Free songs
Home / Inilah Gayo / Asnaini Gecik Perempuan Pertama di Gayo

Asnaini Gecik Perempuan Pertama di Gayo


 

Oleh : Darmawan Masri

Asnaini-2DALAM sejarah kepemimpinan Kampung di Dataran Tinggi Gayo, sejak dahulu selalu didominasi oleh kalangan laki-laki. Dominasi itupun patah tahun 2011 silam. Adalah sosok Asnaini, seorang wanita kelahiran Kute Lintang, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah yang lahir pada 2 Januari 1971 ini menggemparkan seluruh penjuru Gayo.

Dia terpilih sebagai Reje (Kepala Kampung-Red) Kampung Pegasing, yang tak lain adalah pemekaran Kampung Kute Lintang sebagai induk lewat pemilihan langsung.

Sontak, dia pun menjadi perhatian berbagai media waktu itu. Dominasi laki-laki dalam sejarah pemimpin kampung di bumi Gayo terpatahkan. Dia diberi kepercayaan sebagai Reje “Banan” (Perempuan-red) pertama di negeri berjuluk serpihan tanah surga ini.

Saat disambangi LintasGAYO di kediamannya beberapa waktu lalu, Asnaini bercerita, keinginannya menjadi Reje bukan semata-mata karena kehendaknya. Melainkan, dia didorong oleh warga sekitar, untuk maju mencalonkan diri. Suaminya Mirzan, sangat setuju atas dorongan dari warga tersebut.

“Awalnya saya terkejut, banyak yang mendorong saya untuk maju. Saya juga sempat komplin kepada suami, kepada mengiyakan saya sebagai calon kepala kampung saat itu, berontak juga jiwa ini, karena enggak pernah ada Reje dari kalangan perempuan, setelah berdiagog bersama suami dan karena besarnya dorongan dari warga disini, akhirnya saya memutuskan setuju untuk dicalonkan menjadi kepala kampung Pegasing tahun 2011 silam, dan alhamdulillah terpilih,” ujarnya.

Kiprahnya memimpin ternyata dilihat warga sangat layak, berawal dari pimpinan kelompok yang diberi nama Ceding Ayu, Kampung Pegasing, dia pun dipercaya mampu memimpin sebagai Reje di Kampung tersebut.

Banyak yang pro kontra memang, banyak kalangan menyebut Reje dari kalangan perempuan adalah hal yang Sumang (tabu-Red) di Gayo. Namun, itu dipatahkannya. Berdasarkan kesamaan gender antara laki-laki dan perempuang yang diusungnya, tentu perempuan juga memiliki kesempatan luas untuk mengembangkan bakat dan kreatifitasnya dalam melaksanakan berbagai kegiatan positif dan bermanfaat bagi masyarakat. Dia pun berkeinginan mengangkat harkat dan martabat perempuan dalam kehidupannya sehari-hari.

“Seperti semangat Datu Beru yang pernah menjadi Qurratul Adil di Pemerintahan Kesultanan Aceh pada waktu dulu. Dia sudah menunjukkan, bahwa perempuan Gayo layak dijadikan sebagai pemimpin, dan berlaku adil sebagai hakim,” tegasnya.

Masa kepemimpinannya sebagai Reje Kampung Pegasing, akan berakhir 2016 ini. Sejumlah prestasi sudah ditorehkannya selama menjabat sebagai Reje Banan pertama di Gayo.

Asnaini-Gecik-PegasingAnugerah Perempuan Aceh Award 2012 dan Safarinah Sadli Award 2014 Selama menjadi Reje Banan  pertama di Gayo, ternyata nama Asnaini mulai dikenal ditingkat Provinsi dan Nasional. Sebagai bukti, dia adalah salah seorang yang menerima anugerah Perempuan Aceh Award pada tahun 2012 silam, anugerah ini diberikan oleh Balai Sura Inong Aceh.

Asnaini menerima anugerah ini bukanlah tanpa sebab, kecakapannya memimpin Kampung Pegasing lah yang menjadikannya menerima anugerah tertinggi perempuan di Aceh tersebut.

Berbekal, keibaannya dengan banyaknya warga yang dipimpinnya itu masih buta huruf dan adanya keluarga yang masih hidup dibawah garis kemiskinan, dia berinisiatif membentuk kelompok baca tulis dan lembaga simpan pinjam. Dia pun mulai menggerakkan perempuan-perempuan di kampung yang dipimpinnya itu.

“Kampung Pegasing cukup subur, air mengalir sepanjang tahun, tapi pendapatan warga dari hasil panen kopi tak cukup menutupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Sebab itu, perempuan harus diberi kepercayaan oleh keluarga, bahwa dia juga mampu. Alhamdulillah, dengan bantuan dari Program PNPM beberapa waktu lalu dengan kucuran dana 2 M kami dapat membangun infrasturktur dan lembaga simpan pinjam. Tak hanya itu saya juga membuat kelompok industri kecil, dengan mengolah buah nenas menjadi kripik olahan,” kata Asnaini.

Ternyata, kemampuan memimpin inilah yang menjadikan dia meraih anugrah Perempuan Aceh Award 2012 silam.

Tak berhenti sampai disitu saja, namanya mulai dikenal di tingkat Nasional. Dan pada tahun 2014 silam, Asnaini pun dinobatkan sebagai salah seorang perempuan Gayo penerima Safarinah Sadli Award 2014.

Dia bersaing dengan ratusan perempuan nominator, yang dianggapnya memiliki kelebihan yang luar biasa. “Saat itu hanya saya, yang tidak memiliki gelar apa-apa jika dibandingkan dengan finalis lainnya. Saya hanya lulusan SMA, tidak punya embel-embel gelar ‘S’ nya dibelakang nama,” kata Asnaini, ditengah tawanya yang memunculkan kesederhanaan itu.

asnainiTernyata namanya, menjadi pusat perhatian ditengah ketatnya penilaian yang dilakukan oleh dewan juri, Abdul Gaffar Karim, Imam Prasodjo dan Najwa Sihab. Dia pun dinobatkan dengan dua orang perempuan lainnya asal Maluku Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan, sebagai penerima Safarinah Award 2015.

Penilaian alotpun terjadi, ternyata programnya memasukkan listrik ke Dusun Luang, di Kampung Pegasing, yang memiliki puluhan KK. Daerah ini masuk kedalam wilayah kepemimpinannya, dia iba melihat warganya yang belum merasakan nikmatnya kemerdekaan. Berbekal dengan proposal yang dibuat ke Pemkab setempat, pada akhirnya Dusun Luang terang benderang, dan kini perekonomian warganyapun bisa dipastikan meningkat.

Tak hanya itu, sarana air bersih juga menjadi perhatiannya kala itu. Walau air di daerah ini melimpah, namun dia sedih melihat warganya wudhu di aliran air sungai-sungai kecil yang mengalir di tengah-tengah persawahan itu. Dia pun berinisiatif membangung, bak penampungan air, dan air bersihpun disalurkan ke rumah-rumah warga. Inilah yang menjadikannya menjadi penerima Safarinah Sadli Award 2014.

Tak hanya itu, 13 Desember 2015 silam, Ibu dari Alhusniba Rejeka (Mahasiswa), Dewi Ramadhani (SMP) dan Maryani Munthe (SD) ini pun diundang sebagai bintang tamu di acara Sudut Pandang yang merupakan program dari TV nasioal Metro TV dengan dipandu oleh presenter Vivi Aleyda Yahya. 

Naluri Seorang Ibu, Kuatkan Rasa Kepemimpinan Ada kekuatan super dibelakang sosok Asnaini, dukungan sang suami Mirzan dan anak-anaknya menjadikannya menikmati pekerjaannya sebagai seorang pemimpin dalam upaya membawa kesejahteraan kepada warga yang dipimpinnya. Adalah naluri seorang ibu, untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga dan warganya menjadikan kekuatannya.

Selama menjadi Reje, Asnaini mengaku ada beberapa hal yang sulit dapat dia selesaikan. Salah satunya adalah permasalahan harta warisan, sebagai pemimpin di tengah-tengah warga Kampung Pegasing, dia tak mau gegabah dalam mengambil keputusan. Kadang kala, persoalan ini tak bisa diselesaikan ditingkat Kampung, dia pun menyerahkannya sesuai dengan proses hukum agama.

“Jika tidak bisa terselesaikan, saya koordinasikan ke Mukim, begitu seterusnya. Harta warisan adalah yang terberat bagi seorang pemimpin dalam menyelesaikannya, karena yang bersengketa adalah sesama keluarga,” tegasnya.

Gayo Butuh Pemimpin Walau namanya sudah populer dikalangan masyarakat Gayo, Asnaini belum berniat masuk ke kancah politik yang levelnya lebih tinggi dari sekarang ini. Dia berkata jujur, bahwa pada pemilihan legislatif beberapa tahun silam, dirinya sempat ditawari maju, namun dia menolaknya.

Asnaini-2“Ada yang tawarin maju sebagai valon anggota DPRK, saya tolak, belum saatnya masuk ke dunia politik yang levelnya lebih tinggi, masih ingin fokus membangun Kampung Pegasing ini dulu,” katanya tersenyum.

Ketika ditanya, sosok pemimpin Aceh Tengah 2017 mendatang, dia berujar, bahwa daerah Gayo butuh pemimpin yang dapat memberikan bukti, bukan hanya sekedar janji.

“Saya kira kita semua inginkan pemimpin yang seperti itu. Tau sebab-musabab permasalahan kronis di Gayo, dan ada program untuk mengobatinya. Sebagai contoh, urang Gayo mulai meninggalkan adatnya, apa program pemimpin kedepan dalam upaya perbaikannya, begitu juga dengan program lainnya, minsalkan ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya, pemimpin itu harus tau permasalahan apa yang tengah dihadapi disektor-sektor itu, baru cari solusi dalam penyelesaiannya, jangan nanti lain yang sakit, obatnya salah pula yang diberikan. Kita butuh pemimpin yang jujur, rela berkorban demi rakyatnya. Sekali lagi, bukti bukan janji,” demikian Asnaini. []

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top