Opini Terbaru

Media Untuk Massa Yang Beragam

Oleh. Drs. Jamhuri Ungel, MA*

Ilustrasi
Ilustrasi

PILKADA, singkatan dari Pemilihan Kepala Daerah tidak lama lagi akan dilaksanakan secara serentak di Indonesia, banyak bakal calon (Balon) atau calon yang berusaha untuk menjadi balon sampai akhirnya berusaha dan berdo’a dengan harapan bisa menjadi pemenang dalam pertarungan ini. Semua cara dilakukan mulai dari hal biasa sebagai rutinitas keseharian yang merupakan profesi sampai kepada hal yang diluar kebiasaan kendati terkadang dibenci karena sebenarnya bertentangan dengan jiwa atau bathin mereka sendiri. Balon atau calon juga harus membaca siapa saja yang mereka harap untuk memilih mereka dan berharap dengan suara yang memilih mereka bisa menang.

Rutinitas yang ditekuni secara benar dan bermanfaat untuk orang lain bisa melahirkan ketokohan bagi mereka yang melakukannya, hal ini bisa membuat diri seseorang lebih dekat dan dikenal oleh orang lain yang sering disebut dengan masyarakat. Masyarakat yang mengenal ketokohan seseorang secara lebih dekat akan melahirkan harapan agar tokoh yang mereka kenal selama ini bisa menjadi pemimpin bagi mereka. Ketokohan yang dilabelkan oleh masyarakat terhadap seseorang bisa saja beragam beragam sesuai dengan profesi apa yang mereka jalani selama ini, mereka yang berprofesi sebagai birokrasi dikenal dengan tokoh birokrasi, mereka yang berprofesi sebagai politikus dikenal dengan tokoh politik, mereka yang berprofesi sebagai guru lebih dikenal dengan tokoh pendidik, dan masih banyak lagi jenis ketokohan di dalam masyarakat.

Yang jelas semua mereka yang akan maju dalam PILKADA nanti adalah tokoh masyarakat yang sudah teruji, karenanya mereka mendapat dukungan serta motivasi dari orang-orang yang menokohkannya untuk maju dalam perebutan kursi pemimpin. Masyarakat yang memberi dorongan kepada tokoh mereka karena selama ini tokoh tersebut dapat memberi ketenangan dan kedamaian dalam hidup mereka. Masyarakat ingin kedamaian dan kenyamanan yang mereka rasakan selama ini bisa berlanjut selamanya, mereka tidak rela bila ada orang lain yang merusak rasa nyaman mereka, bahkan untuk mendapatkan itu mereka rela untuk mengorbankan diri mereka demi tercapainya apa yang mereka ingin tanpa harus di nilai dengan materi.

Tetapi realita lain yang dihadapi dalam pelaksanaan atau proses untuk menjadi pemimpin setelah PILKADA tidak cukup hanya ditokohkan dan dipilih komunitas sendiri, karena dalam masyarakat banyak komunitas yang juga mempunyai tokoh, yang tokoh dalam komunitas lain tersebut bisa jadi maju mencalonkan diri atau dicalonkan oleh kumunitasnya peserta dalam pemilihan pemimpin. Lain lagi dengan adanya komutitas yang tidak memperdulikan siapa yang akan menjadi pemimpi, mereka yang hidup dalam komunitas ini adalah komunitas yang cuek dengan hiruk pikuk politik, tetapi mereka yang akan maju menjadi pemimpin harus tau kalau mereka yang cuek ini juga mempunya jumlah yang banyak di dalam masyarakat.

Tidak susah mendekati mereka yang selama ini sudah menjadi komunitas sendiri, namun tidak mudah mendekati atau meyakinkan orang yang sudah menjadi komunitas orang lain apa lagi kemunitas tersebut juga mempunya tokoh yang akan diusung sebagai calon pemimpin dan komunitas ini biasanya tidak mau berpindah untuk memilih calon lain karena kedekatan emosional mereka selalma ini. Selanjutnya adalah komunita yang diperenutkan oleh calon, komunitas ini berbentok komunitas hanya saja mereka tidak mempunyai calon walau mempunyai tokoh tetapi tidak ikut mencalonkan diri. Untuk mereka ini biasa dilakukan pendekatan tokoh, seperti yang dilakukan oleh tokoh birokrasi yang akan maju. Mereka biasa memanggil pemimpin Desa (Kampong) dengan harapan pemimpin kampong bisa mengarahkan masyarakatnya untuk memilih calon yang dijagokan dari kalangan birokrasi atau juga memimpin tokoh agama ata tokoh adat dengan harapan yang sama supaya mereka yang mendengar dan patuh kepada tokoh tersebut mau mendukung orang yang di rekomendasikan oleh tokoh tersebut.

Kelompok yang paling sulit mengetahui bagaimana cara mendekatinya adalah kelompok yang cuek dan tidak peduli dengan keadaan yang terjadi, diantara angota masyarakat yang seperti ini adalah masyarakat yang tidak punya ketergantungan dan kepentingan pemerintahan ada juga sebagian dari mereka adalah golongan yang pesimis dengan proses dan perjalanan pemerintahan di mana mereka tinggal. Mereka ini ada di setiap kelas atau lapisan masyarakat baik kelas elit, menengah atau kelas paling awah dari masyarakat. Para balon atau calon harus berupaya mendekati kelompok ini juga karena mereka juga adalah potensi dalam masyarakat, terlebih kalau balon atau calon bisa meyakinkan kalau sebenarnya mereka juga adalah komponen masyarakat yang sama pentingnya dalam bernegara.

Keberagaman masyarakat pemilih yang harus mendapatkan informasi tentang siapa yang akan dipilih membuat para balon atau calon kelimpungan, betapa tidak masyarakat sekarang tidak mau lagi datang kalaupun diundang, mereka tidap peduli siapapun tamu yang datang ke kampong atau kota mereka, apalagi mereka yang datang tersebut berhubungan dengan PILKADA, karena itu banyak para balon atau calon yang menyewa dan membawa selebriti lokalatau nasional untuk mengumpulkan massa, atau juga mereka harus berani tampil di layar kaca untuk memperkenalkan diri dan membawa tim untuk meyakinkan pemirsa. Cara itu semua kini dianggap tidak lagi efektif, karena banyak masyarakat yang tidak merasakan adanya pesan dari pertinjukan artis kecuali hanya sekedar pertunjukan biasa.

Para balon atau balon kini mulai beralih ke Media Sosial yang populer disebut dengan alam maya karena sebagian besar penduduk sekarang menggunakan media sosial untuk berkomunikasi. Tapi tidak juga bisa kita pungkiri bahwa masih banyak masyarakat yang beranggapan kalau dunia maya, seperti internet, facebook dan lain-lainnya. Media ini dikatakan tidak baik dan dapat merusak moral, seingga dengan merasa dipaksa dan terpaksa mereka yang selama ini membenci media sosial harus menggunakannya dan mencintainya, karena kalau tidak maka tidak banyak orang yang mengenal diri balon atau calon dan calon pemilih juga tidak mengetahui apa yang menjadi visi dan misi dari calon atau balon. Bahasa lain yang bisa kita katakan kalau ingin mencalonkan diri untuk masa sekarang maka tidak boleh lagi orang-orang yang gaptek atau orang yang tidak kenal teknologi.[]

*Redaktur senior LintasGayo.co 

Comments

comments