Jurnalis Warga Terbaru

Menelusuri Sisa Kerajaan Majapahit di Trowulan

*Catatan perjalanan Fathan Muhammad Taufiq

FathanMemasuki kawasan kecamatan Trowulan, sekitar 13 kilometer dari ibukota kabupaten Mojokerto ke arah Jombang, aku merasa sedang memasuki masa silam dimana di kawasan ini pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan terbesar di Nusantara yaitu kerajaan Majapahit. Sudah lama sekali aku ingin sekali mengunjungi tempat ini setelah membaca berbagai referensi tentang sisa-sisa peninggalan kerjaan Majapahit dari berbagai media, tapi keinginanku baru saat ini bisa terwujud, itupun karena kebetulan sedang ada agenda pribadi ke Surabaya.

Diantar oleh keponakanku, Mustaqim, seorang politisi Partai Demokrat yang juga mantan anggota DPRD Mojokerto, aku mulai menulusuri kawasan bersejarah itu. Perjalanan “napak tilas” ini kami mulai dari kawasan kampung Majapahit yang berada di kiri jalan raya Trowulan, di kampung ini sedang digalakkan upaya “Mojopahitisasi” pemukiman warga di desa tersebut oleh pemerintah Provinsi Jawa Timur maupun pemerintah kabupaten Mojokerto. Upaya mengembalikan “marwah” kerjaaan Majapahit di desa ini ditunjukkan dengan renovasi rumah-rumah penduduk yang berada di kanan kiri jalan raya ini dengan bentuk rumah “mojopahitan”, dimana setiap rumah diberi bantuan biaya renovasi sebesar 50 juta untuk merombak bentuk rumah bagian depan dengan type Mojopahit, hanya saja renovasi ini mengalami sedikit modifikasi, yaitu dari konstruksi kayu menjadi konstruksi batu bata, namun tetap dengan mempertahaankan model asli rumah pada masa kejayaan Majapahit.

Gerbang situs peninggalan Majapahit yang pertama kutemui adalah Gapura Wringin Lawang, terletak di kiri jalan raya Trowulan sekitar 500 meter dari jalan raya. Sepayang gapura terbuat dari batu bata dengan motif Majapahit yang agak mirip dengan gapura-gapura yang ada di pulau Bali. Nama Wringin Lawang sendiri menurut penuturan penduduk disekitar situ, bermula dari kisah sepasang pohon beringin (Wringin) yang dulu pernah tumbuh di tempat itu, konon kedua batang pohon itu menyatu dan menyisakan lubang ditengahnya yang menyerupai pintu (lawang). Meski pohon beringin itu sekarang sudah tidak ada lagi, tapi keberadaannya diabadikan sebagai nama gapura Wringin Lawang yang artinya “Beringin Pintu” atau pohon beringin yang menyerupai pintu.

Perjalanan kami berlanjut memasuki perempatan Trowulan berbelok ke kiri, begitu memasuki kawasan ini, kami “disambut” oleh bentangan kolam “Segaran”, kolam yang menyerupai danau atau waduk kecil ini terlihat bersih dan terawat. Berpagar besi keliling, membuat kawasan yang dulunya menjadi tempat bersantai para anggota keluarga kerajaan, juga tempat menjamu para tamu kerajaan. Kolam berbentuk persegi panjang dengan ukuran panjang 375 meter dan lebar 176 meter serta kedalaman rata-rata 3 meter ini dikelilingi dengan pembatas dari batu bata dengan ketebalan 1,6 meter ini bisa dikelilingi dengan sepeda atau atau berjalan kaki. Awalnya kola mini sudah tertutup oleh endapan lumpur dan tanah, dan mulai direnovasi dan dikembalikan fungsinya sebagai kolam pada tahun 1926 saat kola mini ditemukan oleh seorang arsitek Belanda, Henry Maclain. Selain menjadi obyek wisata, kolam ini sekarang menjadi tempat berkembangnya ikan “Wader”, sejenis ikan air tawar berukuran kecil, mirip seperti ikan Bilih di Danau Singkarak atau ikan Depik di Danau Laut Tawar. Menurut cerita penduduk setempat yang kutemui di seputaran kolam Segaran, sudah berpuluh tahun ikan Wader setiap hari diambil oleh penduduk setempat untuk dikonsumsumsi maupun dijajakan dalam bentuk berbagai masakan maupun cemilan, tapi ikan-ikan kecil tersebut seperti tidak pernah berkurang populasinya.

Hanya beberapa puluh meter dari kolam Segaran, terdapat pusat peninggalan kerjaan Majapahit yang sudah dihimpun dalam bentuk museum. Museum itu bernama Museum Majapahit yang didirikan oleh Henry Maclain pada tanggal 24 April 1924 bersama Bupati Mojokerto waktu itu, RAA Kromojoyo Adinegoro, berawal dari ide untuk mengumpulkan dan melestarikan situs-situs sejarah kerajaan Majapahit yang pada waktu itu tidak terawatt dan banyak yang rusak. Setelah masa kemerdekaan, museum ini kemudian diambil alih oleh pemerintah provinsi Jawa Timur dan pemerintah Kabupaten Mojokerto. Koleksi museum ini cukup lengkap, mulai dari berbagai prasasti, patung-patung, artefak, sampai lambang Negara berbentuk matahari dan mata uang kerajaan Majapahit. Agak terbantu juga ada mas Sarmin, salah seorang pegawai museum yang kemudian setia mendampingiku untuk melihat-lihat dan mengamati setiap sudut museum. Beberapa artefak memang terlihat pecah dan rusak, tapi pihak museum sengaja tidak mrekonstruksinya untuk menjaga keaslian artefak itu sendiri.

Dalam perkembangannya, museum Majapahit, tidak hanya menyimpan koleksi peninggalan kerajaan Majapahit saja tapi disini juga tersimpan benda-benda bersejarah peninggalan kerajaan lainnya seperti Kediri dan Singosari. Aku sempat meperhatikan senjata tajam asli peninggalan kerajaan Majapahit seperti keris, tombak dan senjata lainnya yang bentuknya berbeda dengan pusaka-pusaka yang ada di kesultanan Yogyakarta maupun Surakarta. Kepingan logam berukir yang menurut petugas museum merupakan koin atau uang logam pada jaman Majapahit yang terbuat dari perak, tembaga dan emas juga tidak luput dari pengamatanku. Begitu juga model rumah penduduk dengan konstruksi kayu mulai dari tiang, dinding dan atapnya serta lantai yang terbuat dari batubata berukuran “jumbo”, juga tidak terlewatkan dari pengamatanku. Kemajuan dunia pertanian dan perdagangan pada masa kerajaan Majapahit seperti terpahat dalam sebuah prasasti, cukup menarik perhatianku juga, rasanya tidak ada kata puas mengelilingi museum itu.

Agak lelah juga mengelilingi semua sudut museum yang memiliki arela lebih dari 2 hektar itu, tapi rasa ingin tahuku serasa terobati dengan mengunjungi tempat yang menyimpan sejarah kejayaan Majapahit itu. Sambil terus dipandu dan diberikan keterangan oleh mas Sarmin, setiap sudut museum tidak luput dari pengamatanku, meski tidak sampai detil, namun sekilas aku dapat melihat beberapa prasasti bertuliskan huruf jawa kuno yang sedikit-sedikit bisa kumengerti isinya dengan bantuan mas Sarmin. Ingin rasanya sehari atau dua hari lagi berada disitu, tapi keterbatasan waktuku membuatku harus puas dengan perjalanan kali ini. Setelah mengalami beberapa kali pemugaran, museum ini kini bisa menjadi salah satu obyek wisata sejarah yang nyaman untuk dikunjungi karena sudah dilengkapi berbagai fasilitas.

Masih ada sedikit waktu lagi, kami melanjutkan perjalanan ke Gapura Bajang Ratu, sekitar 2 kilometer dari museum. Disitu aku bisa melihat langsung “ikon” kerajaan Majapahit yang selama ini hanya bisa kulihat dalam buku-buku sejarah. Konon gapura dengan arsitektur khas Majapahit itu, menjadi pintu gerbang masuk ke pusat kerajaan Majapahit.

Tentu tidak lengkap mengunjungi Trowulan tanpa melihat candi-candi peninggalan kerajaan Majapahit, kebetulan juga candi0candi itu letaknya tidak begitu jauh dari museum, sehingga sedikit waktu yang terseisa bisa kumanfaatkan untuk melihat sekilas candi-candi peninggalan kerajaan yang pernah menguasai seantero Nusantara pada abad 13 sampai abad 15 itu. Dari beberapa candi yang kami kunjungi, hanya beberapa saja yang masih terlihat berdiri utuh seperti Candi Brahu yang berada di desa ejijong, Candi Tikus yang berada di desa Temon, masih di kawasan Trowulan. Sementara candi-candi lainnya seperti candi Minakjinggo, candi Gentong, candi Upas dan beberapa candi lainnya lebih terlihat seperti “puing-puing”, namun jika diamati dari dekat, semua benda bersejarah yang berada disana masih terjaga keasliannya.

Perjalanan singkatku menelusuri jejak kejayaan Majapahit kemudian berahir di Pendopo Agung Trowulan, bangunan yang mirip sebuah pendopo bupati di pulau Jawa itu konon merupakan peninggalan Raja Wijaya, ayahanda dari Raja Hayam Wuruk. Menurut seorang penjaga pendopo yang usinya kutaksir sekitar 70 tahunan, pendopo agung itu juga menjadi saksi sejarah pengucapan “Sumpah Palapa” oleh patih Gajah Mada. Yang agak membuatku sedikit heran, adalah patung Ratu Kencana Wungu yang terpajang didepan pendopo Agung, karena tidak ada penjelasan tentang kaitan sang ratu dengan pendopo agung ini, mungkin karena aku hanya singgah sekilas, sehingga masih sangat banyak sisi-sisi sejarah Majapahit yang belum berhasil ku ungkap. Begitu juga dengan situs-situs sejarah lainnya yang kali ini luput dari pengamatanku, kerena keterbatasn waktu.

Ya, meski hanya sekilas tapi aku merasa beruntung punya kesempatan untuk menelusuri jejak seuah kerajaan terbesar yang pernah berdiri dan menyatukan nusantara dalam satu ikatan Negara, boleh dibilang seluruh wilayah kekuasaan kerajaan majapahit inilah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, bahkan beberapa Negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Sebagian Thailand an Brunai Darussalam, pernah menjadi bagian dari kerjaan yang terkenal memiliki mahapatih Gajah Mada yang sangat tersohor itu.

Perjalanku ke Trowulan, mungkin hanya sebuah perjalanan kecil dari seorang yang punya rasa keingintahuan yang begitu besar terhadap sejarah peradaban manusia di bumi Nusantara. Keterbatasan waktu dan referensi tentu saja menjadi faktor utama dari ulasan ini yang masih jauh dari kata sempurna. Masih ada keinginanku dimasa yang akan datang untuk lebih intens lagi menelusuri jejak sejarah ini, agar bisa membuat tulisan yang lebih lengkap dan koprehensif, tapi entah kapan. []

Comments

comments