Ekonomi Keber Ari Gayo Terbaru

Pasar Paya Ilang, Pasarnya Petani Gayo

Catatan : Fathan Muhammad Taufiq*

Pasar Paya ilang 2SELAIN dikenal sebagai daerah penghasil kopi arabika terbaik di dunia, potensi komoditi hortikultura, khususnya sayur-sayuran dan buah-buahan khas dataran tinggi di Kabupaten Aceh Tengah, sangat luar biasa.

Setiap hari, para petani di Dataran Tinggi Gayo ini menghasilkan puluhan ton sayuran seperti kentang, tomat, cabe, kol, wotel dan sebagainya, begitu juga dengan buah-buahan spesifik dataran tinggi seperti alpukat, jeruk keprok dan markisa, banyak dihasilkan oleh para petani di daerah ini.

Para petani menanam komoditi pertanian tersebut, tentu bertujuan saja untuk memperoleh  penghasilan tambahan selain dari komoditi kopi yang memang menjadi tumpuan utama pendapatan mereka, tapi ada juga sebagian petani yang memang hanya mengandalkan komoditi hortikultura ini sebagai penghasilan utama mereka.Itulah sebabnya dari tahun ke tahun, produksi dari berbagai komoditi hortikultura ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Karenanya, tentu saja pasar merupakan tumpuan utama untuk terus menggerakkan roda perekonomian para petani Gayo ini, tak hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumen lokal, tapi juga untuk memenuhi permintaan pasar di luar daerah, karena memang hanya sekitar 20 persen saja produksi pertanian ini yang bisa terserap oleh pasar lokal.

Untuk mewadahi pemasaran hasil pertanian para petani Gayo ini, pada tahun 1990 an, pemerintah melalui Departemen Pertanian (sekarang Kementerian Pertanian) pernah membuat pasar petani di daerah ini, tepatnya di kawasan pasar Bale Atu, yang terletak persis di pusat kota Takengon. Dengan fasilitasi berupa payung besar, kotak dan keranjang plastik besar, para petani di daerah ini diberikan tempat untuk menjual langsung produk pertanian yang mereka hasilkan di para ini.

Keberadaan pasar petani ini sangat menguntungkan petani, karena mereka dapat bertransaksi langsung degan para konsumen, sehingga profit margin yang mereka terima juga bisa lebih besar. Namun seiring dengan perkembangan kota, maka keberadaan pasar petani ini semakin tidak memadai, khususnya dari segi areal.

Terbatasnya areal pasar yang juga menjadi satu dengan toko-toko yang menjual sembako serta terminal angkutan kota, membuat pasar petani ini tidak mampu lagi menampung para petani yang ingin menjual hasil pertanian mereka disini. Para petani yang tidak tertampung di dalam pasar, kemudian membuka “lapak” di luar pasar, sampai ke jalan-jalan, sehingga kondisinya menjadi semrawut dan menggangu pengguna jalan.

Pasar Paya ilang 1Pemerintah Kaupaten Aceh Tengah kemudian memberikan “solusi sementara” dengan merelokasi para petani yang juga merangkap pedagang komoditi pertanian itu ke kawasan jalan Putri Ijo, tapi dengan batas waktu perjualan dari jam 06.00  sampai jam 10.00 karena kawasan relokasi itu sendiri sejatinya merupakan jalan yang juga dimanfaatkan oleh para pengguna jalan untul lalu lintas kendaraan.

Meski dari aspek areal, lokasi ini cukup memadai dan mampu menampung ratusan pedagang, tetap saja akhirnya menimbulkan masalah, karena memang lokasi itu bukan peruntukan untuk tempat berjualan. Para petani yang menjual hasil pertanian mereka terpaksa harus main “kucing-kucingan” dengan petugas Satpol PP ketika jualan mereka masih banyak yang belum terjual, sementara batas waktu berjualan sudah habis.

Melihat kondisi yang mulai mengarah menjadi tidak kondusif, Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah kembali “memutar otak” ontuk memberikan solusi permanen bagi para petani di daerah ini untuk isa melakukan jual beli produk pertanian mereka dengan nyaman dan layak.

Disatu sisi, pemerintah kabupaten ingin agar para petani dapat menjual hasil pertanian mereka sehingga para mampu meningkatkan taraf ekonomi mereka, sementara disisi lain pemerintah juga menginginkan keindahan dan kebersihan kota dingin yang menjadi salah satu destinasi wisata itu tetap terjaga.

Ada sebuah lokasi tak jauh dari pusat kota Takengon yang kemudian “diincar” oleh pemerintah kabupaten untuk menjadi tempat permanen bagi para petani untuk memasarkan produk pertanian mereka.

Dengan berbagai kajian dan pertimbangan, akhirnya kawasan Paya Ilang yang dulunya merupakan rawa yang tidak produktif, kemudian “disulap” menjadi sebuah pasar yang salah satu fungsinya adalah memberi ruang kepada para petani Gayo untuk memasarkan produk pertanian mereka, karena sebanyak apapun pruduk pertanian yang mereka hasilkan, jika tidak tertamping oleh pasar, maka petani juga yang akhirnya dirugikan.

Pasar Paya ilangAgaknya pilihan pemerintah kabupaten tidak meleset, kawasan paya yang kemudian di”reklamasi” tersebut merupakan kawasan strategis untuk menjadi pusat perekonomian baru warga Gayo, apalagi tak jauh dari tempat itu, sebuah terminal terpadu yang menjadi pusat transaksi jasa transportasi antar kabupaten dan antar provinsi juga sudah dibangun.  Begitu juga jalan lingkar dari berbagai jurusan menuju kawasan itu juga sudah terlebih dahulu dibuka, sehingga masyarakat bisa mengakses lokasi ini dari berbagai arah.

Tidak perlu proses berbelit untuk membangun pasar ini, karena kebetulan berlokasi di kawasan lahan milik pemerintah, sehingga tidak perlu anggaran untuk pembebasan lahan. Namun karena lokasi ini merupakan bekas paya, maka kesulitan terbesar yang dihadapi pemerintah kabupaten untuk membangun pasar ini adalah proses penimbunan yang membutuhkan ribuan kubik tanah timbunan. Namun proses inipun tidak berlangsung lama, karena pemerintah kabupaten sudah menganggarkan dana yang cukup untuk pembangunan pasar ini.

Pebangunan infrastruktur pasar berupa los dan lapak berjualan kemudian berjalan sesuai schedule yang telah direncanakan, dan pada pertengan tahun 2014, tepatnya tanggal 17 Juli 2014, pasar yang kemudian diberi nama sama dengan nama lokasi tersebut, resmi difungsikan. Karena arealnya memang lumayan luas, maka Pasar paya Ilang tidak hanya diperuntukkan bagi para petani untuk menjual hasil pertanian mereka, tapi juga diperuntukkan bagi para pedagang yang menjajakan berbagai kebutuhan masyarakat.

Dengan beroperasinya Pasar Paya Ilang, para petani di Gayopun merasa lega, karena mereka kini dapat melakukan transaksi jual beli hasil pertanian mereka dengan tenang dan nyaman. Bagian depan pasar yang merupakan gerbang dari pasai ini, saat ini sudah dipenuhi oleh para petani dan pedagang dan petani yang menjual berbagai produk hortikultura yang dihasilkan oleh para petani di daerah ini, jadi sekilas pasar Paya Ilang terlihat seperti pasarnya petani, namun ketika para pengunjung keudian masuk lebih dalam lagi, mereka juga bisa memperoleh berbagai kebutuhan sehari-hari mereka di pasar ini, jadi dengan menungunjungi pasar Paya Ilang, para pengunjung sudah bisa memperoleh semua barang yang mereka butuhkan, tentu ini menjadi lebih efektif dan efisien bagi ara pengunjung.

Kemudahan lain yang juga akan didapatkan oleh para pengunjung, di pasar ini kini juga mulai bermunculan warung-warung yang menjajakan berbagai makanan dan minuman bagi para pengunjung pasar, jadi mereka yang butuh waktu berbelanja lama juga tidak khawatir bakal “kelaparan”, begitu juga para petani dan pedagang yang berjualan disini juga tidak perlu jauh-jauh meninggalkan lokasi ini hanya sekedar untuk mengisi perut mereka.

Yang istimewa dari pasar ini, khusus untuk mereka yang mencari kebutuhan sayur dan buah di tempat ini, pasar Paya ilang cukup memanjakan mereka, karena rata-rata produk pertanian yang dijual di pasar ini masih sangat segar karena memang datang langsung dari kebun-kebun milik petani di daerah ini. Tomat, cabe, wortel, sawi, kol dan berbagai jenis sayuran lainnnya yang dijajakan di pasar ini memang masih terlihat segar, sehingga menarik minat pembeli, begitu juga buah-buahan lokal seperti alpukat dan jeruk yang dijajakan di para ini juga semuanya terlihat segar.

Pasar Paya Ilang memang sudah seperti pasarnya para petani Gayo, karena semua transaksi dari hasil pertanian mereka bisa mereka lakukan disini. Tak hanya bisa melayani para pembeli lokal, para petani juga bisa melakukan transaksi dagang dengan para pedagang dari luar daerah yang akan memasarkan produk pertanian mereka yang tidak terserap oleh konsumen lokal.

Sebuah aparesiasi yang sangat pantas telah ditunjukkan oleh pemerintah kabupaten Aceh Tengah untuk “membela” kepentingan para petani di daerah ini, karena pemerintah kabupaten sepertinya sangat menyadari, bahwa leih dari 90 persen perekonomian daerah ini di”sangga” oleh sektor pertanian, jadi sangat wajar jika kemudian pemerintah berupaya memfasilitasi agar produk-produk pertanian yang dihasilkan oleh para petani bisa terserap oleh pasar, dengan demikian upaya peningkatan kesejahteraan petani, bukan lagi sebatas slogan.[]

*Pemerhati ekonomi, tinggal di Takengon

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *