Keber Ari Ranto Sara Sagi Sastra Terbaru

Ibuku Tulisanku

ilustrasi ibu dan anak (Google)
ilustrasi ibu dan anak (Google)

JIKA bercerita tentang Ibuku sepertinya tidak ada hal yang spesial, atau sama seperti ibu yang lain dalam kesehariannya. Ia memang tidak sepenuhnya bekerja untuk mencari nafkah seperti Ayah saya, tetapi ia lebih memilih merawat rumah dan mengurus keluarga setiap harinya.

Ia hafal apa saja kebutuhan-kebutuhan kami di rumah. Mulai dari saya, kakak-adik, hingga keponakan saya yang tinggal dirumah saya ia pun tahu. Air untuk kami mandi, minum hingga jumlah beras ia juga tahu kapan harus digantinya. Meskipun saya punya dua orang kakak yang sudah dewasa, tidak membuat ia diam, selalu saja ia mengkoordinasi kerja kedua kakak saya.

Urusan perut? Tidak perlu ditanyakan lagi! Ia adalah chef “ternama” di rumah kami. Semua jenis makanan maupun minuman hampir pernah ia coba sajikan buat kami dan rasanya, enak! Bahkan tidak jarang tetangga kami turut ia ajari cara memasak. Berhubung Ibu saya berdarah Gayo-Alas yang katanya jago masak-memasak. Mau makanan model apa? Rebus, kuah, goreng, bakar? semuanya ia kuasai dengan sangat baik.

Kalau saya ingat-ingat lagi, saat saya kecil ibuku menjadi guru bagiku. Ia selalu mengajariku segala hal, mulai dari mengaji usai sholat magrib, mengerjakan PR bahkan belajar sepeda yang bahkan ia sendiri tidak bisa. Tetapi ia tetap tulus menjaga dan mengajari saya di lapangan sekolah tidak jauh dari rumah saya. Selain guru, ia ternyata superhero juga.

Ia juga membantu Ayah mengelola rumah tangga ini. Keuangan dan berbagai macam lagi, berhubung ayah saya adalah pedagang wiraswasta, segala kekurangan tentang usaha ayah semua ia kuasai, tidak ada yang luput dari perhitungannya. Ya, ia adalah menteri keuangan di rumah.

Masalah kesehatan? Setiap anak-anaknya termasuk saya pasti langsung mencari dia saat kami sakit. Ia selalu menyimpan minyak gosok di sakunya yang konon setidak-tidaknya bisa meredakan penyakit. Seperti ketika saya jatuh mengendarai motor, ia mengoleskan minyak itu dan sim salabim! Keesokannya luka saya kering, meskipun dengan sedikit perjuangan menahan perih saat dioleskan, namun ia punya senjata andalan saat saya meringis, yaitu telapak tangannya dengan memeluk badan saya. Hmm.. ia ternyata dokter juga.

Pokoknya hampir tidak ada satu bagian pun yang terlewatkan di rumah atau seorang pun yang tidak terkena sentuhan ibuku. Semua hal ia urusi, semua hal ia pikirkan. Ia melakukan segala-galanya demi keluarga ini. Tanpa lelah mengisi bagian-bagian yang kosong, menjamah yang tak terjamah dengan kehangatannya.

Ingin sekali saya bisa berbuat sesuatu untuknya, membanggakannya, yang terbaik dari yang terbaik. Meskipun kelihatannya ia tak terlalu menginginkan itu, karena ia hanya ingin anak-anaknya ini bahagia. Tapi tidak! Aku harus melakukan sesuatu yang terbaik untuknya.

Di awal tadi saya sempat menuliskan bahwa “sepertinya tidak ada yang spesial dari ibu saya..” itu begitu salah. Semakin ingatan ini berjalan, semakin saya terus menulis ternyata tidaklah demikian. Ibuku teramat spesial bagiku.

Luasnya sisi langit tak akan bisa menggambarkan kebaikan yang ia buat, mungkin ia tak sempurna tapi apa yang kulihat adalah kesempurnaan. Hanya doa yang saat ini bisa ku berikan padanya. Umur panjang dan kesehatan semoga selalu dilimpahkan kepadanya.

Allahuma firli wa liwaalidayya warhamhumaa kama robbayaanii shoghiro (Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami dan dosa kedua kedua orang tua kami, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami diwaktu kecil).

Ini tulisan tentang ibuku, mana tulisan tentang ibumu? (Supri Ariu)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *