Opini Sara Sagi Terbaru

Membaca Peluang Duet Zaini-Nasaruddin

Oleh : Muhamad Hamka*

Gubernur Aceh dr. Zaini Abdullah dan Bupati Aceh Tengah, Ir. H. Nasaruddin, MM. (LGco-Windjanur)
Gubernur Aceh dr. Zaini Abdullah dan Bupati Aceh Tengah, Ir. H. Nasaruddin, MM. (LGco-Khalis)

DUET Gubernur Aceh, Zaini Abdullah dan Bupati Aceh Tengah dua periode, Nasaruddin tinggal menunggu deklarasi. Seperti diberitakan oleh sejumlah media, keduanya melaju menuju Pilkada Aceh Februari 2017 mendatang lewat jalur independen. Duet Doto Zaini dan Nasaruddin ini dianggap sebagai representasi Pidie dan Gayo, dua daerah yang selama ini dinilai acapkali berseberangan secara diametral dalam percaturan politik di Aceh.

Dari semua bakal calon (balon) gubernur Aceh yang sudah mendeklarasikan dirinya maju dalam Pilgub Februari tahun depan, baru Zaini Abdullah yang sudah mengumumkan bakal calon wakil gubernurnya. Di satu sisi pilihan strategi politik ini sangat menguntungkan. Karena dengan semakin cepat memilih pasangan bakal calon wakil gubernur, maka proses konsolidasi politik akan lebih cepat, solid dan terorganisir. Disamping itu juga, akan memudahkan proses sosialisasi dalam pengumpulan KTP. Sementara disisi yang lain, akan menjadi ruang empuk bagi lawan politik guna mencari cela dan kekurangan pasangan ini.

Duet Zaini-Nasaruddin diatas kertas memang cukup punya daya magnetis. Posisi Zaini Abdullah sebagai balon petahana dan Ir. Nasaruddin yang menjadi penguasa Aceh Tengah dua periode, menandaskan bahwa mereka tak bisa dianggap remeh. Berdasarkan survey Lingkaran Survei Indonesia (LSI), sebanyak 70 persen pemenang Pilkada serentak 2015 yang lalu diraih oleh pasangan calon petahana.

Lalu apakah duet Zaini-Nasaruddin dengan posisi sebagai balon petahana punya kans yang besar untuk memenangi pertarungan Pilgub Aceh Februari 2017 mendatang? Bisa iya, bisa tidak. Tergantung bagaimana keduanya mampu meracik dan mengelaborasi taktik serta strategi dengan memanfaatkan posisi sebagai balon petahana. Namun, diatas kertas sukar dinafikkan bahwa duet Zaini Abdullah-Nasaruddin punya kans yang lebih besar dibandingkan dengan balon lain dalam konteks sebagai petahana.

Rekonsiliasi kultural
Yang juga menarik dari duet ini adalah, ada semacam konsolidasi sekaligus rekonsiliasi kultural. Sebagaimana diketahui secara luas, selama ini Gayo dan Pidie acapkali berseberangan secara vis a vis dalam percaturan sosial dan politik di Aceh. Sehingga duet Zaini Abdullah dan Nasaruddin ini menjadi semacam rekonsiliasi kultural yang bisa mendudukan dua kutub politik yang acapkali berseberangan secara diametral dalam ruang yang harmoni. Duet ini diharapankan bisa mencairkan kebekuan, sekaligus menautkan relasi timpang antara Gayo dan Aceh (pesisir) yang terjadi selama ini. Perpaduan Gayo-Pidie ini jelas menghadirkan kekuatan elektoral yang patut diperhitungkan.

Bagi Gayo, terlepas masih ada pro kontra sudut pandang, keberadaan Nasaruddin sebagai bakal calon (bacalon) wakil gubernur, menandaskan bahwa Gayo tidak bisa lagi dianggap enteng dalam dinamika dan percaturan politik di Aceh. Sehingga bagi masyarakat Gayo, Nasaruddin dianggap sebagai representasi politik Gayo yang patut diperjuangkan. Pada titik inilah, duet ini punya signifikansi dalam menabung kekuatan electoral di wilayah tengah.

Eksistensi figur Nasaruddin juga tak bisa dipandang sebelah mata. Terlepas bahwa dua periode kepemimpinan Nasaruddin di Aceh Tengah dinilai oleh banyak pihak belum banyak melakukan terobosan, tapi Ir. Nasaruddin telah membuktikan bahwa ia politisi lihai, berpengaruh dan sarat pengalaman di wilayah tengah. Dua periode menjadi bupati, mengandaikan bahwa ia memang pemimpin yang punya kekuatan dan pengaruh politik.

Sementara itu, Zaini Abdullah sukar dibantah sebagai representasi klan politik Hasan Tiro. Dalam jagad politik Aceh, kharisma politik Tgk Hasan Tiro masih menancap kuat dalam ingatan kolektif sebagaian besar rakyat di pesisir Aceh. Eksistensi, pun kemenangan Partai Aceh (PA) dalam dua kali pemilu legislatif (pileg), hingga kemenangan Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf (Zikir) dalam Pilgub Aceh 2012 silam tidak terlepas dari faktor kuatnya kharisma Hasan Tiro. Tgk Hasan Tiro, untuk beberapa waktu kedepan masih menjadi figur kuat yang punya daya magnetis dalam memanen kekuatan elektoral.

Jumlah pemilih tetap di basis bakal pasangan calon ini juga sangat potensial. Total daftar pemilih tetap (DPT) kalau mengacu pada DPT Pemilu 2014 lalu yang dikeluarkan oleh KIP Aceh untuk enam kabupaten yang menjadi basis dukungan Zaini Abdullah-Nasaruddin lumayan fantastis, yaitu sebesar 829.646 jiwa dari total DPT Aceh sebesar 3.337.545 jiwa. Jumlah DPT yang lumayan besar ini kalau bisa digarap dengan baik, tentu saja akan menjadi modal kekuatan elektoral yang bisa menghantarkan pasangan ini pada kursi kekuasaan.

Janji politik
Namun diatas itu semua, duet ini jelas punya pekerjaan berat. Zaini-Nasaruddin bersama tim pemenanganya harus bisa meyakinkan publik terkait dengan sejumlah janji politik duet Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf pada Pilkada 2012 silam yang hingga saat ini masih ditagih publik karena belum terealisasi. Janji pembagian uang 1 juta/kk bagi rakyat Aceh yang hingga hari ini masih menguap, seturut dengan hadirnya janji politik baru untuk Pilkada tahun depan, dapat menjadi batu sandungan bagi paket Zaini Abdullah-Nasaruddin.

Untuk itu, menjadi kerja penting dan mendesak bagi Zaini dan Nasaruddin beserta tim pemenanganya untuk menjelaskan kepada rakyat Aceh, sebelum rakyat Aceh alergi dengan janji politik baru mereka menjelang Pilkada Aceh 2017 mendatang.

*Pengamat Politik, tinggal di Takengon Aceh Tengah

Comments

comments