Keber Ari Ranto Terbaru

Jadi Narsum KTI di Kemenkes, Yusradi : Perlu Riset Langsung!

YusradiJakarta-LintasGayo.co : Pusdiklat Aparatur Kementerian Kesehatan RI menggelar workshop sehari penulisan karya ilmiah bagi Widyaiswara Kemenkes RI, Rabu (2/12/2015) di Pusdiklat Aparatur, Jalan Hang Jebat Raya, Jakarta Selatan. Kegiatan yang diikuti 34 orang peserta yang terdiri dari widyaiswara pusdiklat aparatur, pejabat stukrural, dan tim penilai dupak internal itu menghadirkan dua narasumber, yaitu peneliti/penulis Yusradi Usman al-Gayoni, S.S., M.Hum., dan Budihardjo S. Sos., M.Si (Pusat Pembinaan Widyaiswara Lembaga Administrasi Negara RI).

Dalam paparannya tentang Teori dan Praktik EYD dalam Penulisam Karya Tulis Ilmiah, Yusradi, turut menjelaskan syarat-syarat dan ciri-ciri bahasa karya ilmiah.

“Kalau Ejaan yang Disempurnakan (EYD) sudah baku dan ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Jadi, kita tinggal mengacu ke keputusan tersebut,” tegas penulis buku Ekolinguistik (buku Ekolinguistik pertama di Indonesia) itu.

Yang lebih penting, sambungnya, peserta workshop diharapkan langsung riset dengan mengalisis teks-teks kesehatan. “Nanti, bisa dilihat kesalahan-kesalahan tata penulisan dan EYD dalam karya tulis ilmiah. Khususnya, dalam ranah kesehatan,” sebut Yusradi yang Januari-Juni 2015 yang lalu sebagai anggota tim peneliti Peran Bahasa dan Kebudayaan dalam Konteks NKRI: Keanekaragaman untuk Persatuan dan Kesatuan di Aceh di Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sambil menawarkan sejumlah tema penelitian terkait EYD dalam penulisam karya tulis ilmiah.

Dengan demikian, jelasnya, workshop yang digelar Pusdiklat Kemenkes tersebut dapat lebih bernilai dan memberikan manfaat lebih. “Hasil riset tadi, tinggal kita bukukan dan publikasikan. Jadi, hasilnya lebih bermanfaat lagi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan di tanah air,” kata Yusradi yang dalam waktu dekat akan menerbitkan beberapa buku.

Dalam kesempatan itu, peneliti kelahiran 1983 itu juga berbagi pengalaman sebagai peneliti, penulis, editor, dan penyunting buku. Juga, memaparkan tentang lembaga riset Language Rights Institute dan penerbit Mahara Publishing yang dipimpinnya.

(Rel)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *