Opini Parlemen & Pilkada Terbaru

Pilkada 2017; Momentum Pencerdasan Politik Masyarakat Bener Meriah

Catatan : Armi Arija*

pemiluBERDASARKAN informasi yang disampaikan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pilkada serentak tahap II dijadwalkan pada tahun 2017 mendatang. Sebanyak 102 daerah akan menyelenggarakan pesta demokrasi itu dan Pilkada serentak gelombang II akan dilaksanakan pada Februari 2017 untuk kepala daerah yang masa jabatannya berakhir pada semester kedua 2016 dan kepala daerah yang masa jabatannya berakhir pada 2017.

Tak terkecuali Kabupaten Bener Meriah, daerah yang mekar dari kabupaten Aceh Tengah yang lahir berdasarkan Undang-Undang No. 41 tahun 2003 tanggal 18 Desember 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Bener Meriah di Provinsi Aceh.

Kabupten Bener Meriah sudah dua kali melaksanakan pemilihan kepala daerah dan pada tahun 2017 akan menjadi yang ketiga kalinya. Tentu ini akan menjadi pengalaman yang ketiga kalinya masyarakat dalam pilkada sejak mekar dari Aceh Tengah,  bukan mengatakan bahwa masyarakat Bener Meriah awam atau tidak cerdas dalam politik.  Dimanapun yang namanya politik akan terus mengalami perubahan sistem dan pola bahkan budaya politik itu sendiri, dan perlu digaris bawahi disini makna dari pencerdasan adalah bagaimana masyarakat menyikapi  moment politik ini,

Pencerdasan  ini bukan hanya masyarakatnya tapi juaga calon atau bakal calon yang akan ikut serta dalam pelaksanaan pesta politik ini,  kecerdasan masyarakat yang diharapkan tumbuh dalam Pilkada ini mencakup proses pencerdasan masyarakat dalam menentukan pemimpin terbaik dan terlayak, memilih bukan karana Duit, tapi masyarakat dituntut harus mampu membaca dan menganalisis para calon  sehingga Kecerdasan ini akan menuntun kita selaku masyarakat dapat  mengambil keputusan politik yang tepat, benar, dan bisa dipertanggungjawabkan.

Terkhusus untuk Bener Meriah euforia  nuansa Pilkada itu  sudah mulai dirasakan oleh hampir seluruh tataran masyarakat, baik yang memang sudah sejak lama mengenal politik  maupun pun bagi sebagian yang baru melek politik.  Panggung politik pilkada 2017 ini tentu mengundang banyak sekali aktor, pelaku, dan tentu para penonton itu sendiri. Tim sukses, simpatisan, para pengamat, akademisi, lembaga survey, media dan para aktor dadakan lainnya yang secara terus menerus datang silih berganti untuk ikut terjun dan menikmati kontestasi besar pesta demokrasi lima tahunan ini.

Memang menarik ketika panggung politik saat ini memperlihatkan bermacam karakter, topeng dan lakon sandiwara yang terkadang bagi sebagian orang sedikit mual untuk menyaksikan, namun bagi sebagian lagi semakin terpancing dan reaktif atau bahkan menjadi agresif yang malah meninggalkan rasionalitas menuju fanatisme buta, dari prilaku etis menjadi picik.  Berangkat dari antusiasme yang besar ini mari setiap stakeholder yang  ada, mari kita bangun nuansa politik yang santun jika diistilahkan oleh SBY, kita mulai dari atas mari ciptakan budaya politik santun maka ditingkat akar rumput (masyarakat) akan mengikut juga.

Sungguh ironi memang, bahwa tidak terjadi adu gagasan dalam Pilkada  ini, akan tetapi yang terjadi justru adalah perang imagologi dan saling sindir satu sama lain dibelakang. Para pasangan calon lebih bangga menjual jargon mereka, lebih senang menayangkan film masa lalu mereka atau bahkan black campaign terhadap pasangan calon yang lain, lebih saat ini masyarakat sudah banyak pengguna medsos namun sayang  banyak para pendukung saling serang,  kampanye-kampanye yang ada menjadi fitnah, memanipulasi informasi, bahkan membawa isu SARA serta berbalas argumen dengan caci-maki dengan menggunakan bahasa yang kasar, pengrusakan atribut dan lain sebagainya.

Calon harus mampu merubah mindsade masyarakat dalam bersikap menghadapi moment politik ini, tunjukan sikap yang baik antar calon sehingga dikalangan bawah tidak akan terjadi gesekan, Pilkada ini seharusnya menjadi perekat dan pemersatu masyarakat, bukan sebaliknya menjadi pemicu perpecahan.

Pencerdasan ini tugas banyak pihak tak terkecuali partai politik, pilih dan jaring kandidat yang berintgritas untuk diusung  dan jangan sampai memunculkan kampanye hitam dan kampanye negatif, itu adalah refleksi dari budaya kehidupan politik liberal yang dengan rapih dibingkai ke dalam sebuah koridor aturan main sistem politik demokrasi yang sarat dengan permainan politik uang untuk meraih kekuasaan.

Intinya pencerdasan politik sangat perlu dan penting dilakukan oleh partai politik, kalangan intelektual, organisasi Kemahasiswaan, Lembaga Sosial Masyarakat (LSM), untuk menciptakan opini publik yang akan membangun kecerdasan politik, kesadaran politik dan sikap politik masyarakat untuk dapat menggunakan hak pilihnya dengan baik dan benar sehingga menghasilkan pemimipin yang mampu membawa perbaikan dan kemajuan untuk Bener Meriah.[]

*Mahasiswa Universitas Malikussaleh Lhokseumawe Fakultas  Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik (FISIP), berasal dari Uning Bersah, Bener Meriah

Comments

comments