yang sudah lama dinanti oleh ummat Islam/muslim diseluruh dunia.

Dari berbagai sumber yang ada, hasil metode hisab untuk tanggal 1 Ramadhan 1437 H jatuh pada tanggal 6 Juni 2016. Sementara Idul Fitri jatuh di tanggal 6 dan 7 Juli 2016.

Bahkan di moment ramadhan ini, banyak komunitas, organisasi kemasyarakatan(ormas) menjadikan bulan Ramadhan sebagai ajang pembelajaran, ajang silaturrahmi dan ajang kegiatan produktif.

Meskipun tidak hanya pada moment ramadhan. Namun, terasa berbeda jika dilaksanakan pada bulan ramadhan. Misalnya: Safari Ramadhan (perjalanan Ramadhan), Sanlat (Pesantren Kilat), Mabit (Malam bina iman dan taqwa, salah satu sarana untuk membersihkan jiwa, melembutkan hati dan membiasakan fisik untuk beribadah khususnya shalat tahajjud, dzikir, tafakkur dan taddabur), ifthar jama’i (buka puasa bareng), galang dana, ngabuburit (menunggu saat berbuka puasa, boleh baca Al Matsurat[1] dan hal positif lainnya).dan kegiatan produktif lainnya.

Nah, keseruan bulan Ramadhan ini juga terasa ketika kita melakukan pesantren kilat misalnya. Kegiatannya pun beraneka ragam, ada seminar, beraneka ragam lomba, permainan seru, mentoring dan lainnya. Terasa seperti mondok di pesantren beneran lho.

Diamanahkan menjadi mentor dalam sebuah kelompok pesantren kilat itu sangat menyenangkan. Dimana kita bisa saling berbagi dengan adik-adik didik kita, saling curhat, ngobrolin tentang pengetahuan agama dan lainnya. Agar anak-anak kita merasa nyaman dan tentram dekat kita sebagai pendidiknya, jadikan anak kita sebagai sahabat dan buat mereka merasa nyaman dengan kita, respon segala apa yang ia keluhkan dengan ramah dan bersahabat.

Juga ada kegiatan khususnya para pelajar yaitu mengisi buku panduan ramadhan yang diinstruksikan dari sekolahnya masing-masing. Semoga niatnya mengerjakan shalat tarawih bukan hanya mengisi buku panduan bulan Ramadhan. Karena fenomena yang kita lihat banyak pelajar yang hadir di masjid-masjid atau mushalla niatnya hanya mengisi buku panduannya saja. Dan disamping itu sedikit menggangu konsentrasi para jama’ah yang hadir.

Terbukti ketika selama shalat tarawih berlangsung dilaksanakan, ada beberapa pelajar yang hanya shalat di rakaat pertama dan kedua. Rakaat selanjutnya hingga shalat witir, mereka main-main diluar dan memojokkan diri sembari makan kue. Sedikit menggangu para jama’ah sekalian karena bunyi kresekan plastiknya. Ketika mau akhir salam, pura-pura ikutan shalat dengan cepat-cepat duduk di tahiyat akhir dan mengucapkan salam. Astaghfirulah.

Kejadian ini sudah berkali-kali ditegur oleh imam masjid untuk tidak menggangu konsentrasi para jama’ah shalat. Semoga para pelajar menerima dengan lapang dada dan dengan cepat memperbaiki kesalahannya. Allahumma Aamiin.

Juga kejadian yang sering terjadi kesalahpahaman kita semua. Bahwa, kehadiran anak-anak sebelum baligh untuk ikutan shalat tarawih umumnya pada bulan Ramadhan. Akan membuat para jama’ah orang dewasa menggangu konsentrasi ibadahnya. Seharusnya sebelum menuju ke masjid, terlebih dahulu kita beri pengertian kepada anak-anak agar menghormati rumah-rumah Allah.

Mungkin, yang perlu kita perbaikin bersama-sama adalah bahwa shaf anak-anak tidak lagi kita letakkan diakhir. Namun, digabung dengan orang dewasa. Kalau bisa selang seling. Mengapa demikian? Rata-rata anak-anak ada yang kecerdasan visual (melihat) dan audiotori (mendengar), mereka akan lakukan apa yang mereka lihat dan dengar.

Nah, jika mereka melihat para orang dewasa melakukan shalat dengan tuma’ninah (rileks, tenang) dan khusyuk. Maka, anak-anak akan khusyuk juga. Meskipun kecendrungan anak-anak identik dengan sikap hiperaktif dan tidak bisa duduk diam. Namun, tugas kita sebagai orang yang lebih tua untuk memotivasi dan mengingatkan anak-anak.

Fenomena yang juga salah kaprah[2], kita selalu meletakkan shaf anak-anak ketika shalat selalu diakhir. Dan dikumpukan dengan anak-anak lain. Padahal kita tahu bahwa, dunia anak-anak memang identik dengan bermain.

Jika, sudah gabung dengan teman-teman yang lain maka pastilah si anak akan cenderung ikut nimbrung bermain. Semoga bisa menjadi pembelajaran bersama. Allahumma Aamiin.

Dan masih banyak para pengurus masjid mengumumkan terutama shalat tarawih. Agar anak-anak membentuk shaf sendiri dengan anak-anak yang lain di shaf paling belakang. Karena jika digabungkan dengan orang dewasa maka akan memutuskan shaf orang dewasa. Mungkin sedikit keliru.

Adapun dalil kebolehan anak berada dalam shaf orang dewasa adalah hadist berikut:

وعن أنس بن ملك رضى الله عنه قالصليت أنا ويتيم في بيتنا خلف النبى صلى الله عليه وسلم وأمي أم سليم خلفنا.

Artinya: “Dari Anas bin Malik ra, berkata “Aku shalat bersama anak yatim dirumah kami, kami dibelakang Nabi SAW dan ibuku Ummu Sulaim dibelakang kami”. (HR. Bukhari 1/255)

Inilah yang harus ditanamkan kepada anak-anak. Agar membiasakan mereka dalam ketaatan dan senang menghadiri shalat jama’ah mulai sejak dini. Dan dengan demikian, tempat kita beribadah bukan sebagai tempat yang sangat menakutkan dan ekstrim.

Kita harus waspada, jika anak-anak kita enggan untuk ke masjid karena takut dimarahi ibu-ibu atau bapak-bapak misalnya: karena menggangu konsentrasi ibadah. Perspektif inilah yang perlu kita benahi bersama-sama.

Setiap kejadian pastilah ada ibrah (pelajarannya). Semoga kita bisa memetik setiap kejadian yang ada disekeliling kita. Bahwa bulan Ramadhan mengajarkan kita untuk sabar dan tidak emosi jika ada anak-anak yang memancing amarah kita. Misalnya: dengan berlari-lari dan bermain-main dalam masjid. Cukup beri hukuman kecil saja agar anak sadar bahwa tidak boleh bermain-main di rumah Allah.

Saya pernah melakukan safari ramadhan ketika terjadi gempa di sebuah desa terpencil. Namun, sekarang desanya sudah tidak ada lagi. Banyak korban jiwa dan meninggalkan seorang anak yang sekarang sudah menjadi yatim. Ketika trauma healing[3] melihat canda dan tawa mereka serasa beban masalah ikut lepas.

Ketika waktu shalat tiba, anak-anak pun ikut nimbrung bersama orang tua yang lain untuk melaksanakan shalat berjama’ah. Pada saat itu shalatnya di posko bantuan, karena masjid juga sedang proses perbaikan. Tidak ada perdebatan dan ricuh ketika shalat. Karena memang sebelumnya sudah diperingatkan kepada anak-anak untuk tidak ribut dan bermain-main ketika shalat dilaksanakan. Semoga kita bisa saling belajar dari pengalaman.

Lain lagi fenomena yang bahkan sering terjadi dikalangan wanita. Ketika, dipenghujung bulan Ramadhan. Tepatnya di 10 hari terakhir. Semakin lama semakin menipis jama’ah shalat tarawihnya. Karena alasan membuat kue lebaran.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terkahir bulan Ramadhan dan dia bersabda, yang artinya: “carilah malam lailatul qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari 4/255 dan Muslim 1169).

Padahal malam 10 terakhir sangat banyak faedahnya dan momentum untuk kita muhasabah diri (evaluasi diri).

Nah, sebenarnya kalau kita teliti lebih jauh. Bukankah ini salah satu jebakan syaithan, musuh nyata kita dan bahkan selalu disekeliling kita? Pastilah caranya sangat halus dan tak terduga. Apalagi perempuan identik dengan perasaan. Ah, ada saja ide kreatif yang tak terbayangkan pada manusia sebelumnya. Kalau alasan libur seminggu dalam sebulan khususnya wanita, itu wajar. So pasti libur shalat tarawihnya. Dan semua orang memakluminya.

Kalau kita sudah berada di detik-detik terakhir penghujung ramadhan, fitrahnya ada rasa malas, lelah, capek, penat, bosan dan sejenisnya. Padahal, bulan ramadhan hanya sekali dalam setahun. Dan belum tentu kita akan berjumpa pada ramadhan selanjutnya kan?

Bukankah yang namanya maut, rezeki tidak ada yang mengetahuinya termasuk mbah dukun sekalipun? Semoga kita bisa bersama-sama menjalankan ritual ibadah dan meraih pahala hanya karena Allah SWT semata bukan mengharap pujian manusia. Allahumma Aamiin.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk diri saya khususnya, sebagai alarm untuk memotivasi saya supaya lebih baik lagi kedepan dan kepada mereka yang merasa pernah mengalami pengalaman yang saya rasakan. Silahkan dipetik ibrah (pelajarannya).

Belajar dari pengalaman itu sangat mahal harganya. Karena pengalaman lah yang mengajarkan kita yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu.

Yuk, jadikan bulan ramadhan ini menjadi bahan evaluasi, pelatihan, introspeksi, refleksi diri sendiri khususnya. Semoga semangat menyambut bulan suci ramadhan ini menular disetiap saat. Aamiin.[]


[1] Buku kecil yang berisi tentang kumpulan wirid yang disusun oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna.
[2] Kesalahan yang umum sekali sehingga orang tidak merasakan sebagai kesalahan.
[3] Suatu tindakan yang dilakukan untuk membantu orang lain mengurangi gangguan psikologis yang sedang dialami diakibatkan syok, kesedihan dan trauma.

*Dinni Syafriyuni. Tinggal di dataran tinggi Tanoh Gayo, Takengon-Aceh Tengah. Belang Kolak II, Jln. MAN II, dibawah Masjid Al Falah. Kecamatan Bebesen. Kabupaten Aceh Tengah. Kota ini sering disebut Negeri Diatas Awan. Lahir di Takengon, 20 April 1992. Gadis penyuka design, suara percikan air dan berpetualang ini, bisa dihubungi via facebook: Dinni Syafriyuni. E-mail: dinnisyafriyuni@gmail.com. Beberapa goresan pena nya telah diterbitkan dibeberapa penerbit buku Antologi.[]

Comments

comments