Keber Ari Gayo Sara Sagi Terbaru

Catatan Sahabat: Lekas Sembuh Sahrifin

Catatan: Supri Ariu*

“Sosok yang relegius, selalu menjadi orang pertama yang mengingatkan kami untuk beribadah saat waktunya tiba. Ia selalu melakukannya dengan halus dan tidak pernah bosan. Memang, dalam menjaga perasaan dialah jagonya”

Foto: Sahrifin | Ist
Foto: Sahrifin | Ist

AKSI inspiratif Sikdam Hasyim Gayo pejuang hak-hak penyandang disabilitas dalam tayangan Kick Andy Metro TV pada Jum’at (13 Mei 2016) malam telah membuat seluruh penonton terharu, termasuk saya. Apa lagi Sikdam merupakan putra berdarah Gayo, tentu akan membuat perasaan saya sebagai masyarakat Gayo menjadi semakin mendidih. Terharu, bangga dan malu semuanya bercampur aduk.

Seperti diceritakan Sikdam, anak dari pasangan Ayahnya yang berasal dari Desa Gelelungi Pegasing dan Ibunya Bebesen Aceh Tengah ini mulai tidak bisa melihat pasca mengalami kecelakaan hebat pada umur 21 tahun.

Penglihatannya yang awalnya terang kini menjadi gelap tentu menjadi pukulan berat baginya. Depresi, setres hingga niat untuk mengakhiri hidup-pun pernah terbesit seperti yang ia lontarkan dengan gamblang di hadapan jutaan mata pemirsa Indonesia. Namun ia sadar, perjuangan hidup harus terus berlanjut. Semangat itupun kembali bangkit tepat ketika ia diajak sang Ibu saat mengunjungi salah satu panti disabilitas. Di situ Sikdam sadar, banyak yang lebih malang darinya.

Dari kejadian itu, Sikdam membuktikan maha karyanya. Ia menggagas sebuah komunitas yang diberi nama Disability Youth Center Indonesia yakni komunitas yang bergerak untuk membantu kaum muda penyandang disabilitas. Kegigihan dan kualitas yang ia tunjukkan dalam hal sosial mengantarkannya ke sejumlah negara. Salah satu momen yang tak terlupakan adalah ketika keluarga kerajaan Inggris yang tak mampu menahan air mata takkala melihat semangat pidato putra berdarah Gayo ini.

Melihat tayangan itu, saya teringat kepada sosok yang selama ini saya kagumi. Memang belum cukup lama saya mengenal pria ini, yakni sekitar 10 tahun yang lalu. Selama ini bagi saya ia adalah pribadi yang patut dicontoh. Tidak pernah mengeluh, disiplin, relegius, rajin dan penyabar. Namun sepertinya bukan bagi saya saja, tapi bagi teman-teman saya yang lain khususnya di kalangan pemuda Blangkejeren.

Namanya Sahrifin, biasa dipanggil Ifin. Ia lahir di Blangkejeren pada 5 Agustus 1987 silam. Ia merupakan salah satu lulusan terbaik di jurusan Administrasi Negara Universitas Sumatera Utara (USU) Medan. Tidak banyak jenis prestasi yang bisa saya sebutkan tentangnya, karena memang selama ini ia tidak pernah mengakuinya. Katanya, piagam atau tanda semacamnya bukan sebagai ukuran. Berbuat baik walau sekecil apapun, tetaplah sebagai prestasi dan kemuliaan bagi Tuhan.

Meski bukan saudara kandung, namun bagi saya ia sudah sangat dekat. Termasuk dengan keluarga saya di rumah. Saya heran, ia begitu mahir memposisikan diri bagi orang-orang di sekelilingnya. Kadang ia menjelma sebagai abang, kadang sebagai sahabat bahkan bisa seperti ayah dan guru. Ia selalu bisa berubah menjadi apapun yang saya butuhkan.

Ia tinggal di Pengkala, Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues. O ia, ia juga memiliki selera humor yang tinggi. Jadi, tidak perlu heran, ia selalu menjadi alasan kami memecah tawa.

Ifin di mata saya adalah sosok yang sederhana dan tidak pernah mengeluh dengan apapun ujian yang dibebankan kepadanya. Lahir dari keluarga yang serba sederhana serta dengan keadaan ekonomi yang terbatas bukan menjadi alasan baginya berhenti berjuang. Karena prestasinya, ia selalu menerima beasiswa semasa duduk di bangku kuliah untuk mencukupi kebutuhannya.

Satu lagi yang menginspirasi bagi saya adalah, meskipun dengan kekurangan fisik yang ia dapat sejak ia lahir pada bagian matanya atau tidak seperti mata normal biasanya, tidak mengurungkan niatnya untuk ikut ambil bagian berbuat dan berkarya untuk kampung halamannya Gayo Lues.

Ia begitu disiplin dalam segala hal, selalu tepat waktu dalam menjalankan pekerjaannya. Ini pula yang membuat saya sendiri sebagai temannya kerap kawatir. Sebab, tidak jarang ia mengorbankan keadaannya sendiri hanya karena tidak ingin membuat orang lain kecewa.

Sosok yang relegius, selalu menjadi orang pertama yang mengingatkan kami untuk beribadah saat waktunya tiba. Ia selalu melakukannya dengan halus dan tidak pernah bosan. Memang, dalam menjaga perasaan dialah jagonya.

Selain kemampuan akdemis yang baik, ia merupakan salah satu penulis hebat di kampungnya. Dulu, ia sempat bergabung dengan salah satu media online terkenal di Aceh, namun karena keadaan ekonomi, ia memilih untuk kembali ke kampungnya dan bergabung dengan lembaga yang bergerak di bagian lingkungan dan pariwisata.

Perannya dalam promosi wisata, budaya dan lingkungan di Gayo Lues patut diperhitungkan. Ia menjadi salah satu orang yang cukup berpengaruh dalam hal promosi wisata melalui aksi dan karya tulisnya. Sedikit banyaknya, perjuangannya cukup membuahkan hasil jika melihat Gayo Lues sekarang.

Meski selama ini kelemahan pada bagian matanya itu masih bisa ia tutupi, namun kabar baru-baru ini yang kami terima, tepatnya pertengahan bulan April 2016 lalu, membuat perasaan ini begitu rapuh. Semua sahabat merasakan sedih yang hebat,”Bang Ifin sakit, tiba-tiba ia tidak bisa melihat karena gangguan pada saraf matanya,” kata seorang sahabat menyampaikan kabar melalui pesan selulernya.

Mendadak kabar ini merebak di kalangan para pemuda di Blangkejeren. Menurut keterangan dokter, mata Ifin harus dioperasi dengan biaya mencapai 100 juta lebih. Tentu ini sulit, mengingat keadaan ekonomi yang terbatas.

Satu hal yang membuat kami begitu pilu, ia tetap menunjukkan sifat humornya saat kami mencoba menghubunginya melalui telefon. Sungguh, ia begitu tabah. Saya sendiri belum tentu sanggup jika menanggung ujian yang ia emban saat ini.

Mungkin benar, prestasi yang Ifin tuai tidak sebesar dan se-terkenal Sikdam Gayo di Jakarta. Namun, apakah niat tulus untuk berbuat kebaikan itu dapat di ukur? Meski manfaat dari perjuangannya tidak sebanyak yang dilakukan Sikdam Gayo di berbagai negara, setidaknya perjuangannya banyak membawa manfaat bagi masyarakat Gayo secara umum dan Gayo Lues khususnya.

Bang Ifin, semoga Allah SWT senantiasa memberimu kesabaran, dan kemudahan melewati segala ujian-Nya. Mungkin tulisan ini tak mampu lagi terbaca oleh mata muliamu, namun sungguh niat tulusmu akan menjadi pelajaran yang amat penting bagi kami. Maaf kami tidak bisa banyak membantu meringankan bebanmu, namun harapan atas kesembuhanmu selalu mengaliri dalam do’a.

Comments

comments