Jurnalis Warga Kopi Gayo Terbaru

Espresso, Tren Baru Cara Ngopi Pada Sinte di Gayo

Catatan : Fathan Muhammad Taufiq*

Espresso di SinteMusim panen kopi di dataran tinggi Gayo seperti yang terjadi pada bulan ini, juga berarti “panen duit” bagi masyarakat di daerah ini, bukan cuma petani kopi saja yang kemudian menikmati berkah dari hasil perkebunan ini, para pedagang pengumpul, eksportir, pekerja pabrik pengolahan kopi sampai buruh “ngutip” (memanen kopi) juga ikut panen.

Di daerah Gayo, pekerjaan sampingan memenen buah kopi merah atau dalam istilah setempat disebut “ngutip”, memang sangat menjanjikan, bayangkan saja ongkos ngutip 1 kaleng kopi gelondong (atau setara 12 kilogram kopi gelondong) sekarang mencapai Rp 20.000,-, kalo seorang pengutip bisa memanen kopi sampai lima kaleng, berarti gajinya sama dengan Rp 100.000,- sehari, bagi yang punya tenaga dan ketarmpilan ekstra bahkan bisa mengutip kopi sampai 8 kaleng sehari, bandingkan dengan gaji para buruh lepas yang bekerja di pabrik-pabrik di pulau Jawa.

Begitu juga para pedagang pengumpul kopi, masa panen juga berarti perputaran modal mereka jadi semakin cepat, itu berarti keuntungan yang mereka dapat juga jadi berlipat. Para pekerja outschouching di pabrik pengolahan kopi yang biasa bekerja secara borongan, juga menikmati keuntungan yang sama, job mereka jadi bertambah seiring bertambahnya pasokan kopi dari para pedagang pengumpul, itu berarti penghasilan mereka juga bertambah. Para pedagang besar dan eksportir kopi juga merasakan hal yang sama, meningkatnya volume ekspor mereka juga berarti meningkatnya profit margin yang mereka terima. Bukan itu saja, para pedagang pakaian, barang elektronik, perhiasan bahkan dealer kendaraan bermotor juga ikut kecipratan rejeki kopi ini, masyarakat yang lagi kebanjiran duit biasanya tidak segan-segan untuk membelanjakan uang mereka untuk berbagai kebutuhan, pola hidup konsumtif memang masih sangat kentara disini.

Ada fenomena lain yang kemudian biasa terjadi di daerah penghasil kopi nomor satu ini, panen kopi yang berarti cadangan keuangan masyarakat, kemudian sering dijadikan momentum menggelar hajatan bagi warga masyarakat. Mulai dari sinte (hajatan-red) perkawinan, khitanan anak sampai acara pemerian nama anak yang baru lahir atau dalam masyarakat setempat dikenal dengan acara turun mandi, sering memanfaatkan momentum panen kopi ini. Dalam bulan ini, nyaris setiap hari terlihat tenda-tenda pesta berdiri di setiap sudut Gayo, dan sifat kekeluargaan yang masih sangat kental dalam masyarakat gayo, membuat setiap hajatan yang digelar selalu ramai dihadiri undangan yang terdiri dari sanak saudara, teman atau relasi.

Sebagai bagian dari masyarakat yang tinggal di daerah Gayo, saya juga nggak luput dari musim sinte ini. Dalam tiga hari ini saja, saya bersama isteri saya sudah menghadiri lebih dari tujuh undangan hajatan dari teman dan saudara. Tidak jarang dalam musim seperti ini, kami harus menghadiri dua sampai tiga tempat hajatan, tapi itu nggak masalah, karena acara hajatan seperti itu bisa jadi ajang untuk mempererat tali silaturrahmi, karena selain ketemu dengan si empunya hajat, disana kami juga sering ketemu dengan teman-teman lama.

Tapi ada yang kemudian terlihat seperti ada pergeseran kebiasaan dalam acara hajatan ini, bukan peregesaran adat istiadat, karena masyarakat Gayo masing memegang kuat adat istiadat warisan leluhur. Pergeseran yang saya maksud adalah adanya “aya baru dalam setiap hajatan yang kami hadiri, kalo dulu dalam hajatan perkawinan atau khitanan yang biasanya digelar lumayan besar-besaran itu, tuan rumah menyediakan kpi bagi para tamunya berupa kopi tubruk dari jenis robusta yang disediakan dalam cerek alumunium. Tapi seiring dengan beralihnya tren minum kopi di kalangan masyarakat Gayo, dari kopi robusta yang di olah secara tradisional ke kopi arabika yang di olah dengan mesin roasting yang sudah “menggejala” dalam beberapa tahun terakhir ini, juga mempengaruhi kebiasaan menghidangkan kopi dalam cara hajatan di daerah ini.

Khususnya acara-acara hajatan yang digelar di seputaran kota Takengon, sudah jarang terlihat tuan rumah atau dalam bahasa Gayo disebut “empun ni sinte” menghidangkan kopi dalam cerek alumunium bagi para undangan. Kini mulai ada tren baru yang mulai banyak terlihat dalam berbagai acara hajatan di kota dingin ini, empun ni sinte sekarang sudah menyediakan alat atau mesin ekspresso yang diletakkan di dekat meja prasmanan. Para undangan pun merasa diistimewakan dengan tren baru ini, usai menyantap hidangan dari meja prasmanan, para tamu langsung ditawari espresso, late atau black coffee, tentu dengan racikan specialty gayo arabica coffee. Memang sejak “mewabah”nya gaya baru minum kopi bagi masyarakat Gayo, hampir di setiap sudut dapat dengan mudah ditemui mesin expresso, bukan cuma di kafe-kafe atau warung kopi, semua hotel, kantor bahkan di rumah-rumah warga, sudah banyak yang menyediakan mesin pembuat kopi nikmat ini, sehingga ketika si empunya hajatan ingin menyediakan kopi istimewa bagi tamu undangannya, mereka bisa meminjam atau menyewanya dengan mudah.

Menikmati kopi arabika gayo dari mesin ekspresso seusai menyantap hidangan istimewa dalam acara hajatan, tentu jadi sensasi tersendiri, apalagi bagi yang baru mencobanya. Kopi espresso, late atau black disajikan tanpa gula, persis seperti di kafe atau hotel, dan bagi yang menginginkan kopi manis, sudah disediakan potongan-potongan kecil gula aren dalam piring kecil. Tapi bagi para penikmat kopi, menyeruput kopi arabika gayo hasil roasting itu tanpa gula, pasti akan terasa lebih nikmat.

Sudah jadi kebiasaan bagi masyarakat Gayo dari dulu, sehabis makan akan terasa belum afdol kalo belum ada pelengkap atau dalam bahasa setempat disebut “penetap” berupa kopi. Hanya trennya saja yang kini berubah, kalo dulu mereka lebih suka menikmati kopi robusta, sekarang beralih ke kopi arabika, begitu juga cara penyajiannya juga mengalami perubahan tren. Jadi sekarang ini, kalo menghadiri undangan hajatan di Takengon dan sekitarnya, selain sebagai ajang menjalin silaturrahmi, juga bisa jadi tempat untuk menikmati kopi enak yang belakangan makin “digilai” pecandu kopi manca negara itu. Meski sudah sering menikmati ekspresso di rumah atau di kafe, tapi menikmatinya bersama teman dan relasi yang ketemu di tempat haajtan, tetap saja membawa kesan yang berbeda. Hangatnya kopi gayo semakit menghangatkan suasana kebersamaan itu, seperti yang saya rasakan sore tadi saat menghadiri acara hajatan seorang teman, kebetulan saat itu hujan yang lumayan lebat sedang mengguyur kota Takengon, expresso gayo coffee yang dihidangkan dalam acara pesta pernikahan itu tentu bisa jadi “pengusir” dinginnya udara di Tanoh Gayo. []

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *