Sara Sagi Terbaru

“Menelisik” Pasokan Pangan di Dataran Tinggi Gayo

Catatan : Fathan Muhammad Taufiq

Hamparan sawah Kebayakan difoto tahun 2010. (LGco_Khalis)
Hamparan sawah Kebayakan difoto tahun 2010. (LGco_Khalis)

EKSISTENSI Kabupaten Aceh Tengah sebagai penghasil utama kopi arabika sudah tidak diragukan lagi. Selain areal pertanaman komoditi perkebunan unggulan sangat luas, produk kopi arabika yang dihasilkan juga berkualitas nomor satu yang sudah di akui dunia. Tak heran jika kemudian harga kopi Gayo di pasar dunia bisa di atas harga pasar kopi New York yang selama ini menjadi acuan harga kopi dunia. Itulah sebabnya, komoditi ini kemudian menjadi tulang punggung perekonomian di dataran tinggi Gayo, hampir semua aspek ekonomi masyarakat di daerah ini terkait dengan kopi.

Tapi ada satu sisi yang kemudian agak terabaikan, yaitu masalah ketahanan pangan, khususnya aspek ketersediaan pangan utama yaitu beras. Dengan luas areal persawahan yang hanya sekitar 7.500 hektare yang produktivitasnya juga masih relafir rendah, maka produksi padi yang dihasilkan oleh para petani padi di Kabupaten Aceh Tengah, sampai saat ini belum bisa memenuhi kebutuhan lebih dari 200.000 jiwa penduduk kabupaten ini. Setiap tahunnya, tidak kurang dari 6.000 sampai 8.000 ton beras harus didatangkan dari luar daerah guna memenuhi kebutuhan pangan warga Gayo di kabupaten Aceh Tengah.

Salah satu kabupaten pemasok utama kebutuhan pangan warga Gayo tersebut adalah kabupaten tetangga yaitu Bireuen, karena kabupaten ini memang punya potensi lahan sawah yang cukup luas dengan produksi beras yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan warganya, daerah juga mmemiliki akses paling dekat dengan kabupaten Aceh Tengah. Setiap minggu, puluhan ton beras dari Bireuen terus “membanjiri” pasar di Takengon dan sekitarnya, tingginya pasokan tersebut memang sangat terkait dengan tingginya permintaan kebutuhan pangan pokok di daerah berhawa dingin ini. Di satu sisi, lancarnya pasokan beras dari luar daerah ini memang sangat membantu warga Gayo untuk mengakses kebutuhan pangan mereka, tapi disisi lain, warga Gayo harus rela sebagian perputaran uang mereka ‘berpindah” ke luar daerah.

Beberapa waktu yang lalu, saya mencoba “blusukan” ke beberapa perusahaan penggilingan padi di Kabupaten Bireuen, salah satu titik pengamatan saya adalah peruhaan/kilang padi “Usaha Baru” atau yang lebih dikenal sebagai produsen beras dengan merek dagang “UB” yang berada di kawasan Juli, Bireuen. Perusahaan penggilingan ini merupakan produsen penghasil beras terbesar di kabupaten ini dan selama ini juga merupakan pemasok beras terbesar ke wilayah Gayo. Saya sempat menjumpai pemilik perusahaan yang bernama H. Jafar.

Haji Jafar pemasok beras ke wilayah Gayo
Haji Jafar pemasok beras ke wilayah Gayo

Saya temui di lokasi pabrik yang berada di kawasan persawahan, sekitar 800 meter dari jalan raya yang menghubungkan Bireuen dengan Takengon, H Jafar mengajak saya untuk melihat-lihat cadangan padi dan beras yang ada di pabriknya. Menurut penuturannya, dia punya stok beras harian tidak kurang dari 20 ton, sementara gudang penyimpanan padi yang dia tampung dari petani di semua wilayah kabupaten Bireuen, tidak kurang dari 30 ton Gabah Kering Giling (GKG). Menurutnya usaha penggilingan padi ini sudah dia jalani lebih dari tiga puluh tahun, perusahaan penggilingan padi ini bisa eksis karena H. Jafar sangat mengutamakan kualitas beras yang dia produksi.

“Rasa beras UB dari tahun delapan puluhan sampai sekarang tidak pernah berubah, karena kami punya standar mutu sendiri, apalagi sekarang saya juga sudah memanfaatkan teknologi komputer untuk mengontrol kualitas beras yang saya produksi disini” ungkapnya.

Yang kemudian agak mengejutkan saya, ternyata hampir 90 persen beras yang dia produksi di pabriknya di “ekspor” ke wilayah Gayo. Dia sendiri memang tidak bisa memastikan besarnya pasokan berasnya ke Aceh Tengah, karena sudah di urus oleh bagian distribusi, tapi menurut penuturannya, setiap minggu, tidak kurang dari 20 ton beras yang dia kirim ke Takengon dan sekitarnya, artinya setiap bulan dia memasok tidak kurang dari 80 ton atau hampir 1.000 ton beras per tahun untuk memenuhi kebutuhan pangan warga Gayo. Dan karena kualitasnya memang sangat baik, meski harga jual beras ini lumayan mahal dibandingkan dengan yang diproduksi oleh perusahaan lain, beras merek UB ini termasuk jenis yang paling laku keras di wilayah dataran tinggi Gayo.

Saya jadi berfikir, kalau harga jual beras UB ini di Takengon sekitar Rp 10.000,- per kilogramnya, berarti sekitar 10 milyar rupiah uang warga Gayo yang “tersedot” oleh perusahaan milik H. Jafar ini, sebuah angka yang cukup fantastis memang, tapi itulah realitanya. Belum lagi “devisa” warga Gayo yang harus keluar dari daerah untuk “menebus” kebutuhan pangan dari pabrik-pabrik penggilaingan padi lainnya baik yang ada di Bireuen maupun kabupaten lain lain seperti Pidie dan Pidie Jaya.  Total uang yang harus “bergeser” tempat ke perusahan penggilingan untuk pemenuhan kebutuhan pangan setiap tahunnya tidak kurang dari 40 milyar rupiah, itupun dengan asumsi bahwa setengah dari kekurangan kebutuhan pangan sudah “disubsidi” oleh Bulog. Karena produksi beras di Gayo memang belum mampu mencukupi kebutuhan pangan penduduknya, apa boleh buat, uang yang berasal dari hasil perkebunan kopi, harus mereka relakan “lari” ke luar daerah, karena kebutuhan akan pangan memang merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Kondisi seperti ini tentu harus menjadi bahan renungan dan pemikiran bagi para pihak yang berkopeten di bidang pertanian dan ketahanan pangan, karena tidak selamnya kita bisa bergantung kepada pasokan pangan dari luar daerah. Karena selain kondisi ini sangat bergantung dengan produksi di daerah pemasok, distribusi bahan pangan tersebut terkadang juga terkendala oleh kondisi alam yang menyebabkan terganggunya jalur distribusi. Contohnya, ketika jalur distribusi terganggu oleh banjir atau longsor, otomatis distribusi pangan dari luar daerah juga akan terganggu, kalau hanya dalam tempo singkat, mungkin tidak akan jadi masalah tapi jika terjadi dalam rentang waktu yang agak panjang, tentu akan memngganggu stabilitas pangan di wilayah tengah Aceh ini. Belum lagi kalau di daerah produsen mengalami penurunan produksi akibat anomaly iklim atau cuaca yang menyebabkan gagal panen, tentu pasokan pangan ke daerah ini juga akan terganggu.

Harus ada upaya signifikan untuk terus meningkatkan ketahanan pangan masyarakat dataran tinggi Gayo. Untuk menambah luas areal sawah, mungkin agak sulit, karena kendala geografis dan topografi, kelayakan lahan untuk dijadikan areal persawahan juga relative minim. Upaya percetakan sawah baru yang awalnya dicanangkan untuk menjadi solusi, tapi relaitasnya malah menjadi masalah baru. Satu-satunya cara untuk meningkatkan produktivitas padi di daerah ini adalah melalui intensifikasi dengan menerapkan pola tanam terpadu yang merupakan integrasi dari penggunaan benih unggul, penerapan pola tanam jajar legowo dan optimasi lahan melalui peningkatan indeks petanaman (IP). Upaya ini sudah dimulai sejak awal tahun 2015 yang lalu, seiring diluncurkannya upaya khusus percepatan swasembada pangan.

Kilang padi Usaha Baru Bireuen
Kilang padi Usaha Baru Bireuen

Dari amatan di lapangan, sinergi instansi teknis pertanian dengan para penyuluh pertanian yang didukung oleh jajaran TNI, terbukti sudah mampu “mendongkrak” produktifitas padi di daerah ini dari rata-rata 4,2 ton per hektar menjadi 6 – 7 ton per hektar. Namaun secara kumulatif, peningkatan produktivitas tersebut belum mampu untuk mencukupi kebutuhan pangan daerah. Produktivitas harus terus dipacu dengan beragai metode, misalnya dengan memasyarakatkan penggunaan benih padi varietas unggul, karena dari hasil uji varietas yang dilakukan dengan luasan terbatas, metode ini sangat signifikan untuk meningkatkan produktivitas. Untuk varietas Inpari 28 misalnya yang cukup adaptatif pada ketinggian di atas 1.000 meter dpl, mampu menghasilkan produksi hampir 9 ton gabah kering panen per hektar, sementara varietas Ciherang yang ternyata juga cocok dikembangkan di wilayah dengan elevasi dibawah 600 meter dpl seperti di kecamatan Linge dan Rusip Antara, terbukti mampu menghasilkan produksi 6,5 – 7 ton per hektar.

Kalau upaya ini terus berlanjut, dan mainstream petani dari pola tanam konvesional ke pola tanam intensif, apalagi kalau indeks pertanaman yang semula 1 kali setahun bisa dinaikkan menjadi 2 kali setahun, rasanya bukan “mimpi” kalau dua tahun kedepan kita mampu swasembada panngan. Tentu semua itu butuk keseriusan dan kerja keras semua pihak, intansi teknis harus mampu mefasilitasi penyediaan benih unggul dan memperbaiki infrastruktur pertanian terutama irigasi, sementara para penyuluh pertanian juga harus terus melakukan pendampingan, pembinaan dan penyuluhan secara berkesinambungan, begitu juga upaya menggali potensi pangan lokal juga harus tetap dilakukan.

Meskipun dari hasil panen kopi, masyarakat Gayo selama ini tidak pernah kesulitan mengakses kebutuhan pangan, karena daya beli mereka terhadap produk pangan memang relative tinggi. Tapi tetap saja perlu langkah antisipatif, karena jika suatu saat terjadi kerawanan pangan akibat terbatasnya pasokan pangan dengan berbagai sebab, kita tidak akan pernah bisa menggantikan pangan kita dengan kopi atau uang.

Semoga tulisan singkat ini, bisa menjadi bahan renungan kita bersama, bahwa kaetahanan pangan masyarakat, bukanlah hal yang bisa dianggap enteng, karena jika ketahanan dan stabilitas pangan lemah, dampaknya akan berpengaruh ke semua aspek kehidupan. Kalau kita mau “membaca”, terjadinya krisis ekonomi  dan sosial di berbagai negara berkembang, tidak lain berawal dari lemahnya ketahanan pangan di negara tersebut, begitu juga munculnya tindakan penyimpangan sosial seperti meningkatnya angka kriminalitas, juga tidak terlepas dari urusan “perut” alias masalah pangan.[]

Comments

comments