Ekonomi Keber Ari Gayo Sosok Terbaru

Jadi Pengepul Depik, Mahasiswa Asal Toweren Ini Punya Penghasilan 300 Ribu Perhari

Oleh : Darmawan Masri

KarimiDelapan bulan sudah mahasiswa semester akhir jurusan Teknik Informatika, Universitas Gajah Putih (UGP) Takengon ini menjadi pengepul ikan, khususnya jenis ikan endemik di danau Lut Tawar, Depik (Rasbora tawarensis).

Namanya adalah Karimi, seorang pemuda yang lahir dan besar di Kampung Toweren, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah. Kemukiman Toweren kini dihuni empat kampung. Sebuah kemukiman yang terletak tepat di kaki Bur Ni Birah Panyang ini dikenal masih kental memegang adat dan istiadat Gayo.

Kepada LintasGayo.co, Sabtu 12 Desember 2015, Karimi mengaku tidak sungkan bekerja menjadi pengepul ikan Depik. Tak ada perasaan malu pada diri pemuda bertubuh tegap ini, yang terpenting baginya adalah bagaimana caranya bisa membiayai kuliah dan punya penghasilan sendiri tanpa harus lagi tergantung kepada orang tua dengan cara yang halal.

Sebagai pengepul ikan, Karimi sejak pagi sudah berada di pinggiran Danau Lut Tawar. Menunggu kedatangan nelayan. Sebagai pengepul, dia memiliki dua orang nelayan binaan. Setiap hari dua orang nelayan yang menyandarkan perahunya di kawasan Sakatan, Toweren ini menyerahkan hasil tangkapannya kepada Karimi. Kemudian ditimbang, dan dihargai sesuai harga ikan Depik yang biasa di beli pengepul kepada nelayan.

Tak hanya itu, Karimi mengatakan bahwa nelayan binaannya itu juga harus di service. Minsalnya, setiap pagi Karimi selalu membawakan jajanan untuk sekedar sarapan pagi, saat nelayan binaannya itu menyandarkan perahunya, tak lupa dia juga menyiapkan rokok dan kopi, untuk mengusir dinginnya udara pagi di pinggiran danau kebanggan masyarakat Gayo ini. Tak hanya itu, Karimi juga berkewajiban menyediakan jaring tangkap ikan depik apabila jaring yang digunakan nelayan binaannya telah rusak atau sobek.

Nelayan Ikan Depik di Danau Lut Tawar. (Wein Mutuah)
Nelayan Ikan Depik di Danau Lut Tawar. (Wein Mutuah)

Selain selalu membeli ikan depik dari dua orang nelayan binaannya itu, Karimi juga mengaku mempunyai beberapa orang langganan di daerah Rawe, yang berbatasan dengan kampungnya tinggal, Toweren. Dari dua daerah ini lah, Karimi selalu mengumpulkan ikan depik yang kemudian di jual kembali kepada masyarakat.

Dalam sehari, Karimi mengaku memiliki omzet sebesar 300 ribu Rupiah, dan minimal sebesar 150 ribu Rupiah. “Saya selalu menjual ke Kabupaten Bener Meriah, pergi jam 10.00 Wib pagi dan biasanya tiba kemnali di Toweren sekira pukul 17.00 Wib,” katanya.

Dia pun mengaku, berinisiatif menjadi pengepul ikan depik karena melihat prospeknya yang bagus. Dia pun kemudian nekat untuk mencobanya, tanpa adanya modal dari siapapun. “Delapan bulan lalu saya hanya coba-coba, modal saya juga enggak banyak waktu itu. Setelah dijalani hasilnya lumayan juga, dan saya bertahan hingga sekarang,” ujarnya, sembari menambahkan dalam sehari, Karimi mengaku dapat menjual 15 bambu ikan depik dan 50 Kg ikan mujahir yang ditangkap nelayan di Danau Lut Tawar.

Ditanya apakah penghasilannya konsisten, Karimi menjawab “Namanya juga berdagang, ada juga kena apes nya, hanya sedikit ikan yang laku, dan saya kira dalam berdagang itu adalah hal yang wajar,” terangnya.

Ketika ditanya lagi terkait harga ikan depik, Karimi mengatakan sejak sebulan terakhir harga ikan depik tetap tinggi. Sebulan ini dia biasa membeli seharga 100 ribu Rupiah per bambu dari petani. Dan kemudian dia menjual sebesar 120 ribu rupiah kepada masyarakat. “Dalam sebulan terakhir harga tetap tinggi, tidak turun dari kisaran 100 ribu Rupiah per bambu (1 bambu = 2 liter) yang kita beli dari nelayan,” tandas Karimi. []

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *