Jurnalis Warga Keber Ari Gayo Terbaru

Petani Ketapang Sukses Kembangkan Pola Tumpangsari Cabe-Semangka

Oleh : Fathan Muhammad Taufiq*

Tumpang Sari Semangka CabeKreativitas petani terkadang muncul justru karena keterbatasan yang distimulasi oleh motivasi yang kuat dari dalam diri sediri untuk berubah ke arah yang lebih baik. Seperti yang dilakukan oleh Ikhsan, seorang petani yang juga peternak di Blok C Kawasan Peternakan Terpadu Ketapang 2 Kecamatan Linge, Aceh Tengah. Dengan ketrbatasan lahan karena harus berbagi untuk pengembangan ternak sapi balinya, Ikhsan mencoba megoptimalkan pemanfaatan lahan usaha taninya untuk kegiatan produktif yang bisa untuk “mendongkrak” kesejahteraan keluarganya. Begitu juga keterbatasan sarana dan prasarana pertanian yang dia miliki, bukan menjadi penghambat baginya untuk berusaha tani.

Berbekal modal seadanya, diapun mulai menggarap lahan miliknya untuk membudidayakan komoditi cabe, yang belakangan harganya memang sangat menggiurkan. Dengan bimbingan Paiman, seorang penyuluh di BP3K Ketapang, Ikhsan melaksanakan kegiatan usaha taninya sebaik mungkin agar mampu menghasilkan produksi sesuai yang diharapkan. Dengan perawatan dan pemeliharaan yang baik, tanaman cabe yang dibudidayakan oleh Ikhsan tumbuh dengan baik dan subur.

Berkat saran dari sang penyuluh pula, sebuah “inovasi” kecil kemudian dicoba oleh petani ini di lahan cabenya, sambil menunggu tanaman cabenya berbuah, dia “menyelipkan” benih semangka disela-sela mulsa penutup bedengan cabenya. Tanpa diduga, benih semangka yang ditanamnya bisa tumbuh dengan baik, karena pupuk yang diperuntukkan bagi tanaman cabe, juga bisa diserap oleh tanaman semangkanya.

Pola tumpang sari cabe – semangka yang dicoba oleh petani Ketapang ini ternyata cukup berhasil, tanaman cebe sebagai komoditi utama tidak terganggu pertumbuhannya, sementara tanaman semangka yang “menumpang” disitu, pertumbuhannya juga sangat baik. Yang kemudian membuat hati petani ini “berbunga-bunga”, justru tanaman semangkanya yang duluan menghasilkan. Belum lagi dia bisa memanen cabenya, tanaman tumpangsari itu malah sudah berbuah duluan, raut kegembiraanpun terpancar diwajahnya ketika buah semangka hasil budidayanya mulai bisa dipanen. Didukung kondisi agroklimat daerah Ketapang dengan cuaca yang sedikit panas, buah semangka yang dihasilkan petani inipun rata-rata berukuran “jumbo” dengan berat antara 5 – 7 kilogram per buahnya.

Budidaya semangka sebenarnya bukan yang pertama kali dilakukan oleh petani di kawasan peternakan terpadu itu, tahun lalu, seorang petani disana, Sulaiman juga pernah berhasil membudidayakan komoditi ini, tapi waktu itu Sulaiman membudidayakannya secara monokultur. Kali ini dengan pola tumpang sari, Ikhsan bisa memperoleh keuntungan ganda dari usaha tani yang dilakukannya, yaitu cabe dan semangka sekaligus. Berkat kerja keras dan kegigihannya, sekarang dia bisa menikmati hasil usahanya itu, sambil menunggu buah cabenya memerah, dia sudah bisa menikmati hasil dari panen semangkanya. Paiman sendiri tak kalah bangganya, melihat keberhasilan petani binaanya berhasil dalam usaha tani, dia berharap para petani lain di wilayah kerjanya bisa mencontoh apa yang telah dilakukan oleh Ikhsan, karena sudah terbukti mampu mememerikan hasil memuaskan yang bisa meningkatkan kesejahteraan petani itu sendiri.

“Sebagai penyuluh, saya ikut bangga karena petani yang kami bina selama ini membuahkan hasil yang menggembirakan, saya berharap ini bisa dicontoh oleh petani lain di kawasan peternakan terpadu ini,” ungkap Paiman, beberapa waktu lalu.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *