Opini Parlemen & Pilkada Sara Sagi Terbaru

Kesalehan Musiman, Jargon Manipulatif, dan Akal Sehat

Muhamad Hamka*

Ilustrasi (doc. LintasGayo.co)
Ilustrasi (doc. LintasGayo.co)

PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) acapkali diwarnai oleh hal-hal yang unik, menarik, dan kadang-kadang melecehkan akal sehat. Tak jarang, orang yang sebelumnya sukar untuk bersilaturahim, tiba-tiba rajin, bahkan keranjingan dengan silaturahim. Orang yang sebelumnya, jarang bicara, tiba-tiba berubah jadi tukang omong, mirip penjual obat kuat yang berorasi di emperan pedagang kaki lima. Bahkan, ada yang tiba-tiba gaya bicaranya mirip para pendakwah yang wara-wiri dilayar kaca, padahal tak pernah ke masjid untuk sholat Jumat.

Peristiwa aneh tapi nyata diatas hanya terjadi saat pemilu legislatif (Pileg), dan pada waktu Pilkada seperti di Kabupaten Aceh Tengah yang tidak lama lagi akan memilih pemimpin baru pada Februari 2017 mendatang. Dengan semakin dekatnya waktu Pilkada, maka intensitas para politikus dan tim suksesnya menyambangi kampung-kampung dan rumah penduduk pun ikut meningkat. Berbagai hajatan publik pun tak pernah dilewatkan oleh para bakal calon bupati, atau minimal para tim pemenanganya. Bahkan, hanya pada hajatan Pileg atau Pilkada saja, para politikus dengan lantang mengaku sebagai putra daerah.

Sehingga jangan heran kalau kesalehan musiman menyeruak dengan malu-malu atau tanpa malu. Tiba-tiba ruang publik kita dipenuhi dengan orang-orang saleh. Semuanya berbicara tentang kesejahteraan dan kebaikan umum. Bahkan, kalau sebelumnya pelit untuk memberikan infak dan sedekah, maka pada momentum hajatan Pilkada, semuanya berlomba-lomba menjadi makhluk Tuhan yang dermawan. Kontestasi Pilkada pun menghadirkan semacam “ekstase” yang membuat kesadaran spiritual para politikus menjadi tercerahkan.

Namun, apakah kedermawanan ini lahir atas dorongan kesadaran imaniyah dari dalam diri? Jelas, tidak. Kesalehan musiman ini jelas bagian dari muslihat dan strategi politik untuk membeli suara pemilih pada saat pencoblosan, tak lebih. Namun, sebagai insan yang optimis, kita mesti berdoa, agar kesalehan para politikus ini tak berhenti saat hajatan Pilkada saja.

Praktik kesalehan musiman semacam ini, jelas tak produktif bagi pertumbuhan demokrasi kita. Di samping memosisikan konstituen sebagai objek politik yang tak otonom, praktik ini juga telah membuat demokrasi megap-megap dalam tikaman transaksional yang walaupun dikemas dalam nuansa yang terkesan manusiawi. Pilihan politik konstituen pun tidak lagi diwarnai oleh akal sehat, tapi sudah dipengaruhi oleh transaksi-transaksi yang terkesan manusiawi tadi.

Selain kesalehan musiman didepan, salah satu yang juga menarik untuk dicermati dalam hajatan Pilkada adalah berseliweranya jargon atau slogan politik. Jargon politik ini memang punya daya “bius” yang kuat, kalau kita tidak mencermati dengan akal sehat. Jargon-jargon ini semuanya berbicara tentang kehendak publik (res-publica), kebaikan bersama, dan kesejahteraan umum. Namun, apakah jargon-jargon tersebut merupakan pendulum dari gagasan visioner dan program-program konkrit serta terukur. Maka, jawabanya nanti dulu.

Karena sebagaian besar jargon politik ini hanya sekadar gagah-gagahan dan lips service belaka. Karena itu, kalau ada bakal calon bupati yang punya jargon atau slogan yang terlihat keren, bahkan terkesan bombastis, maka harus ditelusuri profilnya. Cari tahu, apakah ia punya gagasan yang visioner, apakah misi dan program kerjanya relevan dengan slogan politiknya tersebut, maka saya jamin anda bakal mengelus dada.

Karakteristik masyarakat kita yang malas berpikir akan menjadi sasaran empuk politikus tukang slogan ini. Maka cermat dan berhati-hatilah dalam menyikapi slogan politik yang mulai berseliweran lewat spanduk, baliho, pamphlet dan yang berkecambah di jagad social media. Karena boleh jadi slogan dan jargonya menarik, keren dan cerdas, namun sesungguhnya hanya strategi manipulatif untuk “merampok” suara anda.

 Pilkada, sejatinya merupakan instrument demokrasi untuk menghadirkan kesejahteraan bersama (bonum comunie). Sebagaimana cita demokrasi yang memosisikan kesejahteraan rakyat sebagai hukum tertinggi (salus populi suprema lex). Dan kesejahteraan rakyat ini tidak lahir dari ruang yang hampa. Tapi melalui pemimpin visioner dan berintegritas.

Pemimpin yang visioner dan berintegritas tidak lahir dari praktik kesalehan musiman, jargon manipulatif, apalagi praktik busuk politik uang. Namun, ia lahir oleh karena pilihan sadar para konstituen. Pilihan yang dialas-tumpui oleh akal sehat dan desakan nurani. Karena itu kawan, rawat akal sehat![]

*Pengamat Politik, tinggal di Takengon Aceh Tengah

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *