Ekonomi Keber Ari Gayo Kopi Gayo Sara Sagi Sosok Terbaru

[Sosok] Kurniadi, Polisi Sang Usahawan Bibit Kopi

Catatan Kha A Zaghlul

kurniadiHAMPIR seluruh warga Gayo khususnya di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah dalam kehidupannya sehari-hari berhubungan dengan kopi. Tak hanya petani, juga pedagang, pegawai negeri bahkan yang berprofesi sebagai polisi. Seperti sosok Kurniadi, polisi berpangkat Bripka yang sehari-hari bertugas di Polres Aceh Tengah.

Alumni SMA 1 Takengon Ujung Temetas tahun 2002 dan lulus polisi di tahun yang sama di Sekolah Polisi Nasional (SPN) Seulawah Aceh Besar ini memilih usaha sampingan untuk menambah income keluarga dengan bercocok tanam bibit kopi Arabica Gayo, tentu dari varietas unggul Gayo 1 (G1).

Memulai usaha bulan Februari 2015, terdorong karena menutupi kebutuhan keluarga yang semakin meningkat, Kurniadi sangat dimotivasi oleh keluarga terutama sang ayah, Baharuddin, pensiunan PNS rendah yang kini menghabiskan waktu sebagai petani kopi di Sukarame Bener Meriah.

“Ayah dan ibu saya almarhum Nun Farsi mengajari saya untuk hidup prihatin dan senantiasa memanfaatkan waktu luang, saya memilih usaha pembibitan kopi karena tidak butuh lahan luas dan tidak terlalu menyita waktu dan tenaga,” ujar suami dari Tati Gutina, perempuan berdarah asli Gayo dari Kecamatan Bintang.

Pemilihan biji kopi yang dibibitkan Kurniadi berasal dari kebun yang direkomendasikan pemerintah yakni dari kebun milik Taharuddin Aman Nona yang sudah ditetapkan sebagai kebun bibit kopi G1 oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah melalui Dinas Perkebunan dan Kehutanan Aceh Tengah.

Dalam usahanya, Kurniadi mempekerjakan keluarga, adik dan istri yang sehari-hari sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) dengan jumlah bibit yang diusahakan sebanyak 50 ribu bibit.Kurniadi-2

Per bibit kopi siap tanam dengan usia 6 hingga 8 bulan atau saat bibit telah memiliki 5-8 pasang daun. per bibit dibandrol rata-rata Rp.2000 per batang, maksimalnya Rp.2500,-. “Jika dikatakan mahal, itu karena bibit kita sudah disertifikasi sebagai G1, ada jaminan kualitas,” ujar Kurniadi.

Pembeli bibit selain masyarakat juga pihak rekanan pengadaan bibit di salah satu instansi Pemerintah setempat. “Setiap hari ada saja yang beli bibit, minimal 100 batang. Paling banyak terjual di hari sabtu dan minggu karena para pemilik kebun terutama yang berprofesi sebagai PNS fokus mengisi hari libur dengan ke kebun,” ungkapnya.

Ditanya apakah mengganggu tugas sebagai polisi, Kurniadi tentu menjawab tidak, di lokasi pembibitan Kurniadi hanya saat di luar jam dinas.

Kurniadi-3Dia mengaku kaget saat dipilih untuk dikunjungi oleh Tim Specialty Coffee Asosiation of Europe (SCAE) beberapa waktu lalu. Dia mengaku dihubungi oleh pihak Dinas Perkebunan dan Kehutanan Aceh Tengah agar berkenan menerima tamu dari Tim SCAE tersebut.

Sebagai usahawan dia mengaku beruntung dan bangga dikunjungi orang-orang penting di bidang bisnis kopi dunai dari Eropa yang diantarkan oleh pejabat-pejabat penting di Aceh Tengah termasuk Bupati Nasaruddin dan atasan langsungnya Kapolres Aceh Tengah AKBP Dodi Rahmawan, SIK.

“Tentu bangga, dan secara bisnis tentu menguntungkan karena otomastis mendapat pengakuan kualitas bibit kopi, lebih-lebih dalam rombongan ada pimpinan saya, pak Kapolres,” kata ayah dari Andrei Dinatha (10), Salsabila Putri Dita (5) dan Khanza Nova Dita (1) ini.

Dia berharap petani kopi Gayo meningkat kualitas dan kuantitas produksi yang tentunya berujung kepada kesejahteraan. Tentu semuanya diawali dari pemilihan bibit kopi terbaik yang tidak tersanggahkan lagi adalah varietas Gayo 1 (G1).

Mantan ajudan Wakil Bupati Aceh Tengah, Djauhar Ali ini bertekad selain untuk income keluarga juga sebagai pengabdiannya sebagai putra daerah yang dilahirkan di Takengon, 19 Januari 1984. “Kopi Gayo memang sudah ternama, namun perlu dukungan semua pihak agar kualitas dan kuantitas produksi meningkat,” ujar Kurniadi seraya mengaku pendapatannya dari usaha pembibitan imbang-imbang dengan dengan penghasilannya sebagai abdi negara, Polisi.

kurniadi-4“Bibit kopi yang saya budidayakan bukan sebagai terbaik, namun keberuntungan saja mendapat kunjungan tim SCAE karena kebetulan usaha pembibitan lain sudah kosong, karena itulah mereka ke tempat saya,” ujar Kurniadi merendah.

Untuk teknis, Kurniadi selalu berkonsultasi dengan sang ayah, pihak teknis Disbunhut Aceh Tengah terutama soal penanganan hama. Dan sebagai konsultan pribadinya adalah Sudomo, SP yang lebih senior dan berpengalaman dalam pembibitan kopi Gayo.

Aktivitas Kurniadi di luar jam dinas ini ditanggapi positif oleh Kapolres Aceh Tengah, AKBP. Dodi Rahmawan,S.IK. “Tidak ada aturan yang melarang seorang polisi memanfaatkan waktu luang diluar jam dinas untuk kegiatan positif terlebih yang berhubungan langsung dengan masyarakat,” ujar Kapolres.

Aktivitas Kurniadi, menurut dia sangat berkaitan dengan pembinaan masyarakat. “Saya sangat mengapresiasi, ini sangat positif, tentu jika dilakukan tanpa meninggalkan tugas utama,” tandas Kapolres Aceh Tengah yang mengaku turut bangga usaha pembibitan kopi Gayo milik anggotanya terpilih dikunjungi tim SCAE.[]

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *